Hanya Cinta

Hanya Cinta
Telur Dadar dan Nasi Putih


__ADS_3

Selama tinggal dirumah mewah bak istana milik Anin, Maya diperlakukan layaknya pemilik rumah itu. Para pelayan memperlakukannya sama seperti Anin, Anin sendiri juga sudah sangat berubah, sikapnya kini sangat berbeda dengan dulu, Maya diperlakukan layaknya saudara kandunganya sendiri.


Begitu juga dengan Bu Siti tidak pernah membeda-bedakan antara Anin dan Maya dia menganggap mereka berdua seperti putri kandungnya sendiri.


Suatu ketika Siti pernah memergoki Maya yang terbangun tengah malam karena kelaparan atau lebih tepatnya ngidam yang tidak pernah diakui oleh Maya membuat hati Siti teriris melihatnya. Bagaimana tidak Maya saat itu sedang berusaha membuat telur dadar yang ingin dimakannya dengan nasi putih namun jangankan untuk membuatnya Maya bahkan tidak tahu cara memecahkan telur dengan benar.


"Lain kali apapun yang kamu inginkan katakan pada ibu, kamu mengerti?". Titah Siti tegas dalam hatinya berkecamuk rasa iba dan heran karena Maya yang tidak bisa memecahkan telur dengan benar, tentu saja hal itu karena ketika hidup berdua bersama sang ayah Maya sangat dimanjakan sama halnya dengan Anin.


Maya hanya mengangguk pasrah dengan wajah memelas. "Aku tidak enak ingin membangunkan ibu atau orang rumah lainnya karena ini sudah malam".


"May, ibu bisa mengerti jika kamu menginginkan sesuatu kapanpun itu, karena sangat wajar jika ibu hamil mengalami lapar dijam-jam yang tidak tepat apalagi jika dia sedang mengalami ngidam pasti disaat itu juga kita harus menurutinya, ibu seorang wanita jadi ibu juga tahu bagaimana rasanya heem". Jelas Siti.


Maya tersenyum kecut mendengarkan penjelasan Siti dia tidak pernah membayangkan akan hamil dalam kedaan seperti ini tanpa seorang pun keluarga atau bahkan suami yang akan menuruti segala keinginan ngidamnya.


"Mungkin ini balasan untukku karena dulu aku sering menghina Anin yang tidak punya keluarga dulu, jadi seperti ini rasanya, aku tidak akan membiarkan anakku merasakan hal yang sama denganku, meskipun dia lahir tanpa ayah tapi dia masih punya aku". Batin Maya sambil mengelus perutnya yang rata.


"Jangan dipikirkan, ibu hamil harus bahagia agar bayinya juga bahagia, disini ada ibu, Anin dan juga para pelayan yang akan menuruti semua ngidammu". Sambung Siti lagi, dia seolah tahu apa yang ada dalam hati Maya.


"Dan aku juga ada kan?". Suara yang sangat dikenal Maya juga Siti berhasil membuat mereka terkejut karena tidak menyangka jika Haikal ternyata mendengar obrolan mereka.


Melihat interaksi Maya dan ibunya dari tadi didapur membuat kerasnya hati Haikal luluh juga karena pada dasarnya dia memang orang baik. Apalagi mengingat janjinya untuk menemukan ayah dari bayi Maya belum terpenuhi membuat hatinya semakin merasa bersalah karena bagaimanapun kejadian yang menimpa Maya ada andil dirinya juga didalamnya, bagaimana tidak Maya frustasi dan mabuk-mabukkan karena cintanya kepada Haikal tidak terbalaskan.

__ADS_1


"Ka-kak Haikal". Ucap Maya gugup. Pasalnya selama beberapa hari ini dia tinggal dirumah tersebut Haikal sangat menghindarinya dalam bentuk apapun, bahkan sebisa mungkin tidak mau berada satu meja yang sama dengan Maya ketika makan.


"Kamu memanggilku kakak kan, itu artinya kamu adikku, jadi mulai sekarang apapun yang kamu rasakan dan kamu inginkan katakan juga padaku mungkin aku bisa memenuhi ngidammu". Wajah Haikal yang akhir-akhir ini terlihat sangat datar sekarang berubah menjadi ramah dan manis sama seperti Haikal ketika pertama kali Maya mengenalnya. Siti yang berada disana juga ikut bahagia melihat anaknya yang sudah bisa berdamai dengan rasa bencinya.


