
Satu kekurangan Adam yaitu sifatnya begitu bengis kalau sudah marah. Jika tidak suka terhadap sesuatu, dia akan berubah menjadi sosok yang kasar, memaki dan acap kali melakukan hal menyakitkan, walaupun mungkin dia tidak memukul atau menghajar Hawa tapi dia akan mengumpat dan memaki, bahkan pernah menjambak gadis itu.
"Wanita tidak tahu diri! Berani-beraninya membantah perintahku!" umpatnya masih berada di kantor.
Adam mengutuk dirinya yang tidak bisa lepas memikirkan wajah sedih Hawa yang dia lihat tadi tatapan mata yang terluka itu, terus saja menghantui pikiran dan hatinya.
Setelah mengantar Sarah kembali ke mobil, Adam segera menghubungi Hawa, memintanya datang ke ruangannya dan ingin berbicara dengannya. Dia ingin mengetahui keadaan gadis itu. Hatinya begitu gusar ingin memastikan bahwa dia baik-baik saja.
Namun, rasa khawatirnya justru terbuang sia-sia, gadis itu tidak mengangkat teleponnya bahkan pesannya pun tidak dijawab. Dua kali teleponnya tidak diangkat dan satu pesan juga diabaikan membuat Adam meradang.
Berulang kali menghubungi hingga 20 kali panggilan lalu mengirimkan dua pesan makian yang berhasil membuat ulu hati Hawa semakin sakit.
Kau di mana Aku ingin bertemu datang ke ruanganku sekarang.
Pesan pertama yang diabaikan Hawa. Sebenarnya bukan mengabaikan, dia hanya larut dengan pekerjaannya membersihkan wastafel dan juga mengepel ruangan pantry sehingga tidak mendengar telepon dari Adam dan juga pesannya.
Kau memang wanita tidak tahu diri, berani sekali kau tidak mengangkat teleponku, di mana kau? segera hubungi aku!
Pesan kedua yang mulai memaki Hawa yang dianggap pembangkang dan berani mengabaikan dirinya.
Kau harus tahu di mana kedudukanmu! kau tidak pantas mengabaikanku karena kau adalah wanita yang aku beli!
Pesan ketiga yang sukses membuat Hawa menahan jeritan tangisnya. Dia menangis sembari menggigit ujung bajunya agar suara tangisannya tidak keluar dan didengar oleh tetangga.
Padahal dia tidak tahu sekalipun dia menjerit, tetangga juga tidak akan mendengar karena bangunan itu sangat kokoh.
Hingga pukul 07.00 malam Hawa menangis, matanya sudah bengkak. Dia memutuskan untuk mandi. Hawa menduga, Adam tidak akan datang malam itu, dia terlalu sibuk bersama gadisnya hingga harus mengunjungi pelacurnya.
Saat bunyi menyadarkannya dari lamunan, Hawa beranjak dari depan televisi, segera membuka pintu. Dia tahu itu bukan Adam, karena pria itu pasti akan menyerbu masuk dan mulai memakinya.
__ADS_1
Temperamen Adam memang luar biasa mengerikan. Pernah suatu kali Hawa pergi bersama Susi, Jos dan juga Rangga ke tempat karaoke selama dua jam. Adam memaki dan memarahinya karena sudah berani pergi tanpa seizinnya.
Begitu Adam sampai di apartemen dia memaki bahkan menjambak rambut Hawa menariknya ke belakang agar bisa dengan jelas menatap wajah wanita itu.
"Kau harus ingat posisimu. Kau adalah wanita yang aku beli, jangan pernah kau pergi tanpa seizin ku! Aku bisa saja menghancurkan mu, bahkan melenyapkan nyawamu, jadi jangan main-main padaku! Hanya dengan izinku lah kau bisa bergerak bahkan untuk bernapas!Sejengkal pun kau melangkah dariku, kau harus meminta izin kepadaku terlebih dahulu, kau paham matinya?!"
Hawa yang kesakitan di Jambak hanya bisa mengangguk dengan linangan air mata di pipinya. Adam tidak bisa melihat air mata itu melepaskan dengan kasar jambakan rambut Hawa dan segera pergi dari apartemen itu meninggalkannya.
Sejak itu kemanapun Hawa pergi dia akan pamit dan minta izin dulu kepada Adam.
