Hanya Cinta

Hanya Cinta
Gantung


__ADS_3

"Lila". Anin kembali menyebut nama asistennya itu, kemudian Lila mendekat dan duduk disamping ranjang Anin.


"Saya disini nona, apa nona butuh sesuatu?". Tanya Lila sigap.


"Tidak, aku tidak butuh apapun, tolong tinggalkan aku dan suamiku saja, ada yang harus kami bicarakan". Spontan kata-kata suamiku yang diucapkan Anin membuat kening Lila berkerut karena bingung, lalu dia menatap Haikal yang menampilkan senyum kemenangan sekaligus angkuh diwajahnya.


Lila menghela napas dia dapat membaca situasi jika hubungan Anin dan suaminya telah membaik. "Baik nona, saya permisi jika anda membutuhkan sesuatu segera hubungi saya".


Anin menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. "Baik, terimakasih Lila".


Begitu Lila meninggalkan ruangan tersebut Haikal langsung menghampiri istrinya, duduk disebalah Anin lalu membelai rambuh panjang Anin penuh cinta.


"Sayang, apa kamu membutuhkan sesuatu?. Mana yang sakit atau kepalamu pusing?. Aku panggilkan dokter yaa". Perhatian lembut Haikal membuat Anin semakin merasa bersalah.


Anin langsung menggenggam tangan Haikal sebagai isyarat jika dia tidak ingin ditinggalkan. "Aku hanya membutuhkanmu by". Ujar Anin lembut lalu menyandarkan kepalanya didada bidang suami ,mencari tempat ternyamannya yang sangat dia rindukan selama ini yaitu lekuk leher Haikal lalu menghirup aroma maskulin disana yang menjadi candu baginya. Haikal hanya menuruti kemauan sang istri dengan terus membelai rambut Anin dan mengecup pucuk kepala istrinya berkali-kali. Haikal sangat bahagia ketika Anin kembali memanggilnya dengan sebutan "By" itu artinya hubungan mereka sudah membaik.


Dua insan itu seolah sedang melepaskan rindu yang membuncah dihati masing-masing saat ini namun tak lama berselang Haikal merasa jika tubuh istrinya bergetar, Anin menangis dengan memeluk erat suaminya.


"Sayang, kenapa menangis?". Tanya Haikal sangat lembut. Anin tidak meresponnya sama sekali dia masih saja menangis dan Haikal membiarkan hal tersebut karena mungkin hormon kehamilan membuat Anin menjadi cengeng padahal selama ini Anin sangat jarang bahkan tidak pernah mau menampakkan air mata dihadapan Haikal.


Setelah puas menangis Anin melepaskan pelukan dan menatap wajah Haikal.


"Kenapa menangis heem?". Tanya Haikal lagi.


"Tidakkah kamu ingin menghukumku, manyalahkanku atau memintaku untuk minta maaf atas kesalahan yang aku lakukan?". Anin menundukkan kepalanya karena malu menatap mata suaminya.

__ADS_1


"Untuk apa?".


"Jangan berpura-pura seperti ini by, marahi aku hukum aku jika aku telah membuat kesalahan". Jawab Anin.


"Dengarkan aku sayang, aku tidak akan marah dan menghukummu karena aku tahu jika berada diposisimu saat itu aku juga akan melakukan hal yang sama". Haikal mencoba membuat Anin setenang mungkin agar Anin tidak stress dan berdampak pada janin dalam kandungannya. Apalagi beberapa hari yang lalu Haikal sudah mengetahui kisah masalalu Anin dan kedua orang tuanya dari bu Marta jadi sangat wajar jika Anin memiliki trauma tersendiri.


"Tapi-".


"Sayang, aku sangat mencintaimu dan aku menerima semua yang ada padamu tanpa terkecuali termasuk sifatmu yang dingin dan tidak pernah merasa bersalah itu jadi kedepannya kalaupun hatimu belum bisa mencintaiku setidaknya percaya padaku jika dihatiku hanya ada cinta untukmu dan kita akan hidup bahagia meskipun hanya mengandalkan cintaku".


"Jangan berbicara seperti itu aku semakin merasa bersalah, aku merasa tidak pantas mendapatkan cinta yang sebanyak ini darimu, tolong hukum aku dan salahkan aku atas semua kejadian ini. Kamu salah jika berpikir aku tidak mencintaimu by, aku sangat mencintaimu, sangat". Seru Anin penuh penekanan lalu langsung kembali memeluk suaminya dengan erat.


Haikal merasa sangat bahagia dan terharu mendengarkan pengakuan Anin. "Aku berjanji untuk kedepannya aku akan selalu mempercayaimu dan tolong ajari aku cara mencintai seperti dirimu yang mencintaiku tanpa syarat". Sambung Anin lagi.


