
Ketika Hawa terbangun dia mendapati sisi tempat tidur di sampingnya sudah kosong. Dirabanya ranjang itu sudah dingin yang artinya sudah lama tuannya bangun dari sana.
Hawa mengedarkan pandangannya ke seluruh ruang kamar, dia berharap mungkin saja pria itu masih ada di kamar mandi tapi tidak adanya suara gemericik air, membuatnya sadar bahwa dia kini sudah sendiri.
Adam pasti sudah pergi ke kantor. Dia menghela napas panjang, menatap langit-langit kamar dan membayangkan kalau hari ini dia harus pergi dari rumah itu.
Hawa berniat untuk segera mandi. Mungkin Adam akan mengantarnya pulang setelah pria itu kembali dari kantor, jadi sembari menunggu kedatangan pria itu, Hawa bisa memuaskan dirinya di perpustakaan, membaca beberapa buku lagi, tapi secarik kertas yang ditemukan di atas nakas membuatnya tertegun dan menghancurkan hatinya keping-keping.
Dalam catatan itu, Adam memintanya untuk bersiap karena nanti pukul 12.00 siang, Tiger akan mengantarnya kembali pulang. Di samping kertas catatan itu dia melihat tumpukan lembaran uang merah yang mungkin baru kali ini dia melihat sebanyak itu. Hawa menebak, jumlah uang itu 20 juta.
Dia menyentuh uang itu, tapi entah kenapa bukan rasa gembira yang dirasakan justru satu tetesan bening jatuh di pipinya. Kenapa dia merasa sesedih ini? Bukankah dia memang disewa selama tiga hari untuk menghasilkan uang ini? dengan uang ini dia bisa mengirim ke kampung untuk biaya berobat ayahnya.
"Ayolah Hawa, aku kan sudah bilang padamu, jangan main hati! Kau harus sadar diri, ingat siapa dirimu dan siapa tuan Adam," batinnya meletakkan kembali kertas itu di dekat tumpukan uang.
Hawa segera membersihkan diri, dia mandi dan juga sengaja berlama-lama berendam menikmati fasilitas yang mungkin tidak akan pernah dinikmati lagi. Setelah itu dengan santai dia memakai kembali baju tidur yang dipakainya saat Tiger menculik dan bawahnya ke rumah itu.
"Aku kembalikan pakaian ini tuan Adam, aku tidak akan membawa barang-barang yang bukan menjadi hakku. Uang yang kau berikan akan aku bawa karena untuk itulah aku ada di sini," cicitnya mencoba menahan laju air matanya.
Tidak kurang, tidak lebih, tepat pukul 12.00 siang Tiger datang. Pria itu sudah bersiap menunggunya di depan pintu untuk mengantarkannya pulang.
__ADS_1
"Selamat siang tuan Tiger, Anda sudah lama menunggu?" sapa Hawa. Di tangannya Hawa menenteng satu Tote bag, tempat dia membawa makanan yang kemarin disimpan di kulkas dan juga segepok uang yang diberikan Adam padanya.
"Aku hanya membawa sisa makanan yang aku masak kemarin dan juga uang yang diberikan oleh tuan Adam. Kau boleh memeriksa bungkusan ku ini, tidak satupun dari barang-barang di rumah ini yang aku bawa," ucap Hawa membuka bibir tote bag yang dia pegang.
"Pesan tuan Adam, Anda boleh membawa apa saja yang Anda inginkan dari rumah ini. Saya tidak berhak untuk memeriksa barang bawaan Anda dan satu hal lagi tolong Anda jangan memanggil saya tuan, cukup Tiger saja," jawab pria itu, yang tentu saja tanpa senyum seperti biasanya.
Hawa mengangguk, melewati Tiger dan berjalan lebih dulu menyusuri lorong sehingga berdiri di depan lift.
Selama dalam perjalanan pulang Hawa terus berpikir apa dia sanggup untuk melupakan Adam. Apakah dia bisa melupakan kisah manis dan semua yang sudah mereka lakukan bersama? hal itu terlalu indah untuk dilupakan tapi juga terlalu menyakitkan untuk dikenang. Jadi, dia harus apa?
Satu jam perjalanan yang ditempuh akhirnya membawa Hawa kembali ke kosan Mita. Siang begini sahabatnya itu pasti sedang tidur di rumah karena pagi tadi baru pulang selesai dinas.
