Hanya Cinta

Hanya Cinta
HC 65


__ADS_3

"Peluklah, aku memberimu waktu 10 detik saja". Titah Anin tentu saja denga wajah yang tidak bersahabat.


"Baik nona terimakasih banyak, tidak apa walaupun 10 detik yng penting saya bisa memeluk tuan Haikal". Jawab Lila penuh antusias.


Baik Haikal, Rama dan Anin mereka heran sampai membulatkan mata mereka dengan tingkah Lila yang menurut mereka kecentilan itu.


Tanpa aba-aba Lila yang sudah mendapatkan lampu hijau langsung memeluk Haikal, semua yang berada di ruangan itupun heran melihatnya pasalnya Lila tidak pernah terlihat akrab dengan Haikal sebelumnya. Bahkan Lila berkomunikasi dengan Haikal hanya jika ada keperluan saja, jadi wajar saja jikaereka merasa aneh.


Aneh memang jika akal sehat manusia biasa memikirkan tentang ngidam seorang awanita hamil, mereka bisa menyukai apa yang mereka benci dan merek juga bisa membenci apa yang mereka sukai, contohnya saja Rama, Lila sangat mencintai suaminya itu, tidak pernah ada konflik yang berarti di kehidupan rumah tangga mereka namun jika Lila sudah hamil maka segala sesuatunya berubah drastis. Mengapa itu semua bisa terjadi, entahlah hanya Tuhan dan wanita hamil saja yang tahu.


Sama seperti saat kehamilan putra pertamanya dulu yang sekrang sudah berusia 7 tahun, Lila juga sangat tidak menyukai apapun hal yang berhubungan dengan Rama. Apapun yang dilakukan oleh Rama baik itu benar atau salah tetap saja salah dimatanya.


Itulah alasan mengapa Rama tidak menuntut Lila untuk hamil lagi meskipun mereka baru memiliki satu anak karena baginya lebih baik punya satu anak tapi hubungannya dengan Lila baik-baik saja dari pada memiliki banyak anak namun harus melewati fase sembilan bulan yang menyedihkan.


Jika Lila bahagia bukan kepalang yang di ekspresikan dari wajahnya, maka bisa dibayangkan ekspresi wajah Anin dan Rama yang menahan cemburu luar biasa sedangkan Haikal hanya memasang wajah datar sambil melihat ekspresi Rama yang seperti orang tersiksa itu.


Ingin sekali Haikal tertawa terbahak-bahak melihat wajah menyedihkan Rama namun dia tidak berani karena di sana ada Anin, karena dia tidak ingin istrinya salah paham karena mengira dirinya bahagia dipeluk oleh Lila.


Setelah dinilai cukup Anin langsung menarik tubuh Lila yang menempel erat ditubuh Haikal. "Sudah cukup, lepaskan suamiku". Titahnya tegas.


Mau tidak mau Lila pun terpaksa melepaskan pelukan itu padahal dia merasa sangat nyaman dengan aroma parfum yang Haikal pakai. "Iya nona, terimakasih tuan". Ujar Lila sambil tersenyum manis kepada Haikal.


Haikal jadi canggung dibuatnya karena selama ini jarang sekali seorang Lila tersenyum kepadanya. "I-iya sama-sama Lila". Jawabnya singkat.


"Sekarang keluarlah dari ruangan suamiku, aku ingin berduaan saja dengannya". Jelas sekali isyarat kecemburuan dari setiap kata dan tingkah laku Anin, hal itu membuat Haikal sangat bahagia dan gemas melihatnya.

__ADS_1


Maka dengan segera Rama mengajak istrinya keluar dan Lila juga tidak bisa membantahnya. Diluar ruangan Rama berjalan dengan cepat meninggalkan Lila begitu saja karena rasa kesal dan cemburunya memenuhi seluruh isi otak dan hatinya jadi dia tidak mau terbawa emosi dan bertindak kasar pada istrinya itu.


...----------------...


Setelah drama peluk memeluk selesai maka drama selanjutnya tentulah drama panjang tentang Maya yang tidak berkesudahan itu dimana Anin selalu membujuk suaminya untuk menerima pernikahan Maya dan suaminya karena membenci Maya dan keputusannya itupun tidak akan ada habisnya menurut Anin, lagipula tuan Marvin berhak mendapat kesempatan untuk membahagiakan Maya dan bayi-bayi di dalam kandungannya.


"By, aku mohon percayalah pada tuan Marvin dia pasti bisa membahagiakan Maya". Ucap Anin sambil memelas. "Jika kamu tidak mau mengunjunginya setidak angkatlah telpon darinya, apa kamu tidak kasihan kepadanya setiap hari dia menghubungi tapi tidak sekali pun kamu menerima panggilannya heem?". Sambung Anin lagi.


