
Ulang tahun perusahaan ke-50, nyonya Dewi memutuskan untuk mengadakan acara trip bagi semua karyawan yang berada di divisi keuangan dan juga marketing, beserta para OB. Mereka sudah menyewa satu hotel berbintang yang pastinya punya halaman yang begitu besar serta pemandangan yang sangat memukau di salah satu daerah di provinsi Jawa barat.
Banyak karyawan yang menyambut antusias rencana trip tersebut, hanya Hawa yang lagi-lagi merasa tidak nyaman untuk bergabung bersama mereka. Seperti biasa, masalah status dirinya membuatnya tidak percaya diri untuk berbaur dengan karyawan lainnya.
Dia selalu takut kalau kedoknya terbongkar. Sepandai-pandainya dia menutupi semua kelakuan dan juga statusnya pasti akan ada aja masa di mana orang menemukan celah untuk menjatuhkan dirinya.
"Tidak ada yang perlu kau takutkan selama aku bersamamu. Aku akan melindungimu," ucap Adam sembari membelai lengan gadis itu.
Keduanya masih mencoba menetralkan napas yang memburu setelah pertarungan hebat mereka malam itu, dan saat itu Hawa gunakan untuk menyampaikan keinginannya agar tidak ikut pada acara itu, tapi Adam memintanya untuk tetap hadir karena ibunya sendiri yang mengadakan acara itu.
"Justru karena ibumu ada di sana, aku jadi semakin takut," ujarnya.
"Dia hanya akan ada pada acara pembukaan saja, setelah itu dia akan kembali ke Jakarta. Ikutlah, Wa. Aku membutuhkanmu di sana. Aku akan mengatur agar kamu memiliki kamar sendiri sehingga saat aku membutuhkanmu, kau bisa menyelinap masuk ke dalam kamarku," ucap Adam.
Menyadari dirinya hanyalah gadis sewaan yang sudah dikontrak oleh Adam selama ini, Hawa tidak punya pilihan lain selain mengikuti permintaan pria itu.
Perusahaan sudah menyediakan untuk 5 bus untuk para karyawan yang ikut, selanjutnya para petinggi perusahaan akan pergi dengan mobil pribadi mereka masing-masing.
"Kamu tahu, aku begitu gembira acara ini diadakan kembali sudah lima tahun. Seharusnya acara ini diadakan sekali dua tahun tapi karena Covid melanda negeri ini sehingga kita tidak bisa bepergian," terang Jos yang begitu menikmati perjalanan menuju kota Bandung.
Susi terpaksa tidak ikut setelah mendapatkan izin langsung dari Adam tentu saja melalui Jos. Susi memang tidak bisa ikut karena anaknya sedang sakit, hingga dia tidak punya pilihan.
Sore harinya mereka tiba di hotel, yang disambut oleh manager hotel beserta para pegawai. Sesuai dengan nama dan jabatan mereka diberikan kunci kamar yang satu kamar terdiri dari dua orang.
__ADS_1
Pembagian kamar terhadap jumlah pegawai sudah dilakukan dengan tepat, karena Susi tidak hadir maka Hawa menempati kamarnya seorang diri, hal itu seperti yang sudah direncanakan dan diatur oleh Adam.
Pertama yang mereka lakukan tentu saja gala dinner bersama nyonya Dewi. Mereka menikmati makan malam di aula besar dengan menu yang sangat lezat.
Itu kali kedua Hawa melihat wanita hebat itu. Wajahnya sedikit mirip dengan Adam. Hawa tebak, Bu Dewi memiliki karakter yang kuat, tegas dan tidak terbantahkan. Menjadi sosok ibu yang merangkap sebagai ayah bagi anak-anaknya, membuat karakternya terlihat sangat dingin dan seperti wanita bengis.
Setelah wanita itu memberikan kata sambutan, dia pun pamit dan berencana untuk kembali ke Jakarta karena ada yang harus dia urus lagi. Dia berterima kasih karena semua karyawan bersemangat mengikuti trip perusahaan kali ini.
"Terima kasih saya ucapkan pada kalian semua, untuk sumbangsihnya kepada perusahaan dan loyalitas kalian hingga membuat perusahaan kita maju. Saya berharap kita semua sehat dan kedepannya perusahaan kita semakin sukses. Berharap acara kali ini membuat kita satu sama lain lebih akrab dan bisa menjalin kerjasama lebih baik lagi ke depan," ucap nyonya Dewi sebelum turun dari podium.