"Terima kasih Tiger, sudah mengantarku," ucap Hawa menunduk hormat lalu keluar dari mobil. Hawa masih belum masuk ke dalam kosan, menatap mobil itu melaju meninggalkan tempatnya seolah itu menjadi simbol perpisahannya dengan Adam.
"Kau tidur saja kalau masih mengantuk. Aku akan memanaskan makan ini untuk kita makan nanti siang," jawab Hawa mengeluarkan satu persatu bungkusan plastik yang dia bawa dari rumah Adam.
Baru dua langkah dia kembali memutar tubuhnya melihat ke arah Mita yang mengikuti omongannya berbaring kembali di atas tempat tidur.
"Kapan kau bisa menemaniku membuka rekening? Aku ingin mempunyai ATM sehingga aku tidak perlu menyimpan uangku dibawa kasur, lagi pula kalau aku sudah punya rekening dan ATM sewaktu-waktu aku bisa mengirimi orang tuaku uang untuk biaya ayahku berobat dan juga keperluan adik-adik ke sekolah," ucap Hawa.
__ADS_1
"Kalau begitu aku akan mandi. Sekarang saja kita buat, lebih cepat lebih baik. Apa pria itu membayarmu dengan jumlah yang tepat?" tanya Mita kembali duduk setelah tadi sempat berbaring.
"Aku rasa cukup. Kalau seperti ini, berapa yang harus aku setor kepada mami Cinta?" tanya Hawa mengurutkan kening.
"Semua yang diberikan pria itu kepadamu adalah milikmu karena pada saat dia menyewa mu tiga hari yang lalu, dia sudah memberikan ganti rugi kepada mami Cinta untuk biaya sewa kamu selama tidak bekerja di sana. Jadi mami Cinta tidak berhak mendapatkan lagi bagiannya," terang Mita.
Hawa hanya mengangguk-angguk kan kepalanya tanda mengerti. Jadi uang sebesar 20 juta itu benar-benar untuknya sendiri. Ada senyum di bibirnya, dia membayangkan reaksi orang tuanya yang akan bersorak gembira saat mendapati kabar bahwa dia akan mengirim uang sebanyak itu untuk mereka.
"Ya Tuhan, maafkanlah kesalahan dan dosaku. Aku tahu semua perbuatan zinahku ini tidak dibenarkan di hadapanMu, tapi engkau tahu ya Tuhan, alasanku melakukan pekerjaan ini. Aku berjanji jika nanti aku sudah memiliki modal untuk buka usaha aku akan berhenti dari pekerjaanku ini," batin Hawa menghapus air matanya.
Sejujurnya dia malu dengan dirinya sendiri, terlebih malu kepada Tuhannya. Selama ini dia menjadi anak yang sholehah yang rajin beribadah dan selalu mendengarkan nasihat kedua orang tuanya.
Hawa tidak pernah malu akan keadaannya yang miskin. Walaupun keluarga Hawa jauh lebih miskin dari teman-temannya, dia justru bangga karena ayah dan ibunya pekerja keras.
Ayahnya yang bekerja sebagai buruh gajian di sawah milik tetangga dan ibunya yang membuka warung nasi mengajarkannya bahwa hidup harus berjuang dan bekerja keras.
Tapi kini dia sudah salah memilih jalan. dia sudah menghancurkan harapan kedua orang tuanya. Dia masih ingat ayahnya selalu berkata bahwa dia begitu bangga kepada Hawa.
"Ayah yakin Hawa akan bisa membawa nama keluarga, membanggakan Ayah dan Ibu serta juga adik-adikmu. Hawa adalah putri kebanggaan Ayah," ucap Ayahnya saat itu.
__ADS_1
Bahkan saat Hawa pamit untuk pergi merantau, ayahnya lama memeluk Hawa dan mencium puncak kepalanya sembari mengucapkan doa untuk putrinya itu agar senantiasa dilindungi Tuhan dan berjalan di jalannya.
"Ayah, biarlah di sini aku menjalani takdirku, yang terpenting ayah, ibu dan adik-adik memiliki uang yang cukup untuk memenuhi kebutuhan kalian. Ayah maafkanlah putrimu yang sudah ternoda ini," batinnya meremas tumpukan uang yang diberikan Adam.