
Bak sebuah kaca yang jatuh kelantai yang hancur maka hantaman yang disebabkan oleh kalimat yang diucapakan Anin dapat menghancurkan hati Haikal sampai berkeping-keping.
"Sepertinya aku harus membersihkan kalimat kotor itu dari mulutmu sekarang juga".
Dengan mata memerah Haikal menatap Anin tajam bahkan Anin belum pernah melihat Haikal semengerikan ini. Kemudian Haikal mencengkram kedua kedua pipi Anin dan ******* bibirnya tanpa ampun seolah ingin menghilangkan semua jejak kalimat laknat yang terucap tadi. Anin sangat ingin menolak namun dia sadar jika kekuatannya tidak sebanding dengan kekuatan sang suami. Bahkan tubuhnya juga merespon dengan baik setiap sentuhan Haikal tidak peduli jika mereka saat ini berada dilorong rumah sakit meskipun bisa dipastikan disana tidak akan dilewati oleh sembarang orang karena itu adalah daerah kekuasaan Anin.
Lama pergulatan itu berlangsung sampai pada akhirnya Anin menyerah karena kehabisan oksigen karena Haikal menghantam secara habis-habisan. Haikal dengan terpaksa melepaskan ******* itu ketika dadanya dipukul cukup keras oleh Anin.
Dengan napas yang memburu, wajah memerah dan bibir yang sedikit bengkak akibat ulah Haikal, Anin kembali mendorong dada Haikal agar menjauh darinya namun lagi-lagi Haikal mengunci kedua tangannya ke dinding.
"Ini untuk yang pertama dan terakhir kalinya kalimat itu aku dengar dari mulutmu, kalau tidak hukuman yang lebih berat menantimu". Ucap Haikal dengan suara parau.
"Tatap mataku Anin, katakan jika kamu tidak percaya kepadaku, tidakkah kamu bisa melihat cinta yang begitu besar dari sorot mataku ini, apa menurutmu ketika aku menatapmu dengan penuh cinta hanyalah sebuah kebohongan saja?. Jawab Aku". Bentak Haikal membuat nyali Anin semakin menciut, dia tidak dapat menjawab apapun.
"Sekarang ikut denganku". Haikal menarik lengan Anin dengan kuat sehingga mau tidak mau Anin harus mengikutinya.
•••••
"Aku sedang tidak ingin mengunjungi siapapun, lepaskan aku". Anin menghempaskan tangan agar Haikal melepaskannya setelah sadar jika kamar yang dituju adalah kamar perawatan Darmadi.
Tanpa memperdulikan ucapan Anin Haikal terus menggiringnya kekamar tersebut.
CEKLEK...
Pintu kama tersebut terbuka dan tampaklah Maya yang menangis tanpa henti dismping ranjang sang ayah. Melihat yang datang adalah Anin, Maya langsung bangkit dari kursinya dan bersimpuh di kaki Anin.
"Maafkan aku". Hanya itu kalimat yang keluar dari mulutnya karena selebihnya yang terdengar adalah tangisan tanpa henti.
__ADS_1
"Hey, apa yang kamu lakukan". Anin terkejut dengan situasi ini.
"Hiks, hiks, hiks. Aku terlalu jahat untuk meminta maaf darimu, tapi aku benar-benar menyesali perbuatanku padamu. Demi mendapatkan Haikal dan memberikan seorang ayah untuk anak yang aku kandung, aku tega menjebak suamimu dan memfitnahnya, tapi aku sudah merasakan balasan dari perbuatanku itu sekarang lihatlah papaku sakit semua karena ulahku, aku mohon maafkan aku Anin".
Mendengarkan ucapan Maya Anin langsung tercekat, dia menatap Haikal dengan tatapan yang sulit diartikan, bagaimana bisa dia lebih mempercayai orang lain dibandingkan suaminya sendiri. Bayangan masa lalunya bisa saja membunuh masa depannya tanpa dia sadari.
Penyesalan sebuah kata yang selalu saja datang terlambat dan ketika dia datang maka semua yang terjadi tidak dapat diulang kembali. Bukan hanya Maya yang menyesali perbutannya saat ini, Anin juga sangat menyesali sikapnya terhadap sang suami.
Maya menceritakan semua kronologi kejadian pada malam penjebakan Haikal tersebut dengan menangis tersedu-sedu di kaki Anin. Jantung Anin berdetak tidak karuan mendengar setiap kalimat yang keluar dari mulut Maya, air matanya menetes tanpa bisa dihentikan, bisa dikatakan inilah untuk pertama kalinya Anin tampak seperti seorang wanita yang lemah didepan Maya padahal hal tersebut sangat dihindarinya.
