Hanya Cinta

Hanya Cinta
HC 63


__ADS_3

"Tuan, bisakah kita bicara sebentar?". Tanya Rama dan untuk pertama kalinya dia bertanya dengan wajah pucat dan terlihat gugup, Haikal susah menebaknya pasti karena Rama merasa telah melakukan kesalahan.


"Bicaralah, sejak kapan aku melarangmu berbicara, kamu saja yang selalu menghemat kata saat bicara". Jawab Haikal ketus.


"Emmh, ini masalah pribadi tuan, bukan tentang pekerjaan". Ucap Rama lagi.


"Ya, bicaralah". Jawab Haikal datar. "Pasti kamu akan melakukan pengakuan dosa pria kaku, aku sudah bisa menebak kalau kamu pasti tidak akan tenang dengan semua kesalahan yang kamu perbuat itu". Batin Haikal menatap Rama sinis.


"Tuan apakah jika ada wanita yang sudah menikah ingin memeluk anda itu salah?".


"Tentu saja salah, pertanyaan bodoh macam apa yang sedang kamu tanyakan padaku". Jawab Haikal dengan rasa kesal yang sudah memuncak diubun-ubunnya.


"Jadi salah ya jadi aku harus bagaimana?". Tanya Rama pada diri sendiri namun bisa didengar jelas oleh Haikal.


"Tentu saja aku akan membunuh pria yang berani memeluk istriku, begitu juga sebaliknya". Mendengarkan jawaban Haikal membuat Rama terkejut bukan main karena mana mungkin membunuh Haikal jika benar dia memenuhi ngidam istrinya untuk di peluk olehnya, malah seharusnya dia berterimakasih karena membuat sang istri bahagia.


"Tapi dia sedang hamil tuan bukankah ada keringanan untuk wanita hamil?".


"APA!, Kamu sudah tidak waras lagi, membuat Lila sampai membuatnya hamil".


Dengan kening berkerut melihat reaksi Haikal, Rama bingung kenapa tuannya itu tahu jika dirinya sebenarnya juga tidak ingin jika istrinya hamil lago dan membuat kepalanya ingin pecah selama 9 bulan itu. "Anda tahu jika saya juga tidak ingin dia hamil?".


Haikal yang sudah tidak bisa mengontrol emosinya meraih kerah kemeja Rama dan menariknya dengan kuat. "Kalau kamu masih bertanya dengan pertanyaan bodoh lagi maka aku akan membunuhmu sekarang juga Rama". Teriak Haikal tanpa disadari olehnya kegaduhan yang mereka buat membuat orang-orang di kantor penasaran dan menuju ruangan Haikal termasuk Lila dan Juga Anin.


"Kalian kenapa bertengkar?". Seru Anin melihat dua pria yang sangat kompak dalam membangun perusahaan ternyata saling bersitegang.


Haikal mengendus kesal dan melepaskan cengkraman tangannya dikerah kemeja Rama. "Pria kaku ini sudah menghamili istri orang sayang". Mendengar ucapan Haikal, Anin, Rama, Lila dan semua yang ada di depan ruangan tersebut kaget bukan kepalang. Terutama Lila yang hampir saja tidak mampu untuk berdiri lagi.


Semua yang berada disana juga tak kalah kagetnya karena Rama yang terlihat sangat dingin dan pendiam itu hampir bisa dipastikan tidak mungkin melakukan itu.

__ADS_1


"Tu-tuan apa maksud anda, jangan menyebar berita yang tidak benar". Ucap Rama gugup tidak bisa di bayangkan olehnya kemarahan sang istri yang di akibatkan oleh ucapan Haikal tadi.


"Aku tidak bohong, kamu sendiri yang mengakuinya jika Lila memang hamil".


"Lalu apa salahnya jika Lila hamil?". Tanya Rama.


"By jangan bilang kamu tidak tahu kalau Lila dan Rama suami istri". Anin mulai geram dengan tingkah sang suami.


"Tentu saja aku-". Jawab Haikal namun langsung terhenti saat dia menyadari ada yang tidak beres. "Su-suami istri?". Seru Haikal sambil menatap Rama dan Lila secara bergantian.


"Shiit, wajah kakunya itu menipuku, selama ini kaku kira dia belum menikah, dasar bodooh kenapa hanya aku yang tidak tahu mereka suami istri. Lagipula mana ada pasangan suami istri jika bertemu hampir setiap hari tapi seperti orang yang tidak saling mengenal". Batin Haikal.


Ya, memang benar jika Lila dan Rama memang tidak saling menyapa saat berjumpa padahal memang hampir setiap hari mereka bertemu karena mereka masing-masing memang punya peranan penting baik di kantor maupun di hotel.


