
Anin melenggang dengan sedikit teburu-buru bersama seorang pelayan yang membawa segala kebutuhannya dan juga Haikal selama mereka dirmah sakit. Tidak ada kecurigaan sedikitpun yang dirasakan olehnya mungkin karena rasa cemas yang menyeruak dihatinya memikirkan tentang keshatan sang suami padahal lampu ruang perawatan Haikal terlihat sangat gelap. Tepat didepan pintu ruangan tersebut Anin mengambil barang bawaannya dan memerintahkan pelayan untuk segera kembali kerumah.
"Sekarang kamu boleh pulang kembali kerumah bersama supir biar saya saja yang membawa masuk barang ini". Ucap pada sang pelayan.
"Baik nona, saya permisi dulu". Pamitnya sambil sedikit menunduk kearah sang majikan.
...Cekleek.......
Dan suprise....
Kamar tersebut benar-benar di sulap bak kamar pengantin baru yang ada dihotel-hotel bintang lima pada umumnya. Terdapat banyak bunga-bunga mawar merah yang indah juga dan lilin yang bertebaran dimana-mana.
"Haikal, kamu dimana, apa yang terjadi?". Anin memanggil sang suami dengan sedikit gugup karena orang sedari tadi dicarinya tidak menampakkan wujudnya.
"Sssttt, Sayang aku disini". Haikal langsung memeluk Anin dari belakang dan memberinya sebuket mawar merah lalu berbisik lagi. "Selamat ulang tahun pernikahan sayang, ini untukmu".
Mata Anin seketika berkaca-kaca dengan kejutan yang dibuat oleh sang suami, menerima bunga dari sang suami dengan hati yang bahgia lalu menciumnya namun sepersekian detik kemudian dia langsung bebalik dan memukul kecil dada bidang milik suaminya dengan bunga tersebut. "Apa ini semua hah?, kamu tahu aku bahkan tidak tenang karena terus menerka-nerka penyakit apa yang sedang kamu idap, lelucon macam apa ini?".
Haikal langsung membawa Anin kedalam pelukannya dan mengecup pucuk kepala Anin berkali-kali. "Ampun sayang, jangan memukulku lagi nanti bunga rusak, aku minta maaf tapi setidaknya ini kejutan yang manis bukan?". Tanya Haikal tanoa dosa sambil mengedipkan satu matanya kepada Anin.
"Manis?, jangan pernah membuat lelucon seperti ini lagi Haikal, ini tidak lucu kamu tidak tahu bagaimana perasaanku saat mendapatkan kabar kalau kamu pingsan tadi, untung saja aku belum memberitahukan apa-apa kepada ibu, jika ibu tahu bagaimana, dia pasti akan sangat khawatir".
"Ini semua ide si kaku itu". Gerutu Haikal, rasa kesal kepada sang asisten belum juga hilang.
"Maksudnya???". Tanya Anin bingung.
"Lupakan, yang penting kita bisa menghabiskan waktu berdua saja tanpa gangguan siapapun terutama gangguan dari asistenmu itu dan aku janji ini adalah kejutan yang paling esktrim terakhir yang pernah aku lalukan".
__ADS_1
"Jadi kamu tidak sakit kan?, semua baik-baik saja kan?". Anin tetap memastikan bahwa Haikal tidak sedang bercanda tentang penyakitnya.
"Aku baik-baik saja sayang, percayalah".
"Lalu bagaimana kamu bisa pingsan begitu lama tadi?".
"Haah, pasti si kaku itu ingin membunuhku dengan obat tidurnya". Gerutu Haikal lagi dengan sedikit berbisik.
"Maksudnya???".
"Sudahlah sayang lupakan semua hal itu, sekarang hanya ada kamu dan aku jadi jangan bahas tentang hal lain. Sekarang ayo kita makan malam romantis". Haikal menuntun Anin menuju meja makan.
"Bukankah ini adalah makan malam teraneh didunia?, saat pasangan lain makan malam dipinggir pantai atau bahkan di restoran mahal juga di hotel mewah tapi kita merayakan ulang tahun pernikahan kita dirumah sakit".
