Hawa untuk Adam (Simpanan CEO Arogant)

Hawa untuk Adam (Simpanan CEO Arogant)
HUA : Aku Pulang


__ADS_3

Hampir saja centong nasi yang dipegang ibu Marni, ibunda Hawa terlepas dari tangannya, terkejut bukan main ketika melihat sosok putrinya muncul di hadapannya.


Wanita itu meletakkan centong di atas piring yang tadinya ingin menyajikan pesanan pelanggan yang ingin makan siang di warungnya. Namun, kedatangan Hawa yang tiba-tiba membuat semuanya tidak lebih penting dari menyambut putrinya.


"Kamu datang, Nak... ya Allah, Ibu mimpi apa bisa bertemu sama kamu. Kenapa kamu nggak kabarin kalau kamu mau pulang?" ucap Ibu Marni memeluk Hawa.


Rasa rindunya yang memuncak kepada putri satu-satunya itu membuat Marni melupakan sekeliling. Empat orang pemuda yang ingin makan di warungnya, melihat ke arah mereka dan dibenak mereka dipenuhi pertanyaan mengenai kehadiran Hawa.


Para pemuda itu merasa tidak pernah melihat Hawa dan mereka juga tidak mengenalnya. Perubahan yang terjadi dalam diri Hawa membuat keempat pemuda itu yang sebenarnya adalah teman sekolahnya itu tampak pangling dan juga begitu mengagumi kecantikan Hawa.


"Maaf Bu, aku kangen sama ayah dan ibu makanya pulang tiba-tiba begini, gak sempat kasih kabar," jawab Hawa yang sudah mempersiapkan jawaban saat dalam perjalanan pulang. Dia tahu ribuan pertanyaan akan ditujukan padanya oleh kedua orang tuanya dan mungkin juga warga sekitarnya.


"Maaf Bu, mana atuh nasi pesanan kita?" tanya salah satu dari keempatnya yang akhirnya menyadarkan Ibu Marni sehingga segera menyiapkan pesanan mereka. Hawa tentu saja mengenal keempatnya, tersenyum ramah pada mereka dan mengangguk memberi hormat.


Keempat pemuda yang merasa ditegur tentu saja gelagapan, gugup dan terasa kikuk karena di sapa gadis secantik Hawa.


"Maaf, Neng dari kota, ya? Saudara Ibu Marni?" tanya salah satunya yang bernama Ujang.


"Ini aku, Ujang. Hawa, masa kalian lupa sama teman sendiri, sedangkan aku aja ingat. Kamu Ujang, ini Teddy, Naryo dan Gilang, kan?" ucap Hawa sembari tersenyum, wajah cantiknya semakin terlihat bersinar di mata ke empat pemuda itu yang sontak kaget karena tidak menyangka bahwa gadis yang mereka kagumi itu adalah Hawa teman sekelas mereka dulu.


Sejak dulu Hawa memang menjadi salah satu kembang desa di tempat mereka. Kecantikannya yang alami dan juga tutur sapanya yang sopan membuat Hawa banyak dikenali pemuda di sana, baik dari desanya ataupun desa tetangga, dan sekarang saat gadis itu yang dikabarkan merantau ke kota kini sudah pulang ke kampung halamannya dengan penampilan yang sangat luar biasa, tentu saja membuat para pemuda itu pangling.


"Hawa anaknya Bu Marni?" kali ini Naryo yang angkat bicara. Hawa hanya mengangguk sembari tersenyum sebagai jawaban untuk rasa penasaran dan tidak percaya pada pemuda itu.

__ADS_1


"Saya pamit ke dalam dulu ya," ucapnya kepada keempat temannya, dia ingin bertemu dengan ayahnya.


Kesehatan Pak Tarjo sudah semakin membaik beliau ini sudah bisa duduk di kursi berbeda saat tujuh bulan lalu, ketika Hawa pamit untuk pergi merantau pria itu masih harus berbaring di ranjang karena tidak bisa berdiri. Tarjo segera berlari kala melihat kedatangan Hawa diambang pintu menyongsong kedatangan Putri kesayangannya.


"Putri Ayah, kamu pulang, Nak?" ucapnya dengan keharuan, air mata tampak menggenangi netra matanya.


Keduanya berpelukan dan Hawa tidak bisa menahan tangisnya lagi. Hatinya berkecamuk dipenuhi dengan rasa rindu dan juga rasa bersalah kepada ayahnya. Pada awalnya dia berpikir tidak pantas untuk memeluk ayahnya dengan keadaan dirinya yang sudah berbeda.


