Hawa untuk Adam (Simpanan CEO Arogant)

Hawa untuk Adam (Simpanan CEO Arogant)
HUA : Nasihat Ayah


__ADS_3

Undangan sudah disebar, awal bulan depan Adam akan menikah dengan Sarah. Semua orang menyambut gembira berita itu dan berharap mereka juga akan diundang.


Belakangan ini, Adam sangat sibuk mengurusi bisnisnya, dia juga sudah jarang datang menemui Hawa. Tiger bilang dia sibuk mengurus perusahaan sekaligus acara pernikahannya nanti.


"Tuan Adam sibuk mengurus bisnisnya yang sedang ada masalah, ditambah lagi, beliau harus menemani mana-mana Sarah untuk mengurus perlengkapan berkas mereka serta mencari cincin pernikahan," terang Tiger kala pria itu datang mengantarkan bunga untuk Hawa atas suruhan Adam.


Hati Hawa tentu saja hancur. Dia tidak rela kalau Adam menikah dengan Sarah, sementara dirinya hanya diberikan tempat untuk menjadi simpanan, yang hanya disembunyikan tanpa pernah diperkenalkan kepada orang banyak.


Perasaan Hawa begitu hampa dan terasa kosong. Berminggu-minggu yang panjang dilalui tanpa bertemu dengan Adam di apartemen. Kalaupun mereka bertemu di kantor, pria itu juga tidak menoleh ke arahnya, Sarah selalu ada di sampingnya yang tidak mungkin membuat Adam menyadari keberadaan dirinya yang hanya gadis rendahan.


Satu pesan masuk membuyarkan lamunan Hawa yang saat itu sedang berada di ruang perpustakaan, hanya itu satu-satunya tempat yang bisa dibuatnya menjadi pelarian untuk melupakan Adam sejenak.


Pesan itu berupa notifikasi dari bank yang menyampaikan ada dana masuk sebesar 50 juta ke rekeningnya, tidak lama pesan lainnya dia terima dan kali ini dari Adam.


'Belanjakan uang itu untuk membeli gaun dan perlengkapan yang kau butuhkan untuk datang ke acara pernikahanku bulan depan. Aku ingin melihatmu tampil cantik dan memukau banyak orang. Aku merindukanmu.'


Sekali lagi Hawa membaca pesan itu, begitu gampangnya bagi Adam mengirim pesan seperti itu kepadanya, pria itu tidak pernah bisa menjaga perasaannya sedikit saja. Bagaimana mungkin Adam meminta kekasihnya untuk datang melihat pernikahan pria itu dengan wanita lain?!


Dia hanya tersenyum getir menatap pesan itu dan melempar ponselnya ke sudut sofa. Tiba-tiba Hawa tertawa dengan sekencang-kencangnya, menertawakan nasib dirinya yang kini bergelimangan uang tapi terasa kosong di hati. Semua orang memuji dirinya begitu cantik dan selalu tampak gembira, tapi tidak satupun melihat dirinya yang menangis meratapi hidupnya yang begitu menyedihkan. Air matanya meleleh di pipi mengingat semua yang terjadi pada dirinya.


Ponsel Hawa berdering, dia menoleh dan mendapati nomor ibunya tertera di layar. Buru-buru dia menghapus air matanya, menetralkan suaranya sebelum menjawab panggilan itu.


'Halo, Ibu, apa kabar?'

__ADS_1


'Alhamdulillah Ibu baik. Ini ayahmu ingin bicara,' ucap ibunya


Hati Hawa bergetar, selama dia di Jakarta tidak sekalipun dia bicara kepada ayahnya, karena saat itu sedang dalam keadaan sakit. Enam bulan berpisah dengan ayahnya dan kini pria itu ingin bicara kepadanya.


Menjadi satu-satunya anak perempuan di rumah membuat Hawa selalu dimanja oleh ayahnya. Walaupun dalam keadaan keluarga yang serba kekurangan namun, kebutuhan Hawa sebisa mungkin selalu dipenuhi ayahnya. Kedekatan mereka begitu kuat, hingga wajar jika saat merantau ke Jakarta, Tarjo tidak mengizinkan putrinya itu pergi. Dia takut kota Jakarta memanipulasi dirinya menjadi sosok yang berbeda.


Tapi demi pengobatan ayahnya, Hawa tetap bersikeras merantau ke Jakarta, dan lihat lah usahanya udah sia-sia, ayahnya kini sudah lebih sehat.


'Halo, Ayah apa kabar?" sapa Hawa dengan suara bergetar, dia berusaha sekuat mungkin untuk menahan tangisnya.


