Hawa untuk Adam (Simpanan CEO Arogant)

Hawa untuk Adam (Simpanan CEO Arogant)
HUA : Positif!


__ADS_3

Alasan kurang enak badan dijadikan Bu Marni sebagai alasan untuk mengajak Hawa menemaninya periksa ke bidan hari itu, terpaksa warung Bu Marni harus tutup dari awal.


"Tapi tadi Ibu baik-baik saja, kenapa tiba-tiba sakit kepala?" tanya Hawa yang berjalan di sisi Bu Marni sembari menggandeng tangan wanita itu, melintasi setiap rumah-rumah penduduk menuju klinik bidan yang ada di desa tetangga.


Awalnya Hawa sempat merasa aneh kalau memang ibunya ingin berobat ke bidan, kenapa melewati bidan langganan yang ada di desa mereka dan harus jauh-jauh berjalan ke desa sebelah?


"Ibu lebih cocok dengan Bu Tini, bidan yang ada di desa sebelah, jawabnya singkat. Hawa bisa merasakan perubahan mood ibunya yang sedang buruk, tidak seperti biasanya, wanita itu terus saja diam sepanjang jalan.


Mereka tiba di klinik bidan sang bidan. Bu Marni bersyukur karena klinik itu sepi hanya ada bu Tini yang menjaga.


"Bu Marni, kenapa Bu? Siapa yang sakit?" tanya wanita itu ramah. Bu Tini adalah bidan bertangan dingin yang sudah sangat berpengalaman dan menjadi bidan pertama di desa itu. Dulu para tetangga Bu Marni hampir semuanya berobat ke sini sebelum adanya bidan baru di desa mereka.


"Kamu tunggu di sini dulu ya, Wa. Ibu masuk dulu, biar diperiksa Bu Tini," ucap Bu Marni menarik tangan bidan itu masuk ke dalam.


"Ada apa Bu? Kenapa ibu kelihatan pucat?" tanya Bu Tini memperhatikan gelagat Bu Marni yang tampak ketakutan.


"Gini Bu Tini, saya mau minta tolong sama ibu, tapi saya mohon ini akan menjadi rahasia kita saja. Saya percayakan kehormatan keluarga saya di tangan Bu Tini," ucap Bu Marni sembari menggenggam tangan wanita itu.


"Ya saya janji tidak akan mengatakan apapun pada orang lain. Sebenarnya ada apa Bu?" sambar Bu Tini yang semakin penasaran.


"Itu anak saya, dari gelagatnya saya lihat seperti wanita yang sedang hamil. Saya mohon Ibu periksa, tapi jangan sampai dia curiga bahwa itu adalah tes untuk memeriksa kehamilan," pinta Bu Marni yang tidak ingin membuat Hawa menjadi malu terhadap ibu dan juga ayahnya.

__ADS_1


Setelah mendengar penuturan Bu Marni, paham'lah kini Bu Tini, dengan keadaan yang terjadi pada wanita itu.


Bu Tini mulai meminta Hawa masuk ke dalam ruangan periksa, menyuruhnya menampung air seninya, setelah memeriksa nadi dan juga pupil mata Hawa yang disuruhnya berbaring di ranjang.


"Kamu masukkan ke sini ya," ucapnya sembari memberikan wadah kecil kepada Hawa. Sebenarnya dia ingin menanyakan untuk apa dia melakukan hal itu, tapi ibunya langsung memutar tubuhnya, menyuruh menuruti apa yang dikatakan bidan itu.


Setelah Hawa menyerahkan wadah kecil itu Bu Tini segera memasukkan alat yang bentuknya panjang, hanya sebentar mencelupkan alat itu sampai batas yang ditentukan lalu mengangkatnya kembali menunggu beberapa detik hingga menunjukkan reaksi.


Jantung bidan itu ikut berdebar kala menunggu hasilnya. Hawa yang menunggu sembari berbaring di atas ranjang tidak mengerti apa yang dilakukan oleh ibu dan bidan itu. Bu Tini menunjukkan hasil tes itu kepada bu Marni. Bola matanya membulat, lalu berkali-kali mengerjap, memastikan bahwa apa yang dilihatnya tidak salah, tubuhnya lunglai lalu terduduk di kursi.


Dugaannya benar! Apa yang harus mereka lakukan sekarang? "Bu, tolong diperiksa sudah berapa bulan," bisiknya lirih, meremas sisi roknya dengan penuh rasa geram. Mengapa Hawa bisa sampai kecolongan seperti itu! Siapa ayah dari anak itu? Pertanyaan itu terus berputar dalam pikiran Bu Marni.


