
Anin membuka matanya perlahan dan pandangan langsung terpaku pada wajah yang ada di hadapannya.
Bahkan kamu sudah masuk ke alam mimpiku Haikal. Gumamnya dalam hati sambil tersenyum manis.
Tak lama kemudian Haikal juga membuka matanya sambil tersenyum dan mengucapkan. "Selamat pagi".
"Selamat pagi juga". Balas Anin dengan lembut. Anin kemudian mengusap matanya dan wajah Haikal tampak begitu nyata di hadapannya.
Kenapa kamu begitu nyata. Gumamnya lagi. Anin mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya dan menyadari jika dia tidur di kantor semalam.
Apa ini bukan mimpi?. Anin mencubit pipinya sendiri dan terasa sakit.
Ternyata bukan mimpi, Haikal benar-benar ada disini, tapi sedang apa dia disini?. Tanyanya dalam hati.
"Kamu tidak sedang bermimpi, l kita memang tidur disini tadi malam". Ujar Haikal.
Anin beranjak bangun. "Kenapa kamu bisa ada disini?". Tanyanya begitu terkejut.
"Aku nungguin kamu pulang semalaman, karena kamu tidak pulang-pulang jadi aku mencarimu sampai kesini". Jawab Haikal.
"Lalu kenapa tidak membangunkanku, kenapa kita harus tidur disini?". Tanya Anin bingung.
"Aku tidak tega untuk membangukanmu, kamu tidurnya sangat pulas, aku gendong sampai sofa saja kamu tidak gerak sama sekali".
Bluush,,,
Wajah Anin seketika memerah ketika mengetahui Haikal menggendongnya.
Anin memandang Haikal dengan tatapan yang sulit di artikan. Kenapa dia tiba-tiba baik kepadaku, bukannya terakhir dia marah kepadaku karena melarannya bekerja di perusahaan Maya. Gumamnya dalam hati.
Anin kemudian beranjak dari sofa menuju meja kerjanya karena teringat tentang pekerjaan yang masih belum dia selesaikan tadi malam, namun ketika dia membuka laptopnya dia melihat pekerjaannya itu sudah selesai membuat Anin terkejut dan membulatkan matanya karena tidak percaya. Dia memandang kearah Haikal yang tampak cuek merebahkan tubuhnya di sofa.
"Kamu yang mengerjakan ini semua?". Tanyanya kepada Haikal.
"Apa?". Haikal pura-pura tidak tahu.
"Jangan pura-pura tidak tahu, jawab aku kenapa kamu mengerjakan ini semua". Ujar Anin ketus.
"Harusnya kamu berterima kasih kepadaku, aku sudah lelah bergadang buat menyelesaikan semua kerjaan kamu".
"Iya terima kasih, tapi kenapa kamu mau membantuku bukannya kamu tidak peduli apapun tentengku".
__ADS_1
"Aku tidak pernah mengatakan aku tidak mau, kamunya saja yang tidak pernah minta bantuan kepadaku, lagipula kalau seorang suami mau bantuin istrinya sendiri itu harus ada alasannya?".
Deg....
Ucapan Haikal itu mampu membuat jantung Anin berdetak dengan sangat kencang, dia bahagia mendengar perkataan yang diucapkan oleh Haikal.
Jadi kamu masih punya rasa peduli sama aku. Gumam Anin sambil tersenyum.
Haikal pun ikut tersenyum melihat istrinya yang terlihat bahagia pagi itu.
"Harusnya kita tidak perlu tidur di sofa semalam, disini kan ada kamar khusus buat aku". Anin berjalan memencet tombol di dinding dan otomatis dinding yang tadinya terlihat rata terbuka lebar menampakkan sebuah kamar yang lengkap dengan kasur yang berukuran king size, lemari yang di penuhi baju-baju dan sepatu serta berbagai perlengkapan lainnya milik Anin dan juga kamar mandi di dalamnya.
Seketika Haikal takjub melihat pemandangan di depannya itu.
Ya tuhan sepertinya Anin memang tidak pernah tahu bagaimana rasanya hidup susah. Semua yang di inginkan nya selalu tersedia dengan mudah. Aku jadi semakin tidak percaya diri saja jadi suaminya. Gumam Haikal dalam hati.
"Hei, kenapa kamu malah melamun ayo masuk, memang kamu tidak mau mandi dan membersihkan diri". Anin membuyarkan lamunan Haikal.
"Emmh, aku pulang saja lagian aku tidak punya baju ganti kalau mandi disini". Jawab Haikal.
"Kamu tidak usah khawatir, Lila sedang menyiapkan baju ganti untuk kamu".
"Kamu tidak akan tau apa saja yang dapat dilakukan Lila meskipun kita tudak memerintahnya". Ucap Anin dengan senyum misterius yang membuat Haikal merinding dengan tingkah misterius sang asisten wanita itu.
