Hawa untuk Adam (Simpanan CEO Arogant)

Hawa untuk Adam (Simpanan CEO Arogant)
HUA : Jujur


__ADS_3

Ketika sudah dua minggu Hawa tidak juga menunjukkan tanda-tanda dia akan kembali ke Jakarta, saat itu'lah kedua orang tuanya curiga kepada Hawa. Maka malam itu setelah makan malam usai, ayah dan ibunya mengajak aku untuk bicara.


"Wa, dipanggil ayah," ucap Bu Marni mendatangi putrinya ke kamar. Hawa mengangguk dan bergegas mengikuti langkah ibunya yang sudah lebih dulu meninggalkan kamar.


Kedua adiknya sudah tidak terlihat di ruang tv mungkin mereka sudah tidur karena besok harus sekolah.


"Duduk lah Wa, Ayah ingin bicara denganmu," ucap Pak Tarjo ketika Hawa sudah berada di depannya.


"Ada apa, Yah?" tanya Hawa sedikit khawatir. Apa mungkin ayah memanggilnya untuk menanyakan kepulangannya ke Jakarta.


Ini salah dirinya, harusnya dalam waktu dua minggu ini, dia sudah bisa membuka obrolan kepada kedua orang tuanya, mulai berkata jujur agar tidak dihantui rasa bersalah dan dikejar oleh kebohongan lainnya.


"Ayah dan ibu senang kamu ada di sini tapi kami mengkhawatirkan pekerjaanmu di Jakarta. Apa kamu tidak terlalu lama berada di kampung?" tanya Pak Tarjo to the point.


"Iya, Wa. Nanti kalau kamu dipecat gara-gara terlalu lama berada di kampung. Tidak baik mengecewakan bosmu, apalagi kamu bilang untuk masuk ke perusahaan itu susah," tambah ibunya mendukung pernyataan Pak Tarjo.


"Hawa hanya menunduk, meremas jemarinya sedikit gugup dengan interogasi kedua orang tuanya. Sepertinya sudah saatnya dia harus terbuka, jujur mengenai dirinya yang tidak akan kembali lagi ke Jakarta.


"Maafkan aku, kalau selama ini aku sudah bohong kepada kalian. Sejujurnya aku tidak akan kembali lagi ke Jakarta. Aku sudah berhenti bekerja dan berniat untuk tinggal di kampung ini saja," terang Hawa memberanikan diri. Dia tidak mau menghindar lagi.

__ADS_1


Kedua orang tuanya yang mendengar hal itu sontak kaget, tidak menyangka kalau sudah berbohong kepada mereka.


Kata hati pak Tarjo mengatakan, bahwa ada hal serius yang disembunyikan Hawa dari mereka yang buat anaknya itu tertekan dan memilih untuk meninggalkan kota Jakarta. Tarjo ingin anaknya itu berani bersikap dan terbuka kepada mereka orang tuanya, kalau bukan pada mereka, lalu pada siapa lagi Hawa berbagi keluh kesahnya.


"Sebenarnya kamu ada masalah apa, hingga kamu harus berhenti dari pekerjaan mu?" susul Pak Tarjo dengan nada lembut berusaha untuk tidak terdengar mengintimidasi putrinya walaupun sebenarnya dia sangat khawatir kalau ada hal serius yang disembunyikan Hawa dari mereka.


"Nggak ada hal serius, Ayah. Aku hanya ingin pulang ke kampung dan menetap di sini, mungkin ada sedikit uang sisa selama bekerja di Jakarta, itu akan aku gunakan untuk buka usaha," ucap Hawa berharap tidak ada lagi pertanyaan dari kedua orang tuanya. Dia semakin takut kalau ayah ibunya tahu pekerjaan apa yang dia lakukan di sana.


"Tapi kamu yakin tidak ada masalah yang kamu sembunyikan dari ayah dan ibu?" kali ini Bu Marni yang angkat bicara. Sebagai sesama wanita, tentu saja Bu Marni sempat menduga anaknya tidak mau kembali ke Jakarta karena ada seseorang yang mungkin menyakiti hatinya, karena sudah saatnya Hawa memiliki kekasih. Mungkin persoalan asmara salah satu menjadi penyebab putrinya ini memutuskan untuk pergi dari sana pasalnya Bu Marni pernah melihat Hawa termenung sembari menatap layar ponselnya melihat foto pria yang dia simpan di galeri teleponnya.


