Hanya Cinta

Hanya Cinta
HC 62


__ADS_3

Sementara itu setelah kembali ke ruangan Haikal Anin menemukan suaminya yang ternyata juga sudah kembali keruangannya tersebut, Anin kemudian mendekati suaminya dan tanpa basa-basi Haikal langsung bertanya kepadanya. "Jadi sekarang kamu percaya dengan apa yang aku katakan?". Tanya Haikal dengan wajah datarnya tanpa menatap sang istri. Anin memanyunkan bibirnya dan mengangguk pelan.


"Tapi dia bilang dihanya ingin memeluknya". Kemudian bantah Anin.


"Jadi apa menurutmu itu sebuah pembenaran bagi seorang yang sudah menikah?". Tanya Haikal lagi, kini menatap wajah istrinya penuh selidik. Anin kembali memanyunkan bibirnya tapi kali ini dia menggelengkan kepalanya.


Sungguh pemandangan yang indah bagi Haikal ketika Anin bertingkah seperti anak kecil begitu, sangat menggemaskan. Dan ide jahil muncul di otaknya untuk mengerjai sang istri.


"Lalu?". Tanya Haikal jahil sambil mencolek dagu Anin.


"Lalu apa?". Tanya Anin bingung.


"Tentu saja kamu harus minta maaf kepada suamimu yang tampan ini". Seru Haikal.


"Iya". Jawab Anin datar.


"Hanya iya, aku tidak percaya bahkan setelah aku membuatmu hamil tapi rasa egomu itu masih sangat tinggi".


"Iya aku minta maaf, lagi pula apa hubungannya aku hamil dengan egoku yang tinggi". Suara yang keluar dari mulut Anin sangatlah kecil seperti orang berbisik. Rupanya wanita hamil itu masih saja memiliki sikap angkuhnya sehingga sangat enggan mengakui kesalahannya.


"Aku tidak mendengarkannya sayang". Haikal mulai menggoda istri dinginnya itu.


"Aku minta maaf". Ujar Anin kembali namun bukannya dengan suara yang lebih besar justru suara itu kian kecil saja.

__ADS_1


"Mendekatlah jika ingin berbisik agar aku dapat mendengarkannya". Haikal menarik Anin dalam pelukannya, wajah Anin seketika merah merona ketika Haikal menggoda dirinya.


Anin kemudian mendekatkan bibirnya ketelinga Haikal namun bukan untuk berbisik tapi justru menggigitnya.


"Aws, kamu ingin menggoda ku sayang?". Tanya Haikal yang seketika saja gairah kejantanan bangkit ketika Anin menggigit telinganya.


Akhir-akhir ini Haikal memang sangat bergairah saat menatap tubuh sang istri yang kelihatan sangat seksii dimatanya dengan tubuh mungil, perut buncitnya dan pipi tembamnya itu perais seperti burung pinguin pikirnya, sungguh sangat menggemaskan dimatanya.


Haikal menarik tekuk Anin tanpa permisi dan langsung ******* bibir tipis milik Anin, mereka berdua sama-sama menikmati perlakuan tersebut tanpa sadar jika saat ini mereka sedang berada di kantor dan lebih tepatnya diruangan Haikal.


"Emmh". Desah Anin.


Sungguh Haikal tidak bisa menahan diri untuk tidak menyentuh istri cantiknya itu, dengan semangat membara bibir Haikal bukan hanya bermain di area wajah Anin namun juga di seluruh leher dan dada Anin yang selama kehamilannya menjadi lebih kenyal dan besar itu tentu membuat Haikal menggiila setiap saatnya jika mengingatnya.


Tok, tok, tok....


"By, lepaskan dulu, ada yang mencarimu". Ucap Anin


"Ahrgh, aku ingin sekali memakan orang itu hidup-hidup". Jawab Haikal kesal, mau tak mau dia harus melepaskan Anin dan berjaln menuju pintu saat orang diluar sana terus saja mengetuk pintu tanpa jeda. Padahal tadi dia sengaja menutup pintu ruangannya agar tidak ada yang menganggu kegiatan yang memang sudah direncanakan olehnya itu. Fantasi liar Haikal sepertinya semakin berkembang pesat sejalan dengan semakin membesarnya perut sang istri.