"Aku tidak mau membahas tentang ini sayang, berapa kali lagi harus aku katakan". Jawab Haikal datar.


"By, lihatlah aku, aku sangat jahat dulu, aku bahkan sampai memanfaatkan sakit ibu untuk menjeratmu dalam pernikahan". Ini adalah jurus andalan terakhir yang bisa Anin lakukan karena menurutnya semua manusia bisa berubah menjadi lebih baik kapan saja apalagi demi seseorang yang sangat dicintainya.


Anin mengucapkan itu tanpa beban dan dengan niat yang sangat baik agar hubungan Haikal, Maya dan juga dirinya bisa kembali seperti dulu lagi namun dia tudak menyadari kehadiran sang mertua disana yang ternyata mendengar semua perkataan Anin tadi.


Suara pecahan gelas yang jatuh dari tangan ibu Siti membuat mereka berdua terkejut bukan main, Ivu Siti berdiri mematung tepat di depan pintu kamar Haikal dan Anin. Begitu pula dengan ibu Siti yang sangat terkejut dengan ucapan Maya sehingga tidak sengaja menjatuhkan gelas berisi susu hamil yang rutin setiap malam dia bawakan untuk menantunya padahal Anin selalu melarangnya karena banyak pelayan di rumah itu yang bisa di perintahkan untuk membawakannya.


"I-ibu". Seru mereka kompak, kemudian bergegas menghampiri Siti.


"Ibu tidak apa-apa?". Tanya Anin lembut sambil memegang tangan ibu Siti, Anin tahu betul dari ekspresi yang di tunjukkan mertuanya itu jika semuanya sedang tidak baik-baik saja bukan masalah fisik namun masalah batinnya yang terlihat sangat kecewa kepada Anin.


Ibu Siti menepis tangan Anin namun tidak kasar, dia kemudian berbalik. "Ibu baik-baik saja". Jawabnya singkat kemudian turun dari tangga dan menuju kamarnya.


Haikal dan Anin saling tatap, namun tatapan Anin menunjukkan jika dia sangat khawatir dengan kemarahan sang ibu mertua, dengan mata berkaca-kaca Anin seperti memohon suaminya untuk meyakinkan dirinya jika semua akan baik-baik saja.


"Tenang sayang, semuanya akan baik-baik saja aku akan bicara dengan ibu". Ujar Haikal lembeut sembari mengecup pucuk kepala Maya.

__ADS_1


Maya langsung menahan langkah suaminya ketika Haikal hendak menyusul ibunya. "Biar aku saja yang menemui ibu by". Ucapnya.


"Apa kamu yakin?". Tanya Haikal karena khawatir jika ibunya akan mengacuhkan sang istri, Anin menganggukkan kepala untuk meyakinkan Haikal jika dia sendiri yang akan menyelesaikan semua masalah ini.


Atas Izin Haikal, Anin kemudian menyusul sang ibu mertua kekamarnya untuk menjelaskan semuanya dari awal dan berkata jujur, dia tidak mau ada rahasia lagi yang harus ditutup-tutupi didalam rumah tangganya.


Anin tidak mau jika dia menyesal di kemudian hari karena apapun yang dimulai dengan kebohongan tetaplah tidak baik.


TOK, TOK, TOK...


Anin mengetuk pintu kamar ibu Siti dan kemudian langsung masuk karena dia memang sudah biasa melakukannya.


"Bu, bolehkah Anin bicara dengan ibu?". Tanya Anin dengan sangat berhati-hati.


"Tinggalkan ibu sendiri dulu, ibu butuh waktu sendirian". Jawab ibu Siti singkat tanpa menoleh kearah menantunya itu.


Anin menghela napasnya dia tahu sebaik apapun ibu mertuanya itu tetap saja tidak mudah untuk menerima keadaan seperti ini.


"Baiklah bu, jika ibu sudah siap Anin akan menjelaskan semuanya". Anin kemudian berbalik meninggalkan ibu Siti, tidak ada jawaban apapun lagi dari Siti hanya ada rasa kecewa dihatinya karena penyakitnya dimanfaatkan oleh Anin untuk mendapatkan anak kesayangannya Haikal.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Konfliknya receh yaa ala-ala series di channel ikan terbang 😅


Maafkan ketidakpuasan kalian terhadap novel ini ya, beberapa episode kedepan mungkin novel ini akan tamat dan aku akan fokus ke novel Maya, di novel Maya insyaallah konfliknya akan aku usahakan lebih baik lagi jadi jangan lupa mampir yaa 🤗

__ADS_1


__ADS_2