"Ya sudah, kalau kamu tidak mau kembali lagi ke Jakarta, itu juga keputusan bagus, kita bisa kembali berkumpul di sini," kata Pak Tarjo mengembangkan senyum pada Hawa semata-mata ingin membuat gadis itu lebih nyaman.


***


Masalah mengenai kepulangannya sudah beres, sekarang yang harus dipikirkan adalah usaha apa yang akan dia buka, tidak mungkin dia melamar lagi ke toko, tempat dia bekerja dulu.


Pusing memikirkan usaha apa yang akan dia buka, Hawa keluar dari kamarnya, segera pergi menuju warung untuk melihat apa yang bisa dia makan. Belakangan ini nafsu makannya sungguh gila-gilaan, sebentar-sebentar dia pasti sudah merasa lapar kembali.


"Kamu lapar lagi, Wa?" tanya Bu Marni yang sedikit heran melihat nafsu makan Hawa. Bu Marni mengerutkan keningnya, pasalnya Hawa baru saja makan dua jam lalu dan kini sudah mengambil piring untuk makan kesekian kalinya di hari itu.

__ADS_1


"Iya, Bu. Padahal udah makan tadi, tapi udah lapar lagi, apa mungkin karena perubahan di kampung ya, udara dingin, jadi bawaannya lapar terus," jawab Hawa menyendok nasi memenuhi piring.


Ibu Marni tidak menanggapi jawaban Hawa. Keningnya berkerut, seorang ibu yang sudah beberapa kali hamil, tentu saja bisa menilai dan mengetahui dari bentuk tubuh seorang wanita jika ada perubahan pada dirinya. Tiba-tiba saja pemikiran itu melintas dalam benak Bu Marni. Seketika wajahnya pucat. Dalam diam, Bu Marni terus memperhatikan putrinya yang makan dengan lahap di hadapannya.


"Tidak mungkin, tapi kalau lihat tingkah dan sikap Hawa yang moodnya juga naik turun, sama seperti wanita yang sedang mengandung," batinnya mengingat saat dia hamil Hawa pada saat dulu.


Bu Marni segera masuk ke dalam rumah, menitipkan warung pada Hawa yang saat itu sedang makan di sana. Dia berniat untuk menemui suaminya dan menceritakan apa yang dia pikirkan saat itu.


"Jangan gila kamu, Bu. Itu anak kita! Tega kamu menuduh dia seperti itu?" bantah Pak Tarjo yang tidak terima dengan buah pemikiran Bu Marni.


"Aku juga nggak mau Pak, memikirkan hal itu tapi kalau melihat sikap dan juga tingkah Hawa sama persis saat ibu mengandungnya dulu. Apa tidak sebaiknya kita bawa ke bidan, Pak? Takutnya kalau memang benar hamil, dan semakin membesar, kita tidak bisa berbuat apapun lagi," ucap Ibu Marni dengan suara tertahan. Dia tidak mau pembicaraan dengan suaminya didengar oleh Hawa yang bisa saja tiba-tiba melintas dari depan kamar mereka.


Mau tidak mau Pak Tarjo akhirnya terpengaruh oleh ucapan Bu Marni. Bagaimana mereka akan menghadapi warga kampung kalau sampai benar putrinya itu sedang hamil. Iya kalau ada ayahnya, kalau bayi itu tidak punya ayah yang mau mengakuinya?" jatuhnya akan menjadi aib dan buah bibir di kampung itu.


"Bagaimana, Pak?" desak Bu Marni yang semakin tidak tenang.


"Kalau begitu kamu bawa dia ke bidan di desa tetangga, jangan yang ada di sini. Ayah nggak mau Hawa menjadi bulan-bulanan warga kampung ini. Bila perlu bawa dia ke kota, Bu. Kasihan putrimu nanti kalau benar dia menjadi bahan olokan."


"Terus kalau benar, kita harus apa Pak? Ibu yakin kalau Hawa belum menikah, tidak mungkin'kan anak itu kita pelihara sementara dia tidak punya bapak?"

__ADS_1


"Apa yang kamu bicarakan, Bu? Kalau memang Hawa hamil, kamu mau membuang bayinya? Dosa Bu, eling! Bagaimanapun itu darah dagingnya, cucu kita! Kamu tidak takut dosa dengan membuang ciptaan Tuhan? Bayi itu tidak bersalah l, yang salah adalah perilaku ayah dan ibunya!" tukas pak Tarjo.


__ADS_2