Bu Tini pun segera memeriksa tubuh Hawa, mengarahkan alat pada monitor, lalu bidan itu melirik ke arah monitor yang ada di sampingnya. Hawa tidak mengerti gambar apa itu, hanya terdengar seperti detak jantung manusia.


"Maaf Bu Marni saran saya Hawa harus tahu yang sebenarnya, karena dia punya hak. Lagi pula kalau dia sudah tahu, dia mengerti dan akan bisa menjaga dengan baik," terang Bu Tini menatap wajah Bu Marni yang pias.


Bu Marni hanya mengangguk, lalu dia sadar pertanyaannya belum dijawab oleh bidan itu. "Berapa bulan, Bu?" ulangnya.


"Jalan 10 Minggu Bu," jawab sang bidan. Bu Marni mengangguk dan tidak bisa menahan air matanya, dia menangis dengan menutup wajahnya yang membuat Hawa semakin tidak mengerti.


"Saya Kenapa Bu?" tanya Hawa yang kebingungan. Dia pikir penyakit ibunya sangat serius sehingga wanita itu menangis, tapi sejak tadi kenapa dirinya yang diperiksa?

__ADS_1


"Dengarkan ibu ya, Hawa. Saat ini di dalam kandungan kamu, di dalam perut kamu ini," ujarnya menunjuk perut Hawa, hidup seorang bayi yaitu anak kamu umurnya 10 Minggu..., terang bu bidan dengan kalimat yang paling sederhana.


"Apa maksud ibu saya hamil?" tanya Hawa yang mulai mengerti ucapan bidan itu.


Seharusnya Bu Tini tidak perlu menerangkan dengan begitu lambat dan juga dengan kalimat yang sangat sederhana, apa itu hamil dan bagaimana prosesnya, dia tahu.


Wajah Hawa Pucat jantungnya berdebar dia hamil? Tapi kenapa dia bisa sampai hamil? Selama ini dia melakukannya dengan Adam aman saja. Tiba-tiba Hawa sadar bahwa dia sudah dua bulan tidak suntik dan juga tidak periksa ke dokter Bram, tempatnya biasa dibawa Tiger untuk memeriksa kesehatannya.


Hawa sudah pernah menyampaikannya kepada Adam sebelum mereka bercinta, tapi Adam yang tidak peduli malam itu, hanya berkata, tidak mungkin langsung hamil kalau hanya sekali saja. Namun, akhirnya Hawa jadi lupa hingga berbulan lamanya.


"Bagaimana ini, apa yang harus dia lakukan? Apakah sebaiknya dia kembali ke Jakarta dan mengatakan kepada Adam bahwa dia mengandung anak pria itu? Itu sama sekali tidak mungkin! Sejak awal, Adam sudah memperingatkannya untuk menjaga diri jangan sampai hubungan mereka membuat Hawa hamil karena dia tidak ingin memiliki anak dari Hawa, jadi untuk apa dia memberitahu pria itu? Separah-parahnya, pria itu pasti memintanya untuk menggugurkan bayi yang ada dalam kandungannya dan Hawa tidak akan melakukan hal itu Cukuplah Hawa sudah berdosa dan melakukan zina, dia tidak akan mau menambahi dosanya lagi dengan membunuh calon bayinya.


Hawa yang sudah kembali kesadarannya, menatap ibunya yang saat ini menangis. Hawa sudah bersimpuh di kaki ibunya, memohon maaf dan ampunan karena sudah salah langkah.


"Jangan menangis, Lagi aku yang salah, Bu. Maafkan aku, maafkan anakmu yang sudah salah langkah ini.


Hawa pun tidak bisa membendung air matanya. Keduanya saling menangis namun sang ibu masih belum mau menyentuh Hawa, dia terlalu kecewa dengan apa yang sudah terjadi. Putrinya yang selalu dibanggakannya, sudah mencoreng wajahnya melemparkan kotoran kepada ayah dan ibunya.


"Ibu, aku mohon maaf karena aku sudah mengecewakan kalian. Aku akan menanggung semua dosa dan kesalahanku ini," ucap Hawa mencium kaki ibunya. Air matanya terus membasahi kaki wanita itu, membuatnya tersadar bahwa sebagai seorang ibu dia tidak berhak menghakimi putrinya. Seharusnya dia juga ikut disalahkan karena tidak bisa menjaga putrinya.


Kalaulah saja Hawa tidak bekerja di Jakarta demi mereka, mungkin semua ini tidak terjadi!

__ADS_1


"Berdirilah Hawa, kemarilah," ucap Bu Marni. Hawa mengikuti ucapan ibunya, menatap mata ibunya dengan rasa bersalah yang sangat besar, lalu Bu Marni memeluk putrinya itu, kembali menangisi nasib putrinya.


__ADS_2