
Sehari, seminggu dan sebulan sudah setelah kejadian itu hubungan Haikal yang sedang hangat-hangatnya kembali terasa dingin ketika Haikal selalu mencoba mnghindari Anin bahkan untuk menyentuh istrinya Haikal merasa tidak pantas sehingga dia menyibukkan dirinya dengan berbagai macam pekerjaan bahkan dia sering berpergian ke luar kota.
Anin sama sekali tidak menaruh curiga kepada sang suami karena baginya Haikal melakukan hal tersebut semata-mata untuk membantunya agar tidak kelelahan, bahkan dia merasa sangat beruntung dicintai oleh pria yang bahkan tidak membiarkannya bekerja terlalu keras.
Berbeda dengan Anin, 2 asisten mereka Rama dan Lila merasa ada yang aneh dngan Haikal bahkan mereka secara diam-diam mencari tahu apa yang terjadi sebenarnya namun mereka tidak mendapati fakta apapun karena Haikal sepertinya sangat cerdas dalam menutupi suatu masalah.
Baik Haikal maupun Maya sama-sama tidak saling bertemu lagi, mereka seakan ingin melupakan hal tersebut namun nihil bagi Haikal karena dia merasa sangat bersalah kepada sang istri karena telah mengkhianatinya. Bahkan Haikal jatuh sakit badannya terasa lemas dan muntah-muntah tanpa henti.
"Selamat malam". Ujar sambil tersenyum semanis mungkin kearah Haikal, namun dibalas dengan wajah pucat Haikal yang tidak menyangka jika tamu dimalam hari tersebut adalah Maya. Maya saat ini dia berada diruang tamu rumah mewah milik Anin.
DEG, DEG, DEG...
Haikal dapat membaca situasi bahwa Maya datang kemari untuk membawa masalah. Dia salah berpikir jika Maya sudah melepaskannya dengan tidak pernah menerornya selama ini namun kenyataannya wanita tersebut sekarang berada dirumahnya.
"Mau apa kamu kemari?". Tanya Anin ketus.
"Begitukah caramu menyambut tamu?". Jawab Maya santai.
"Tidak usah basa-basi, ada keperluan apa kamu kemari?".
"Aku tidak punya urusan denganmu, aku berurusan dengan suamimu".
"Apa maksudnya?". Tanya Anin menatap Maya dan Haikal bergantian, sedangkan Haikal hanya diam tanpa bersuara sambil menunduk.
"Langsung ke inti masalahnya saja, aku-". Kalimat Maya terhenti begitu saja karena denga cepat Haikal menyanggahnya.
"Urusan pekerjaan jangan bicarakan dirumah, ayo pulanglah besok kita bertemu dikantor saja". Sanggah Haikal menarik lengan Maya namun ditepis olehnya.
__ADS_1
"Ini bukan masalah pekerjaan, lagi pula sejak kapan perusahaan kita menjalin kerja sama?". Pertanyaan Maya tersebut tentu membuat Anin semakin bingung.
"Dia benar, perusahaan kita tidak pernah punya kerja sama dalam bentuk apapun dengan perusahaannya kan by?".
"Sayang, nanti aku jelaskan, sekarang masuklah kekamar dulu biar aku bicara dengan Maya sebentar". Haikal membelai rambut Anin dengan sangat mesra membuat darah Maya seakan mendidih. "Ayo ikut aku". Haikal lagi-lagi menarik lengan Maya namun masih saja ditepis olehnya.
"Ohoo, adegan yang sangat romantis, tapi apakah adegan ini masih berlangsung kalau istri kamu yang menyedihkan ini tahu apa yang terjadi diantara kita?".
"Apa yang terjadi?. Cepat katakan".
"Bagaimana Haikal, apa aku yang harus mengatakannya atau kamu sendiri yang akan berbicara?". Lidah Haikal kelu, ingin sekalu dia jujur kepada Anin namun dia tidak mampu menyakiti wanita yang begitu dia cintai itu.
"Ayo katakan". Anin menguncangkan tubuh Haikal namun tidak ada jawaban yang ada hanya lelehan cairan bening yang lolos dari pelupuk matanya. "Katakan ada apa sebenarnya?". Kemudian dia melangkah menghampiri Maya dengan tatapan tajam.
"Aku hamil dan suamimu adalah ayah dari bayi yang aku kandung". Ucap Maya santai.
DEG, DEG. DEG....
"Sayang, dengarkan aku, ini semua hanya salah paham, aku dijebak olehnya". Anin benar-benar terjatub dilantai seperti devaju hal yang terjadi di masa lalu kembali terjadi. "Aku dijebak". Kalimat itu seolah tengiang-ngiang ditelingannya. Haikal mencoba meraih tubuh Anin namun dengan cepat ditepis olehnya.