Benar tebakan Anin jika suaminya itu memang sudah salah paham dan tidak mengetahui jika Lila dan Rama adalah sepasang suami istri. Semua orang tadi memasang wajah tegang di wajah mereka sekarang malah tertawa dengan kebodohan yang dilakukan oleh Haikal, namun hal itu berlangsung lama nyali mereka untuk menertawakan Haikal langsung menciut saat sang bos menatap tajam kearah mereka dan spontan saja semuanya meninggalkan ruangan tersebut.


Tinggallah Haikal, Anin, Lila dan Rama disana, dengan wajah tanpa dosanya Haikal mengambil posisi di kursi kebesarannya tanpa memperpanjang masalah tadi, dia merasa malu sekaligus tidak enak hati karena telah menuduh Rama berselingkuh.


"Heem".


"Hanya heem".


"Lalu?, sayang buka salahku jika aku tidak tahu tentang kehidupan pribadi Rama, dia itu sangat tertutup dan sedikit sekali berbicara dan lagi pula mana ada suami istri yang tidak pernah saling sapa jika bertemu". Jawab Haikal tanpa rasa bersalah.


Anin mengendus kesal mendengar jawaban Haikal. "Setidaknya minta maaf karena telah berpikiran buruk terhadap mereka". Titah Anin.


Rama dan Lila yang merasa tidak enak dengan situasi itu pun langsung mengerti dan menghentikan perdebatan diantara mereka.


"Tidak masalah nona, ini semua memang bukan salah tuan Haikal tapi salah Rama karena dia memang tidak bisa bersikap manis kepada saya kecuali diluar kantor dan jam kerja". Kilah Lila.

__ADS_1


"Kamu dengar sayang, Lila saja tahu jika itu bukan salahku tapi salahnya". Tunjuk Haikal kepada Rama, padahal dihati kecilnya Haikal merasa malu bukan main karena tertipu oleh wajah Rama yang sok polos itu.


"Tapi itu namanya profesionalisme sayang". Jawab Rama kesal.


"Sudah, sudah jangan berdebat untuk hal yang tidak penting lagi aku punya banyak pekerjaan dan kalian boleh pergi dari sini". Titah Haikal yang ingin sekali menyembunyikan rasa malunya didepan pasangan suami istri itu.


"Tapi tuan". Sanggah Rama.


"Apa lagi?".


"Sa-saya ingin minta tolong kepada anda tuan".


"Minta tolong apa?". Tanya Haikal sambil menatap Rama curiga karena tidak pernah sebelumnya dia merasa gugup dalam hal apapun didepannya.


"Lila mengalami ngidam". Jawabnya singkat.


"Dan apa harus aku yang memenuhi ngidamnya Lila istriku saja tidak pernah merasakan ngidam kamu kan suaminya".


"Itulah masalahnya tuan, Lila ngidam memeluk anda". Jawab Rama lagi.


"APA?". Kompak Haikal dan Anin setengah berteriak mendengarkan apa yang di ucapkan oleh Rama. Jika Haikal merasa sangat aneh karena selama ini Lila tampak tidak terlalu akrab dengannya maka Anin merasa rasa cemburunya telah mencapai pucak tertinggi bagaimana mungkin ada wanita yang ngidam ingin memeluk suaminya.


"Maafkan saya nona, tuan tapi saya memang sangat ingin memeluk tuan Haikal meskipun cuma sebentar saja, tolong izinkan saya". Ujar Lila kali ini dengan wajah memelas penuh harap.


Anin dan Haikal saling tatap melihat tingkah Lila yang diluar nalar mereka itu biasanya Lila sangat tegas dalam bersikap.


"Kenapa harus suamiku Lila, kamu kan punya suami sendiri". Protes Anin masih tudak bisa menerima pasalnya dia merasa jika ngidam itu hanyalah rekayasa kebanyakan wanita hamil diluar sana saja, buktinya dia sama sekali tidak mengalaminya.


"Entah mengapa rasanya tuan Haikal terlihat sngat tampan dimata saya nona, mungkin anak saya menyukai pri tampan". Jawaban Lila membuat Anin semakin cemburu karena sang asisten secara terang-terangan memuji ketampanan suaminya begitu juga dengan Rama yang merasa jika wajahnya tidak ada arti apa-apa dibandingkan dengan sang majikan. sedangkan Haikal tersenyum penuh kebanggaan sambil menatap Rama yang sedang kesal.

__ADS_1


"KELUAR". Teriak Anin dengan emosi yang tidak bisa ditahannya lagi. Sontak ketiga orang itu kaget bukan main Lila dab Rama langsung meninggalkan tempat itu tanpa permisi mereka takut jika Anin semakin murka.


__ADS_2