
Wajah Hawa pucat seketika. Awalnya dia diam karena memorinya masih menjelajah, mengingat siapa pria itu, setelah menemukan ingatannya tentu saja Hawa menjadi ketakutan, terlebih para sahabatnya ikut juga melihat ke arah pria itu menanti pembelaan Hawa atas tuduhan pria tua dan buncit itu.
"Maaf mungkin Anda salah orang. Saya permisi dulu," ucap Hawa gugup, segera menarik tangan Susi ke arah meja yang tadi akan mereka tuju.
Tapi langkah Hawa terhalang oleh tubuh pria itu yang sudah dengan cepat memblokir jalannya.
"Aku tidak mungkin salah ingat, kau adalah pelacur yang sudah aku berikan kepada tuan Adam," ucapnya tanpa ada rasa beban, tidak memperdulikan bagaimana tatapan para sahabat Hawa pada gadis itu.
"Pantas saja saat aku kembali lagi ke LeRoi, kau sudah tidak ada di sana, ternyata rasamu sungguh legit hingga tuan Adam menyimpanmu untuk dirinya sendiri," lanjutnya sembari menyeringai.
Bola mata Susi dan Tari membulat sempurna, mereka terkejut mendengar penuturan pria itu lalu memandang pada Hawa, mengharap gadis itu akan membentak omongan tua bangka itu, tapi nyatanya Hawa diam, tubuhnya gemeteran. Dia takut dan kini dia sudah kalah, aibnya sudah terbuka. Apa yang harus disangkalnya? Nyatanya pria itu lebih berkuasa dan pasti dengan gampangnya membuktikan kalau memang dialah wanita yang dia temui di LeRoi.
Netra Hawa sudah mulai berair, dia seperti dihakimi melalui pandangan mereka walau pun para sahabatnya tidak mengatakan apapun.
"Tuan, hati-hati dengan ucapan Anda! Jangan bicara sembarangan, itu namanya fitnah! Bisa kami tuntut dengan tuduhan pencemaran nama baik!" ucap Rangga dengan penuh amarah, berani pasang badan untuk melindungi Hawa. Bagaimanapun dia tidak terima kalau gadis yang dicintainya direndahkan seperti ini.
"Kau siapa? Aku tidak mengenalmu! Jaga bicaramu, kau tidak punya hak bicara denganku! Dari penampilanmu saja aku tahu kau pasti hanya pegawai rendah di perusahaan Adam.
Jos melihat suasana semakin panas, buru-buru menyusup pergi mencari Tiger, dia ingin memberitahukan mengenai hal itu agar segera bisa melindungi Hawa.
__ADS_1
Jos tahu Adam tidak akan melepaskan mereka kalau sesuatu hal buruk terjadi kepada Hawa, terlebih jika dia tahu ada seseorang yang merendahkan Hawa di depan umum seperti itu.
Besarnya nada bicara pria itu semakin menarik perhatian orang di sekitarnya yang baru masuk ke ruang aula dan ikut mendengar pembicaraan mereka, terlebih karena pria itu banyak dikenal oleh para tamu undangan hingga merasa tertarik mendengarkan persoalan yang melibatkannya.
"Kalaupun memang yang Anda katakan benar, seharusnya sebagai pria berintelektual tinggi, Anda tidak perlu mengatakan hal seperti itu di depan banyak orang. Anda sebenarnya lahir dari seorang wanita atau tidak, hingga sanggup merendahkan Hawa seperti itu?" ucap Susi yang maju di hadapan Hawa menjadi tameng gadis itu agar terlindungi dari tatapan merendahkan pria itu.
Hawa menunduk, air matanya sudah jatuh. Dia meremas sisi gaunnya berharap bisa pergi dari sana secepatnya. Dia takut kalau keluarga Mahesa akan mendengar keributan itu hingga mereka semua tahu hubungan terlarangnya dengan Adam. Sungguh Hawa tidak sanggup untuk dipermalukan lebih jauh lagi.
Tak lama Tiger dan Jos datang, lalu membisikkan sesuatu kepada pria gendut itu sehingga membuat pria itu mundur dan pergi meninggalkan Hawa bersama teman-temannya.
"Nyonya, sebaiknya kita pulang. Saya akan mengantarkan Anda," ucap Tiger berbisik di dekat Hawa.
