Hanya Cinta

Hanya Cinta
Makam


__ADS_3

Sementara itu waktu sudah mulai menunjukkan sore hari, setelah menyiapkan dua buah karangan bunga yang indah untuk mengunjungi makam kedua orang tuanya Anin malah tertidur pulas didalam mobil ketika mobil itu berhenti di area parkir komplek pemakaman elit tersebut, tentu saja Anin tertidur pulas selain faktor kehamilannya dia juga sudah terlalu lelah menangis seharian ini, belun lagi perjalanan jauh yang ditempuh untuk menemui Mirna.


Haikal yang tidak tega membangunkan istrinya hanya bisa menatapnya sambil tersenyum bahagia, mengingat jika wanita disampingnya saat ini adalah wanita yang sangat dingin dulu namun sekarang menjadi wanita yang cengeng dan cemburuan meskipun dia tidak mengakuinya.


Sambil tersenyum dan merapikan anak rambut Anin, Haikal terus membayangkan awal mula pertemuannya dengan Anin hingga sekarang mereka akan segera memiliki seorang anak.


Tiba-tiba dalam lamunannya itu Haikal teringat sesuatu jika dia dan Anin selama menikah belum pernah melakukan bulan madu. Ya, walaupun saat ini itu sudah tidak mungkin terjadi bukankah dia mengajak sang istri untuk babymoon. Selain untuk membahagiakan istri dan calon anaknya dengan babymoon juga istrinya bisa melupakan sejenak masalah yang terus-menerus melanda rumah tangga mereka.


"*Babymoon, kenapa tidak terpikirkan olehku?. Aku harus melakukan sesuatu agar Anin dan calon anakku merasa bahagia*". Gumam Haikal dalam hati sambil tersenyum.


Kemudian Haikal meraih ponsel didalam saku celananya lalu menelpon seseorang, siapa lagi jika buka sang asisten misteriusnya Rama.


"Siapkan semuanya dan kosongkan semua jadwalku selama satu minggu, aku tidak mau tahu". Titah Haikal.


"Tapi itu sangat lama tuan, bagaimana kalau tiga hari saja". Tawar Rama diseberang sana melalui sambunga telepon.


"Aku yang bosnya, kenapa selalu kamu yang mengatur segalanya". Seru Haikal kesal. "Aku tidak mau tahu, siapkan semuanya, atau kamu tidak akan menginjakkan kakimu lagi dikantor mulai besok". Gerutu Haikal lalu memutuskan sambungan telpon itu secara sepihak. Rasa kesal yang tidak berkesudahan terhadap Rama membuat Haikal menjadi sosok bos yang sangat galak untuk Rama, sangat berbanding terbalik dengan sifat aslinya yang ramah dan humble itu.

__ADS_1


Suara Haikal yang lumayan kerasa membuat Anin terbangun dari tidurnya. "Kenapa berteriak by?". Tanya Anin bingung dan melihat sekelilingnya yang ternyata mereka sudah tiba dipemakaman.


"Maaf sayang, aku mengganggu tidurmu". Jawab Haikal lembut. "Tadi aku sedang berbicara dengan Rama masalah pekerjaan". Sambungnya lagi.


"Eemh, kenapa tidak membangunkanku, apa sudah lma aku tertidur?".


"Aku tidak tega sayang, kamu pasti sangat kelelahan".


"Manisnya suamiku ini". Ucap Anin sambil mencubit gemas pipi Haikal, lalu dia membuka pintu dan keluar. "Ayo, kita kemakam papi mami".


Haikal sungguh tidak pernah membayangkan jika Anin bisa memujinya dengan sangat manis seperti tadi dia bahkan mengelus-elus pipinya sambil masih diam saja dalam lamunannya, sehingga Anin kembali membuka pintu mobil dan mengajak Haikal kembali.


"Ma-mau sayang, ayo". Haikal langsung menyusul Anin keluar dari mobil dan mengikuti langkah Anin menuju dua buah makam yang terlihat sangat terawat itu. Ya, meskipun Anin tidak pernah mengunjungi makam tersebut tetapu dia tetap memerintahkan orang secara khusus untuk merawat kedua makam itu.