"May, aku mohon pergi dari sini jangan membuat kekacauan seperti ini". Haikal menatap tajam kearah Maya.
"Kekacauan, anak tidak berdosa ini kamu anggap kekacauan?".
"Maya itu belum tentu anakku, kamu tidak mungkin hamil hanya karena sekali kita melakukannya". Tanpa Haikal sadari dia mengucapkan kalimat yang membuat jantung Anin berdetak tak karuan.
DEG, DEG. DEG....
__ADS_1
Marah dengan kalimat yang keluar dari mulut Haikal, Maya membuka tasnya dan melempar beberapa foto kebersamaan mereka di malam terlarang itu kemudian sebuah tespack bergaris 2 yang menandakan jika hasil dari yang melakukan tes urine dengan tespack tersebut memang hamil.
"Ambil semua bukti ini dan ayo buktikan dengan melakukan USG agar kamu lebih yakin. Dulu aku tergila-gila padamu karena kamu pria yang baik dan bertanggungjawab tapi setelah malam ini aku salah menilaimu, bahkan untuk mengakui kesalahanmu saja kamu tidak mampu". Teriak Maya penuh amarah.
"Anin, kamu kenapa sayang?". Ibu Siti yng sudah tidur malam itu pun ikut terbangun mendengar suara keributan diruang tamu. Kemudian merangkul sayang sang menantu yang tampak lemah tak berdaya.
Matanya kemudian menyapu setiap sisi ruangan yang tadinya rapi namun sekarang tampak berantakan dengan beberapa lebar foto yang sangat menjijikkan menurutnya. Air matanya jatuh seketika tubuhnya ikut jatuh kelantai dan menyetuh foto-foto tersebut.
"Ibu, Haikal bisa menjelaskan semua ini". Ujar Haikal dengan suara bergetar dia sangat takut jika kondisi kesehatan sang ibu tidak kuat untuk menerima situasi buruk seperti sekarang ini.
Siti kemudian langsung menghapus air matanya denga sisa kekuatan yang ada dia kembali sadar jika saat ini bukan dia yang terluka namun Anin, menatu yang sangat dia sayangi itu pasti sangat membutuhkan bahu untuk tempatnya bersandar. "Stop". Ujar Siti dengan mengangkat sebelah tangannya dengan lima jarinya yang memberi isyarat agar sang anak mundur.
"Ayo sayang, ibu akan mengantarkanmu ke kamar". Dia kemudian membantu Anin bangkit dari lantai. Hati Anin menghangat dengan perlakuan sang mertua dia pun bangkit lalu mereka berbalik menuju tangga.
Haikal sama sekali tidak menyerah dia mencoba mengejar langkah Ibu dan istrinya itu. Namun lagi-lagi Siti mengangkat sebelah tangannya tanpa menoleh kebelakang. "Hentikan langkahmu sampai disitu Haikal, Ibu akan mengambil baju dan barang-barangmu lalu kamu bisa pergi dari sini, bawa sekalian wanita itu selesaikan masalah kalian diluar rumah ini karena ibu tidak mau putri ibu terganggu dengan kehadiran kalian". Siti kembali melanjutkan langkahnya dan diikuti oleh Anin.
DEG, DEG. DEG....
Jantung Haikal seakan ingin keluar dari tempatnya sang ibu yang selama ini sangat mempercayai ternyata sekarang sangat membencinya, lalu kepada siapa lagi dia bisa mengadukan nasib sial yang sedang menimpanya itu.
Lain yang di rasakan Haikal lain pula yang dirasakan Anin, wanita itu sangat terharu mendengarkan semua kalimat yang terlontar dari mulut sang mertua, untuk pertama kalinya setelah kematian kedua orang tuanya Anin merasakan kasih sayang seorang ibu yang begitu tulus terhadapnya.
Haikal terjatuh lemah dilantai menatap langkah sang ibu dan juga istrinya yang menghilang dibalik pintu. Menjambak rambutnya sendiri dengan sangat kuat, wajah juga terlihat sangat frustasi.
"Aaaaaa". Haikal terus mengutuk kebodohannya karena yanpa sengaja dia mabuk dan tidak bisa menjaga dirinya sendiri malam itu. Sedangkan Maya sudah berlalu dari tempat itu, dia sudah cukup puas melihat kehancuran Anin dan Haikal namun walau bagaimanapun dia tetap akan menuntut pertanggungjawaban Haikal untuk anaknya.
•••••
__ADS_1
BERSAMBUNG 😢