Hawa untuk Adam (Simpanan CEO Arogant)

Hawa untuk Adam (Simpanan CEO Arogant)
HUA : Kontrak seumur hidup


__ADS_3

Ada pepatah yang mengatakan tidak ada yang abadi dalam kehidupan di dunia ini, begitu juga kebersamaan pasti akan ada akhirnya. Ada pertemuan, ada juga perpisahan, tergantung bagaimana kita menerimanya.


Sepertinya alam sedang tidak baik-baik saja, dan tidak berpihak kepada Hawa. Waktu berjalan dengan cepat.


Kalaupun perpisahan itu nantinya akan tiba, setidaknya Hawa sudah menyimpan banyak kenangan indah bersama pria itu.


Malam saat perayaan ulang tahun perusahaan dua Minggu lalu, kala teman-temannya sedang menikmati hiruk pikuk suasana malam dengan tarian dan juga minuman, Adam diam-diam menarik tangan Hawa keluar dari ruangan itu dan membawa gadis itu ke kamarnya.


"Ini kali pertama kita bercinta di luar apartemen dan aku sangat menantikannya," bisik Adam sembari membelai wajah Hawa yang sudah dia baringkan di ranjang.


"Sepertinya kau salah ingat. Bukankah sebelumnya kita juga pernah melakukannya di LeRoi milik mami Cinta?" jawab Hawa dengan rasa malu yang tidak dapat terkatakan.


Adam tersenyum, bagaimana mungkin dia bisa melupakan malam itu. Malam yang menjadi awal pertemuannya dengan Hawa, sekaligus memberinya kesempatan untuk bertemu dengan malaikat selembut Hawa yang kini sudah menguasai hati dan pikirannya.


Jika mengungkapkan apa yang dia rasakan saat ini, tidak akan cukup waktu satu malam. Memerlukan banyak waktu menceritakan betapa dirinya sudah sangat ketergantungan kepada Hawa, tapi dia tidak mungkin mengatakan hal itu kepada wanita itu, dia tidak ingin gadis itu besar kepala. Biarlah hanya Adam sendiri yang tahu betapa berartinya Hawa bagi dirinya.


Mengingat bahwa dirinya tidak ingin kehilangan Hawa, dia ingin merevisi kontrak perjanjian kerja mereka secepatnya.


Dalam kontrak itu memang tercantum lama kerja sama mereka selama satu tahun tetapi ada poin kedua yang mengatakan bahwa saat Adam menikah nanti, maka perjanjian itu pun usai. Dia tidak ingin melepaskan Hawa, walaupun nanti dia akan menikah dengan Sarah.


Sarah yang akan menjadi ibu dari anak-anaknya, tapi Hawa lah yang akan menjadi pemilik hatinya, sekaligus kekasihnya di atas ranjang. Adam bisa memastikan bahwa dia tidak akan tertarik pada wanita lain bahkan kepada Sarah sekalipun, setelah dia bercinta dengan Hawa. Baginya Hawa adalah gadis yang paling sempurna dan dia tidak akan pernah melepaskannya sampai kapanpun.


Dia akan meminta Tiger untuk merevisi secepatnya kontrak itu dan membuat isi kontrak itu menjalin kerjasama selama 10 tahun, dengan masa selama itu, dia yakin bahwa Hawa tidak akan pergi ke mana-mana lagi, secara tidak langsung selamanya dia akan menjadi simpanannya seumur hidup.

__ADS_1


Adam janji akan memberikan kehidupan yang layak kepada Hawa. Tidak ada perbedaan antara Hawa dan Sarah, keduanya akan mendapatkan tunjangan finansial yang sama, bedanya hanya pada status, mungkin Sarah memiliki status sebagai istri sah dan Hawa tidak, tapi yang lainnya Adam pastikan bahwa sebenarnya Hawa lah yang menjadi pemenang karena memiliki hatinya.


Benar adanya, Adam malu dan merasa harga dirinya jatuh ketika mengakui bahwa dia sudah jatuh cinta dan bertekuk lutut dibawa Hawa.


***


"Kau ingin dibawakan oleh-oleh apa dari Jerman?" tanya Adam kala Hawa merapikan kemejanya mengancing satu persatu hingga terlihat rapi.


