
Setelah kegagalan demi kegagalan yang dialami oleh pasangan suami istri yang sudah menikah hampir satu tahun namun belum juga merasakan kenikmatan yang hakiki itu, Kini keduanya malah disibukkan dengan aktifitas masing-masing yang cukup menguras tenaga.
Sama seperti Anin, Haikal juga sudah memiliki asisten pribadi yang sangat terpercaya. Dia sengaja mencari asisten pribadi agar bisa membantu pekerjaannya dan mengatur jadwalnya yang menumpuk. Dialah Rama sang asisten pribadi yang tidak memiliki ekspresi apapun diwajahnya bamun bisa di pastikan dia adal seseorang yang sangat bisa di andalakan layaknya seperti Lila yang srlalu patuh dengan apapun yang diperintahkan oleh majikannya.
"Anda terlihat sangat gusar tuan, adakah yang bisa saya lakukan?". Tanya Rama disela pekerjaannya besama Haikal.
"Ram, aku butuh saranmu". Jawab Haikal.
"Tentu saja tuan".
"Aku sangat lelah akhir-akhir ini, kamu tahu, bahkan aku jarang sekali menghabiskan waktu bersama istriku padahal srbentar lagi ulang tahun pernikahan kami tapi aku bahkan tidak bisa membuat sebuah kejutan untukku istriku". Haikal memasang wajah muram, tentu saja itu akan sangat berpengaruh bagi Rama yang selalu memastikan kenyamanan dan kebahagiaan majikannya.
"Perlukah saya yang menyiapkan segalanya tuan?, saya akan menyiapkan makan malam romantis atau bahkan bulan madu romantis untuk tuan dan nona Anin jika diperlukan".
"Tidak, tidak perlu, kamu tahu jika kamu melakukan itu pasti si asisten wanita menyebalkan itu akan selalu mengagalkannya entah dia memiliki dendam pribadi kepadaku".
"Uhuk, kenpa nda bisa memiliki pemikiran seperti itu tuan". Rama sampai tebatuk mendengar ocehan sang tuannya.
"Tentu saja, kamu tidak lihat, dia selalu menyita waktuku dan istriku dengan setumpuk pekerjaan yang tiada habisnya setiap harinya. Bisa kamu bayangkan sendiri kata-kata mutiara apa yang akan keluar dari mulutnya itu untukku. Lagi pula aku sangat merasa heran dengannya, dia sudah menikah dan punya anak juga harusnya dia mengerti bagaimana rasanya pengantin baru seperti kami ini". Rasa kesal diwajah Haikal sangat terlihat jelas.
"Pengantin baru?, tuan bukankah anda sudah menikah hampir satu tahun".
"Haah, kamu ini, tentu saja masih penganti baru walaupun hampir satu tahun, kami bahkan belum memiliki anak tentu kami harus bekerja ekstra kan?". Haikal secepat kilat meralat perkataannya agar Rama tidak curiga jika dia dan Anin bahkan belum melakukan ritual malam dengan sejuta rasa itu.
"Mau taruh dimana wajahku jika dia tahu yang sebenarnya, bisa-bisa dia berpikir jika adikku tidak berfungsi dengan baik". Batin Haikal. Meskipun Ramatahu sgalanya tentang tuannya namun dia tidak tahu akan satu hal itu.
"Benar juga, lalu apa rencana tuan?".
"Itulah yang sedang aku pikirkan beri aku ide aku harus bagaimana agar asisten wanita itu tidak mengangguku dan istriku untuk beberapa hari, kamu kan selalu punya ide cemerlang. Rasanya aku sangat ingin mencekiknya, untung dia seorang wanita".
Ucapan Haikal tersebut untuk pertama kalinya mampu membuat ekspresi terkejut diwajah sang asisten. "Anda yakin tuan?".
__ADS_1
"Tentu saja tidak, aku masih punya rasa kasihan pada anak dan suaminya". Ucap Haikal sambil terkekeh.
"Baiklah tuan, anda hanya perlu menunggu hasilnya saja, saya akan menyiapkan segalanya".
"Kamu memang selalu bisa di andalkan". Ucap Haikal dengan seringai licik, meskipun dia tidak tahu apapun tentang rencana Rama namun dia meyakini satu hal jika Rama tak pernah gagal dalam melakukan apapun.
•••••
Nanti malam adalah malam ulang tahun pernikahan Haikal dan Anin namun tidak tampak jika Rama sedang merencanakan sesuatu untuk sang tuan muda sesuai dengan permintaannya beberapa hari lalu. Hal itu mampu membuanya uring-uringan dengan wajah yang sangat kesal yang selalu ditunjukkan didepan sanga asisten.
"Seperti anda membutuhkan sesuatu tuan". Ujar Rama, saat ini mereka sedang berada didalam mobil menuju sebuah restoran mewah untuk melakukan sebuah pertemuan denga klien.
"Kamu masih bertanya?. Kamu tidak ingat jika nanti malam adalah malam yang spesial untukku dan istriku dan kamu masih menjeratku dengan setumpuk pekerjaan dan tidak menyiapkan apapun untuk nanti malam. Haah, lama-lama aku merasa kamu dan Lila adalah dua orang yng sama tapi berbeda gender saja". Gerutu Haikal dengan tatapan tajam.