Hawa hanya mengangguk, dia memang tidak pantas untuk ada di acara ini dan tidak ada yang mengharapkan kedatangannya di sini.
"Aku... Aku pulang duluan ya," ucap Hawa kepada mereka tanpa berani mengangkat wajahnya, sambil menunduk Hawa mengikuti langkah Tiger keluar dari gedung itu.
Sementara di tempat duduknya, Adam tidak bisa lagi menenangkan diri, dia ingin sekali turun dari pelaminan untuk mengejar Hawa dan menenangkan gadis itu. Dia tahu saat ini gadis itu pasti sangat ketakutan terlebih setelah berhadapan dengan tuan Fred.
Ketakutan luar biasa memikirkan keadaan Hawa yang saat itu diprovokasi tuan Fred, membuat Jos berlari ke arah pelaminan karena di sanalah Tiger berada, tepat di belakang Adam sedang berbicara dengan pria itu. Dia berlari tanpa memikirkan pandangan Ibu Dewi dan juga keluarga Adam yang lain.
__ADS_1
"Tuan... Tuan, itu Nona... Dia sedang dipermalukan oleh tuan Fred di depan semua orang. Dia mengatakan kalau dia adalah pelacur dan simpanan Anda," ucap Jos yang tidak beraturan lagi, dia hanya mengucapkan apa yang dia dengar dan dia tahu dia harus segera melaporkannya kepada Adam.
Fatalnya kabar yang dibawa Jos juga didengar oleh semua orang tidak terkecuali dengan ibu Dewi, bahkan Sarah pun mendengarnya, dia menoleh ke arah Adam seolah ingin menuntut pria itu memberikan penjelasan kepadanya. Mereka baru saja melakukan sumpah janji suci, baru beberapa jam berlalu, Sarah sudah dikejutkan dengan berita mengenai simpanan pria itu.
Tanpa mengatakan apapun, Adam memerintahkan Tiger untuk menanganinya melalui isyarat yang begitu tajam dari Adam.
***
Sepanjang jalan Hawa hanya bisa menangis, meremas tangannya hingga buku jarinya terluka di cakar oleh kukunya sendiri. Dia mengutuki dirinya dan juga kebodohannya, harusnya dia tidak perlu datang ke pesta itu! Bukan... Bukan itu, seharusnya dia tidak pernah menjadi simpanan siapapun!
Harga dirinya hancur, itu pun kalau dia masih punya harga diri hingga. Tiba di depan apartemen, Hawa terpaksa menghentikan tangisnya, menghapus jejak air matanya dan membersihkan wajahnya dengan tisu yang diambil dari tas tangannya. Dia tidak ingin front office atau siapa saja yang dia temui di apartemen itu, sampai melihatnya menangis.
"Pulanglah Tiger, Aku ingin sendiri!" ucapnya ketika Tiger ingin mengikutinya hingga ke depan pintu apartemen.
"Maaf Nona, tapi tuan memerintahkan saya untuk menjaga Anda dan memastikan Anda baik-baik saja."
"Pergilah Tiger! Aku mohon jangan membuatku semakin terpuruk!"
Seharusnya Tiger tetap melakukan tugasnya, mengikuti Hawa hingga ke apartemen dan memastikan gadis itu baik-baik saja seperti perintah bosnya. Dia tidak pernah mengabaikan perintah Adam, walau hanya satu kata pun, tapi kali ini hatinya ikut merasa sedih melihat keadaan Hawa, dia tidak tega melihat gadis itu yang terus menangis hingga matanya membengkak. Akhirnya Tiger mengalah, dia mundur dan berdiri di tempatnya memandangi punggung Hawa yang terlihat bergetar karena kembali menangis.
__ADS_1
Namun memikirkan kalau gadis itu akan berpikiran pendek membuat Tiger tidak pulang malam itu, dia menunggu dengan setia di depan pintu apartemen, sesekali dia juga mengawasi gadis itu, memastikan bahwa Hawa masih hidup melalui CCTV apartemen.
"Tuan tidak perlu khawatir, Anda bisa pulang, kalau nanti ada apa-apa dengan Nona Hawa kami akan memberitahukan Anda," ucap kepala security yang sudah mengenal Adam dan juga Tiger di lingkungan apartemen itu.