
Hubungan Haikal dan Anin semakin membaik sejak kejadian mereka menghabiskan malam di kantor beberapa hari yang lalu. Anin lebih banyak bicara kepada Haikal tentunya nada bicaranya juga sudah tidak ketus lagi seperti dulu. Banyak hal sekarang yang menjadi topik pembicaraan mereka bahkan mereka saling ketergantungan satu sama lain layaknya suami istri.
Dan untuk pertama kalinya juga Haikal merasa bersalah dan tidak nyaman dengan kedekatannya bersama Maya, padahal selama ini mereka cukup dekat. Haikal juga tidak tahu perasaan apa yang yang ada di hatinya untuk Anin namun dia merasa seperti orang yang sedang selingkuh jika sedang bersama Maya.
Sepertinya aku sangat dosa selalu dekat-dekat sama wanita lain di belakang istriku sendiri. Apa Anin akan marah ya kalau melihat aku dan Maya sedekat ini. Batinnya ketika dia dan Maya sedang makan siang bersama.
"Kak, kak Haikal, kakak kenapa, ada masalah?". Tanya Maya yang melihat Haikal hanya mengaduk-ngaduk makanan di hadapannya.
"Oh, tidak". Jawab Haikal.
"Bohong, kalau tidak ada masalah apa-apa kenapa juga kakak sampai melamun begitu dan makanannya juga tidak dimakan, tidak enak ya?".
"Emmh, aku makan kok, seperti biasa makanan buatan kamu memang selalu enak". Jawab Haikal dengan melahap makanannya itu.
"Haikal". Seru seseorang dari belakang dan membuat Haikal dan Maya spontan menoleh. Semua orang yang berada di kantin juga ikut melihat kedatangan Anin bahkan para lelaki terus memuji kecantikan paras istri Haikal itu.
"Anin". Haikal terkejut dengan sosok yang dilihatnya. "Emmh kamu disini sayang?". Ujarnya lagi.
"Iya, aku tadi kebetulan ada urusan dekat-dekat sini, jadi aku mampir ke kantor kamu. Tadinya aku mau sekalian mengajakmu makan siang tapi sepertinya kamu sudah makan ya". Anin melirik ke meja.
"Oh, iya aku...". Haikal menggantung pembicaraannya.
"Kamu lihat sendiri kan kami lagi makan siang bersama jadi tolong jangan ganggu kami, ayo kak kita makan lagi". Maya langsung spontan memotong pembicaraan Haikal.
"May, tlong jaga ucapan kamu ke istriku". Bentak Haikal.
"Sudah tidak usah bersandiwara terus di depanku kalian suami-istri hanya di atas kertas saja kan". Bantah Maya.
__ADS_1
"Maya aku menghargai pertemanan kita selama ini jadi tolong jaga bicaramu, hargai juga istriku". Bentak Haikal membuat air mata Maya tergenang.
"Cukup, cukup, aku tidak mau terjadi keributan di kantor orang seperti ini jadi lebih baik aku pergi saja dari sini". Ujar Anin menengahi dan langsung meninggalkan kantin.
"Bagus, ayo kita makan saja lagi kak". Ajak Maya sambil menarik tangan Haikal namun langsung menampiknya oleh Haikal, lalu tangan Haikal meraih tangan Anin agar tetap berada disisinya.
"May, aku minta maaf sepertinya aku harus pergi untuk makan siang dengan istriku, ayo sayang kita makan di luar kantor saja". Haikal menggenggam erat tangan Anin dan menariknya keluar, sedangkan Maya menghentakkan kakinya dilantai karena kesal dengan situasi itu.
°°°°°
"Sayang, tungguin aku, jangan pergi dalam keadaan marah begini, bukankah kita akan makan siang bersama?". Haikal mencegat langkah Anin.
"Haikal disini cuma kita berdua jadi kamu tidak perlu bersandiwara dengan memanggilku sayang. Lagian aku tidak punya hak apa-apa untuk marah, aku pergi cuma karena aku tidak mau membuat keributan yang akan membuat kamu malu sama teman-teman kamu di sana". Jawab Anin setenang mungkin padahal jauh di dasar hatinya Anin merasa sakit melihat suaminya makan bersama wanita lain apalagi wanita itu adalah Maya.
