
Setelah melakukan diskusi panjang dengan Anin akhirnya Haikal setuju untuk datang kerumah sakit menemui Maya atau lebih tepatnya mencari tahu keadaan tuan Darmadi.
Namun sepertinya mereka datang disaat yang kurang tepat karena tampak dari kejauhan jika beberapa perawat dan dokter keluar masuk ruang perawatan Darmadi dengan wajah yang panik. Melihat hal tersebut Anin dan Haikal langsung mempercepat langkah kaki mereka.
"Apa yang terjadi dokter?". Anin langsung bertanya kepada dokter ketika tiba didepan ruangan tersebut.
"Nona Anin, selamat pagi". Sapa dokter ramah kepada sang pemilik rumah sakit. "Tuan Darmadi dalam keadaan kritis nona, kami sedang berusaha melakukan yang terbaik". Sambung dokter kemudian.
"Bagaimana bisa?, apa selama ini keadaannya tidak membaik?". Anin terlihat panik.
"Keadaannya selama ini terbilang stabil meskipun beliau koma, tadi beliau sempat sadar dan langsung drop lagi".
"Dokter aku mohon lakukan yang terbaik, apapun itu selamatkan tuan Darmadi". Untuk pertama kalinya Haikal sangat tercengang mendengar sang istri begitu peduli dengan orang lain apalagi orang tersebut adalah Maya.
"Baik nona akan kami usahakan". Kemudian dokter kembali melanjutkan aktivitasnya.
Petugas medis melakukan segala hal yang terbaik yang dapat mereka lakukan namun hasilnya nihil. Nyawa Darmadi tidak dapat diselamatkan lagi hal tersebut bukan hanya membuat Maya terguncang tapi Anin juga mengalami hal yang sama.
Entah mengapa Anin tidak bisa membayangkan bagaimana nasib Maya setelah kepergian ayahnya apalagi dalam kedaan hamil tanpa seorang pun disisinya. Haikal juga tampak sangat tertekan dengan keadaan ini apalagi sebelum menghembuskan napas terakhirnya Darmadi sempat menitipkan sebuah pesan kepada Haikal yang Haikal sendiri tidak yakin dapat mengembannya.
__ADS_1
"Haikal, aku sangat mempercayaimu dan aku dapat melihat jika kamu adalah pria yang baik jadi berjanjilah untuk menjaga Maya untukku dan tolong temukan siapapun dan dimanapun pria tidak bertanggungjawab yang telah menghamili Maya".
Bisikan Darmadi tersebut terus berputar-putar diotak Haikal seakan seperti sebuah bom yang dapat meledak kapan saja. Haikal tidak terlalu berat ketika Darmadi memintanya untuk menjaga Maya karena walau bagaimanapun dia dan Anin pasti akan melakukannya karena mengingat keadaan Maya apalagi hubungan Maya dan Anin semakin membaik saat ini namun bukan perkara mudah mencari jejak ayah dari bayi didalam perut Maya terlebih Maya tidak pernah mau menjawab atau membahas apapun mengenai hal tersebut.
Lain Haikal dan Anin lain pula dengan Maya yang tampak tenang dengan kepergian sang ayah dia bahkan tidak menjatuhkan setitik air matapun dipipinya. Hanya pandangan kosong saja yang menjadi isyarat jika dia tidak dalam keadaan baik-baik saja.
Pemakamanpun dilakukan dihari itu juga dan dihadiri oleh beberapa kolega bisnis tuan Darmadi. Anin dan Haikal bahkan ibu Siti juga turut hadir disana, mereka selalu mendampingi Maya dan tidak membiarkan Maya sendirian. Kehadiran mereka bagai oase dipadang pasir bagi Maya apalagi Siti terlihat sangat tulus merangkul Maya layaknya putrinya sendiri. Sungguh Siti adalah sosok seorang ibu yang sangat baik dan bijak.
"May, mulai hari ini kamu akan tinggal bersama kami, aku tidak akan membiarkanmu tinggal sendirian". Ujar Anin lembut sambil menggenggam jari Maya.
Maya mengelengkan kepalanya pelan dan tersenyum kepada Anin. "Tidak usah khawatir, aku tidak sendirian dirumahku, ada banyak pelayan disana Nin".