Ceklek....


Begitu pintu itu terbuka lebar benar saja sosok sangat ingin dicekik olehnya muncul disana. Rama sedikit menunduk memberi hormat pada bosnya itu juga kepada Anin yang muncul disamping Haikal. Rama mengutuk ketidaksabarannya untuk bertemu Haikal tadi karena jika dia tahu Haikal sedang bersama Anin diruangan tersebut maka dia akan menunda untuk berbicara dengan Haikal.

__ADS_1


"Maaf mengganggu tuan, ada hal yang ingin saya bicarakan". Ucapnya kemudian.


"Hal sepenting apa yang ingin kamu bicarakan sampai kamu harus menggangguku hah?". Bentak Haikal pada Rama, belum lagi rasa kesalnya melihat Lila berpelukan dengan pria lain sekarang justru muncul Rama dengan gangguan yang membuat kepalanya serasa berdenyut.


Melihat wajah bosnya yang tidak bersahabat Rama mengurungkan niatnya untuk berbicara dengan Haikal. "Sepertinya anda sdang sibuk tuan, saya akan kembali nanti saja". Rama langsung membalikkan tubuhnya dan berlalu dengan cepat dari sana, dia tahu jika Haikal tidak akan berani marah kepadanya didepan sang istri.


"Ahrgh". Haikal mengepalkan tangannya seakan ingin memberikan bogem mentah diwajah Rama.


"By, jangan terlalu keras padanya, kasihan dia pasti banyak sekali tekanan yang dia rasakan saat ini".


"Tekanan?, apa kamu tidak salah, justru dia sedang menikmati masa-masa bahagianya saat ini". Haikal menggelengkan kepalanya karena tak habis pikir dengan jalan pikiran sang istri.


"Bahagia?, by mana ada pria bahagia jika berada diposisi seperti Rama". Protes Anin.


"Sudahlah, aku sedang tidak ingin berdebat tentang manusia kaku itu, sekarang kamu istirahat saja dikamar aku harus menyelesaikan banyak pekerjaan". Ujar Haikal sambil menuntun sang istri yang hanya menurut saja untuk beristirahat dikamar pribadi yang berada diruangan tersebut.


Untuk melanjutkan ritualnya tadi Haikal sama sekali sudah tidak bersemangat, selain karena kehadiran Rama dan juga akibat Lila yang berulah belum lagi setumpuk pekerjaan yang telah setia menunggu dirinya diatas meja, maka dia memutuskan untuk melanjutkan pekerjaannya agar satu persatu dapat dia selesaikan sebelum semua masalah tersebut semakin rumit.


Sementara ditempat lain Lila yang setia menunggu sang suami kembali langsung bertanya dengan sangat antusias padahal suaminya belum juga masuk keruangannya. "Bagaimana?".


"Tuan Haikal sedang bersama nona Anin dan mereka tidak bisa diganggu saat ini". Jawabnya datar.


"Kamu ini bagaimana, membujuk tuan Haikal saja tidak bisa, aku rasa anakku akan sangat menderita karena memiliki ayah yang tidak peka seperti dirimu, hiks, hiks". Lila lagi menangis sambil mendramatisir keadaan, hal yang sangat jarang dia lakukan selama ini namun jika dia dalam keadaan hamil maka hal itu menjadi hobynya.

__ADS_1


Kepala sang suami rasanya ingin pecah setiap kali mendengar Lila menangis karena jika dia sudah menangis maka tidak ada yang tahu kapan dia akan berhenti. Ingin rasanya dia meninggal Lila begitu saja namun tentu saja dia tidak tega karena dia sangat mencintai istri anehnya itu.


Ya, Lila dan Rama adalah sepasang suami istri, saat ini Lila sedang mengandung anak keduannya bersama Rama namun hanya Haikal saja yang tidak mengetahui hal tersebut bahkan Haikal mengira jika Rama masih saja betah melajang diusianya yang sudah berkepala tiga itu.


__ADS_2