"Tidak ada, semua yang aku butuhkan sudah kau penuhi. Aku tidak menginginkan apapun selain keselamatanmu dan kau pulang ke sini dengan keadaan selamat," jawab Hawa dengan mata berkaca-kaca.


"Setiap aku akan berangkat ke luar negeri, ataupun ke luar kota, kau pasti memberangkatkan ku dengan wajah sedihmu. Aku tidak tahan. Aku tidak ingin mata indahmu basah oleh air mata. Aku akan kembali ke sisimu, bersenang-senanglah selagi aku tidak di sini tapi ingat aku tidak ingin mendengar kabar bahwa kau pergi dengan pria lain walaupun itu dengan Rangga, si brengsek itu!" ujar Adam yang mampu membuat Hawa tertawa terpingkal-pingkal.


Hanya dengan membahas Ranggalah Hawa bisa melihat kecemburuan di mata Adam yang tidak mau diakui pria itu.


Adam memang tidak mengatakan tujuannya ke Jerman, tapi tentu saja dia tahu dari rumors di kantor bahwa Adam pergi ke sana untuk menghadiri wisuda Sarah dan segera membawa gadis itu pulang bersamanya.


Entahlah, perasaan Hawa mengatakan bahwa masa-masa yang indah bersama Adam akan segera berakhir. Dia pasrah! Toh, memang tidak selamanya mereka bisa bersama.


Perasaan cinta yang ada di dalam hatinya akan dia bawa pergi dan menjadi kenangan yang indah untuknya. Dia tidak pernah menyesali bertemu dengan Adam, bahkan menjadi simpanan pria itu. Masalah dosa, biarlah dia dan Tuhannya yang tahu.


"Jangan melamun, nanti kesambet setan!"


Hawa tersadarkan oleh suara itu dan membawa kepalanya menoleh ke si pemilik suara itu. Pria yang tinggal di depan apartemen Adam itu, tampak sudah rapi dan akan segera pergi menuju lift yang harus melewati pintu apartemen Hawa.

__ADS_1


Hawa ingin membalas dengan senyuman tapi pria itu sudah pergi masuk ke dalam lift saat pintu lift terbuka.


***


Saat Adam kembali ke kantor hari itu, Hawa sedang membersihkan lantai tepat di depan ruangannya, tanpa dia sadari Adam bersama Sarah yang akan masuk ke ruangannya berhenti karena lantai yang dipelnya masih sedikit basah.


"Sudah hentikan, Wa. Bawa sana pel dan juga embermu," ucap Susanti, sekretarisnya sembari membantu Hawa membawa peralatan kebersihannya dan memberikan jalan kepada Adam dan Sarah masuk ke dalam ruangannya.


Hati Hawa tentu saja sedih melihat kemesraan mereka, dia cemburu walaupun dia sadar, dia tidak punya hak.


Sebelum Hawa berlalu, Sarah kembali keluar dari ruangan dan untuk kali pertama dia ngajak Hawa bicara.


"Maaf, tolong bisa buatkan teh dan kopi untuk kami?" pintanya dengan sopan.


Beruntung Hawa memakai masker sehingga setengah wajahnya tidak terlihat, dia hanya mengangguk tanpa bisa menjawab karena begitu gugup lalu pamit dan menyiapkan pesanan Sarah.


Rasanya dia ingin meminta orang lain yang membawakan minuman itu ke ruangan Adam tapi pasti Sarah akan bertanya-tanya jadi dia memutuskan untuk memberanikan diri mengantarkan minuman itu.


Susanti membantunya untuk membukakan pintu kala Hawa membawa nampan yang berisi minuman untuk keduanya.


Apa yang dia lihat di ruangan itu tentu saja menggores hatinya. Sarah duduk sembari merangkul Adam, menempelkan kepalanya di leher pria itu.


Dengan gemeter Hawa meletakkan nampan di atas meja dan menghidangkan satu persatu minuman itu ke depan mereka masing-masing. Saat akan pergi Hawa mengutuk matanya yang sempat melihat Sarah mencium bibir Adam.

__ADS_1


Sarah adalah wanita yang berpendidikan, mengapa dia harus melakukannya di depan orang? Dia sadar bahwa ada Hawa di situ tapi tetap melakukannya, entah apa tujuan gadis itu, yang pasti kelakuan keduanya sudah membuat Hawa menangis di kamar mandi pantry.


__ADS_2