
"Apa anda masih memikirkan hal yang sama nona?". Lila yang sedang fokus menyetir tidak tahan melihat kecemasan diwajah majikannya.
"Eheem, entahlah Lila, aku bingung". Jawab Anin singkat.
"Masa lalu sudah berlalu nona, jadikan dia pelajaran berdamailah dengannya, namun kalau ada bagian dari masa lalu yang masih mengganjal dihati anda sbaiknya anda tuntaskan sehingga tidak membawa pengaruh buruk untuk masa depan anda nona, itu saran saya". Titah Lila panjang lebar.
"Tapi aku takut Lila". Jawab Anin dengan suara bergetar dia menahan sesak didadanya.
"Baiklah nona, jangan paksakan semua akan membaik seiring berjalan waktu". Anin kemudian menangis sejadi-jadinya dan Lila membiarkannya karena dia tahu jika Anin sedang membutuhkan hal itu.
Entah apa yang merasuki pikiran majikannya hingga membuatnya terpuruk sedemikian rupa, Lila tidak dapat menebaknya dan juga tidak pernah mencari tahu karena pantang bagi untuk mencampuri urusan Anin jika bukan Anin sendiri yang memintanya.
Setelah puas menangis mereka tiba digedung hotel milik Anin, seperti tidak terjadi apapun Anin memang sangat pandai dalam bermain dengan perannya sebagai wanita tangguh dan berkharisma. Setiap orang atau karyawan melihatnya dengan tatapan kagum mereka mengira jika hidupnya tidak mempunyai masalah apapun, kedatangan Anin disambut hormat dengan menundukkan kepala mereka para karyawan kearahnya.
Setelah memikirkan seharian tentang hal yang selalu membuat hatinya gelisah, Anin memutuskan untuk menuntaskan semua hal yang msih menjadi pertanyaan besar dimasa lalunya itu. Hal tersebut tentu saja dimulai dengan berdiskusi dengan suaminya.
Setelah beberapa saat berlalu Haikal masih saja setia menunggu istrinya yang ingin menceritakan sesuatu namun selalu saja ditunda olehnya.
"Hah, baiklah sayang jika kamu belum siap maka jangan paksakan, kamu bisa ceritakan apapun itu kapan kamu siap, heem". Haikal membelai lembut wajah Anin lalu hendak beranjak meninggalkan kamar menuju ruang kerjanya.
Anin langsung menyambar tangan Haikal dan menggenggamnya kuat. "Aku siap, tolong tetaplah disini".
Haikal menatap Anin sambil tersenyum. "Baiklah, sekarang katakan apa yang ingin kamu ceritakan". Dia kemudian kembali duduk dihadapan Anin dan menatapnya intens. Entah mengapa pikiran Haikal melayang kemana-mana ketika Anin hendak bercerita.
"Mungkin dia akan mengatakan tentang seseorang yang dicintainya dimasa lalu*. Batin Haikal tampak cemas.
__ADS_1
Anin kemudian menceritakan jika beberapa hari yang lalu dia bertemu dengan seorang wanita yang mengaku sebagai wanita simpanan ayahnya dulu, kemunculan wanita tersebut pada saat itulah yang menjadi awal mula dia kehilangan segalanya terutama kedua orang tuanya untuk selamanya.
Jika Anin tampak berkaca-kaca saat bercerita maka lain halnya dengan Haikal, wajahnya tampak berbinar karena lega ternyata istrinya tidak memiliki cinta lain dimasa lalunya.
"By, kamu kenapa?". Tanya Anin heran melihat ekspresi diwajah suaminya.
"Haah, tidak apa, aku hanya sedang menyimaknya dengan baik".
"Bohong, kamu pasti tidak tahu apa yang sedang aku bicarakan". Anin menghempas tangan Haikal dengan kasar dan beranjak dari tempat duduknya.
"Sayang, jangan marah aku benar-benar mendengarkan semuanya". Haikal langsung menangkap tubuh Anin dan memeluknya dari belakang. "Kamu tahu aku dari tadi takut jika tenyata yang akan kamu ceritakan tentang seseorang yang kamu cintai dimasa lalumu dan ketika mendengar jika itu semua tentang orang tuamu aku merasa sangat lega. Maafkan aku sayang aku terlalu egois hanya memikirkan perasaanku saja".
Anin menghapus air matanya kemudian berbalik memeluk Haikal. "Dasar suamiku ini, kamu tahu aku tidak pernah mencintai siapapun dimasa laluku kecuali diriku sendiri".
