
Tiga hari sudah Haikal dan Anin berada di Indonesia setelah menghabiskan perjalanan mereka selama satu minggu di Dubai. Rutinitas mereka kembali seperti biasa yang selalu disibukkan dengan berbagai macam pekerjaan, apalagi sudah tujuh hari ditinggalkan.
Namun khusus untuk Anin, Haikal sangat melarang keras istrinya itu bekerja sehingga semua pekerjaan Anin mau tak mau dia yang menyelesaikan. Beruntung ada dua asisten yang selalu dapat di andalkan dalam berbagai hal disisinya, tentu saja mereka Rama dan juga Lila.
Jika sudah seperti itu maka Anin tidak dapat membantahnya, maka kegiatan Anin jika berada dirumah saja hanyalah belajar memasak bersama mertuanya dan juga bergosip dengan sahabatnya Maya. Dan bisa dipastikan gosip kali ini sangat hangat untuk diperbincangkan apalagi jika bukan tentang pengalamannya naik privat jet yang ternyata milik pemilik hotel tempat mereka menginap saat di Dubai, Marvin Askari.
"Tuan Marvin itu sangat tampan bukan?". Tanya Anin membayangkan wajah tampan khas timur tengah milik Marvin.
"Sangat". Jawab Maya dengan wajah berbinar. Lalu sejenak Maya berpikir. "Marvin?, tapi mereka tidak memanggilnya begitu, apa orang itu punya banyak nama samaran?. Entahlah orang kaya memang susah ditebak". Batin Maya karena seingatnya para kru pesawat yang ditugaskan untuk mengantarkan dirinya memanggil pria itu dengan sebutan Tuan Jack.
"Coba saja kamu bisa mendapatkan pria setampan dia, maka akan aku akui kekalahanku. Bagaimana kalau aku sarankan pada suamiku untuk mendekatkan kalian?". Tanya Anin antusias.
"Kamu masih waras kan?. Lihatlah apa yang kubawa bersamaku ini". Ketus Maya sambil menunjuk kearah perut buncitnya.
"Hehe, aku cuma bercanda".
"Kasihan sekali dia jika berjodoh denganku, selain tampan dia juga sangat kaya. Aku tidak menyangka jika pria yang semuda dia sudah sangat kaya raya begitu".
"Kamu ini jangan bicara seperti itu, kamu cantik May, baik dan juga kaya raya, hanya saja kamu tidak membeli privat jet".
__ADS_1
Cantik, baik dan kaya?. Itu semua tidak akan membuat aku terlihat sempurna dimata seorang pria Anin, yang mereka tahu aku adalah wanita hamil tanpa seorang suami, aku wanita yang bahkan tidak bisa menjaga kehormatanku sendiri". Gumam Anin dalam hati.
"Tidak, buktinya saja aku menumpang dirumahmu. Kamulah yang kaya sebenarnya". Kelakar Maya dia memang tidak pernah memperlihatkan kesedihannya didepan siapapun.
Canda tawa mereka pecah dengan berbagai macam gosip yang mereka bicarakan, jika sudah seperti itu mereka akan lupa waktu bahkan tanpa sadar Anin juga akan sering mengabaikan panggilan telpon dari Haikal.
Benar saja salah satu pelayan mendekati mereka dengan membawa telpon rumah bersamanya. "Nona, ada panggilan untuk anda". Ujar pelayan tersebut.
Anin menerima telpon itu. "Pasti Haikal, terimakasih". Pelayan menundukkan kepala dan pergi.
"Halo nona". Baru saja telpon diletakkan ditelinga suara panik Lila di seberang sana sudah terdengar dengan jelas.
"Nona segeralah kerumah sakit karena nyonya Mirna sedang kritis dan ingin bertemu dengan anda". Ya, Mirna yang sedang mengidap kanker stadium akhir memang sedang menjalani perawatan intensif dirumah sakit milik Anin, kehidupannya bersama dengan putranya juga telah dijamin oleh Haikal dan Anin sehingga mereka bisa tinggal ditempat yang lebih layak.
Anin menutup panggilan tersebut dan bergegas menuju rumah sakit dengan ditemani oleh Maya. Haikal yang juga sudah dikabari saat ini sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit.