"Pertama percaya atau tidak aku sedang tidakk bersandiwara. Kedua kamu punya hak untuk marah karena kamu adalah istriku dan yang ketiga ayo kita makan siang bersama, sini kunci mobilnya aku yang akan menyetir". Haikal menggandeng tangan Anin dan menariknya untuk pergi.
Perkataan Haikal itu membuat jantung Anin kembali berpacu tak karuan.
Apa yang sedang aku rasakan ini, kenapa aku begitu bahagia menerima perlakuan manis Haikal kepadaku. Gumamnya dalam hati sambil tersenyum dan mengikuti langkah Haikal.
Ternyata benar seperti dugaanku kalau Anin sudah berhasil menjebak Haikal dalam jebakan nya. Lihat saja Anin, aku tidak akan membiarkan Haikal jadi milikmu, aku akan rebut dia meskipun dengan cara yang licik sekalipun karena kamu juga mendapatkan Haikal dengan cara yang licik. Batin Maya yang sedari tadi melihat apa yang terjadi antara Haikal dan Anin.
"Kita makan dimana?". Tanya Haikal.
"Dimana saja, dimana nyamannya kamu saja, tidak usah jauh-jauh dari kantor kamu nanti kamu telat umtuk kembali ke kantor". Jawab Anin santai.
"Aku nyamannya kalau makan di dekat kamu". Haikalenatap manik mata Anin, Entah apa yang ada dipikiran Haikal tentang apa yang akan terjadi dengan hubungan mereka kedepannya tetapi satu hal yang dia sadari bahwa dia ingin pernikahannya bersama Anin bisa membaik dan berjalan layaknya pernikahan pada umumnya yang di penuhi dengan cinta. Haikal sudah bertekad akan berjuang untuk pernikahan dan cintanya kepada Anin sehingga Anin akan percaya dengan cinta dan pernikahan.
__ADS_1
"Emmmh, Haikal terimakasih tentang tadi". Anin mencoba mengalihkan pembicaraannya denga Haikal untuk menghidari irama jantungnya yang semakin tidak karuan karena tatapan haikal.
"Tentang apa?". Tanya Haikal bingung.
"Tentang kamu yang membelaku di depan Maya, aku tau Maya pasti tetap tidaak akan pernah percaya dengan hubungan kita meskipun kamu membelaku di depan dia".
"Sudah tugas aku sebagai suamimu untuk melindungi kamu jadi tidak usah sungkan dan berterima kasih, kita tidaak perlu membahas tentang Maya karena itu tidak penting untuk kita".
"Tapi Maya sepertinya sangat terobsesi sama kamu dia sepertinya tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkan kamu Haikal".
"Itu urusan dia, aku tidak peduli". Jawab Haikal cuek. "Kenapa? kamu cemburu ya?". Haikal mencoba menggoda Anin.
"Cemburu?. mana mungkin?, kamu jangan terlalu percaya diri".
"benar juga, mana mungkin seorang Anin merasakan cemburu, apalagi sama lelaki seperti aku, iya kan?".
"Emmmhhh, maksud aku bukan begitu Haikal, maksud aku....". Belum habis bicara Haikal langsung memotong pembicaraannya.
"Sudah tidak usah di bahas, aku cuma bercandasaja, Kita sudah sampai, ayo kita makan dulu". Haikal memarkirkan mobil di sebuah restoran tak jauh dari kantornya.
Apa Haikal marah ya?. Tapi apa aku benaran cemburu?. Aku memang tidak suka melihat Maya yang terlalu berharap kepada Haikal tapi mana mungkin aku cemburu kepadanya. Batin Anin.
Haikal, Haikal, bodoh banget sih berharap kalau Anin cemburu mana mungkin dia cemburu dia sendiri tidak pernah cinta kepadaku, dia hanya tidakk mau ada yang menyainginya saja. Batin Haikal yang melangkah terlebih dahulu ke dalam restoran meninggalkan Anin yang masih mematung di dalam mobilnya.
Semangat terus bacanya ya zeyeng 😘
Biar aku juga semangat untuk up tiap hari, jangan lupa jempolnya 👍🤗
__ADS_1