
Seminggu Adam tidak datang mengunjungi Hawa, dia juga tidak masuk kerja. Kabar terakhir yang dia dapat, Adam pergi mengantarkan Sarah kembali ke Jerman.
Kepulangan Sarah kali ini memang untuk melangsungkan pertunangan mereka. Gadis itu belum menyelesaikan kuliahnya yang hanya tinggal beberapa bulan lagi. Sebenarnya kedua orang tua Sarah dan juga Ibu Dewi menginginkan pertunangan mereka dilangsungkan setelah Sarah lulus kuliah. Namun, tampaknya ayah Sarah yang saat ini sedang sakit-sakitan menuntut untuk memberi tanda ikatan di antara keduanya, karena manusia tidak ada yang tahu kapan dia akan menghadap Sang Penciptanya.
"Aku ingin menikahkan putriku sebelum aku meninggal," ucap sang ayah pada Bu Dewi kala mengatakan niatnya.
Dalam aturan yang tertera di surat kontrak itu, Adam tidak punya kewajiban untuk menjelaskan apapun kepada Hawa. Namun, entah mengapa dia merasa bersalah ketika Hawa mengetahuinya dari orang lain mengenai rencana pertunangan mereka kala itu. Dia juga membenci perasaan yang ditimbulkan hatinya, seolah dia berkewajiban untuk memberikan ketenangan bagi Hawa.
"Terima kasih sudah mengantarkanku, Ga. Aku nggak mau tahu pokoknya bulan depan kamu harus terima duit dari aku sebagai ganti bensin, karena udah hampir setiap hari kamu mengantar aku pulang," ucap Hawa ketika tiba di depan gerbang apartemen.
Security yang ada di posnya tidak lagi menanyakan perihal identitas Rangga karena sudah terbiasa melihat pria itu menunggu Hawa kala menjemput untuk pergi ke kantor bersama maupun mengantarnya pulang kerja.
"Apaan sih? Nggak mau ah, aku kan udah bilang aku ikhlas melakukannya, Wa. Aku serius, coba kamu pikirkan apa yang pernah aku katakan kepadamu. Aku benar-benar menyayangimu, Wa. Aku cinta sama kamu, harus bagaimana lagi sih, caraku membuktikannya?" kejar Rangga berusaha meyakinkan Hawa untuk mau menerima perasaannya.
Hawa bukan yang tidak percaya mengenai apa yang dikatakan Rangga, dari perhatian dan perlakuan yang diberikan Rangka kepadanya, siapapun pasti tahu bahwa pria itu memang benar menyukai Hawa, yang jadi persoalannya adalah Hawa tidak memiliki perasaan kepada Rangga! Jadi, tidak mungkin dia menerima cinta pria itu sementara hatinya untuk pria lain.
Walaupun sakit, Hawa memutuskan untuk jujur. Dia tidak ingin berkedok belas kasih dan persahabatan mereka membuat Hawa menerima Rangga, itu sama saja menipu pria itu mengenai perasaannya sendiri.
__ADS_1
"Sorry, Ga. Aku bener-bener nggak bisa menerima perasaanmu. Bukannya aku tidak yakin akan perasaanmu, tapi maaf aku nggak bisa menerima cinta kamu."
"Kamu kan belum coba, Wa. Kita nggak akan pernah tahu sebelum kita mencoba atau gini aja, kita pacaran selama satu bulan, Kalau memang kamu nggak bisa menyukai aku dalam kurun waktu satu bulan, kita putus," tawar Rangga yang masih berjuang demi cintanya.
Hawa menggeleng sembari tersenyum. Pria itu susah sekali untuk dibuat mengerti, harus bagaimana lagi menjelaskan kepadanya bahwa cinta tidak bisa dipaksakan?! Kenapa dia membuang waktu kepada Hawa?
Berulang kali Rangga mengatakan cintanya kepada Hawa dan berulang kali juga Hawa menolaknya. Kenapa dia tidak berubah haluan saja, mencari gadis lain yang mungkin bisa menerima cintanya. Rangga baik, tampangnya juga oke tidak akan sulit bagi Rangga untuk menemukan gadis yang mau menerima cintanya.