°°°°°
Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian Haikal langsung keluar dari kamar rahasia milik Anin karena seperti biasa dia menghindar agar tidak terlalu lama berada dalam satu kamar bersama Anin.
Tanpa Bertanya sepertinya Lila sudah tau semua ukuran pakaian yang aku gunakan buktinya pakaian ini ukurannya sangat pas tubuhku, dia benar-benar misterius. Batin Haikal.
"Aku sudah siap, aku tunggu di luar saja". Ujar Haikal sambil beranjak keluar dan di balas dengan anggukan oleh Anin.
"Maaf tuan, saya kesini karena ingin menanyakan tentang sarapan apa yang tuan muda dan nona Anin inginkan". Ucap Lila ketika melihat Haikal keluar dari kamar.
"Kamu tidak perlu menyiapkan apapun Lila, aku dan Anin akan makan disana saja".
"Disana? maksud tuan di luar?". Tanya Lila bingung.
"Bukan Lila, di kantor sebesar ini pasti ada kantinnya kan? dan aku dengar dari orang-orang kalau kantin di kantor ini menyajikan makanan sekelas dengan makanan di restoran mewah jadi aku dan Anin akan sarapan disana saja".
"Tapi tuan muda, nona Anin tidak pernah makan di kantin, dia tidak pernah menginjakkan kakinya di kantin kantor ini".
__ADS_1
"Dan hari ini aku akan membuat dia menginjakkan kakinya disana". Jawab Anin santai.
"Baiklah kalau begitu yang tuan muda inginkan, saya permisi dulu". Lila ingin pergi meninggalkan ruangan Anin namun Haikal mencegahnya.
"Lila tunggu". Ujar Haikal.
"Apa ada yang anda butuhkan lagi tuan?". Tanya Lila.
"Apa yang terjadi pada perusahaan ini, jelaskan semuanya padaku".
Kemudian Lila menjelaskan jika keadaan perusahaan yang sedang krisis dan terancam bangkrut itu kepada Haikal secara detail.
"Keadaan separah ini tapi kenapa Anin tidak pernah memberitahukan kepada ku?".
"Itulah nona Anin tuan, dia tidak ingin terlihat lemah di depan siapapun".
"Tapi aku suaminya".
"Itulah yang membuat nona Anin tidak ingin terlihat lemah di depan tuan muda, mungkin karena nona takut tuan muda akan meninggalkannya karena menganggap dia gadis yang manja".
"Apa?, dia sangat aneh, kenapa harus berpikiran seperti itu?".
"Sebenarnya nona Anin tidak akan merasakan dampak apapun dengan failed nya perusahaan tuan karena nona Anin memiliki banyak usaha lainnya dan beberapa hotel bintang 5, namun karena ini adalah perusahaan pertama yang dibangun oleh kedua orang tuanya makanya nona Anin sangat ingin mempertahankannya".
"Ya aku mengerti, dia pasti akan sangat sedih kalau perusahaan ini bangkrut".
"Dan satu lagi tuan".
"Apa?". Tanya Haikal penasaran.
"Perusahaan ini memiliki banyak sekali karyawan dan buruh-buruh, mereka semua bergantung hidup pada perusahaan ini dan nona Anin tidak tega jika harus melihat mereka kehilangan pekerjaan dan penghasilan sedangkan jika ratusan karyawan dan buruh itu dipindahkan ke perusahaan lain atau ke hotel, pasti tidak akan tertampung semuanya". Jelas Lila.
"Anin memikirkan hal itu?".
"Tentu tuan muda, nona Anin memang terlihat tidak peduli dan angkuh tetapi hatinya sangat lembut, dia juga ingin selalu terlihat kuat di depan semua orang padahal dia tidak sekuat seperti yang orang lain bayangkan dia butuh pegangan, dia butuh seseorang yang bisa di jadikan tempat untuk dia bersandar dari rasa lelahnya".
Mendengar penjelasan Lila membuat hati Haikal sangat lemah, bagaimana bisa dia yang sudah berbulan-bulan menjadi suaminya itu tidak tahu apa yang sedang di hadapi oleh istrinya sendiri.
Ternyata ada banyak hal yang tidak aku ketahui tentangmu Anin, dan harusnya aku mencari tahu tentang itu semua karena itu sudah menjadi tanggungjawabku sebagai suamimu. Maafkan aku yang selalu berpikiran buruk tentangmu, aku berjanji aku akan memperbaiki itu semua. Gumamnya dalam hati. Haikal terlalu menutup diri dengan segala hal tentang Anin, dia ingin membatasi dirinya agar tidak terlalu jauh jatuh kedalam cinta Anin yang mustahil untuk di capai olehnya.
..,....
__ADS_1