
Sekali lagi Hawa memandang meja makan yang kini sudah penuh dengan menu makanan yang dia masak 2 jam mengotak-atik isi dapur akhirnya tercipta tiga jenis makanan yang dia rasa akan disukai lidah Adam
"Udah beres. Sekarang aku lebih baik mandi, bentar lagi tuan Adam pasti pulang," cicitnya pada dirinya sendiri.
Hawa sudah mengerti bagaimana cara menggunakan bathub. Hampir setengah jam lamanya Hawa berendam dengan taburan kelopak bunga mawar yang tadi dibawa Tiger. Hawa berpikir, apakah itu juga atas suruhan Adam, meminta Tiger menyediakan perlengkapan mandi dan berendam untuk dirinya.
Setelah merasa segar dan lebih rileks, Hawa bergegas keluar. Dia harus berdandan, agar saat Adam pulang, pria itu akan senang melihatnya.
Tapi orang yang ditunggu tidak kunjung datang, kembali Hawa hanya bisa duduk termenung, menunggu dengan sabar di sofa hingga jarum jam menunjukkan pukul 09.00 malam.
"Beginilah nasib menjadi wanita penghibur, tidak mempunyai hak untuk bertanya dan menuntut mendapatkan kabar. Mungkin saja tuan Adam sudah melupakan keberadaanku di rumah ini. Memikirkan hal itu membuat selera makan Hawa hilang, padahal tadi dia sudah sangat lapar dan berharap bisa makan malam bersama dengan Adam.
Tepat pukul 12 malam Hawa terbangun, dikejutkan oleh suara pintu yang dibuka. Perlahan dia mencari ke arah suara dan mendapati Adam yang berjalan sempoyongan di bawah pengaruh minuman.
"Tuan mabuk?" Hawa segera menyongsong kedatangan Adam dan membantu memapah pria itu masuk.
"Hawa? kau Hawaku, kan? Cantik sekali kau malam ini. Aku lupa kalau kau ternyata ada di rumahku. Bagaimana, apa kau menikmati semua yang aku berikan kepadamu?" ucapnya mengoceh tidak jelas.
Perasaan Hawa begitu sedih, dia kembali diingatkan oleh Adam bahwa dirinya memang tidak ada artinya. Buktinya saja tidak ingat bahwa dirinya ada di sini.
"Tuan duduk di sini, aku siapkan air hangat untuk mandi biar lebih segar," ucap Hawa memapah Adam duduk di sofa.
Secepat mungkin wanita itu menyiapkan mandian untuk Adam, lalu membantu memandikannya. Hawa tidak bisa menyembunyikan wajah merah padam di pipinya. Walau sudah sering saling melihat tubuh masing-masing, tapi saat ini posisinya mereka sedang tidak bercinta, salah satu dari mereka dalam keadaan sadar.
__ADS_1
Hawa bisa melihat setiap jengkal kulit Adam. Hawa memberanikan diri membuka lemari untuk mengambil pakaian yang akan dipakai Adam.
Setelah membantu berpakaian, Adam yang tidak bisa menahan rasa ngantuknya segera tumbang ke atas tempat tidur dan terlelap.
Hawa hanya bisa memandangi Adam dengan senyum getir, semua usahanya yang diharapkan bisa menyenangkan hati Adam berakhir sia-sia. Makanan yang sudah dimasaknya terpaksa dia simpan kembali ke dalam kulkas.
"Besok lebih baik aku membawa makanan ini pulang bersamaku. Tuan Adam pasti tidak akan makannya lagi. Ibuku bilang kita tidak boleh buang-buang makanan karena semua makanan itu susah untuk mendapatkannya," ucapnya bermonolog.
Hawa yang juga diserang rasa ngantuk berbaring di samping Adam. Dia memiringkan tubuhnya agar bisa melihat wajah tampan pria itu. Mungkin ini adalah kali terakhir dia bisa menatap pria itu dengan puas, karena saat besok matahari pagi datang menyapa hubungan kontrak mereka selama tiga hari berakhir sudah.
Udara dingin malam itu membuai Hawa, dengan cepat dia terjatuh dalam tidurnya yang begitu nyenyak. Hujan sedang menyirami bumi malam itu.
Adam terbangun, dikejutkan oleh kerasnya suara petir di luar sana. Dia menoleh ke samping dan mendapati Hawa yang meringkuk kedinginan karena selimut dia gunakan sendiri.
