Hawa untuk Adam (Simpanan CEO Arogant)

Hawa untuk Adam (Simpanan CEO Arogant)
HUA : Kehamilan simpatik


__ADS_3

Adam sudah berusaha menjalani kehidupannya dengan tenang, berusaha melupakan Hawa walaupun terasa sakit di hati atas penghianatan Hawa. Namun, itu sudah terjadi, dia adalah tipe pria yang tidak mau menyesali terlalu berlarut atas perbuatan seseorang kepadanya. Cukup dalam hati, dia mengubur semua kenangan bersama gadis itu.


Dia baik-baik saja dan menjadi orang hebat sebelum mengenal Hawa, lantas ketika Wanita itu pergi, apa yang perlu dia tangisi?


Hanya saja sikap tempramental nya semakin menjadi-jadi. Sedikit saja hal kecil yang terjadi yang menurutnya salah dilakukan oleh bawahannya maka Adam tidak segan-segan memecat mereka, bahkan Tiger Sudah beberapa kali menjadi sasaran amukan amarah Adam.


Tapi Adam sadar, Tiger punya andil besar dalam hidupnya, dia tidak mungkin memecat pria itu, baik buruknya Adam sudah dimengerti oleh Tiger, tidak akan gampang untuk Adam mencari pengganti Tiger.


Adam baru saja akan menyerahkan berkas kepada sekretarisnya ketika serangan mual itu muncul lagi. Segera Adam berlari ke arah wastafel dan memuntahkan isi perutnya yang sama sekali kosong, hanya cairan dan juga air liur yang mengguncang ingin keluar.


Tenaga Adam terkuras setiap kali dia ingin muntah. Kalau sudah begitu dia akan memilih untuk pulang, tidak ingin meneruskan pekerjaannya.


"Kau sudah kembali?" tanya Sarah yang menoleh ketika mendapati pintu kamar mereka terbuka.


Adam tidak menjawab, dia masuk dan segera membaringkan tubuhnya di ranjang tanpa membuka sepatu ataupun dasi yang melekat di lehernya.


Sarah melihat wajah Adam yang memang tampak pucat dan lemas. Beberapa kali dia mendapati pria itu mual dan mengeluh kepalanya pusing.


"Sebaiknya kita ke dokter," saran Sarah. Dia adalah seorang dokter walaupun hanya dokter umum, gejala yang dialami oleh Adam sama seperti pria itu sedang mengalami couvade syndrome, tapi kembali Sarah menampik pikirannya. Tidak mungkin hal itu terjadi, bagaimana mungkin Adam mengalami kehamilan simpatik sementara dirinya tidak sedang hamil.


"Aku baik-baik saja, tidak perlu ke rumah sakit, berikan saja obat penghilang rasa mual yang kemarin kau berikan padaku," ucap Adam dengan nada dingin.


Hubungan mereka memang tidak baik-baik saja, bahkan selama hampir dua minggu usia pernikahan mereka, Adam belum berkeinginan untuk memenuhi tanggung jawabnya, memberikan nafkah batin kepada Sarah.

__ADS_1


Saat mereka bulan madu, Sarah yang menuntut untuk diberikan haknya sebagai seorang istri tidak berhasil mendapatkan keinginannya. Adam sudah mencoba, tapi nyatanya pria itu tidak bergairah terhadap Sarah.


"Aku nggak bisa, kasih aku waktu. Pernikahan ini terlalu tiba-tiba dan sejujurnya aku tidak mencintaimu. Kau tahu sendiri pernikahan kita ini hanya demi mempererat kerjasama di antara perusahaanku dan milik ayahmu," ucap Adam to the point, dia memang tidak suka berpura-pura manis di hadapan Sarah.


"Apa mungkin kau belum melupakan wanita itu? Simpananmu yang disebutkan oleh Jos?" serbu Sarah yang merasa terluka harga dirinya sebagai seorang wanita dan istri.


Semua orang memuji wajah dan juga tubuh Sarah, tetapi suaminya tidak bisa menjamahnya hanya karena tidak tertarik kepadanya. Satu pukulan dan penghinaan bagi Sarah, wajar jika dia marah dan mengungkit masa lalu Adam bersama dengan simpanan yang disebutkan oleh Jos.