Haikal terkekeh. "Aku lupa jika istriku ini sangat dingin dulu, maafkan aku heem". Anin tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Anin hanya diam tanpa tahu harus berkata apa. Haikal kemudian meraih wajah Anin dengan kedua tangannya dan menatap matanya. "Apa kamu takut jika anak kecil itu ternyata adalah adikmu, apa kamu belum siap menerimanya?". Tanya Haikal, kepada Haikal Anin juga menceritakan tentang anak kecil yang dilihatnya.
Anin menggelengkan kepalanya. "Aku tidak takut jika benar anak kecil itu anak papi, aku akan menerimanya sebagai adikku dan aku bertanggungjawab untuk masa depannya, tapi bagaimana jika yang terjadi dalah yang sebaliknya, a-aku takut menerima kenyataan jika sebenarnya papi tidak bersalah dan aku tidak mempercayainya dulu, aku takut jika aku sudah memberikan hukuman yang seharusnya tidak aku lakukan kepada papi dan aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri, aku takut by aku harus bagaimana?". Anin menangis segugukan dipelukan suaminya.
Hal yang paling takut untuk dibayangkan olehnya adalah ketika ayahnya tidak pernah mengkhianati cintanya kepada keluarganya.
"Menangis tidak akan menyelesaikan apapun sayang, setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan baik disengaja ataupun tidak, tapi lari dari kesalahan itu sendiri dan tidak mau memperbaikinya juga tidak baik". Haikal mencoba menenangkan istrinya sebisa mungkin.
Setelah bertekad untuk menyelesaikan semua keraguannya dimasa lalu Anin memerintahkan Lila untuk mencari seseorang yang menjadi kunci dari segala keraguannya itu.
__ADS_1
Bagi Lila bukan hal yang sulit untuk menemukan apa yang diperintahkan oleh majikannya. Dalam dua hari dia sudah memegang semua informasi yang dibutuhkan Anin.
Hari ini Anin akan mengunjungi alamat yang diberikan Lila kepadanya, Anin yang ditemani Haikal merasa hatinya teriris melihat lokasi alamat tersebut yang ternyata disebuah pemukiman yang sangat kumuh, sangat kontras dengan apa yang dibayangkan oleh Anin karena dia tahu betul jika seseorang yang sedang dicari itu adalah orang yang sangat anti hidup susah apalagi tinggal ditempat kumuh seperti itu.
"Apa Lila benar kalau ini alamatnya?". Anin yang tidak pernah meragukan kemampuan Lila kali ini sampai mempertanyakan kebenaran yang dia lihat didepan matanya.
"Tapi asistenmu itu tidak pernah salah sayang". Jawab Haikal.
"Benar juga". Anin ragu.
"Ayo". Haikal menggenggam tangan Anin dan melangkah menuju rumah yang ditulia dialamat yang diberika oleh Lila.
Rumah dihadapan mereka tidaklah layak untuk disebut sebagai sebuah rumah tapi sebuah gubuk, otak Anin terus berputar bagaimana seseorang bisa tidak tinggal dalam keadaan seperti ini. Rasa syukur dan juga rasa bersalah kembali membuat dada Anin sesak, dia bersyukur selama ini kehidupannya sangatlah nyaman dengan semua fasilitas yang dia miliki namun rasa bersalahnya muncul jika benar anak kecil yang dilihatnya tempo hari adalah adiknya maka tanpa sengaja dia telah membuat adiknya hidup dalam kesulitan.
Tok, tok, tok....
"Assalamualaikum". Haikal memberi salam kepada pemilik rumah tersebut.
"Walaikumsalam". Sahutan dari dalam langsung meyakinkan Anin jika sosok yang dia cari memang berada didalam, karena dia sangat mengenal suara tersebut.
Ceklek.....
Pintu terbuka dan tampaklah wanita paruh baya yang sangat dikenal Anin dulu, jika dulu wanita tersebut sangatlah cantik dan elegan maka yang dilihatnya sekarang adalah sosok wanita yang kelihatan kumuh dan sangat kurus. Melihat kehadiran Anin wanita tersebut sangat terkejut hal itu dapat dilihat dari ekspresinya yang langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"A-ANIN". Seru wanita itu.
__ADS_1
"Tante Mirna". Desah Anin masih tidak percaya apa yang dilihat ternyata benar.
•••••