Seandainya di hati Hawa tidak ada Adam mungkin dalam waktu satu bulan Hawa bisa menerima perasaan Rangga. Pria itu apa adanya, begitu tulus dan juga baik tapi kembali lagi di dalam hati Hawa sudah ada orang lain yang bertahta.
Aku pulang dulu, Wa. 10 kali kamu menolak 20 kali aku akan mengutarakan kembali perasaanku. Jangan bosan ya," ujar Rangga sembari tersenyum mengambil helm dari tangan Hawa lalu menggeber motornya dan berlalu dari sana.
Hawa berjalan dengan langkah gontai, menyapa front office yang ada di lantai satu. Sebelum menekan tombol menuju lantai apartemennya, lift terbuka dan Hawa segera masuk. Ternyata di dalam ada seorang pria yang juga penghuni apartemen itu.
Bedanya dengan di kampung, semua yang tinggal di suatu kampung bahkan kampung tetangga, Hawa pasti mengenal siapa mereka, di mana rumahnya dan RT berapa, bahkan siapa kepala desanya juga Hawa kenal tapi beda dengan di kota, walaupun mereka tinggal dalam satu gedung tapi satu sama lain belum tentu saling mengenal sama halnya seperti pria itu. Dengan cuek menatap tombol lift yang mulai naik di setiap lantainya, keduanya saling membisu tanpa mengatakan apapun.
Tepat saat tombol yang ditekan Hawa tadi berbunyi dan pintu lift terbuka, Hawa pun melangkah keluar, ternyata pria itu juga berada di lantai yang sama, yang paling membuat Hawa tertegun, pria itu tinggal di kamar tepat di hadapan apartemen Adam. Ketika membuka pintu masing-masing, mereka berdua saling melihat, refleks Hawa tersenyum kepada pria itu sebagai bukti keramahtamahannya terhadap tetangganya. Namun, pria itu bukannya senyum, malah dengan sombongnya melangkah masuk dan menutup pintu kamarnya.
__ADS_1
"Dih, apaan sih mentang-mentang orang kaya, sombong," batin Hawa masuk ke dalam apartemen lalu mengunci pintu. Ketika dia sudah melangkah masuk lebih dalam, betapa terkejutnya Hawa ketika mendapati Adam yang sudah duduk di ruangan itu, sembari atap ke arahnya.
Senyum Hawa mengembang, rasanya dia ingin berlari kepelukan pria itu, mengungkapkan betapa dia sangat merindukan dan kehilangan Adam.
Seminggu lebih mereka tidak bertemu sejak pertunangan itu. Hawa pikir Adam tidak akan pernah lagi mengunjunginya.
"Kenapa kau bengong di situ? Kau tidak mau memelukku? Apa kau tidak merindukanku?" tanya Adam masih dengan sikap santainya.
Hawa tidak menjawab, mungkin lewat bola matanya yang sudah berkaca-kaca Adam bisa mengetahui jawaban dari pertanyaan yang dia ajukan tadi. Dengan langkah yang diseret, Hawa bergerak menuju tempat Adam berada. Pria itu bahkan sudah berdiri untuk menyambut Hawa masuk dalam pelukannya.
"Kau sudah pulang?" ucap Hawa begitu pelan dan dengan suara yang gemetar, hampir saja dia tidak bisa buka suara.
Perasaannya campur aduk, gembira sedih dan juga penuh haru. Namun, satu hal yang saat ini ingin dilakukannya, memeluk pria itu dengan erat. Entah ini hari terakhir atau esok dia tidak lagi memiliki hak untuk merasakan kulit pria ini di tubuhnya, yang pasti saat ini dia ingin memiliki pria itu untuk dirinya sendiri.
"Apa kau merindukanku?" ulang Adam mengangkat dagu Hawa dengan tangannya, memaksa gadis itu untuk menatap bola mata Adam.
"Sangat," bisik Hawa hanya dengan gerakan bibirnya. Suaranya entah pergi ke mana, kehilangan kekuatan untuk berkata-kata.
__ADS_1
Bisakah Adam tidak usah banyak bertanya? Bisakah pria itu segera menggendongnya dan membawanya ke kamar saja?