"Sayang ini tidak akan mengurangi kesan romantisnya, tidak peduli dimanapun itu yang penting adalah denganmu". Haikal mengecup punggung tangan Anin lama dan syahdu sehingga mampu membuat Anin melayang karena perlakuan suaminya itu.
"Kamu bahagia?". Tanya Haikal dengan menatap intens wajah sang istri.
"Sangat, tapi kamu harus janji ini adalah lelucon pertama dan terkhir kalinya yang kamu lakukan dihidupku".
"Apa kamu sangat mengkhawatirkanku?". Tanya Haikal yang hanya ditanggapi dengan senyuman sambil menunduk oleh Anin karena seperti biasanya dia akan selalu menghindar ketika Haikal menanyakan kejujuran tentang perasaannya.
"Tidak perlu dijawab karena aku sudah tahu jawabannya". Haikal mengecup kening Anin lama seolah kecupan itu mampu menyalurkan seluruh rasa cintanya, sedangkan Anin memejamkan matanya merasakan merasakan hangatnya pelukan dan kecupan sang suami dengan irama jantung yang tidak beraruran.
"Sayang berjanjilah sesuatu padaku".
"Apa?". Tanya Anin.
__ADS_1
"Apapun yang terjadi nanti, jangan pernah tinggalkan aku dan percayalah kalau aku sangat mencintaimu hanya kamu satu untuk selamanya". Ujap Hailal sambol menatap manik mata Anin seolah tatapan itu sedang menhipnotis sanga istri untuk percaya dan hanyut dalam cintanya.
"Baiklah aku berjanji".
"Apapun yang kamu dengar atau kamu tahu tentang hal burukku dari orang lain jangan mudah percaya tapi cari tahu dulu kebenarannya langsung dariku karena yang lebih tahu tentangku hanyalah diriku buka orang lain". Anin hanya menganggukkan kepalanya mendengar perkataan Haikal.
"Apa kamu mencintaiku?". Tanya Haikal dan lagi-lagi Anin sangat terasa berat untuk mengakui perasaannya. "Tidak apa, kita akan bahagia meski hidup hanya dengan cintaku, karena cintaku sangat cukup untuk kita nikmati berdua kita sama sekali tidak akan kekurangan cinta. Kamu percaya padaku kan?". Lagi-lagi Anin hanya menganggukkan kepalanya.
"Malam ini tepat satu tahun yang lalu kita menikah, mungkin dulu aku terpaksa menikahimu karena tujuan pernikahan kita yang sangat konyol menurutku tapi aku tidak bisa membohongi perasaanku aku sangat bahagia bisa menjadikanmu istriku, aku jatuh cinta kepadamu bahkan saat aku belum mengenal siapa dirimu. Dan malam ini maukah kamu menjadi istriku seutuhnya tanpa paksaan siapapun?. Lagi-lagi Anin hanya menganggukkan kepalanya dia seperti kehilangan suaranya untuk berkata-kata karena kebahagiaan yang membuncah dihatinya.
Haikal lalu menarik lembut dagu sang istri dan bersiap menerkam benda kenyal berwarna merah muda dihadapannya.
...Cup......
Lembut dan singkat llu dia melepsakannya lagi dan mengulanginya beberapa kali hingga akhirnya tarik meraikpun terjadi tanpa bisa di elakan. Saling membelit saling mengesap dan dan pertukaran saliva tak bisa dihentikan seolah dua orang yang saling kehausan dihamparan padang pasir yang kering dan sedang berbagi air untuk memuaskan dahaga mereka.
Tanpa melepaskan pungutan itu Haikal pun menggendong tubuh mungil Anin menuju tempat tidur ukuran king size, ya meskipun itu adalah ruangan rawatan dirumah sakit namun kamar yang digunakan Haikal adalah ruangan khusus untuk Anin beristirahat selama ini, sebagai pemilik rumah sakit tersebut tentu saja hal yang sangat wajar jika dia bisa mendapat segala fasilitas mewah dengan mudahnya.
...Brruukh.......
Tubuh mungil itupun mendarat dengan sempurna di atas kasur dan di ikuti dengan tubuh kekar yang menindihnya dari atas....
bersambung.....
•••••
Nungguin yaa, sama aku jugaa 😋
__ADS_1