Hawa untuk Adam (Simpanan CEO Arogant)

Hawa untuk Adam (Simpanan CEO Arogant)
HUA : Bukan Cemburu, Hanya tidak suka


__ADS_3

Adam bukan cemburu hanya saja dia tidak suka kalau dirinya menjadi orang kesekian dalam perhatian Hawa.


Suasana hati Adam berubah menjadi tidak baik, pekerjaan kantor yang begitu banyak membuat mood-nya semakin buruk dengan tindakan Hawa yang menghubungi Tiger.


"Apakah wanita itu sering menghubungimu, dan kau juga sering mengangkat teleponnya?" tanya Adam dari kursi belakang, dia menatap tajam pada tengkorak belakang kepala pria yang sudah lama menjadi orang kepercayaannya itu.


"Hanya setiap Anda meminta saya untuk menghubungi Nona Hawa, Tuan," jawab Tiger dan tidak mengerti apa maksud dari pertanyaan bosnya.


Suasana mendadak hening, dada Adam masih panas. "Apa hanya segini kemampuanmu untuk membawa mobil ini? Tidak bisa kah lebih cepat dari ini?" kembali Adam seolah mencari kesalahan Tiger. Pria itu uring-uringan, ingin mencari kelemahan Tiger agar dia bisa dengan puas memarahinya.


Tiger tidak menjawab lagi. Dia tahu saat ini bosnya itu sedang dongkol. Bergegas Tiger menginjak gas dengan sekuat tenaga hingga mobil itu melaju lebih kencang bahkan Tiger mengeluarkan jurus jitunya menyelip di antara beberapa mobil yang mereka lalui.


Jarak yang biasanya ditempuh satu jam, kini hanya ditaklukan Tiger setengah jam lebih lima menit, begitu sampai Adam langsung keluar tanpa menunggu Tiger membukakan pintu mobil untuknya.


"Kau tidak usah keluar! Segeralah pulang, tunggu kabar dariku," ucapnya masuk ke lobby apartemen.


Langkahnya begitu panjang, dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Hawa. Hatinya terus memburu ingin menghukum gadis itu karena sudah membuatnya kesal.


"Apa-apaan dia lebih memilih menghubungi Tiger daripada diriku? yang menjadi penguasa di sini adalah aku, yang memberinya uang adalah aku, lantas kenapa Tiger yang dicarinya, dan bukan aku?!" umpatnya saat dalam lift. Untung saja hanya dirinya sendiri yang ada di dalam lift itu, hingga dumelannya tidak didengar orang lain.


Seperti kesetanan Adam membunyikan bel. Berulang kali Adam menekan benda itu, tapi Hawa yang tidak mendengar karena sedang mandi membuat Adam harus menunggu hingga 15 menit.


Lantas dia menyadari kenapa dia tidak masuk saja? bukankah dia juga tahu password apartemennya? Amarah membuatnya menjadi pria yang bodoh!

__ADS_1


Adam pun masuk dan mendapati apartemen itu kosong. Keningnya berkerut mencari-cari dimana keberadaan Hawa. Tiba-tiba wajahnya pucat memikirkan apa mungkin gadis itu pergi dari apartemen itu, padahal dalam surat perjanjian itu sudah diterangkan bahwa Hawa tidak boleh pergi kemanapun tanpa persetujuan darinya!


Dengan beringas Adam masuk ke dalam kamarnya. Gemericik suara air dari kamar mandi akhirnya membuatnya tenang. Amarahnya sedikit surut karena apa yang dia takutkan tidak terjadi, gadis itu tidak pergi dia hanya mandi hingga tidak mendengar bel yang dia bunyikan.


Mendengarkan suara gemericik air, pikiran nakalnya mulai menjelajah. Dia membayangkan tubuh polos Hawa yang saat ini dibasuh oleh air segar, tubuh lihatnya mengeras di bawah sana. Dia sudah merindukan sentuhan gadis itu, ******* napasnya bahkan juga erang*an manja dari Hawa.


Penantiannya berbuah manis, pintu kamar mandi dibuka dan gadis itu muncul dengan balutan handuk dengan rambut yang basah menjuntai di punggungnya.


"Tuan sudah pulang?" tanya Hawa sedikit malu, dia menyadari tubuhnya yang hanya berbalut handuk putih menjadi santapan tatapan ganas Adam.


"Aku baru saja pulang. Kemarilah, aku merindukanmu sekaligus marah padamu," ucapnya menepuk pahanya meminta Hawa duduk di pahanya.