Setiba disana Anin segera bersimpuh dihadapan kedua makam orang tuanya, lalu meletakkan satu buket bunga di masing-masing makam dan mengusap kedua batu nisan dihadapannya, tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibirnya dan juga tidak ada tetesan air mata yang jatuh darinya. Anin sudah berjanji pada dirinya jika dia tidak akan menangis lagi karena dia ingin menjadi ibu yang kuat untuk anaknya meskipun dia tahu jika itu mustahil terjadi namun sebisa mungkin dia akan berusaha untuk itu.


Anin hanya menatap kedua nisan yang bertuliskan nama kedua orang tuanya dengan tatapan yang sulit untuk diartikan, entah apa yang ada dibenak wanita cantik itu sedangkan Haikal membiarkan hal tersebut dengan hanya duduk disamping sang istri tanpa berkata-kata karena dia tahu jika Anin membutuhkan waktu sendiri.

__ADS_1


Lama hal tersebut berlangsung hingga akhirnya Anin menghela napas panjang dan menyapa kedua orang tuanya. "Assalamualaikum Pi, Mi. Anin datang. Maaf kalau baru sekarang Anin kembali lagi kesini, tapi anin sudah menuntaskan semuanya Pi, Mi, dan Anin sudah lega. Baiklah kita lupakan semua hal buruk itu yaa, Anin punya kabar gembira untuk kalian, kalian tahu Anin sekarang sudah menikah, Anin sudah tidak sendirian lagi, sekarang sudah ada yang menjaga Anin". Anin menoleh kearah Haikal dan tersenyum lalu kembali menatap kearah batu nisan. "Dia pria yang sangat baik, sangat baik sama seperti papiku". Tanpa terasa setitik air mata lolos juga dari matanya namun segera dihapus olehnya.


"Assalamualaikum Pi, Mi, aku Haikal suami Anin. Sekarang papi sama mami bisa tenang disana karena aku berjanji akan selalu bersama Anin dan mencintainya seumur hidupku. Semoga papi sama mami mau menerima Haikal sebagai menantu kalian". Kalimat demi kalimat dari mulut Haikal seketika membuat Anin sangat haru.


"Mi, Pi, aku ada berita yang lebih membahagiakan lagi, kalian tahu aku sekarang hamil dan kalian akan segera mempunyai cucu, kalian sudah tua sekarang karena akan ada yang memanggil kalian opa dan oma, hehe". Sambung Anin lagi kemudian terdengar dia terisak, pertahanan Anin benar-benar runtuh.


Setelah tenang dan dapat mengontrol emosinya kembali Anin kemudian berkata lagi. "Mi, Pi doakan Anin dan Haikal ya, semoga kami bisa menjalani kehidupan rumah tangga kami dengan baik dan kami berjanji akan sering-sering mengunjungi kalian disini".


Setelah puas menangis dan berbincang serta tidak lupa pula mereka mendoakan kedua orang tuanya dengan khusyuk dihadapan makam tersebut, jujur ini untuk pertama kalinya Anin berdoa untuk kedua orang tuanya setelah mereka tiada, dulu jangankan untuk mendoakan mereka untuk mengingat saja Anin enggan namun kehadiran Haikal mampu mengubah segalanya, hal itulah yang sangat disyukuri oleh Anin karena dia berjodoh dengan pria yang tidak hanya baik tapi juga sholeh.


"Ayo sayang kita pulang, hari sudah mulai gelap". Haikal merangkul sang istri menuju mobil sedangkan Anin hanya mengangguk dan mengikuti langkah suaminya.


Mobil membelah jalanan membawa sepasang suami istri itu menuju kediaman mereka, tidak terdengar sepatah katapun ketika perjalanan pulang itu. Anin sibuk dengan pikirannya namun dilain sisi dia sangat merasa lega.


"Aku tahu jika ini sudah sangat terlambat, tapi Ya Allah semoga Engkau mengampuni semua dosa-dosa kedua orang tuaku dan tempatkan mereka berdua ditempat yang paling indah disisimu". Batin Anin sambil tersenyum.


Sedangkan Haikal hanya fokus menyetir namun pikiran sibuk dengan segala rencana babymoon yang indah untuk sang istri agar semua masalahnya bisa dia lupakan untuk sementara.

__ADS_1


"Sayang, aku berjanji setelah hari ini hanya akan ada kebahagiaan diantara kita, tidak akan kubiarkan lagi air matamu jatuh kecuali airmata kebahagiaan". Batin Haikal.


__ADS_2