
Dengan lelehan air mata, Hawa menyeret langkahnya pergi meninggalkan tempat itu, dengan kekecewaan yang besar. Mengapa dia selalu dihadapkan dengan orang-orang yang sanggup menyakiti hatinya.
Daniel yang dia kira pria yang baik justru memanfaatkannya demi membalas dendam. Kalaupun dia tidak berhak untuk marah karena selama ini juga toh, dia tidak menjalani kewajibannya sebagai istri yang baik tapi tidak seharusnya pernikahan mereka dijadikan mainan.
Kepala Hawa begitu berat seperti dihantam palu gadang, tangannya bahkan gemetar memegangi sisi tangga demi bisa menaiki anak tangga satu persatu menuju kamarnya. Dia tidak ingin Daniel mengetahui bahwa dirinya sudah mendengar semuanya.
Tapi tiba-tiba Hawa punya keberanian, dia tidak ingin diam lagi. Segera dia akan mencari waktu yang tepat untuk bicara dengan Daniel dia ingin mengakhiri hubungan mereka lebih baik pria itu segera menalaknya, membebaskan dirinya kalaupun ingin mengejar cinta Sarah. Lantas bagaimana dengan Adam ketika mengetahui bahwa Sarah memiliki hubungan dengan Daniel di belakangnya?
Hawa pusing, dia tidak ingin memikirkannya lagi. Dipandangi anaknya yang sedang tertidur dengan nyenyaknya. Hawa berbaring di samping Raja, hanya anak itu yang dia miliki yang dia yakin yang tidak akan pernah mengecewakannya dan membohonginya.
***
Keesokan paginya Daniel mengajak Hawa untuk menjenguk Adam di rumah sakit, tentu saja Hawa sangat gembira mendengar hal itu. Penuh semangat Hawa bersiap-siap, dia juga ingin membawa Raja untuk bertemu dengan ayahnya, tapi Hawa mengingat kejadian tadi malam hingga rasanya dia perlu bicara dengan Daniel, tapi karena mengingat mereka akan ke rumah sakit, Hawa menahan bibirnya.
***
Semua anggota keluarga Mahesa ada di ruangan itu ketika Hawa masuk. Adam yang sudah sadarkan diri langsung menatap ke arahnya hingga membuat Hawa gugup dan juga takut. Tatapan itu sangat mematikan, tidak pernah berubah tatapan yang mengikrarkan kalau dirinya sangat membenci Hawa.
Sebenarnya Hawa ingin menampar pipi pria itu, bagaimana mungkin dia bisa membenci Hawa sementara keluarganya'lah yang meminta dirinya untuk pergi dari hidup Adam. Dia juga bukan pria yang baik yang bisa bersikap gentle, bukan memilih dirinya malah sebaliknya di justru mengikuti keinginan ibunya yang menjodohkannya dengan Sarah.
"Kemarilah cucu, Oma. Sapa dong Om Adam," ucap Bu Dewi memanggil Raja untuk mendekat.
"Om sakit ya? Apa Om akan meninggal seperti opa?" tanya Raja dengan polos.
__ADS_1
"Maksudnya, ayah dari Hawa, Bu," ucap Daniel menjawab kebingungan Bu Dewi dan juga orang yang ada di ruangan itu.
"Raja jangan begitu, yang sopan, Nak kalau bicara," tambah Hawa yang merasa tidak enak hati dengan ucapan anaknya.
"Om tidak akan mati, karena kalau mau mati banyak orang yang akan senang. Om'kan jagoan, kamu jagoan nggak?" tanya Adam yang menyukai anak itu. Entah kenapa dia tidak bisa membenci Raja padahal kebenciannya terhadap Hawa begitu besar. Adam membelai wajah dan mencubit gemas pipinya.
Hati Hawa menghangat melihat kedekatan anak dan ayah itu.
"Ibu baru memperhatikan Raja dengan seksama pagi ini, ternyata dia begitu mirip dengan kamu waktu kecil, Adam. Kok bisa semirip itu ya?" ucap Ibu Dewi yang berhasil dengan sukses membuat wajah Hawa pucat, tubuhnya gemetaran. Bahkan dia harus memegang tangan Daniel untuk bisa bertahan.
Daniel mengerti, dia menggandeng tangan Hawa menjauh dari sana dan duduk di sudut ruangan.
"Tapi mungkin karena Daniel memang mirip dengan Adam," lanjut Bu Dewi yang mendapati suasana menjadi hening.