Maya menganggukkan kepalanya dengan wajah berbinar melihat Haikal sudah bisa menerima kehadirannya. "Terimakasih kak".


"Tidak usah berterimakasih, kamu tahu ngidammu itu bisa mengobati rasa ingin tahuku bagaimana jika seorang istri merepotkan seorang suami karena ngidamnya. Karena istriku tidak mengalaminya maka aku akan merasakannya melalui adikku ini". Ujar Haikal sambil mengacak gemas rambut Maya.


"Kakak belum tahu saja, coba Anin hamil nanti kak Haikal pasti akan menyerah juga". Jawab Maya.


"Apa hamil kedua akan berbeda dengan kehamilan pertamanya ini?". Tanya Haikal antusias.


"Ini tidak adil, bagaimana bisa kalian tidak memberitahukan kepadaku berita sepenting ini?".


"Karena dia itu tidak merepotkan sekali, lihat saja dia selain sekarang sikapnya tidak sedinging dulu dan manjanya yang berlebihan itu, tidak ada satupun perubahan lain yang dia tunjukkan". Ujar Haikal kesal.


"Sepertinya kalian sangat menikmati obrolan kalian tentangku ya?". Tiba-tiba Anin juga masuk kedapur dan mengambil posisi duduk disebelah Maya. Kini Maya diapit oleh pasangan suami istri itu. Ketika Haikal turun dari lantai atas, Anin memang sudah tertidur pulas namun bukan Anin namanya jika indera penciumannya yang sangat tajam selama hamil bisa meresakan jika wangi tubuh suaminya tidak lagi terendus oleh indera penciumannya, sehingga dia terbangun mencari keberadaan suaminya itu.


"Hey, Plak". Maya langsung melayangkan tangannya dilengan Anin. "Kenapa tidak memberitahukan aku jika kamu juga harus hah?".


"Aws, sakit May, kamu ini apa-apaan, sayang adikmu ini memukul lenganku". Rengek Anin pada Haikal. Jika sudah seperti ini Haikal harus sigap mengelus Anin kalau tidak dia bisa marah kepada Haikal seharian penuh.

__ADS_1


"May, jaga sikapmu pada istriku, dia tidak boleh terluka sedikitpun". Haikal berpindah posisi didekat Anin lalu mengelus-elus lengan mulus istrinya. Sungguh jangankan Maya, Haikal saja sangat malu bersikap seperti anak kecil begini didepan orang lain apalagi disana ada ibunya.


"Oh, ya ampun bu, lihat pasangan suami istri ini, selera makanku jadi hilang melihat tingkah aneh mereka". Gerutu Maya, sedangkan Siti hanya menggelengkan kepalanya.


"Ayo makan ini May, jangan banyak alasan tadi kamu bilang lapar". Siti menghidangkan telur dadar dengan nasi putih panas seperti yng diinginkan Maya. "Kamu mau juga nak?, biar ibu buatkan juga". Tanyanya kemudian kepada sang menantu.


"Tidak bu, apa enaknya makanan begitu sungguh anakmu tidak berkelas sekali jika ngidamnya hanya dengan menu seperti itu, jika aku ngidam minimal aku akan minta spaghetti atau steak". Ejek Anin kepada Maya.


"Bilang saja kamu iri karena tidak bisa menikmati indahnya ngidam sepertiku".


Tidak ada habisnya perdebatan tengah malam itu diantara kedua ibu hamil tersebut kadang membuat Haikal dan bu Siti menggelengkan kepalanya karena heran, terlebih lagi Haikal dia sama sekali tidak menyangka jika dua musuh dimasa lalu bisa berubah menjadi dua sahabat bahkan saudara saat ini.


Perdebatan tengah malam itu baru selesai ketika kedua ibu hamil itu kekenyangan dan mengantuk. Ya, Anin yang sempat menolak tawaran Siti akhirnya menyerah juga melihat lahapnya Maya memakan telur dan nasi putih dan membuat dirinya penasaran karena seumur hidupnya dia belum pernah memakannya.


"*Maya, dimana aku harus mencari petunjuk tentang ayah dari anakmu jika membahasnya saja kamu tidak mau. A*ku tidak akan menyerah aku akan meminta bantuan Nino dan Rian bila perlu." Batin Haikal.


•••••


Duh telur dadar dan nasi putih paporit otor itu, maklum kami orang kampung 😅


Ada yang suka juga gak disini? cung ☝🏻

__ADS_1


__ADS_2