Hawa untuk Adam (Simpanan CEO Arogant)

Hawa untuk Adam (Simpanan CEO Arogant)
HUA : Istri tiga hari


__ADS_3

Adam sudah berangkat ke kantor. Hawa bahkan mengantarnya tadi sampai ke depan pintu apartemen. Kalau dilihat-lihat mereka seperti sepasang suami istri, pengantin baru yang begitu saling memuja.


"Baik-baik di rumah, jangan nakal. Aku mohon jangan bakar apartemenku," goda Adam sembari membelai pipi gadis itu.


Hawa bahkan masih memakai bathrobenya. Perkataan Adam benar-benar dia buktikan, sebelum dia berangkat ke kantor kembali mereka mengulang permainan seru yang kini sudah menjadi candu bagi keduanya terlebih bagi Adam. Bahkan dia sempat berpikir untuk tidak pergi ke kantor dan bergumul saja dengan Hawa. Kehadiran gadis itu, sungguh menggoda iman, tapi akal sehatnya masih bisa dia kendalikan. Lagi pula saat dia pulang, gadis itu akan berada di sini menunggunya dan siap untuk membuka pahanya lebar-lebar untuk dirinya.


Hawa hanya tersenyum membalas godaan Adam. "Hati-hati di jalan, Tuan," ucapnya lembut.


Adam bergeming, pandangannya tertuju kepada leher gadis itu yang merah di beberapa tempat. Tentu saja itu hasil mahakarya dari perbuatannya.


"Ingat jangan keluar, nanti aku akan menyuruh seseorang untuk mengantarkan bahan makanan yang kau butuhkan," ucapnya.


Lagi-lagi Hawa hanya mengangguk. Sebelum berangkat kerja, Adam sudah meninggalkan nomor teleponnya, saat itulah dia baru tahu bahwa pria itu bernama Adam.


Seolah bak dalam cerita Romi dan Juliet, Hawa pun dipertemukan dengan Adam. Bukankah dalam lirik lagu salah satu band legenda di negeri ini, menuliskan bahwa Hawa tercipta untuk menemani sang Adam, dan di sinilah dia saat ini, tiga hari untuk menemani sang Adamnya.


"Kebetulan sekali nama Anda, Adam? namaku Hawa," ucapnya dengan polos, memandangi kartu nama Adam yang berisi nomor telepon pria itu.


Adam pun yang sedang memakai sepatu tersentak menoleh ke arah Hawa yang masih tersenyum memandangi kartu namanya. Sudah dua hari dia tidur dengan gadis itu, tapi baru hari ini dia tahu bahwa nama gadis itu adalah Hawa.

__ADS_1


Sangat kebetulan mereka dipertemukan, seperti dalam cerita nama mereka sudah di suratkan dalam sejarah yang besar. Adam dan Hawa adalah sepasang kekasih bahkan suami istri, tapi ironisnya mereka hanyalah partner di atas ranjang.


Bagi Adam, Hawa bukan bagian dalam hidupnya, itu jauh dari pemikirannya. Hawa hanya gadis yang dia sewa untuk bersenang-senang, setelah tiba saatnya dia jenuh pada gadis itu, maka Adam akan segera memulangkan Hawa dan menjalani kembali kehidupannya seperti sebelum bertemu dengan gadis itu. Jadi, tidak ada yang harus dipikirkan, nama itu hanya kebetulan saja.


"Apa Tuan akan makan siang di sini?" tanya Hawa. Dia ingin memastikan kalau memang Adam pula nanti, dia akan segera memasak sehingga tepat pukul 12.00 siang makanan sudah terhidang di atas meja.


"Aku tidak akan pulang siang ini. Aku harus menemui klienku dan makan siang bersama mereka. Aku 'kan pulang nanti malam. Kau tunggu ya," ucap Adam beranjak mengambil tas kerjanya.


Setelah Adam pergi, Hawa segera mandi. Dia benar-benar selayaknya seorang istri yang sudah memberangkatkan suami. Tadi saja mereka mandi bersama, dan setelahnya Adam memintanya untuk membantu memilihkan dasi dan juga kemeja yang akan dia pakai hari ini, ternyata pilihan Hawa disukai pria itu. Buktinya saja pria itu memakai kemeja dan juga dasi yang dia pilihkan tadi.


