
Adam menatap Hawa yang sudah terbuai dalam mimpinya. Pria itu sebenarnya mengantuk, terlebih setelah pergumulan mereka tadi yang begitu dahsyat dan terasa sangat nikmat.
Adam seperti anak kemarin sore yang baru merasakan pertarungan di atas ranjang. Dia seakan kewalahan untuk memprioritaskan kebutuhannya yang sangat menuntut.
Hal yang paling menggelitik hatinya adalah dia tidak ingin menyudahi permainan mereka. Berlama-lama berada di tubuh Hawa, berada di dekat gadis itu dan menyentuh setiap jengkal kulit halusnya. Dia seperti seorang pecandu yang tidak bisa jauh dari barang pemuas keinginannya.
"Kamu manis," batinnya.
Hawa menggeliat, dia seolah tahu kalau saat ini ada seseorang yang sedang memperhatikannya tidur. Melihat wajah gadis itu, Adam tertarik untuk ikut bergabung berbaring di sampingnya, melewati malam dengan saling berpelukan.
Setelah putus dengan Reka, Adam tidak bisa menerima wanita manapun untuk memuaskannya. Saat melakukan hubungan, wajah wanita yang dia sewa seolah berubah menjadi wajah Reka, membuatnya membeku dan akhirnya meminta wanita penghibur itu pergi dari kamar hotel yang sudah dia booking.
Adam adalah pria normal, pasti ada masa dimana keinginan badaniahnya menuntut. Dia sadar kalau dia masih tidak bisa bercinta dengan wanita lain, jadi untuk memuaskan kebutuhannya, kadang Adam menyewa seorang gadis yang membantunya mengeluarkan bagian dari dalam tubuhnya yang meronta ingin dikeluarkan, baik melalui tangan ataupun mulut, hanya wanita itu saja yang bekerja, setelahnya Adam akan membayar dan meminta garis itu untuk pergi.
Hawa adalah gadis pertama yang bisa membuatnya melupakan Reka. Bahkan dia tidak menyangka kalau dia akan sangat bergairah pada Hawa hingga berhasil menuntaskan permainan. Adam sudah bisa menerima kehadiran wanita lain di atas ranjang, seolah dirinya adalah pesakitan yang kini sudah sembuh, yang terparah justru dia tidak bisa lepas dari jerat Hawa, selalu menginginkan gadis itu lebih dan lebih lagi.
Sejak kali pertama yang mereka bercinta waktu itu, Adam berpikir untuk mengurung Hawa di tempatnya, sehingga setiap kali dia membutuhkan pelepasan dia tidak perlu pusing dan juga mencari Hawa lagi.
***
__ADS_1
Hawa yang sudah terbiasa bangun subuh saat tinggal di kampung, terjaga pada pukul 05.00 pagi. Dia menoleh ke samping dan mendapati Adam yang tertidur dengan pulas. Hangat napas pria itu menyentuh kulit wajahnya.
Lama Hawa memandangi wajah Adam, mengagumi setiap detail pahatan maha karya sempurna Sang Pencipta. Alis yang tebal, rahang yang tegas dan juga bibir sensual yang selalu mampu membuat Hawa menjerit penuh nikmat ketika bibir itu menyentuh setiap jengkal kulitnya.
"Anda sangat tampan, Tuan. Beruntung sekali wanita yang memilikimu," batinnya mengulum senyum. Saat ini mungkin dialah wanita yang paling bahagia, bisa berada di samping pria setampan Adam. Dia tahu pasti banyak wanita yang ingin berada di sisi pria itu.
Hawa ingin beranjak turun dari ranjang tetapi tangan berat yang menimpa perutnya membuatnya tidak bisa bergerak kemana-mana. Seolah pria itu sadar kalau penghangat tubuhnya akan pergi, Adam menahan tubuh Hawa bahkan menariknya lebih dekat masuk ke dalam pelukannya.
Hawa merasakan panas di pipinya, malu dan juga begitu bahagia melihat pria itu memperlakukannya dengan begitu lembut dan terlihat memuja dirinya.