Ternyata benar, orang yang membunyikan bel adalah pengantar susu dan telur langganan hampir semua penghuni apartemen itu.
***
Keesokannya ketika Hawa pulang ke rumah, dia mendapati Adam sudah berada di sana duduk di sofa dengan kaki diletakkan di atas meja, ada botol dan satu gelas Vodka yang ikut menemani kakinya di atas meja sana.
Semalam dia berharap Adam tidak kembali namun ketika dia terbangun pukul 01.00 pagi karena mimpi buruk, justru dia menginginkan agar pria itu datang untuk memeluknya.
Cinta memang lucu, kadang di luar nalar. Hawa sudah disakiti perasaannya oleh Adam namun justru dia menginginkan pria itu yang menyembuhkan lukanya.
"Kemarilah perintahnya!"
Hawa menurut dia duduk di dekat Adam. Timbul satu perasaan yang aneh yang kini dirasakan Hawa. Biasanya saat dia duduk di dekat pria itu, dia akan penuh percaya diri menatap Adam, karena dia yakin pria itu akan terpesona dengannya.
Selama ini dugaannya selalu tepat, begitu di dekat dirinya, Adam pasti akan langsung membopong Hawa ke kamar dan menuntaskan birahinya.
Namun, kali ini sedikit berbeda, Hawa justru minder duduk di dekat pria yang kini dia ketahui memiliki wanita yang berpuluh-puluh kali lipat lebih sempurna dari dirinya bahkan dibandingkan dengan tunangannya, Hawa tidak ada apa-apanya.
Bahkan kadang dia harus memastikan dulu Apakah bau keringatnya tidak mengganggu Adam yang membuat pria itu menjadi ilfil kepadanya.
__ADS_1
"Kenapa kau terus menunduk? Tatap wajahku!" pinta Adam mengulurkan tangannya, membelai rambut Hawa dan menyelipkan dibalik telinganya.
"Aku merindukanmu," bisik pria itu yang membuat hati Adam kembali menghangat.
Dia pikir setelah kembalinya tunangannya dari luar negeri, Adam tidak akan pernah lagi mengatakan hal itu kepadanya, bahkan Hawa pikir pria itu tidak akan mau lagi mengunjunginya di apartemen ini.
Sentuhan itu membuat perasaan Hawa menjadi sentimentil, air matanya turun, dan hal itu membuat kening Adam berkerut.
"Hei, ada apa? Kenapa kamu menangis? Apa kau sakit?" tanya pria itu memeriksa bagian tubuh Hawa, mulai dari tangan punggung dan juga leher gadis itu.
Hawa tidak menjawab, entah keberanian dari mana datang, dia justru menyeruak masuk dalam pelukan pria itu, menenggelamkan wajahnya di dadanya.
Dia tidak peduli kalau air matanya akan membasahi kemeja mahal pria itu, dia menangis tersedu-sedu.
Adam mencoba melerai pelukan Hawa, tapi gadis itu dengan sekuat tenaga terus memeluk tubuh Adam. Ada rasa malu yang menyelinap di hatinya, kalau pria itu sampai melihat wajahnya yang menangis pasti akan terlihat sangat jelek.
Dua kali Adam mencoba, tapi tetap tidak bisa, akhirnya pria itu menyerah dan membiarkan Hawa menangis sepuasnya di dadanya.
20 menit berlalu, barulah gadis itu melerai pelukannya, dia terlihat lelah dan menghentikan tangisnya tanpa dilerai dia sendiri yang menjauh kan tubuhnya dari Adam.
"Aku minta maaf, Kau pasti jijik melihatku yang begitu cengeng, bukan?" tanya Hawa menghapus jejak air matanya dengan kedua tangan. Hidungnya bahkan sudah mampet dengan cairan bening yang terasa asin.
Sebenarnya ada apa? kenapa sih kamu begitu aneh?" tanya Adam tidak mengerti. Sebenarnya bukan tidak mengerti, dia hanya membohongi dirinya berpura-pura tidak tahu.
"Tidak apa-apa," jawab Hawa pelan, tapi kembali lagi dirinya saat ini bukanlah dirinya yang biasa, pemikirannya hari ini memaksanya untuk bisa menunjukkan sikap kepada Adam.
"Katakan yang sebenarnya, ada apa?" tanya Adam khawatir.
"Aku takut kau akan meninggalkanku karena kini tunanganmu sudah kembali!"
__ADS_1