Hanya Cinta

Hanya Cinta
Ceraikan Aku


__ADS_3

Hidup berdua saja dengan putri semata wayangnya ternyata membuat Darmadi sangat mengerti bagaimana sifat Maya, meskipun dia adalah gadis yang manis dan baik namun juga memiliki ambisi yang cukup besar jika menginginkan sesuatu karena itulah dia tidak akan percaya jika Haikal menghamili putrinya jika bukan karena ada sesuatu dibalik semua itu apalagi melihat Haikal sangat mencintai istrinya.


Selain itu ada keraguan dihatinya ketika menatap mata sang putri ketika bertanya tentang ayah dari calon cucunya yang sedang dikandung Maya itu. Belajar dari kesalahan dalam menilai anaknya yang dianggapnya lugu itu maka Darmadi ingin menyelesaikan masalah ini dengan kepala dingin.


Hari ini dia mengundang Haikal kerumahnya, tentu saja Haikal sudah tahu apa yang diinginkan oleh Darmadi. Darmadi memilih bertemu dirumahnya karena dia ingin berbicara langsung dengan Maya maupun Haikal secara bersamaan.


"Katakan yang memang harus aku dengar". Ujar Darmadi langsung pada pokok permasalahan.


"Anda tentu sudah tahu dari putri anda sendiri bukan?".


"Jadi kamu mengakui jika yang dikatakan Maya adalah kebenarannya".


"Ada yang iya dan ada yang tidak. Benar jika Maya sedang mengandung, benar jika saya pernah satu kamar dengan Maya di sebuah hotel lebih kurang 1 bulan yang lalu tapi putri ini anda bermain licik dia menjebak sayadan tidak benar jika anak yang dikandung Maya adalah anak saya". Haikal menatap Maya dengan tatapan kesal.


"Haikal". Maya spontan berteriak ketika Haikal tidak mengakui anak didalam kandungannya padahal selama ini dia tidak pernah membantahnya dan berjanji akan bertanggung jawab. "Apa yang kamu katakan, bukankah kamu bilang akan bertanggung jawab".


"Tanggung jawabku sudah habis ketika aku mengetahui kenyataan bahwa kamu sedang mencari ayah untuk anakmu bukan mencari siapa sebenarnya ayah dari anakmu".


"Ini anakmu Haikal".


"Berpikirlah cerdas Maya, jika itu anakku kenapa usia kehamilanmu lebih tua dibandingkan malam dimana kamu menjebakku hah?". Bentak Haikal yang sudah merasa geram dengan semua kebohongan yang dilakukan Maya bahkan dia tega membohongi ayahnya sendiri. Maya mengutuk kebodohannya karena tidak berpikir sampai kesitu, yang dia inginkan hanya agar anaknya bisa memiliki seorang ayah saja.

__ADS_1


"Usia kehamilanmu 10 minggu itu artinya sudah lebih dari 2 bulan dan kamu menjebakku sekitar sebulan yang lalu. Sudahi semua drama ini May, jika dihatimu tidak ada rasa iba terhadapku dan Anin setidaknya tataplah wajah ayahmu yang sangat menyayangimu ini". Sambung Haikal lagi dengan lantang.


Maya hanya mampu menangis tanpa bisa mengatakan apapun lagi. Darmadi yang sedari tadi hanya membisu memang sudah bisa menebak jika bukan Haikal ayah dari anak yang dikandung oleh putrinya itu.


"Maafkan aku Haikal, karena kelalaianku dalam menjaga Maya kamu dan pernikahanmu yang mendapat imbasnya". Darmadi hanya menunduk wajah, rasa malu sangat terlihat jelas diwajah lelaki paruh baya yang masih tampan diusianya itu, bahkan untuk menatap Haikal pun dia tidak mampu.


"Haah, seandainya aku bisa maka aku akan menjebloskan Maya kedalam penjara sekarang juga karena sudah mencemarkan nama baikku dan pernikahanku sekarang berada di ambang kehancuran tapi aku tidak tega karena dia sedang mengandung tuan". Ujar Haikal geram.


Darmadi tiba-tiba merasakan sakit yang begitu hebat didada sebelah kirinya. Sakit yang begitu hebat sehingga dia meremas dadanya dengan kuat dan "BURGH" tubuhnya seketika jatuh dilantai dan tidak sadarkan diri.