"Anin maafkanlah semua kesalahan tante dimasa lalu, tante sangat menyesal sudah mengkhianati kepercayaan mami kamu". Anin menangis melihat keadaan wanita yang sempat sangat dibencinya itu dalam keadaan sekarat seperti sekarang ini, terlebih ada seorang anak kecil yang tidak berhenti menangis disampinnya.
Tante Mirna adalah salah satu sahabat sekaligus orang kepercayaannya ibu Anin dulu, Mirna yang yatim piatu disekolahkan sampai lulus kuliah serta di anggap anak sendiri oleh nenek dan kakek Anin, tentu saja hal yang sangat disesali oleh Mirna sampai akhir hayatnya ini adalah pernah berencana menghancurkan rumah tangga orang yang paling berjasa dihidupnya. Bukan hanya keluarga ibunya Anin yang berjasa kepadanya, ayah Anin juga sudi mempekerjakan dirinya dikantornya dengan posisi yang sangat bagus kerena Mirna sudah dianggap adik sendiri oleh orang tua Anin.
__ADS_1
"Tante, Anin sudah memaafkan semua kesalahan dimasa lalu, jangan ingat lagi tentang semua itu". Jawab Anin dengan suara bergetar.
"Anin mungkin seumur hidup tante selalu akan menjadi beban kamu nak, tapi apapun yang terjadi tolong jaga Asyraf untuk tante, berjanjilah, dia tidak punya siapapun selain tante". Anin menatap anak lelaki tampan itu tampak menatapnya dengan tatapan yang sangat sulit untuk diartikan.
Anin kemudian menatap kearah suaminya, Haikal mengangguk kecil mengisyaratkan untuk memberikan jawaban iya. "Tante tenang saja, Asyraf adalah tanggung jawab kami mulai sekarang". Jawab Anin.
Mendengar ucapan Anin, Mirna hanya mampu tersenyum tanpa bisa berkata-kata lagi, kemudian semua menjadi gelap dan semua menghilang, Mirna meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya. Sore hari itu menjadi sore paling kelam bagi Asyraf, anak sekecil itu harus hidup sebatang kara tanpa satupun orang tua disisinya.
"Innalilahi wa innailaihi rajiun". Kalimat bela sungkawa menggema diruang perawatan Mirna.
Asyraf memeluk erat tubuh ibunya sambil terisak dan tidak lupa sesekali meminta agar ibunya segera bangun karena dia tidak ingin ditinggalkan sendirian. Anin dan Haikal mencoba menenangkan dengan membawanya kedalam pelukan. Asyraf melepas pelukan itu dan menatap Anin dan Haikal secara bergantian.
"Asyraf janji tidak akan nakal lagi supaya kakak tidak meninggalkan Asyraf seperti ibu dan juga ayah". Ucapnya polos.
"Kami janji tidak akan meninggalkan mu dan akan selalu ada bersamamu, jadi kamu juga harus menjadi anak yang baik ya agar ibu bahagia dan bangga diatas sana". Jawab Haikal dan anak kecil itu meresponnya dengan menganggukkan kepalanya, lalu mereka kembali berpelukan.
Maya yang menyaksikan hal tersebut tanpa sadar juga turut menitikkan air mata. Tangannya reflek mengelus perutnya yang sudah mulai membuncit itu, entah apa yang ada dipikirannya mungkin saja dia membayangkan nasib anaknya kelak atau mungkin merasa dirinya dan Asyraf memiliki nasib yang sama.
Mulai hari itu anak lelaki kecil bernama Asyraf itu tinggal bersama Anin dan Haikal, Asyraf diperlakukan layakanya adik kandung mereka sendiri. Keikhlasan Anin merawat Asyraf adalah tolak ukur baginya jika dia memang benar-benar sudah berdamai dengan masa lalunya.
__ADS_1
Lengkap sudah kebahagiaan Anin saat ini jika dulu dia merasa sangat kesepian dan terpuruk dalam kesendirian tanpa siapapun dihidupnya namun nyatanya dia memiliki banyak orang-orang tercinta yang selalu berada disisinya, apalagi sebentar lagi kehadiran malaikat kecil yang sedang dia dan Haikal nantikan akan menambah deret kebahagiaan yang dia milik.