
Daniel mengenal kata cinta dan dia juga merasakan cinta itu terhadap Sarah dia tahu bahwa pria yang sedang marah di hadapannya ini menyimpan rasa cinta yang begitu besar kepada Hawa. Dia yakin kalau Adam tidak akan pernah menyakiti Hawa, dia tidak akan pernah memukul gadis itu karena besarnya rasa cintanya kepada Hawa. Akhirnya Daniel mengalah memilih menyingkir dan pergi dari kamar itu.
Kini keduanya saling memandang, tapi Hawa sama sekali tidak berani melihat wajah Adam yang masih tampak murka.
Adam mengunci pintu kamar itu hingga membuat Hawa menengadah melihat ke arah pintu, bertanya-tanya apa yang akan dilakukan pria itu terhadapnya. Apa dia tidak memikirkan bagaimana perasaan Sarah atau tanggapan ibunya kalau mereka sampai tahu dirinya dan Adam berada di kamar itu bahkan sampai mengunci kamar.
"Dari mana saja kau? Mengapa kau pergi dariku? Jawab!" bentak Adam yang sudah duduk di kursi yang ditempati Daniel sebelumnya.
Hawa yang ketakutan mulai menangis, butiran bening itu menetes di pipinya, kembali dia meremas tangannya demi mengurangi rasa takutnya kepada pria yang sangat dicintai itu.
Dia sadar sikapnya membuat Hawa ketakutan, Adam pun mengalah. Entah mengapa gadis itu adalah sumber dari segala yang terjadi dalam hidupnya, hanya Hawa yang bisa membuatnya bahagia sekaligus hancur akan kesedihan yang paling dalam.
"Aku mohon jangan menangis, kau tahu aku tidak bisa melihat air matamu. Aku hanya ingin tahu mengapa kau tinggalkan aku. Kau tidak tahu betapa aku sangat kehilanganmu. Aku bahkan hampir gila mengetahui Kau pergi dengan pria lain, kau tahu aku sudah mencoba membencimu tapi kenyataannya aku tidak bisa. Aku nggak bisa, rasa cintaku kepadamu terlalu besar bahkan sampai memaafkan pengkhianatan mu yang pergi meninggalkanku."
"Aku nggak mengkhianatimu, aku selalu menjaga diriku agar tidak disentuh oleh orang lain, bahkan sampai saat aku bersuami pun aku tidak membiarkan dirinya menyentuhku sekalipun," terang Hawa yang tidak terima dituduh mengkhianati Adam.
Adam yang menelaah ucapan Hawa menatap intens wajah gadis itu dia jelas mengerti apa yang sudah dikatakan Hawa.
"Kau dan Daniel... tapi kalian mempunyai anak," ucap Adam yang masih tidak mengerti. Bagaimana mungkin Hawa mengatakan dirinya tidak pernah disentuh oleh pria lain sementara mereka memiliki seorang anak.
"Apa dalam hatimu tidak merasakan sesuatu ketika kau dekat dengan Raja? Apakah jantungmu tidak berdetak ketika memandang mata anak itu? Apakah darahmu tidak bergejolak ketika menatap wajahnya? harus bagaimana lagi aku harus menggambarkan rasa sakit yang ku alami tanpamu?" bisik Hawa sendu.
Adam menutup rapat mulutnya hanya menatap Hawa dengan tajam sembari merekam semua ucapan wanita itu. Bulu kuduknya meremang, jantungnya berdebar begitu kencang bahkan hampir saja Adam melompat dari duduknya setelah menyadari dan mengambil kesimpulan dari apa yang sudah dikatakan oleh Hawa padanya.
"Raja adalah..."
__ADS_1
"Benar Adam, kalau kau tidak percaya dan masih meragukannya, kau boleh membawanya untuk tes DNA," sambar Hawa menghapus jejak air mata di pipinya.
Kegelapan yang selama ini hadir dalam hidup Adam seketika sirna, seolah dia mendapatkan kekuatan yang baru setelah mengetahui kenyataan yang ada. Raja adalah anaknya, darah dagingnya, tidak ada yang bisa memungkiri itu. Dia sendiri pun tidak menyangka, tidak perlu melakukan tes DNA dia percaya apa yang dikatakan Hawa padanya.
Tanpa mengatakan hal-hal lain, Adam menarik tubuh Hawa masuk ke dalam pelukannya, memeluk bahkan menciumi pucuk kepala gadis itu, mengucapkan begitu banyak kata cinta dan terima kasih kepada Hawa yang sudah menjaga dirinya dan kehormatannya untuk Adam.
"Terima kasih, Sayang. Kau wanita yang luar biasa. Terima kasih karena sudah melahirkan putraku yang tampan," ucapnya setelah mengurai pelukan mereka.
Adam memandang wajah Hawa, menghapus jejak air mata di pipi gadis itu, lalu mencium setiap jengkal wajah gadisnya. Adam ingin melampiaskan rasa rindu dan dahaganya. Dia mencecap, merasakan manis bibir Hawa di bibirnya.
