
Hampir setiap waktunya Raja bahasa perihal kebaikan dokter yang dia temui di rumah sakit hari itu dan bagaimana dia merasa beruntung ikut dengan Oma dan Opanya hari itu ke rumah sakit hingga bisa mendapatkan mainan pesawat terbang. Padahal Hawa juga pernah membelikannya mainan pesawat terbang tapi anak itu tidak pernah segembira ini.
"Bu, memangnya tadi di rumah sakit Raja ketemu dokter yang baik sama dia, ya?" tanya Hawa membantu ibunya menyiapkan makan malam.
"Iya, dokter itu memang ramah, beberapa kali ibu ke rumah sakit dan bertemu dengannya, dia sopan dan sangat baik terhadap semua pasien yang ada di rumah sakit itu, walaupun mungkin bukan dia yang menangani semua pasien yang dia sapa," terang sang ibu yang ikut mengagumi dokter muda itu.
"Lantas bagaimana keadaan ayah, Bu?" susul Hawa menanyakan hal yang lebih penting. Kesehatan ayahnya kembali drop, susah untuk bergerak dan terpaksa hanya banyak beristirahat di ranjang.
Hawa tidak bisa membayangkan bagaimana hidupnya kalau sampai terjadi hal buruk kepada ayahnya, sungguh dia belum siap kalau Tuhan sampai memanggil pria yang paling dia sayangi itu.
Sepertinya harapan Hawa masih jauh, sehingga sulit untuk dikabulkan semesta. Mungkin ini sudah waktu dan takdirnya Hawa kembali untuk bersedih kembali.
Keesokan paginya ketika adzan subuh berkumandang, keadaan ayahnya memburuk, terpaksa mereka membawa pria itu kembali ke rumah sakit, beruntung tetangga samping rumah mereka yang berprofesi sebagai sopir angkot mau dibangunkan dan membawa Pak Tarjo ke rumah sakit.
Hari itu juga Pak Tarjo harus dirawat inap. Pria itu sudah sangat sesak dan begitu lemas, Hawa tidak henti-hentinya menangis meratapi keadaan ayahnya, terlebih setelah dokter memeriksa dan menyimpulkan keadaan ayahnya sulit untuk diselamatkan. Jantungnya sudah tidak berfungsi dengan baik untuk memompa darah serta paru-parunya yang sudah rusak juga menambah buruk keadaan ayahnya. Pak Tarjo muda memang perokok berat, barulah setelah dokter menyatakan dia menderita kanker paru-paru, dia berhenti merokok.
"Kamu jangan menangis lagi Hawa, ini sudah takdirnya. Biarlah terjadi walaupun Ayah harus pergi meninggalkan kalian, maka kalian harus ikhlas," ucap sang ayah dengan suara berat dan begitu lemas. Dia masih bisa mengenali istri dan anak-anaknya walaupun terlihat letih di atas ranjang dengan berbagai selang yang dimasukkan ke tubuhnya. Sakit, tentu saja terlebih kekuatannya kini semakin menurun drastis.
Hawa tidak bisa mendengarkan perkataan ayahnya yang menyakitkan itu. Anak yang mana yang bisa ikhlas menerima kepergian orang tuanya untuk selamanya? Dia masih berharap ada mukjizat yang bisa dilakukan dokter untuk menyelamatkan ayahnya.
Melihat ayahnya sudah tertidur, Hawa izin untuk keluar, dia ingin menghirup napas dan sekaligus mencoba menenangkan dirinya. Namun, yang terjadi justru dia semakin menangis terisak ketika sudah sampai di taman dan duduk di bangku panjang seorang diri, lama menangis di sana sampai dia tidak mendengar langkah seseorang yang mendekat ke arahnya.
__ADS_1
"Mungkin Anda membutuhkan ini," ucap pria itu yang sudah berdiri di samping Hawa, dengan rasa terkejutnya Hawa menoleh dan mendapati sosok pria yang memiliki paras tampan, tinggi. Dia mengenakan jas dokternya yang menandakan dia adalah dokter di rumah sakit itu.
"Terima kasih, Dokter," ucapnya tersenyum kecut mengambil sapu tangan yang ditawarkan pria itu.
"Boleh saya duduk? Kebetulan saya baru melakukan operasi dan begitu lelah. Datang ke taman ini untuk menenangkan pikiran sejenak sembari menikmati makan siang," ucapnya menunjukkan paper bag yang dia bawa. Hawa mengangguk, tentu saja siapapun boleh duduk di kursi itu, itu bukan miliknya, melainkan properti rumah sakit yang boleh digunakan siapa saja.
"Anda mau?" tawarnya, perlahan mendorong paper bag yang berisi sandwich. Hawa menggeleng sembari mencoba tersenyum. Terima kasih, Dokter saya nggak lapar," jawabnya lembut.
"Apa keluarga Anda sedang dirawat di rumah sakit ini?" tanya sang dokter mulai mengunyah sandwich-nya.
"Ayah saya, beliau dirawat di ruang mawar."
