
Hawa tidak pernah menduga kalau dirinya bisa kembali ke apartemen itu. Tempat nyaman yang hanya bisa selalu dia rindukan.
Tiger sudah pergi, dan memberitahu Hawa kalau semua yang dia butuhkan sudah disiapkan, isi kulkas juga sudah penuh.
"Kalau Anda membutuhkan sesuatu, silakan menghubungiku," ucap Tiger sebelum pergi sembari menyerahkan kartu nama.
Kini, Hawa duduk di meja makan, dengan sebuah apel di tangannya, menikmati buah itu sembari memandang ke arah luar jendela pemandangan di luar sana tampak begitu indah karena menghadap langsung ke taman apartemen.
Hawa tidak sabar menunggu tiga hari lagi seperti kata Tiger, Adam akan tiba di Indonesia tiga hari setelah hari ini, dan sekarang demi menyambutnya, Hawa ingin menghubungi Tiger dan mengatakan niatnya untuk diantar ke salon tapi Hawa juga merasa khawatir takut Tiger merasa dirinya besar kepala sehingga berani memerintah pria itu.
Hawa tidak tahu ke mana dia harus pergi, dan lagi pula kalau pun dia pergi nanti, dia pasti lupa jalan pulang.
Bosan dengan kesendiriannya Hawa pun memberanikan diri keluar dari apartemen itu dan turun ke lantai satu. Saat berbincang dengan dua orang penghuni apartemen itu yang sedang membawa anaknya jalan-jalan ke taman barulah Hawa tahu bahwa di apartemen itu juga dilengkapi dengan salon dan juga minimarket khusus yang hanya dengan turun menggunakan lift maka mereka akan sampai di sana.
"Mbak penghuni baru ya?" tanya salah satu dari ibu-ibu muda yang sedang membawa anaknya bermain di taman.
"Sebenarnya saya tamu, Mbak," jawab Hawa setelah lama berpikir. Dia tidak mungkin mengatakan kalau dirinya adalah pelacur yang disewa oleh Adam untuk beberapa hari ke depan, kan? Jadi demi menutupi aibnya, Hawa memilih untuk mengatakan bahwa dia adalah tamu.
"Apartemen nomor berapa?" tanya Mbak yang satunya lagi semakin ingin tahu.
"1708, Mbak," jawabnya singkat, dia berharap pertanyaan itu sampai di situ saja jangan sampai mereka bertanya bahkan mengenal Adam hingga tahu bahwa dia tinggal bersama pria itu.
__ADS_1
"1708? itu bukannya tempatnya tuan Adam Mahesa?" tanya wanita yang pertama menyapa Hawa tadi.
"Ya di situ." Hawa hanya bisa mengangguk lemah, ternyata semua orang kemungkinan besar mengenal Adam di tempat ini.
"Boleh tahu, Mbak siapanya?" tanya wanita itu lagi rasa penasarannya membuatnya semakin mendekat ke arah Hawa.
Bingung harus menjawab apa, Hawa yang melihat dua remaja yang saling bergandengan begitu kompak dan terlihat mirip membuatnya memutuskan untuk mengatakan kalau dia adalah adik Adam.
"Aku adiknya Mas Adam," jawabnya kaku.
"Oh adiknya. Baru datang ya Mbak? emang selama ini di mana?" susul wanita yang satunya. Sepertinya mereka memang ibu-ibu yang suka mau tahu urusan orang sehingga terus mencerca Hawa dengan pertanyaan yang menyulitkan baginya.
"Sebenarnya aku adik sepupunya, Mbak. Aku datang dari luar kota, baru saja tinggal di Jakarta."
Ternyata apa yang dikatakan kedua wanita itu benar. Begitu bodohnya dia selama ini harus menyusahkan Tiger untuk melengkapi isi dapurnya dan juga kebutuhannya, dia bisa belanja sendiri. Kalau untuk sekedar bahan makanan dia punya uang untuk membelinya.
"Selamat datang, ada yang bisa kami bantu, Mbak," tanya pelayan salon itu ramah.
"Aku ingin melakukan perawatan, Mbak dan tolong rapikan rambutku. Pokoknya aku ingin tampak lebih cantik," ucap Hawa dengan malu-malu, pipinya yang putih tampak bersemu merah karena merasa tidak pede dengan ucapannya sendiri.