Sebelum berangkat kembali ke Jakarta wanita itu makan malam bersama putranya dan juga para petinggi di kantor, seperti manajer dari setiap divisi yang ada di perusahaan Mahesa corporation.
Makan malam telah usai, acara dilanjutkan dengan live music. Semua berbaur, tidak ada jabatan tinggi dan jabatan yang rendah, semua sama.
Saat tiba giliran meja tempat para OB duduk, lagi-lagi Rangga merasa sok kompak dengan Adam menarik pria itu untuk duduk bersama mereka.
Hawa yang melihat kedatangan Adam, menunduk tidak berani menatap pria itu. Dia mengutuk Rangga karena sudah mengajak Adam ke meja mereka.
"Silakan duduk Bos. Bolehlah sesekali temanin kami minum, jangan mereka yang pakai dasi aja yang dapat perhatian dari Bos," ucap Rangga ya memang berani.
Rangga jenis orang yang tidak punya rasa takut. Selagi dia merasa benar dan sopan, dia akan menganggap semua orang sama.
Adam terpaksa mengikuti langkah Rangga yang memaksa untuk duduk bersama mereka. Tiger ingin menghalau Rangga, namun kode tangan Adam segera dipahaminya, hingga pengawal itu mundur dan sedikit menjauh.
__ADS_1
Jos yang juga tahu hubungan Adam dengan Hawa ikut merasa deg-degan. Dia takut dimarahi oleh Tiger karena lagi-lagi gagal memperingatkan Rangga atas sikapnya yang terlalu berlebihan, tapi untuk mengingatkan pria itu saat ini sudah sangat terlambat.
Adam bingung harus duduk di mana, lalu semua OB berdiri dan mempersilahkan Adam untuk duduk yang tanpa mereka sadari sudah memberikan ruang untuk Adam duduk di sebelah Hawa. Pola kursi yang membentuk setengah lingkaran membuat Adam duduk memepet ke tubuh Hawa, yang terus aja menunduk sembari meremas tangannya.
Beruntung sorot lampu di ruangan begitu minim, hanya kelap-kelip, sedikit pencahayaan, hingga tidak ada orang yang melihat wajah pucat Hawa.
Semua kembali duduk, berbaur dengan Adam yang mendengarkan cerita mereka.
10 menit bercerita dengan para OB ternyata Adam menilai mereka adalah orang-orang yang menyenangkan. Mereka mungkin pegawai yang paling rendah di perusahaannya, tapi mereka memiliki adat dan kesopanan bahkan cara mereka bercerita kepada Adam sangat tulus bukan seperti para petinggi di perusahaan yang sering menjilat agar dianggap baik dan berkarya oleh Adam.
Satu persatu mereka saling melempar cerita yang membuat Adam ikut tertawa. Adam bukannya tidak sadar bahwa Hawa masih saja tidak berani mengangkat wajahnya, karena begitu gugup dan ketakutan, dengan sigap Adam menggenggam tangan Hawa di bawah meja tanpa seorangpun yang bisa melihat.
Orang-orang fokus terhadap lagu yang sedang diputar dan sebagian teman-temannya yang duduk bersama mereka tadi memilih untuk berdansa menikmati musik.
Perlahan tangan Hawa yang tadi digenggamnya terasa dingin kini menghangat, gadis itu sudah mulai rileks. Satu persatu teman-temannya meninggalkan mereka, kini hanya tinggal Adam dan Hawa yang ada di kursi itu.
Awalnya Rangga memohon kepada Hawa untuk ikut menari bersamanya di lantai dansa bersama karyawan yang lainnya tapi dengan alasan pusing Hawa menolak.
Tangan keduanya masih saling mengait, menggenggam semakin erat. Adam sendiri tidak mengerti apa yang sudah dia lakukan, seolah dia sudah tidak peduli jika ada orang yang melihat mereka bersama.
Bukan tanpa alasan dia melakukan hal itu, ibunya sudah memberitahukan bahwa bulan depan Sarah akan kembali. Gadis itu sudah menyelesaikan kuliahnya dan akan wisuda. Mereka juga akan pergi ke Jerman untuk mengikuti acara wisuda Sarah sekaligus adiknya yang juga kuliah bersama dengan Sarah di kampus yang sama.
Adam yang tidak bisa mengikuti kata hatinya dalam urusan wanita, membuat pria itu jemu dan ingin berontak. Namun, yang jadi permasalahannya adalah orang yang menyebabkannya dalam keadaan tertekan seperti itu adalah ibunya sendiri yang tidak mungkin dia bantah.
__ADS_1