Kalimat demi kalimat itu terus berputa-putar dikepalanya dan terngiang-ngiang tanpa henti meskipun Maya sudah berhenti berbicara.
"BURGH". Anin tidak lagi mampu berdiri dikedua kakinya, dia kehilngan kesadarannya untung saja Haikal dengan sigap menangkap tubuh mungil sang istri.
"Bagaimana keadaannya dokter?". Tanya Haikal usai seorang dokter wanita memeriksa keadaan Anin.
"Nona Anin tidak apa-apa, mungkin hanya kelelahan dan dia mempunyai banyak pikiran yang akhirnya membuatnya stress. Sebaiknya jangan paksa dia memikirkan sesuatu yang akan membuatnya stress tuan, karena itu tidak baik untuk seorang wanita hamil".
"Saya akan resepkan vitamin untuk nona Anin dan tolong jaga kesehatan fisik dan juga mentalnya karena wanita hamil sangat membutuhkan dukungan dari orang sekitarnya terutama suami. Ibu hamil yang sehat dan bahagia akan melahirkan bayi yang sehat pula tuan". Sambung dokter lagi.
"Baik dokter saya akan menjaga istri saya dengan baik". Binar bahagia tidak dapat disembunyikan oleh Haikal dari wajahnya.
"Saya permisi tuan, jika nona Anin sudah sadar kita akan memeriksa keadaan janinnya secara langsung melalui USG dipoli kandungan".
"Terima kasih dokter*.
•••••
__ADS_1
Berada dikamar pertama kali dirinya dan Anin menjadi sepasang suami istri sesungguhnya membuat Haikal terus tersenyum menatap istrinya yang masih belum sadar, apalagi mengingat jika sebentar lagi akan ada seorang anak sebagai pelengkap kebahagiaannya dengan Anin.
TOK, TOK, TOK...
Sungguh suara ketukan pintu tersebut membuat Haikal sangat kesal karena mengganggu dirinya yang ingin berduaan saja dengan Anin setelah sekian lamanya kesalahpahaman terjadi diantara mereka.
"Tuan, bagaimana keadaan nona Anin saya dengar dari perawat jika dia pingsan tadi". Tentu saja sang pengganggu itu adalah Lila, asisten yang selalu berada disekitaran Anin bahkan lebih dari dua belas jam dalam satu hari.
"Dia baik-baik saja, hanya kelelahan jadi kamu tidak usah khawatir dan bekerjalah lebih giat lagi agar istriku tidak perlu bekerja sampai dia kelelahan lagi seperti ini". Jawab Haikal datar. Lila sama sekali tidak menanggapi semua ocehan Haikal karena memeriksa keadaan Anin jauh lebih penting baginya dan tanpa permisi Lila langsung menerobos masuk untuk melihat sendiri keadaan Anin.
"Dia ketiduran saja sebentar lagi juga sadar, jadi kamu pergilah melanjutkan pekerjaanmu biar aku yang menjaganya".
"Ini saya sedang bekerja tuan".
"Kerja bagaimana, kamu hanya duduk-duduk saja disini".
"Tuan apa anda lupa jika pekerjaan saya yang paling penting adalah memestikan jika nona Anin dalam keadaan baik-baik saja".
"Aku akan pastikan jika Anin baik-baik saja karena aku suaminya".
"Saya akan tetap disini sampai nona Anin sadar karena mungkin saja nanti nona Anin akan mencari saya".
"Hey, dia tentu akan mencariku, suaminya. Kamu ini sama saja seperti sikaku itu selalu suka berdebat denganku". Seru Haikal ketus namun tidak ditanggapi lagi oleh Lila dia lebih fokus untuk menunggu Anin sadar.
Entah mengapa Haikal merasa setiap asisten pribadi itu selalu saja menyebalkan layaknya di novel-novel 😌
Setelah perdebatan yang tidak berfaedah antara Haikal dan Lila, Anin akhirnya mengerjapkan matanya, pemilik bulu mata lentik itu secara perlahan membuka matanya namun belum sempurna mata itu terbuka dia bergumam memanggil nama "Lila". Membuat Haikal membulatkan matanya dengan sempurna karena orang yang pertama dicari oleh sang istri bukanlah dirinya.
__ADS_1
Hal yang paling menyebalkan lainnya adalah ketika Lila menatap Haikal dengan senyuman sinis seolah memberikan isyarat jika dia jauh lebih dibutuhkan disini dibandingkan Haikal.
•••••