Dia sadar, dirinya tidak berhak bahagia atas sentuhan pria itu, karena dia hanyalah alat pemuas nafsu Adam, tapi terlepas dari dosa yang sudah dia lakukan ada rasa nyaman dan juga bahagia di hatinya setiap disentuh pria itu. Adam adalah pria pertama yang menyentuhnya, menjadikannya seorang wanita seutuhnya, wajar kalau pria itu sangat berkesan di hati Hawa.
"Apa yang kau lihat? kembalilah tidur! Pagi nanti aku ingin melakukannya sekali lagi sebelum berangkat ke kantor," bisik Adam tepat di atas hidungnya.
Hawa memejamkan mata, menyembunyikan wajahnya di dada bidang Adam dan bersama pria itu kembali mengayuh perahu mimpi.
Hanya satu jam Hawa tertidur, dia terbangun kembali pukul 06.00 pagi dan kali ini dia mampu melepaskan diri dari pelukan Adam. Perlahan kakinya menapaki lantai, segera memungut pakaian dan mengenakannya, lalu bergegas untuk pergi keluar.
Tenggorokannya haus, terasa kering sehingga dia pergi ke dapur untuk minum. Saat membuka kulkas, Hawa hanya mendapati minuman kaleng, wine, dan juga telur. Di rak paling bawah, ada beberapa jenis makanan kaleng.
__ADS_1
Hawa memutuskan untuk membuat sarapan bagi pria itu. Entah mengapa terlintas di pikirannya untuk menyiapkan sarapan untuk Adam.
Dengan penuh gembira dan sukacita Hawa segera mempersiapkan bahan-bahan yang dia perlukan untuk membuat makanan yang bisa disantap oleh Adam saat pria itu bangunan nanti.
Tidak ada yang bisa dia olah hanya telur dan roti. Hawa memutuskan untuk membuat roti bakar saja dan juga omelet, makanan simple yang bisa mengenyangkan setidaknya sampai Adam nanti tiba di kantor.
Sibuk dengan rutinitasnya di dapur, dia tidak memperhatikan kalau sepasang mata tajam sedang memperhatikannya memasak, tanpa sadar pria itu mengulum senyum di bibirnya merasa geli dengan tingkah Hawa yang gesit ke sana kemari menyiapkan makanan.
"Haduh..., Anda membuatku kaget, Tuan. Aku pikir tadi ada setan," ucap Hawa meremas baju di dadanya. Saat berbalik dan mendapati Adam yang tengah menatapnya, omelet yang ada di wajan hampir saja terjatuh, namun dia segera sadar dan mengirimkan senyum kepada Adam dan meletakkan omelet itu di atas piring di meja makan.
"Apa yang kau buat? aromanya wangi sekali," tanya Adam menarik kursi dan duduk di meja makan.
"Aku tidak menemukan bahan makanan apapun di kulkas Anda, hanya ada telur dan juga makanan kaleng. Kata ibuku makanan kaleng tidak baik, jadi dengan telur ini dan roti yang ada, aku membuat sarapan untuk Anda. Semoga Anda suka," ucapnya mendorong piring yang berisi roti bakar yang lengkap di olesi dengan mentega dan juga omelet yang tadi dia buat.
Penasaran dengan rasanya, Adam mengambil garpu dan mulai mencicipi omelet buatan Hawa, ketika mengunyahnya Adam pura-pura berhenti sesaat. Dia tahu saat ini gadis itu tengah menatapnya menunggu pendapatnya mengenai rasa masakan itu.
"Enak, kamu bisa masak ya?" tanya Adam kembali memotong omelet itu dan memasukkannya kembali ke mulutnya.
"Aku bisa masak tapi belum tentu sesuai selera Anda. Di kampung, ibuku membuka warung nasi, jadi aku udah biasa membantu ibu memasak. Kata teman-temanku sih, masakanmu enak," jawab Hawa polos. Adam yang mendengar hanya tersenyum menatap wajah cantik Hawa pagi ini.
__ADS_1
Adam mengakui kalau Hawa cantik alami, lihat saja pagi ini dia bangun tanpa ada riasan apapun di wajahnya namun gadis itu terlihat sangat cantik dan menggoda. Pikiran nakal Adam kembali menyerang. Dia ingin sekali menarik tangan gadis itu dan membawanya kembali ke atas ranjang bergulat di sana memuaskan hasratnya. Kesenangan barunya kala mendengar rin*tihan Hawa saat berada di bawahnya.