Rasa mendamba dan tersiksa yang dia rasakan selama ini seolah lepas, belenggu rindu yang menawan hatinya kini terbebas. Pengobat rindunya sudah ditemukan, sudah kembali padanya.
"Menikahlah denganku. Aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi lagi dari hidupku," bisik Adam di atas bibir Hawa, menyapukan sekilas kembali bibirnya pada bibir gadis itu.
"Kita menikah? bagaimana mungkin, ada Sarah dan juga Daniel di antara kita, terlebih ibumu tidak akan setuju," ujar Hawa membuka kesadaran Adam mengenai status yang mengikat mereka.
Kini bergantian, Hawa yang terkejut dengan ucapan Adam. Apa maksud dari perkataannya? Apakah pria itu juga sudah mengetahui mengenai hubungan Sarah dan Daniel?
"Aku sudah tahu semuanya. Tiger merasa curiga mengenai kedekatan mereka saat mengunjungi ku di rumah sakit malam itu, lalu tanpa diperintahkan, Tiger mengikuti mereka sampai ke rumah dan melihat mereka berciuman di dalam mobil sebelum turun.
Mulut Hawa menganga dengan bola mata yang membulat sempurna. Dia pikir Adam makan marah atas pengkhianatan Sarah di belakangnya, tapi sama hal seperti dirinya mungkin Adam berpikir, dia tidak punya hak menuntut lebih terhadap Sarah karena dia juga tidak memenuhi kewajibannya. Lima tahun menikah, sekalipun tidak pernah Adam menyentuh wanita itu. Bayangan Hawa selalu menghantui hingga membuatnya tidak bisa bergairah terhadap wanita lain.
***
Semua anggota keluarga Mahesa sudah berkumpul di ruang tamu. Ibu Dewi duduk di kursi utama dengan menggenggam erat tinjunya. Tidak terlukiskan lagi bagaimana amarah yang ada di wajahnya, dia mencoba menahan dengan tidak mengeluarkan umpatan dan kata kasar kepada anak-anaknya.
__ADS_1
Adam tidak peduli pandangan mereka yang seolah ingin membunuhnya ketika melihat dengan beraninya Adam menggenggam jemari Hawa dan mengajak gadis itu duduk di sampingnya, memamerkan keberaniannya kepada Sarah agar wanita itu juga berani memperjuangkan cintanya.
"Apa kau pikir dengan melakukan hal itu Ibu akan menyetujui hubunganmu dengan Hawa?" tanya Dewi yang sudah berulang kali menarik napas dan mengeluarkannya, sebelum memulai pembicaraan ini
"Sekian tahun aku hidup, aku sudah melakukan apa yang Ibu inginkan dariku walaupun kadang bertentangan dengan nuraniku, aku mengikutinya Bu, aku melakukan semua yang Ibu perintahkan. Tapi tidak untuk yang satu ini, aku akan bersedia mati untuk memperjuangkan cintaku kepada hawa."
Dewi hanya bisa menatap tajam kepada Adam. Tatanan keluarga Mahesa hancur berantakan. Belakangan juga dia sudah tahu mengenai hubungan Daniel dengan Sarah, bahkan dengan mata kepalanya sendiri melihat Daniel mencium Sarah di balik pintu taman.
"Mungkin aku sudah terlalu tua untuk memimpin keluarga ini. Lakukan saja apa yang ingin kalian lakukan," ucap wanita itu bangkit dari duduknya dan naik ke lantai dua menuju kamarnya.
***
Dengan kuasa uang Adam berhasil memproses perceraiannya dengan Sarah dan juga perceraian Hawa dengan Daniel dengan cepat. Keempatnya kini bebas dan telah berhasil memperjuangkan cinta mereka.
Tapi Adam harus menunggu sedikit lebih lama sampai masa iddah Hawa selesai untuk meminang gadis itu menjadi istrinya. Mereka memilih untuk pergi dari rumah itu dan memulai kehidupan baru.
Begitupun dengan Daniel dan Sarah, tidak memperdulikan apa yang dikatakan orang tuanya, Sarah tetap menuntun memegang tangan Daniel. Kabar terakhir yang Hawa dengar mereka hidup bahagia di Jerman.
"Apakah aku sudah mengatakan bahwa hari ini kau sangat cantik?" ucap Adam, ketika menemui calon pengantinnya. Pernikahan digelar di kampung halaman Hawa, dihadiri banyak warga desa yang memberinya ucapan selamat dan mendoakan kebahagiaan Adam, Hawa dan Raja.
*
*
*
__ADS_1
Tamat gais, thanks untuk satu bulan ini. Mengapa ditamatkan, karena... memang harus tamat,ðŸ¤ðŸ¤ Sekali lagi terima kasih yang sudah mampir dan kasih support, mampir ke novelku yang lain. Maaf kalau cerita di novel ini masih jauh dari kata memuaskan. Au revoir 😘😘