Hanya Cinta

Hanya Cinta
HC 64


__ADS_3

"Jaga emosimu sayang, kamu lagi hamil heem". Bujuk Haikal sambil memeluk istri mungilnya itu dan bermain-main dileher Anin yang memang menjadi hoby akhir-akhir ini.


"Bagaimana Lila bisa berpikir jika dia bisa memelukmu". Protes Anin tak terima jika ada wanita lain memeluk suaminya meskipun dengan alasan ngidamnya itu, apalagi Lila juga bukan wanita biasa, asisten Anin itu sangatlah cantik dengan tubuh ideal bak model profesional meskipun usianya jauh diatas Anin namun tidak mengurangi kecantikan dan keanggunan wanita yang sudah berkepala tiga itu.


"Tenang saja, aku tidak akan mengizinkan dia memelukku tanpa izin darimu".


"Ngidam?, aku tidak percaya seseorang yang hidupnya datar seperti Lila bisa mengalami ngidam juga".


"Itu hal yang wajar bagi wanita hamil sayang, kamu ingat Maya bahkan berkeliling hampir ke setiap toko parfum hanya karena ngidamnya itu, hanya kamu saja wanita hamil yang tidak mengalami ngidam". Haikal teringat ketika Maya uring-uringan mencari parfum sesuai dengan yang ingin di cium oleh indera penciumanya dia tidak pernah menemukan parfum tersebut.


"Jadi menurutmu aku tidak normal". Seru Anin.


"Bukan begitu sayang, hanya saja setiap wanita hamil itu pasti akan berbeda-beda perubahannya dan aku bersyukur istriku yang cantik ini tidak mengalami ngidam yang aneh-aneh".


"Tapi-". Mulut Anin langsung di bungkam oleh Haikal ketika Haikal tahu jika perdebatan antara dirinya dan Anin tidak akan ada habisnya, ya, itulah perubahan Anin selama hamil dia lebih banyak bicara dan tidak pernah mau mengalah jika berdebat namun sangat menyukai jika berurusan dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan aktivitas ranjang.


"Aagh". Menbuat Anin mendesah dibawah kungkungannya adalah trik jitu bagi Haikal untuk meredam emosi sang istri.

__ADS_1


Ya, Haikal yang kehabisan akal membujuk sang istri agar tidak marah kepada Lila akhirnya melakukan alternatif lain. Bermandikan peluh dan berbagi kenikmatan satu sama lain, dua insan itu bahkan tidak tahu tempat mereka melakukannya di kantor bahkan sampai berkali-kali.


Sementara itu ditempat lain berbeda dengan Haikal dan Anin, Rama dan Lila sedang dalam mode diam satu sama lain. Rama mengutuk dirinya dalam hati kenapa bisa memiliki anak-anak yang selalu membenci dirinya sejak dalam kandungan. Saat kehamilan pertamanya Lila juga mengalami ngidam aneh yaitu ingin memeluk pria tampan karena menurutnya jika suaminya itu tidaklah tampan padahal Rama adalah pria yang sangat tampan apalagi dengan postur tubuhnya yang tegap itu.


"Sungguh aku bahagia atas kehadiran anak keduaku ini tuhan, tapi kenapa ujian kehamilan istriku kali ini lebih parah dari yang pertama". Batin Rama.


Setelah kejadian itu Anin dan Lila tidak pernah bertemu lagi. Lila memutuskan untuk mengambil cuti karena jika dia bertemu dengan Haikal pasti rasa penasarannya untuk memeluk Haikal semakin mengebu-gebu.


Anin merasa tidak enak hati kepada Lila karena bagaimanapun kesetiaan seorang Lila memang tidak bisa di ragukan lagi. Hilangnya Lila dihidupnya membuat dia merasakan ada sesuatu yang hilang.


"By, haruskah kita memenuhi keinginan Lila?". Tanya Anin kepada Haikal.


"Haah, ya sudah aku akan izinkan dia memelukmu tapi kamu jangan membalas pelukannya dan jangan sampai kamu terbawa suasana". Titah Anin penuh penekanan.