Kedua adiknya pun menghambur ke pelukannya, setelah mendengar dari tetangga bahwa Hawa sudah pulang. Beruntung Tiger mengerti, sebelum pulang dia mengajak Hawa untuk singgah ke berapa toko untuk membeli oleh-oleh.


"Aku tidak bisa menerima ini, Tiger. Kenapa harus kamu yang membayar? Aku punya uang kok," ucap Hawa yang merasa tidak enak hati pada Tiger. Pria itu dengan gesit lebih dulu membayar di kasir kala Hawa sudah selesai berbelanja, dia sudah menyediakan oleh-oleh untuk ayah ibu dan kedua adik adiknya.


Sebelum ke toko pakaian, Tiger juga sempat singgah ke toko roti dan juga buah membeli banyak makanan untuk di bawah Hawa pulang ke kampung.


Mata Hawa memanas, dia begitu tersentuh dan ingin menangis. Tiger begitu baik kepadanya selama ini dia tidak pernah memandang sebelah mata atas pekerjaan Hawa.


"Kenapa kamu baik sekali Tiger? Saat ini aku bukan lagi simpanan bosmu yang harus kamu jaga dan kamu perlakukan dengan baik," ucapnya.


"Karena itu Nona, semua ini tidak ada hubungannya dengan pekerjaan Anda ataupun hubungan Anda dengan bos saya. Saya melakukan ini karena saya sudah menganggap anda sebagai adik saya."


"Jangan pernah panggil aku Nona kalau begitu, panggil namaku dan terima kasih karena sudah mau jadi abangku. Selamanya aku akan mengingatmu," ucap Hawa disela pandangannya yang sudah buram oleh air mata.


Tiger hanya mengangguk, dia benci dengan suasana seperti ini yang mengajaknya ingin berurai air mata. Dia tidak pernah sesedih ini dalam hidupnya semenjak kedua orang tuanya tiada.

__ADS_1


Tiger mengantar Hawa ke stasiun bus yang akan membawa gadis itu pulang ke kampung halamannya. Tiger sudah bersumpah kepada Hawa bahwa dia tidak akan pernah mengatakan kepada siapapun perihal kepergian Hawa bahkan kepada Adam sekalipun.


"Bersumpah lah Tiger, kalau kau tidak akan pernah memberitahukan Adam ke mana aku pergi," pinta Hawa sebelum naik ke bus.


Walau berat, Tiger membulatkan hatinya bahwa itu adalah satu-satu janjinya yang akan dipenuhi walaupun nyawa taruhannya.


"Janji. Anda boleh memegang janji saya. Demi janji ini saya rela kehilangan apapun, Anda tidak perlu khawatir."


Hawa tidak bisa berkata apapun lagi demi membalas kebaikan Tiger dia segera memeluk pria itu yang berhasil membuat Tiger terkejut. Bagaimana kalau Adam sampai melihat Hawa memeluknya seperti ini, Adam pasti akan membunuhnya. Padahal pelukan Hawa adalah pelukan seorang adik kepada abangnya, pelukan yang mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan Tiger kepadanya.


"Sudahlah Nona, jangan menangis lagi. Lupakan semua yang pernah terjadi di Jakarta ini. Saya doakan Anda akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik dan bahagia bersama orang yang nantinya mencintai anda.


"Makasih Tiger," jawab Hawa melerai pelukan mereka. Bolehkah aku memanggilmu Abang?"


Ada perasaan hangat di hati Tiger, dia yang sebatang kara, kini tiba-tiba saja sudah memiliki adik angkat. Dia tersenyum lalu mengangguk.


Tiger terus memperhatikan bus itu bergerak lambat. Tiger mengiringi kepergian Hawa dengan doa dan juga kesedihan di hatinya. Dia berharap gadis itu akan menemukan kebahagiaannya di tempat lain karena bagaimanapun Hawa dan Adam dalam kehidupan ini mungkin tidak akan berjodoh.


"Selamat tinggal Hawa, selamanya aku akan mengingatmu dalam hatiku sebagai seorang adik."


Bus sudah berlalu jauh, lalu menghilang dari pandangannya. Getar ponsel di sakunya menyadarkan Tiger dan segera melihat panggilan masuk itu yang tidak lain adalah dari bosnya.


"Katakan pada Hawa aku akan singgah ke apartemen malam ini!"

__ADS_1


__ADS_2