"Papa". Maya langsung mengangkat kepala ayahnya kedalam pangkuannya. Haikal juga reflek berjongkok memeriksa keadaan Darmadi.


•••••


Dua pasang mata yang tidak sengaja melihat pemandangan itu menajamkan tatapan, bertanya-tanya dalam hati apa yang sedang terjadi namun rasa cemburu dihati salah satu sang pemilik manik tersebut membuat dia kembali melangkah tidak peduli. Anin dan Lila sedang berada dirumah sakit Zianda untuk melakukan kunjungan rutin memeriksa perkembanga rumah sakitnya itu dan tanpa sengaja melihat Haikal dan Maya yang terlihat panik dengan kondisi Darmadi.


Haikal yang dari kejauhan melihat sosok sang istri langsung berjalan dengan cepat menyusul istrinya setelah berpamitan dengan Maya.


"Sayang kamu disini juga?". Tanya Haikal namun Anin tidak menjawab dan tetap melangkah tanpa menoleh sedikitpu seolah kehadiran Haikal disana tidak ada artinya.


"Sayang tadi aku-".

__ADS_1


"Tidak perlu menjelaskan apapun karena aku tidak bertanya dan tidak mau tahu". Amarah Anin seolah menggebu menatap wajah Haikal dengan penuh kebencian.


"Sayang, apa kamu sedang cemburu". Haikal langsung memeluk Anin tanpa permisi, pelukan erat yang sangat dia rindukan kemudian memberi kode pada Lila agar meninggalkan mereka berdua saja dan Lila mengangguk lalu pergi dari sana memberi ruang bagi pasangan suami istri itu untuk berbicara.


Anini terus memberontak namun kekuatannya tidak sebanding dengan Haikal jadi semuanya hanya sia-sia saja.


"Aku sangat merindukanmu". Haikal mengecup pucuk kepala Anin berkali-kali. Meskipun pikirannya menolak namun tubuh dan hati Anin seolah menerima perlakuan hangat tersebut dengan rasa bahagia. Apalagi akhir-akhir ini Anin sangat merindukan aroma khas tubuh suaminya itu. Tapi bayang-bayang kebersamaan Haikal dengan Maya lagi mengganggu pikirannya sehingga dengan sangat kuat dia langsung mendorong tubuh Haikal agar menjauh.


"Jangan pernah menyentuhku lagi". Ucap Anin ketus. Sungguh sebuah kebohongan besar jika dia tidak merindukan suaminya bahkan sejak Haikal keluar dari rumahnya setiap malam Anin memeluk baju Haikal dan juga boneka pemberian Haikal sambil menangis hingga tertidur karena disanalah dia bisa menghirup wangi tubuh suaminya itu namun keputusan sudah bulat jika dia tidak akan bisa menerima pengkhianatan yang dilakukan oleh Haikal.


"Sayang, aku masih merindukanmu apa kamu tidak merindukan aku?". Goda Haikal dengan senyum mengembang diwajahnya, bagaimana tidak dia sekarang sudah memiliki jalan keluar untuk masalahnya, Maya mengatakan jika dia akan meminta maaf dan menjelaskan semua hal yang berhubungan dengan penjebakkan yang dia lakukannya pada Haikal kepada Anin karena dia akan bertanggung jawab atas kesalahannya sesuai janji kepada sang ayah, Darmadi.


"Haikal berhenti bercanda karena aku banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan". Anin kemudian kembali melangkah pergi namun baru beberapa langkahnya langsung terhenti. "Aku sudah menghubungi lawyerku dan dia akan mengurus semua berkas perceraian kita". Ujar Anin datar.


DEG. DEG, DEG...


Wajah Haikal yang tadinya dipenuhi dengan senyuman manis langsung berubah, kilatan amarah sangat jelas terpancar diwajah tampannya bahkan matanya juga memerah karena menahan amarah yang memuncak.


Dia mencengkram kedua lengan Anin dan menatapnya tajam seolah ingin menelannya hidup-hidup. "Apa yang kamu katakan tadi?". Tanya Haikal penuh penekanan. Sungguh Anin tidak pernah sekalipun melihat Haikal marah selama pernikahan mereka karena Haikal adalah sosok yang lembut, penyayang dan sangat sabar.


"Ce-ceraikan aku". Jawab Anin ragu.

__ADS_1


•••••••


__ADS_2