Hawa begitu terpukul. Sebenarnya dia selalu menghindar agar tidak bicara dengan ayahnya walaupun rasa rindu pada pria itu sangat menyiksa, terlebih karena dirinya sudah mengecewakan pria itu. Bagaimana kalau ayahnya yang selalu membanggakan dirinya tahu kalau dia sudah salah langkah? Jangankan untuk membanggakan Hawa, demi menoleh ke arahnya saja mungkin ayahnya tidak akan sudi lagi.


'Alhamdulillah, Ayah baik, Nak. Kamu baik-baik saja di sana?" suara Ayahnya masih terdengar lemah, tapi berhasil membuat Hawa meneteskan air mata. Dia begitu merindukan pria itu, pria yang selalu menggenggam tangannya kala mereka berjalan menyusuri sawah untuk bekerja ataupun mencari kayu bakar.


'Alhamdulillah kalau begitu. Kamu masih rajin salat'kan, Nak?"


Palu godam seperti memukul dadanya, menghentak membawanya kembali pada kenyataan yang sangat menyakitkan. Jawaban apa yang harus diberikan kepada ayahnya atas pertanyaan itu?


'Wa, halo Wa, kamu masih dengar, Nak?"


'Iya, Yah, aku dengar.' Sahutnya dengan suara yang begitu pelan. Dadanya sesak.


'Kamu masih rajin salat'kan, Nak? Jangan pernah kamu tinggalkan salat karena itu adalah tiang agama. Segala beban masalah pasti ada jalan keluarnya asal kamu berserah kepada yang Maha Kuasa," ujar Tarjo memberi petuah.

__ADS_1


Semakin hancurlah hati Hawa mendengar nasehat dari sang ayah yang begitu menyejukkan.


'Kalau ada di hati yang mengganjal, yang membuatmu menjauh dari jalan Tuhan yang maha kuasa pulanglah, Nak. Baktimu sudah Ayah terima. Kembalilah pulang bersama kami," ujar Pak Tarjo seolah batinnya beritahu bahwa saat ini anaknya tidak sedang baik-baik saja.


'Baik ayah, aku akan pulang setelah pekerjaanku selesai. Sepertinya memang kota ini bukan tempat yang nyaman untuk aku tinggali. Aku tidak bisa jauh dari kalian, merindukan ayah.' Jawabnya sebelum mengakhiri percakapan itu.


***


"Aku tidak pernah melihatmu tersenyum, setidaknya walaupun pernikahan ini tidak pernah ada dalam hatimu, aku mohon jangan tunjukkan wajah cemberutmu di hadapan papaku, karena dia berharap pria yang akan mendampingiku adalah seorang laki-laki yang mencintaiku," ucap Sarah melenggang masuk yang diikuti dengan Adam.


Malam ini ayah Sarah meminta Adam datang untuk makan malam bersama.


Awalnya Adam sudah menolak, dia bahkan sudah bersiap mengunjungi wanita di apartemennya. Dia sudah terlalu rindu kepada Hawa, sudah dua minggu dia tidak menemui gadis itu bahkan bibirnya sudah gatal ingin mencium setiap jengkal kulit gadis itu yang selalu memabukkan.


Ketagihan kepada Hawa bukan hanya pada tubuh gadis, tapi juga senyum serta sentuhannya bahkan kerlingan matanya kala malu-malu selalu menghiasi pelupuk mata Adam.


Tapi Bu Dewi memaksa Adam untuk pergi menemui tuan Janrico, Ayah Sarah. Sudah sewajarnya Adam menghadap calon mertuanya, meyakinkan kedua orang tua Sarah bahwa kebahagiaan anaknya akan terjamin di tangan pria itu.


Lagi Adam patuh, tidak berkutik mengikuti kemauan ibunya demi menyenangkan hati wanita itu.


Di teras rumah, saat dia hendak berangkat, Adam berpapasan dengan Reka, yang baru saja kembali entah dari mana.


Wanita itu selalu melakukan apapun yang dia sukai dan tanpa ada seorang pun yang bisa mengendalikannya. Bahkan Ibu Dewi saja yang sejak dulu Memang membencinya menganggap Reka tidak pernah ada.

__ADS_1


"Akhirnya kau menikah juga dan sekali lagi aku mengatakan, aku tahu kau tidak akan bahagia dengan pernikahanmu kali ini, tapi kau tenang saja saat kau muak terhadap gadis itu, aku siap memberikan kesenangan untukmu," ucap Reka sembari menyentuh lengan Adam.


__ADS_2