"Terima kasih sayang". Ujar Haikal penuh haru. "Baiklah jika kamu memang sangat ini dihukum maka aku akan menghukummu". Seru Haikal dengan senyuman licik dan Anin hanya dapat mendesah tak percaya jika Haikal benar-benar akan menghukumnya.


"Tentu saja, jadi siapkan dirimu karena aku tidak akan melepaskanmu sebelum aku merasa puas menghukummu karena kesalahanmu sangatlah besar".


"Terserah kamu saja, karena aku memang pantas mendapatkannya". Endus Anin kesal.


Haikal langsung mendorong tubuh Anin lalu menguncinya dengan tubuhnya sendiri. Haikal menyambar bibir Anin dengan liar tentu saja perpisahan mereka beberapa minggu ini membuat puncak gairah Haikal sangat menggebu-gebu untuk menyentuh istrinya dab menuntaskan Hasratnya itu.


Anin sangat menikmati setiap sentuhan, gigitan dan esapan yang Haikal lakukan bahkan dia sangat menginginkannya. ******* bersautan didalam kamar bersejarah itu mereka seakan tidak membuang kesempatan untuk menciptakan sejarah baru yang lebih indah disana.


Entah bagaimana kedua insan yang sedang dimabuk cinta itu tidak memakai apapun lagi ditubuh masing-masing bak bayi yang baru dilahirkan. Anin sudah tidak dapat menahannya lagi dia sangat menginginkan permainan itu segara berlanjut pada inti pokok permainannya. Saat mereka sama-sama siap untuk menyatukan kenikmatan tersebut Haikal langsung mencabut kembali tongkat power rangersnya itu membuat Anin uring-uringan.

__ADS_1


"Kenapa?". Tanya Anin dengan suara paraunya karena gairahnya sudah menembus ubun-ubun namun dihentikan begitu saja oleh Haikal.


"Aku baru ingat sesuatu". Jawab Haikal dengan wajah tegang. Haikal kemudian bangkit dari tubuh Anin dan menyambar pakaian dan kembali mengenakannya.


"Apa?. Apa ada masalah, tapi setidaknya selesaikan ini dulu". Protes Anin tidak terima dengan perlakuan Haikal, bagaimana bisa jika suaminya itu bisa meninggalkan dirinya begitu saja meskipun ada hal yang penting lainnya.


"Tidak bisa sayang, aku sudah membuat janji dengan dokter jika kamu siuman dari pingsan maka kita akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut".


"What?, Haikal ini rumah sakit kita, siapa yang berani mengatur kita untuk melakukan pemeriksaan, kita bisa melakukannya kapan saja". Seru Anin karena mendengar alasan tidak masuk akal suaminya.


"Tidak, aku tidak mau mengambil resiko apapun sayang, kita harus memeriksamu sekarang juga". Haikal memungut pakaian istrinya kemudian membantu Anin untuk kembali mengenakannya. Dengan perasaan yang sangat kesal bahkan bisa terbaca dari wajahnya Anin hanya bisa pasrah dengan tingkah absyur suaminya itu.


"Poli kandungan?". Anin menautkan kedua alisnya ketika Haikal mengajaknya kepoli kandungan. "Kenapa kita kemari?". Tanya Anin lagi.


Haikal menatap istrinya penuh cinta lalu tersenyum manis. "Sebantar lagi kamu akan mengetahuinya sayang". Namun sayang semanis apapun senyum dan perlakuan Haikal terhadapnya tidak bisa membuatnya tersentuh karena masih sangat kesal dengan tingkah suaminya itu. Beruntung saja saat ini Anin masih merasa bersalah kepada Haikal kalau tidak dia pasti sudah meninggalkan Haikal disana sendirian tanpa mau mengikuti semua kemauannya atau bahkan dia akan mencekik leher Haikal.


Anin semakin bingung karena melihat diluar sana jika dokter kandungan yang sedang piket adalah dokter Alfian namun yang akan melakukan pemeriksaan terhadapnya justru dokter Armila.


"Bukankah diluar ditulis jika dokter Alfian yang sedang piket?". Tanya Anin.


"Benar nona, hanya saja tuan Haikal menunjuk saya untuk memeriksakan anda". Jawab dokter singkat.


Anin menatap Haikal penuh selidik seolah ingin mendapatkan jawaban darinya.


"Sayang, aku tidak mungkin mau ada pria lain yang menyentuhmu. Sekarang ayo baringkan tubuh disini agar dokter segera memeriksamu". Jawab Haikal sedikit berbisik karena malu harus mengakuinya didepan dokter Armila. Anin tidak menyangka jika dibalik sikap Haikal yang baik dan tidak pernah mengeluhkan apapun ada sifat posesif yang sangat kental. Dokter Armila tersenyum kecil melihat tingkah suami istri itu.

__ADS_1


"Baiklah ayo kita mulai". Seru dokter memulai pekerjaannya dengan cekatan.


•••••


__ADS_2