"Kata dokter komplikasi jantung dan paru-parunya sudah rusak," jawab Hawa penuh haru, menundukkan wajahnya hingga tanpa terasa bulir bening kembali jatuh dari pelupuk matanya.
"Apakah Dokter Ridwan yang menangani ayah Anda?"
Hawa mengangguk lemah, tanpa menoleh ke arah dokter itu.
Dokter Carlton memang mengetahui perihal pasien Dokter Ridwan tersebut, mereka berdiskusi dan membahas di ruang dokter. Sedikitnya pasien di desa itu membuat dokter yang menangani tentu saja mengingat dengan mudah pasien yang masuk dan sedang mereka tangani, walaupun mungkin dokter Carlton bukan yang menangani Pak Tarjo, namun keduanya pernah membahas mengenai keadaan Pak Tarjo yang semakin memburuk dan tidak punya harapan lagi.
"Anda harus sabar dokter sudah mengupayakan yang terbaik. Kita berharap keajaiban datang," ucap Dokter Carlton.
__ADS_1
Mendengar kata penghiburan itu, Hawa menengadah menatap dokter itu, sembari mengangguk dengan senyum samar. Harapan akan selalu ada bagi orang yang percaya. "Terima kasih, Dokter. Anda tidak tahu ucapan Anda sungguh memberikan kekuatan dan juga harapan pada saya. Kami percaya ayah akan sembuh dari penyakitnya." kali ini Hawa bisa tersenyum lebih lebar lagi.
Sejak saat pertemuan pertama mereka, keduanya semakin dekat. Sering bertegur sapa. Selama Pak Tarjo dirawat di rumah sakit, Hawa pastinya lebih banyak menghabiskan waktunya di sana, dan pada akhirnya membuat Hawa sering bertemu dan berbincang dengan Dokter Carlton. Ternyata pria itu jugalah yang sering dibicarakan oleh Raja.
Saat anak itu datang berkunjung dibawa oleh Bu Marni yang pulang untuk berganti pakaian dan membawa pakaian ganti untuk Hawa, anak itu menghambur ke pelukan dokter Carlton ketika mereka bertemu.
"Jadi Anda yang memberikan pesawat mainan itu pada Raja?" ujar Hawa sembari membelai rambut anaknya yang duduk di pangkuannya. Mereka kembali duduk di taman rumah sakit tempat mereka sering bertemu dan berbincang. Keakraban pun terjadi diantara mereka, ada rasa nyaman saat ngobrol dengan dokter Carlton yang dirasakan Hawa.
"Raja anak yang pintar, dia akan bertumbuh menjadi anak yang hebat," pujinya ikut membelai rambut anak itu, tanpa sengaja cemari Carlton menyentuh tangan Hawa yang juga ada di sana. Keduanya saling memandang untuk beberapa detik lalu tersadar dan menarik tangan mereka dari anak itu, ada perasaan gugup dan canggung setelahnya.
Ketika berganti Hawa yang pulang ke rumah, gadis itu sengaja menyiapkan bekal untuk makan siang untuk bu Marni dan juga melebihkan sedikit untuk dia berikan kepada dokter Carlton. Entah mengapa hatinya ingin membawakan makanan itu untuk sang dokter.
"Kamu tahu nggak kalau kamu wanita sempurna, Wa. Sudah cantik, pintar masak pula, pasti banyak lelaki yang ingin menjadi suamimu," ucapnya memuji Hawa ketika mulai menikmati makanan yang Hawa bawa. Kali ini Hawa sudah berani datang dan masuk ke ruangan pribadi karton atas suruhan pria itu.
Dua minggu sudah ayahnya dirawat di rumah sakit, kondisinya naik turun hingga hari itu keadaan Pak Tarjo sudah sangat kritis. Dokter sudah melakukan usahanya semaksimal mungkin namun, tampaknya Tuhan berkata lain, Hawa yang menangis meraung di hadapan ayahnya tidak bisa berkata apapun. Sang ayah masih menggenggam tangan putrinya mencoba menguatkan hati Hawa.
"Jangan menangis, ikhlaskan Ayah pergi, walau sebenarnya ayah belum ingin menghadap sang pencipta Ayah sebelum memastikan ada seseorang yang akan melindungi dan menjagamu serta cucu Ayah," ucap Pak Tarjo ikut menangis yang pada akhirnya membuat dadanya semakin sesak.
Hawa tidak bisa menanggapi ucapan ayahnya, dia terus menangis. Dokter Carlton yang juga berada di ruangan itu ikut tersentuh dengan kesedihan ayah dan anak itu. Bu Marni di sudut ruangan juga sudah menangis begitupun kedua adik Hawa, Aldi dan Aldo. Raja yang masih kecil tidak mengerti mengapa keluarganya menangisi kakeknya. Dia hanya terdiam memandangi ibunya sembari memeluk pinggang wanita itu.
Entah dorongan dari mana yang datang ke hati Carlton yang iba melihat mereka dengan yakin, dia mendekat ke arah Pak Tarjo dan menyentuh tangan pria itu. "Pak izinkan saya menikahi putri Anda."
__ADS_1