"Dan, kamu..." sahut Hawa dengan suara begitu pelan yang nyaris tak terdengar Daniel.
"Aku mengetahui semuanya, Wa. Rahasiamu aman di tanganku. Aku juga ingin membicarakan sesuatu denganmu tapi tidak saat ini," jawabnya dengan berbisik di telinga.
Daniel menggenggam dan mengelus punggung tangan Hawa memintanya agar lebih tenang.
Adam yang melihat gerak-gerik Hawa dan Daniel di sudut sana, kembali membuatnya terbakar rasa cemburu. Emosinya tidak bisa dikontrol lagi, dia ingin segera pergi dari rumah sakit itu. Semakin dekat Daniel berbicara dengan bibir Hawa semakin panas pula dirinya. Tanpa disadari oleh Sarah yang duduk di dekat ranjangnya, Adam sudah mencabut jarum infusnya melemparnya ke sembarang arah dan turun dari ranjang.
"Apa yang kau lakukan Adam? Kamu mau ke mana? Kamu masih sakit," ujar Ibu Dewi yang terkejut, darah yang keluar dari bekas infus itu berceceran di lantai yang langsung dengan cepat dilap Adam dengan selimut rumah sakit.
__ADS_1
Dia tidak mengatakan apapun, keluar dari ruangan itu dengan pakaian rumah sakit. Tiger yang baru tiba di sana segera dipaksa untuk membawanya pergi dari rumah sakit itu, semua orang memanggil Adam tapi pria itu tidak peduli, teriakan bahkan panggilan namanya diabaikan, dia terus berjalan meninggalkan mereka.
Tidak punya pilihan lain semua anggota keluarga kembali pulang toh, yang sakit juga sudah pergi untuk apa mereka berada di rumah sakit itu lebih lama lagi.
***
"Apa kau ingin mengatakan sesuatu kepadaku?" tanya Daniel yang melihat Hawa belum juga bergerak dari tempatnya wanita itu terus mengamati Daniel saat menyisir rambutnya.
"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu, sebenarnya aku ingin menunggu terlebih dahulu kau yang mengatakannya kepadaku tapi setelah aku pikir-pikir, aku tidak ingin membebani mu lagi, daripada menunggu kesiapan mu untuk mengatakan kepadaku lebih baik aku yang maju," ucap Hawa menguatkan hatinya.
"Ada apa ini, Wa? Apa yang kau bicarakan? Aku sama sekali tidak mengerti," ucap Daniel yang sudah menarik kursi dan duduk di hadapan Hawa.
"Aku tidak tahu harus mulai dari mana yang pasti aku mengucapkan terima kasih karena kau sudah mau mengorbankan dirimu untuk membuat ayahku senang, mengabulkan permintaan terakhir ayahku dengan menikahiku. Aku ingin tahu sejak kapan kau mengetahui mengenai status Raja dan juga hubungan yang aku miliki dengan... Hawa terdiam tidak berani melanjutkan ucapannya, menyebutkan nama pria itu begitu menggetarkan jiwanya.
"Dengan Adam, maksudmu?" lanjut Daniel. Hawa hanya mengangguk, lalu menunduk untuk sesaat kemudian menengadah menatap mata Daniel.
"Aku terkejut saat kita bertemu kau tidak mengenaliku padahal kita suda tiga kali bertemu sebelumnya, sebelum kita bertemu kembali di desa itu tentu saja."
Bagaimana mungkin dia pernah bertemu dengan pria itu sampai tiga kali sebelum pertemuan mereka di rumah sakit. Kalau memang hal itu benar, maka Hawa pasti ingat.
"Kau sama sekali tidak ingat di mana Kita pernah bertemu?" susul Daniel.
Hawa kembali menggeleng untuk kesekian kalinya. Dia tidak suka teka-teki lebih baik Daniel langsung saja mengatakan semuanya.
__ADS_1
"Baiklah aku bantu kau mengingat. Apakah kau mengingat pria yang bersikap sombong dan kau membencinya yang ketepatan tinggal di depan apartemenmu?" ucap Daniel yang membuat perubahan di wajah Hawa. Tidak sampai di sana, Daniel melanjutkan ucapannya. Kau ingat pria yang duduk bersamamu di taman apartemen saat kau menangis? Aku tebak saat itu ibuku datang menemuimu, mungkin untuk memperingatkanmu agar pergi dari kehidupan Adam. Aku menemanimu saat itu, walaupun kau ingin mengusirku," terangnya yang kali ini berhasil membuat bola mata Hawa membulat dengan sempurna.