Tetap dengan tatapan dingin dan tanpa ekspresi sang asisten hanya menjawab dengan "Tenangkan diri anda tuan, fokuslah pada pertemuan kita sebentar lagi saya takut klien kita akan laro jika anda terus memasang wajah menyeramkan seperti itu".
"Yang benar saja, kamu mengatakan itu untukku dengan sangat santai, sepertinya aku harus memikirkan untuk mengganti asisten saja". Hal tersebut sama sekali tidak di tanggapi oleh Rama dia hanya fokus membelah jalanan ibukota.
Meeting berlangsung dengan lancar, kerja sama antara perusahaan Zianda milik keluarga Anin dan perusahaan itu pun terjalin tanpa kendala. Seperti biasanya walau bagaimanapun keadaan hatinya Haikal selalu bisa mengontrol dirinya untuk tetap prefesional jika menyangkut pekerjaan, hal tersebut tentu saja ditunjang juga oleh kecerdasan otaknya dan juga sikapnya yang ramah sehingga membuat para klien nyaman untuk bekerjasama dengannya.
Berbeda dengan saat perusahaan itu di pimpim langsung oleh Anin, dimana dia sangat kaku l, angkuh dan dingin sehingga mungkin itu juga menjadi salah satu pemicu perusahaannya terancam bangkrut karena para investor banyak yang tidak suka dengan sikapnya.
Haikal tampak membuka pintu ruang pertemuan khusus yang disiapkan Rama, melangkah keluar restoran menuju mobilnya untuk kembali ke kantor tentu saja diikuti oleh sang asisten di belakangnya. Baru saja beberapa langkah dia meninggalkan halaman restoran tersebut tiba-tiba dia merasa pandangannya gelap, kepalanya juga terasa berat dan langkahnya seolah kaku.
Brrukkk.....
Tiba-tiba tubuhnya hilang keseimbangan dan semua gelap. Haikal kehilangan kesadarannya. Sang asisten berlari dan menangkap tubuh jakung nan kekar itu yang tiba-tiba pingsan.
"Tuan, bangun tuan". Rama berusaha membangunkan Haikal berharap sang majikan bisa mengumpulkan lagi kesadarannya dan bangkit. Namun sia-sia, dia bergegas merogoh sakunya dan menelpon ambulance untuk membawa Haikal menuju rumah sakit.
Setiba di rumah sakit Haikal langsung ditangani oleh dokter ahli diruang IGD. Anin yang mendapatkan kabar tentang suaminya terlihat sangat cemas. Langkah seolah bisa berhenti di satu tempat saja, mondar-mandir menunggu dokter keluar dan memberi kabar tentang keadaan suaminya. Sedangkan Lila dan Rama tampak tenang tanpa ekspresi dan tudak mengeluarkan sepatah katapun. Bahkn Anin sdiri enggan bertanya apa yang terjadi dengan suami pada Rama karena dia tahu jawabannya pasti tidak akan memuaskan.
__ADS_1
Kleek.....
"Bagaimana keadaannya dokter?". Anin langsung mempercepat langkahnya ketika dokter keluar daro ruang pemeriksaan.
"Tuan Haikal masih belum sadarkan diri sepertinya dia sangat kelelahan akhir-akhir ini, sehingga kondisi kesehatannya sangat menurun". Wajah dokter yang terlihat sangat serius mampu mengobrak-akbrik suasana hati Anin.
"Lalu?". Tanya Anin lagi.
"Kita harus melakukan serangkaian pemeriksaan lagi nona, dan untuk beberapa hari kedepan tuan harus dirawatn disini".
"Baiklah, terima kasih dokter lakukan apapun yang terbaik untuk suamiku". Wajah cemas Anin membuat Lila menarik sedikit bibirnya, dia sangat yakin jika nona mudanya itu sudah benar-benar jatuh cinta kepada suaminya.
"Lihatlah Lila demi mempertahankan perusahaan keluargaku dia bahkan tidak memperdulikan kesehatannya sendiri. ini semua salahku". Saat ini mereka sudah berada di dalam ruang perawatan VVIP, Anin menatap iba suaminya yang belum juga siuman dari pingsannya.
"Ini bukan saatnya menyalahkan diri sendiri nona, sabaiknya kita fokus pada kesehatan tuan muda saja".
"Kamu benar. Aku akan mengurus suamiku sendiri, tolong handle semua pekerjaanku karena aku tidak meninggalkan suamiku meskipun ada hal penting yang mnyangkut kantor ataupun hotel".
"Baik nona saya mengerti apa yang harus saya lakukan dan saya akan menyiapkan semua kebutuhan tuan dan nona selama disini, kalau begitu saya permisi dulu". Anin hanya menganggukan kepala tanpa menolah kearah Lila yang meninggalkan ruangan tersebut.
"Saya juga akan mengurus semua urusan dikantor untuk beberapa hari kedepan nona, saya pastikan tidak ada yang bisa mengganggu tuan dan nona". Ucap Rama membuka suara ketika dia tinggal bertiga dengan nona dan tuannya diruangan itu.
"Terima kasih, kalau begitu kamu boleh pulang". Jawab Anin meskipun dia merasa ada yang aneh dengan ucapan asisten suaminya tersebut.
"Saya akan tetap disini sampai tuan muda siuman karena saya harus memastikan keadaannya dulu".
"Baiklah terserah kamu saja".
•••••
Jangan dibaca cuma novel serpihan rempeyek sisa lebaran ini mah, masih acak adul bangeet ✌🏻
__ADS_1