"Baik, Mbak. Boleh saya pinjam kartu tanda pengenalnya? Kalau tidak keberatan kita akan membuat jadi member di sini, Mbak," tawarnya kemudian.
__ADS_1
Hawa membuka dompet dan mengeluarkan kartu tanda pengenalnya. Sesaat wanita itu merengut, keningnya berkerut kala membaca tempat dan tanggal lahir Hawa, bahkan wanita itu tidak tahu di mana lokasi kampung Hawa. Namun, dia bekerja dengan profesional, dia mendaftarkan Hawa dan menginput namanya sebagai member baru.
"Maaf, Mbak, di sini untuk proses pengerjaannya Mbak harus deposit dulu sebesar dua juta rupiah, baru kita bisa memulai perawatannya," terang wanita itu. Setiap berbicara Hawa begitu terpesona melihat deretan gigi wanita itu yang begitu putih dan rapi.
Hawa mengangguk, dia menyerahkan kartu atm-nya dan untuk membayar melalui cara debit. Setelah pembayaran selesai Hawa dituntun untuk mengganti pakaiannya. Semua rentetan perawatan itu dia ikuti dengan begitu gembira, dia merasa rileks walaupun kadang ada di satu bagian tubuhnya yang sakit ketika dikerjain oleh dua orang pegawai salon, pada alisnya dan juga bulu-bulu halus yang ada di sekitar wajahnya dibersihkan hingga membuat wajahnya lebih kinclong.
Ternyata salon itu dilengkapi dengan klinik kecantikan, mereka menawarkan perawatan kecantikan itu tapi dia harus menambah depositnya sebesar lima juta di awal. Hawa mempertimbangkan untuk menolak tawaran mereka, namun membayangkan Adam yang melihatnya nanti akan terpesona membuat Hawa akhirnya tergoda untuk mencoba perawatan itu.
Mulai dari siang Hawa sudah berada di salon itu, tapi hingga sore barulah perawatan itu selesai. Rambut panjang Hawa yang dipotong sebahu tampak begitu indah dan terlihat berkilau, dan yang paling membuat Hawa pangling ada melihat wajahnya sendiri yang begitu mulus dan pipinya terasa kenyal.
Harga memang tidak pernah bohong, dia bisa melihat dan merasakan bagaimana kulitnya terasa segar dan juga bersih. Alisnya yang selama ini tumbuh liar kini tertata rapi begitupun bibirnya yang tampak lebih berwarna pink dari sebelumnya
"Terima kasih Mbak, kami tunggu kedatangannya kembali," ucap resepsionis memberi salam saat Hawa pamit pulang.
Dia sudah tidak sabar ketika besok Adam datang dan melihatnya sudah tampak berubah. Membayangkan kalau pria itu akan memuji penampilannya yang baru, Hawa hanya bisa tersenyum membayangkan hal itu. Seolah dia adalah istri Adam yang melakukan perubahan demi menyenangkan hati sang suami.
Hawa pikir Adam akan tiba paling lambat siang hari, tapi hingga malam datang, pria itu tidak kunjung pulang. Tampaknya dia mungkin lebih memilih pulang ke rumah orang tuanya setelah melakukan perjalanan jauh.
Gadis itu hanya bisa pasrah, dia mengganti pakaiannya dengan kaos dan celana pendek saja, tidak ada gunanya dia memakai lingerie, kalau pria idamannya tidak jadi pulang.
Menatap pakaian yang dia kenakan saat ini di cermin, Hawa sampai saat ini bertanya-tanya, bagaimana Tiger yang menyediakan semua pakaian itu bisa tahu ukurannya? pakaian itu begitu pas di tubuhnya, bahkan pakaian dalam yang dipilihkan nya juga tampak sangat indah seolah dia tahu selera para kaum wanita.
__ADS_1
Hari keempat Hawa menempati apartemen itu, Adam tak kunjung datang. Dia sudah pasrah, terserah pria itu kapan mau datang, jadi demi membunuh rasa bosannya, Hawa melakukan apa yang disukainya yaitu masuk ke ruang perpustakaan dan membenamkan diri dengan berbagai macam buku yang dia pilih untuk dibaca.
Lelah membaca, Hawa pun tertidur di sofa yang empuk dengan kaki kanan yang menjuntai ke lantai, tanpa dia ketahui sosok tinggi, gagah dan tampan yang selama ini dia rindukan sudah berdiri di hadapannya dan saat ini tengah tersenyum melihat padanya.