Adam tidak menjawab. Dia juga tidak menampik dalam hatinya mengakui semua ucapan Sarah. Sejujurnya sejak bercinta dengan Hawa, tidak sekalipun Adam tertarik pada wanita lain, bagaimanapun cantik dan juga seksinya tubuh mereka, di dalam pikiran Adam hanya ada Hawa seorang yang mampu membuatnya mendesah dengan begitu puas.


Mau tidak mau, walau dengan sakit hati Sarah menyimpan lukanya. Mereka kembali dari bulan madu dan disambut oleh mertuanya yang menanyakan perihal lancarnya malam pertama mereka. Sarah hanya tersenyum sembari mengangguk, mana mungkin dia menceritakan yang sebenarnya, dia bisa dipermalukan oleh keluarga Mahesa terlebih oleh kakak iparnya. Reka jelas-jelas mengobarkan panji peperangan terhadapnya.


Sarah tahu masa lalu antara Reka dan Adam, jadi beralasan jika Reka membenci Sarah yang menganggapnya merebut Adam dari pesona wanita itu.


Tapi pria itu tidak menjawab malah suara nafas yang teratur menandakan kalau dia sudah tertidur. Hanya itu satu-satunya jalan untuk meredam rasa mualnya. Adam seringkali mengantuk dan rasanya betah untuk tidur berlama-lama.


***


"Kapan pertemuan dengan Tuan Morino?" tanya Adam tanpa mendongak menatap Tiger yang ada di depannya. Dia sibuk menandatangani beberapa berkas yang harus mereka kembalikan kepada tuan Morino sebagai bukti kerjasama mereka.


"Dua hari lagi tuan, dan tuan Morino mengubah tempat pertemuan. Dia meminta untuk bertemu di Bali," ucap Tiger melaporkan pesan dari asisten tuan Morino.


"Lakukan apa saja yang dia minta, kita tidak boleh kehilangan investasi sebesar yang diberikan tuhan Morino," jawab Adam.

__ADS_1


Tiger masih ingin menyampaikan beberapa hal terkait dengan kerjasama mereka namun, dering ponselnya membuatnya menahan lidahnya, segera pamit untuk mengangkat teleponnya menjauh dari Adam.


Kening Tiger berkerut kala membaca nama si penelepon. "Halo," sapanya ketika sudah menggeser tombol hijau.


"Halo Tiger, aku hanya ingin memberitahu bahwa jadwal periksa nona Hawa sudah telat hampir 2 bulan. Mengapa kau belum mengantarkannya kemari? Itu akan sangat bahaya karena persediaan obat yang dikonsumsinya sudah habis," terang sang dokter pribadi yang juga sahabat Adam.


Seketika wajah Tiger pucat. Kalau dua bulan Hawa tidak meminum obat yang seharusnya dikonsumsi artinya...


Adam tidak sabar menunggu Tiger selesai mengangkat teleponnya, dia pun kembali memanggil memanggil pria itu.


Tiger yang gugup seketika mematikan panggilan telepon dari dokter Bram dan menuju meja kerja Adam.


"Mengapa begitu lama sekali? Kau menjawab telepon dari siapa?" interogasi Adam yang merasa aneh lihat sikap Tiger yang tidak biasa.


"Itu... itu dari teman saya bos," ucapnya bingung harus menjawab apa. Dia tidak mungkin mengatakan kepada Adam mengenai apa yang diberitakan oleh dokter Bram.


Jika benar prediksinya maka saat ini Hawa kemungkinan tengah hamil dua bulan. Belum lagi melihat gejala yang terjadi kepada Adam, Tiger mendengar kala Sarah mengatakan rasa mual dan juga pusing yang diderita Adam sama halnya seperti seseorang yang mengalami gejala kehamilan simpatik.


"Teman? Temanmu yang mana? Aku tidak tahu kau punya teman. Tunggu dulu, apa sekarang kau sudah punya kekasih?" tanya Adam yang memicingkan matanya sebelah kanan.


Tiger tersudutkan. Dia tidak tahu harus menjawab apa, yang dia pikirkan saat ini adalah melindungi keberadaan Hawa. Jika Adam mengetahui mengenai keadaan Hawa saat ini, pria itu pasti akan mencari Hawa.


Kalau sampai hal itu terjadi maka banyak yang akan menderita, tidak hanya Sarah sebagai istri sah tetapi juga Hawa yang saat ini diyakini Tiger sedang mengandung anak Adam.

__ADS_1


__ADS_2