Aroma sabun yang begitu menyegarkan dan wangi sampo dari rambut Hawa menyeruak masuk ke dalam hidung Adam, membuat imajinasi dan juga birahi pria itu muncul lebih besar lagi.


Adam terlena, dia menyukai bibir itu seolah menjadi kompeng yang bisa menenangkan hati dan pikirannya.


Ciuman lembut itu berubah menjadi ganas, menuntut dan ingin menguasai. Kini bibir Adam yang panas turun ke leher mulus gadis itu, menjelajahi setiap jengkal kulit mulut putih Hawa.


Gadis itu tidak bisa menahan gejolak dalam hatinya, dia meremas handuk yang dia pakai, menahan bibirnya untuk tidak mengeluarkan suara yang menandakan gai*rah sudah mengambil alih akal sehatnya.


Hawa tidak munafik, dia begitu merindukan sentuhan pria itu. Seminggu lebih mereka berpisah setiap malam Hawa selalu membayangkan pria itu berada di sampingnya, memeluknya dan menyentuhnya.


Gadis itu mungkin sudah gila, seperti wanita murahannya setiap detik ini merasakan sentuhan Adam yang mampu membunuh perasaannya semakin tinggi.

__ADS_1


"Mend*esah lah untukku Hawa! Aku ingin mendengar suaramu. Aku ingin kau bergerak liar di bawahku," bisik Adam yang kembali melu*mat bibir mungil gadis itu.


Hawa menurut, dia mendesah. Terlebih saat jemari Adam menarik simpul handuk yang diikat di dadanya membuat benda itu jatuh tersangkut di perutnya, memperlihatkan dua buah tonjolan yang menantang yang rindu akan sentuhan dan hi*sapan bibir Adam.


Hawa tersentak seketika membuka matanya kala bibir pria itu sudah memasukkan puncak gunungnya ke dalam mulut panasnya. Air liur Adam sudah membasahi permukaan yang tampak memerah dan begitu menggoda itu.


Hi*sapan lembut bibir Adam membuat tubuh Hawa mengejang, dia merasakan getaran hebat pada intinya, hingga Adam menguatkan hisapannya, seolah seorang bayi yang kelaparan.


"Tuan..." bisik Hawa disela napasnya yang memburu dan ******* yang tertahan. Sungguh tubuhnya sudah terbakar. Tanpa tahu malunya, dia sudah menginginkan Adam berada dalam dirinya.


Adam begitu gembira melihat reaksi yang bisa ditimbulkannya terhadap gadis itu, menjadi kepuasan tersendiri bagi Adam, jika bisa memuaskan Hawa, seolah dalam pikirannya jika dia berhasil membuat gadis itu puas maka Hawa tidak akan melirik pria manapun.


Sebuah pemikiran yang unik, ketika Adam adalah pemilik Hawa, namun masih takut kehilangan gadis itu.


"Sebut namaku, Hawa. Panggil namaku," bisiknya menjilat telinga Hawa. Pria itu bahkan mengecup dan menghisap daun telinga gadis itu, yang berhasil membuat Hawa menggelinjang nikmat.


"Adam," bisiknya lirih. Dia sudah tidak mampu berkata-kata ataupun bertahan dengan posisi itu. Tubuhnya terasa lemas dan sesuatu di bawah sana sudah basah.


Adam mengerti, dia segera menggendong tubuh Hawa dan membaringkannya dengan lembut di atas ranjang dengan mata yang tidak pernah lepas dari wajah gadis itu. Adam membuka pakaiannya dengan tergesa-gesa, dia sudah tidak tahan, ingin memasuki gadis itu, memikirkan hal itu membuat jantungnya berdebar dengan kencang.


Begitu membuka celana, senjatanya sudah mengacung dengan tegak ingin membelah tubuh Hawa. Dia kembali naik ke atas tubuh gadis itu mengecup bibirnya dengan lembut, lama dan meninggalkan sensasi yang berbeda saat pria itu mengaitkan lidahnya pada lidah Hawa. Dia tidak tahan lagi untuk menjelajah, kebutuhannya sudah mendesak.


Seminggu lebih dia tidak mengeluarkan amunisinya, hingga saat ini tidak ada yang paling dia inginkan, selain memasuki Hawa lebih cepat dari sebelumnya.

__ADS_1


"Kau sudah siap, Sayang?"


__ADS_2