Perlahan Adam mendekatkan wajahnya pada wajah Hawa, mengecup setiap jengkal pipi gadis itu hingga mendarat di bibirnya.
Adam menggoda, mengirimkan sensasi luar biasa pada gadis itu. Tidak bisa menahan hasratnya, Adam menggigit pelan bibir sensual milik Hawa hingga garis itu membuka matanya.
"Aku mengantuk," cicitnya tanpa sadar, tidak ingin diganggu tidur.
"Tapi aku ingin memakanmu. Aku tidak tahan jika berada di dekatmu tanpa menyentuhmu," bisik Adam mulai menciumi ceruk leher Hawa, memberi tanda di sebelah kiri, menimpa bekas tanda kemarin malam yang dibuatnya, seolah leher dan seluruh tubuh Hawa sudah kehabisan tempat bagi Adam untuk membuat tanda yang baru.
Suhu tubuh Hawa yang tadinya merasa dingin, kini mulai hangat kembali. Darahnya mendidih menerima sentuhan lembut pria itu yang selalu memanjakan dirinya. Adam sudah mengenal seluk beluk tubuh Hawa. Tiga hari bersama gadis itu tentu saja tidak ada malam yang mereka lewatkan tanpa bercinta.
__ADS_1
Hal yang paling disukai Adam ketika bermain dengan tubuh Hawa adalah menghi*sap dan menggigit lembut puncak dada gadis itu, yang berhasil menyentak Hawa dan membuat gadis itu melengkungkan tubuhnya, menatap ke bawah seolah ingin menyaksikan serangan apa yang sudah diberikan pria itu kepadanya.
Tubuh Hawa bergetar hebat. Adam selalu bisa menemukan titik rangsang Hawa hingga membuat gadis itu panas terbakar. Adam yang menikmati permainan yang dia mulai seolah tidak peduli apa efek yang dirasakan oleh Hawa atas serangan yang dia berikan.
Adam sudah meluncur ke bawah terus bermain dengan perut rata Hawa, menciumi tulang pinggul gadis itu sebelum turun ke bawah. Selama hidup Adam dan selama dia mengenal tubuh wanita hanya pada Hawa dia tidak jijik mencium milik gadis itu. Saat bercinta dengan Reka dulu, dia tidak pernah sampai melakukan hal itu tapi entah kenapa ketika bersama Hawa seolah nalurinya menuntunnya untuk menjelajah hingga ke sana.
Sekali dia mencoba Adam menjadi ketagihan dan setiap permainan mereka, Adam tidak akan pernah melewatkan hal itu. Dia ingin merasakan Hawa dengan bibirnya. Milik gadis itu begitu membayangi benaknya, membuatnya candu dan ingin selalu merasakan lagi dan lagi tubuh Hawa.
Tubuh Hawa bergetar, di bawah sana seolah ada cairan yang ingin mengalir keluar dari miliknya.
"Tuan," bisik Hawa dengan suara sensual, menginginkan Adam untuk berhenti dan segera memasukinya saja.
Perlakuan pria itu adalah penyiksaan terberat namun begitu nikmat bagi Hawa. Seharusnya dia yang melayani Adam, tapi selama bersama pria itu justru dia yang dilayani, dimanjakan dan dipuaskan.
"Panggil namaku, Hawa. Aku ingin mendengar bibirmu menyebut namaku," bisik Adam yang sudah naik ke atas tubuh Hawa dan mencium bibir gadis itu.
Ragu-ragu Hawa menuruti keinginan Adam memanggil dengan lembut nama pria itu.
"Adam...." desisnya dengan suara yang terdengar begitu sensual.
Suara Hawa yang begitu lembut menggelitik telinga Adam, membuat birahinya naik dan memancing adrenalinnya. Hanya dengan de*sahan Hawa yang memanggil namanya saja, sudah berhasil membuatnya terbakar dan ingin menguasai gadis itu lebih lagi.
Adam sudah tidak tahan, miliknya ingin bersatu dengan milik Hawa hingga pria itu memposisikan dirinya di antara paha gadis itu. Sebelum memasuki Hawa Adam mengelus lembut permukaan milik Hawa lalu perlahan dia pun mulai melesat memasuki gua kenikmatan milik Hawa seiring dengan cengkraman tangan Hawa di pundak pria itu.
__ADS_1