"Tidak ada penolakan, kamu tetap harus ikut dengan kami". Ucap Anin tegas.
"Ikutlah dengan kami May". Jawab Haikal singkat.
"Iya nak, untuk apa tinggal disana sendirian kalau ada kami keluargamu tempat kamu kembali". Ujar Siti dengan sangat lembut sambil membelai rambut Maya. Maya sangat terharu dengan ucapan Bu Siti apalagi melihat dukungan penuh dari Anin namun hatinya tetap ragu karena Haikal sepertinya tidak meyukai keberadaan, hal itu bisa dilihat dari wajah Haikal yang tidak memiliki ekspresi apapun.
"Ayo kita semua pulang hari sudah mulai gelap". Kata 'semua" yang keluar mulut Haikal seperti memberi isyarat jika dia juga mengajak Maya bersama mereka. Haikal kemudian meninggalkan ketiga wanita tersebut dan menuju mobil.
__ADS_1
Anin dan Bu Siti saling tatap satu sama lain dengan senyum penuh kemenangan. "Kamu lihat sendiri kan, dia adalah manusia yang paling tidak tega yang pernah aku temui didunia ini, jadi ayo sekarang tidak ada alasan untuk menolak lagi". Seru Anin lagi sambil menarik tangan sebelah kanan Maya sedangkan Bu Siti menarik tangan sebelah kirinya.
"Tunggu". Ucap Maya lantang.
"Kenapa?". Tanya Anin penasaran.
"Apa yang kamu lakukan Nin, aku ini adalah benalu didalam rumah tanggamu, aku mencoba merebut suamimu dan hampir membuat rumah tanggamu hancur berantakan, apa kamu tidak takut jika aku akan melakukan lagi hal itu?. Dan ibu, aku yang membuat fitnah kejam untuk anak kesayangan ibu apa ibu tidak sedikitpun takut untuk mengajakku tinggal bersama kalian?." Seru Maya meluapkan semua perasaan yang mengganjal dihatinya, karena dia tahu jika kesalahan yang dia lakukan bukanlah kesalahan kecil.
Anin berbalik menatap wajah Maya dengan wajah yang serius. "Kamu tidak akan bisa merebutnya dariku, dari dulu kan aku sudah katakan padamu jika aku jauh lebih unggul satu langkah darimu". Kemudian Anin tersenyum sambil mengedipkan satu matanya kepada Maya, seketika mereka bertiga tertawa bersama lalu mengikuti Haikal menuju mobil.
Entah apa yang akan terjadi dihari-hari berikutnya setelah kepergian sang ayah, tidak ada arah dan tujuan, Maya bahkan dia tidak memperdulikan tentang kehamilannya. Sejak saat Haikal menemaninya untuk memeriksa kandungannya kedokter maka setelah itu dia tidak pernah mengunjungi dokter lagi.
Mual muntah dan berbagai macam keluhan kehamilan lainnya dialami olehnya namun tidak ada sedikitpun keluhan. Tidak ada susu atau vitamin yang dia konsumsi khusus untuk buah hatinya, jujur dia sangat tidak mengharapkan kehadiran bayi tersebut namun dia juga tidak pernah berencana untuk melenyapkannya, seolah ingin hidup bagai air yang mengalir tanpa mau memikirkan apapun resiko kedepannya.
Karena mengetahui hal itu dari asisten pribadi tuan Darmadi ,maka Anin bersikeras untuk mengajak Maya tinggal bersama mereka setidaknya untuk kedepannya akan ada yang memperhatikan Maya terutama kondisi janin didalam kandungannya. Anin juga sengaja belum memberitahukan tentang kehamilannya kepada Maya karena takut Maya semakin merasa bersalah karena telah mencoba memisahkannya dengan Haikal.
Entah itu Anin yang sebenarnya atau karena pengaruh dari kehamilannya, yang jelas Anin yang sekarang lebih peduli dan sensitif terhadap masalah orang lain namun dalam hati kecilnya Haikal merasa bahagia karena sekarang istrinya memiliki hati yang lembut meskipun masih sedikit keras kepala.
Mau dibawa kemana hubungan kita???
__ADS_1
Kadang-kadang ngerasa buntu tentang arah dan tujuan dari novel ini, maklum otornya masih abal-abal 😂
Happy weekend 😘