"Hei, tatap mataku". Haikal meraih wajah mungil Anin dengan pipi yang mulai tembam akibat vitamin dan susu ibu hamil yang dikonsumsinya ditambah lagi dengan nafsu makannya yang sangat meningkat selama kehamilan. "Jika aku ingin macam-macam aku bisa saja melakukannya dengan wanita manapun yang belum memiliki suami, contohnya Maya, dulu dia bahkan rela kujadikan istri keduaku tapi aku menolaknya karena dihati dan dimataku hanya kamulah wanitaku satu-satunya". Sambung Haikal sambil kedua pasang mata itu saling pandang.


Mata Anin berkaca-kaca, rasa haru menyelimuti hatinya mendengar perkataan suaminya itu, benar juga batinnya jika Haikal mau dia bahkan bisa menjadikan wanita manapun sebagai simpanan karena pasti banyak gadis yang takluk oleh ketampanannya itu, termasuk Maya yang tak kalah cantik darinya.

__ADS_1


"Kamu percaya padaku?". Tanya Haikal lagi.


Anin menganggukkan kepala dan langsung memeluk erat suaminya itu meskipun sekarang ada sedikit jarak diantara mereka akibat dari perut Anin yang semakin membuncit. Anin menghirup banyak-banyak wangi tubuh suaminya yang membuatnya merasa sangat tenang itu lalu sesuatu yang menganggu pikirannya pun muncul, Maya, ya di khawatir dengan keadaan sahabat itu.


"By, menurutmu bagaimana keadaan Maya disana saat ini?". Tanya Anin.


"Hah, aku tidak tahu aku malas membahas tentangnya". Sejak Maya memutuskan untuk keluar dari rumahnya Haikal sudah tidak peduli lagi twrhadap gadis yang dianggapnya sebagai adiknya sendiri itu, dia kecewa ketika Maya mempercayakan hidupnya kepada pria yang menurut Haikal tidak bertanggungjawab itu.


"By, bukankah dia adikmu, hubungilah dia siapa tahu dia juga merindukanmu". Bujuk Anin, Maya sering menghubunginya dan juga ibu Siti namun ketika dia menghubungi Haikal telponnya tidak pernah di angkat. Maya sering mengeluhkan hal itu kepada Anin.


"Aku bilang aku tidak mau membahasnya sayang". Ucapa Haikal tegas namun tetap lembut agar istrinya itu tidak tersinggung karena jika Anin sudah tersinggung maka akan sangat sulit membujuknya. Haikal kemudian melepaskan pelukannya dan berkata. "Aku ke ruang kerjaku dulu".


Anin tahu pasti apa yang akan dilakukan oleh suaminya di ruang kerja, dia sering mengintip apa yang dilakukan oleh Haikal sampai berjam-jam lamanya disana, tentu saja duduk di kursi kerjanya dan memejamkan matanya, bukan tidur tapi dia pasti tengah gelisah memikirkan nasib Maya, itu yang selalu dilakukan oleh Haikal jika sudah mendengar nama Maya.


Anin tahu Haikal pasti sangat khawatir karena pria yang saat ini menjadi suami Maya itu bukanlah pria baik menurutnya karena tidak ada pria baik yang meninggalkan seorang wanita yang sudah dia renggut kesuciannya begitu saja dengan meninggalkan secarik cek. Belum lagi pria itu juga meragukan anak yang ada di kandungan adiknya tersebut.


"Maya, apa kamu baik-baik saja disana". Gumam Haikal dalam hati. Haikal sebenarnya bisa saja menanyakan langsung kabar Maya apalagi Maya juga hampir setiap hari menghubunginya namun dia sengaja melakukannya berharap Maya akan keluar dari rumah Marvin dan kembali kerumahbya karena takut jika Haikal terus marah padanya, tapi Maya justru tetap dengan pendiriannya.

__ADS_1


Haikal tahu jika kabar Maya baik-baik saja karena diam-diam dia sering mencuri dengar obrolan Anin atau ibunya dengan Maya namun bukan sekedar kabar fisiknya yang dikhawatirkan oleh Haikal tapi kabar mental wanita hamil itu, Apalagi dia sudah mengetahui semua hal tentang Marvin termasuk jika Marvin tidak mencintai Maya karena dia hanya bisa mencintai satu wanita saja di hidupnya yaitu cinta pertamanya.


__ADS_2