Setelah selesai mandi dan berpakaian, Hawa bergegas keluar, tepat saat seseorang membunyikan bel. Hawa membuka pintu dan mendapati Tiger, pria menyeramkan yang kemarin membawanya ke apartemen itu datang bersama seseorang, membawa banyak sekali bungkusan yang berisi bahan makanan dan juga cemilan yang sangat melimpah.


"Untuk apa semua ini? Kenapa banyak sekali coklat dan juga cemilan?" tanya Hawa membongkar isi dari bungkusan yang dibawa Tiger.


"Semoga Anda menyukainya Nona, karena saya yang memilihkan semua jajanan ini untuk Anda. Saya pikir setiap wanita akan suka," ucap pria yang ada di samping Tiger. Pria itu terlihat lebih muda, mungkin seusianya dan lebih ramah tentu saja. Hawa hanya mengangguk sembari tersenyum ke arah pria kecil itu.


Tidak lama keduanya pergi dan tinggallah Hawa sendiri di apartemen itu. Dia memanfaatkan kesendiriannya untuk kembali terlelap, tubuhnya terasa remuk setelah berulang kali melayani Adam. Nanti saat perutnya merasa lapar dia akan bangun dan memasak hanya untuk dirinya sendiri.


***

__ADS_1


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Mita di seberang sana. Gadis itu sebenarnya sudah berulang kali menghubungi Hawa tapi karena Hawa saat itu sedang bersama Adam, pria itu memerintahkan untuk tidak menyentuh ponselnya.


Peraturan yang dibuat Adam adalah saat bersamanya tidak ada yang bisa menyita perhatian Hawa. Dia wajib fokus pada Adam saja.


"Aku baik, Mit. Maaf ya, baru bisa mengangkat teleponmu. Pria itu memintaku untuk menjauhkan ponsel selama dia berada di sampingku. Jadi setelah dia sudah pergi ke kantor, aku bisa menjawab teleponmu," terang Hawa menerangkan keadaannya.


"Apa dia psikopat? apa dia menyakitimu? atau dia pria sadis? kalau dia berani melukaimu segera kabur, Wa. Jangan biarkan Dia menyakitimu, atau terparah akan membunuhmu," ucap Mita merasa khawatir.


"Aku baik-baik saja. Bahkan aku gembira bisa melayani tamu seperti dia. Besok aku akan pulang. Nanti kalau kita libur, aku ingin mengajak kamu jalan-jalan ya," ucap Hawa yang memang ingin sekali melihat kota Jakarta.


"Oke, aku juga sudah punya rencana untuk membawamu jalan-jalan. Nanti kita nonton dan juga main ke mal," jawab Mita.


Untuk membunuh rasa bosannya yang sudah tidur selama empat jam, Hawa memberanikan diri masuk ke perpustakaan Adam. Tadi pagi dia bertanya soal ruangan itu dan pria itu menjelaskan bahwa itu adalah ruang perpustakaan yang banyak berisi buku-bukunya. Hawa sudah minta izin dan pria itu memperbolehkan Hawa masuk dan membaca buku mana yang dia suka.


Sebenarnya Hawa ingin sekali menjadi dokter tapi dia sadar diri kalau orang tuanya tidak memiliki dana. Ia juga masih memiliki dua orang adik yang harus sekolah, terlebih saat ini ayahnya sedang sakit-sakitan jadi keinginannya untuk kuliah harus pupus. Tapi kebiasaannya yang suka membaca buku membuat Hawa begitu menyenangi ruangan perpustakaan itu.


Kurang lebih dua jam dia sudah membaca satu buah buku yang pasti sedikit banyak sudah menambah wawasannya.


Terlalu berlebihan 'kah untuk Hawa berharap kalau pria itu tidak akan bosan padanya, sehingga terus menyewanya? Hawa menutup buku, merasa sedih karena besok dia harus pulang. Mungkin besok adalah pertemuan terakhirnya dengan Adam. Pria itu mungkin saja sudah bosan dengannya dan tidak akan datang mencarinya kembali.

__ADS_1


"Aku tidak boleh egois, dipertemukan dengan pria seperti itu saja aku sudah bersyukur. Bagaimana kalau pria yang pertama merenggut kesucianku adalah om-om seperti yang ada di sinetron televisi ikan terbang? pasti menjijikkan sekali," batinnya melepas angan-angannya.


"Ayolah hati, aku mohon kerjasamanya. Jangan sampai kau jatuh cinta kepada tuan Adam. Dia terlalu jauh, dia ibarat bintang di langit dan aku hanya batu yang ada di dasar sungai," batinnya meremas kuat sampul buku.


__ADS_2