
Daniel memahami keadaan Hawa yang tidak nyaman dikelilingi oleh keluarganya yang mencoba menggali masalah rumah tangga mereka, demi menyelamatkan Hawa dari serangkaian pertanyaan, Daniel meminta undur diri dengan alasan ingin istirahat, pamit masuk ke kamar mereka yang sudah siapkan oleh Ibu Dewi.
Tidak hanya Reka dan suaminya yang menyerang Hawa, Ibu Dewi juga tampak mengintrogasi wanita itu, kapan mereka bertemu, di mana mereka menikah dan bagaimana selama ini perjalanan rumah tangga mereka. Tidak satupun dari pertanyaan itu yang Hawa jawab, karena langsung diwakilkan oleh Daniel.
"Aku minta maaf kalau keluargaku membuatmu tidak nyaman," ucap Daniel setelah mereka masuk ke dalam kamar.
"Tidak apa-apa. Aku mengerti kok," ucapnya pelan.
"Bunda, ini rumah siapa? Kenapa kita ke sini?" tanya Raja yang masih tidak mengerti.
Hawa meminta kepada anaknya untuk tidak mengatakan hal apapun kepada orang-orang yang ditemui di rumah itu. Seperti yang sudah diajarkan oleh Daniel saat perjalanan menuju ke rumah ibunya, Raja diminta untuk memanggilnya dengan sebutan ayah.
"Ini rumah Oma, dan kita akan tinggal di sini. Raja suka'kan?" jawab Daniel mewakili Hawa yang tampak terlihat lemas, emosinya diaduk-aduk oleh karena pertemuannya dengan Adam.
"Suka, Ayah," jawabnya.
"Sekarang kamu ganti baju, cuci kaki, sikat gigi lalu tidur ya," pinta Hawa bangkit membawa putranya menuju kamar mandi.
Daniel mengamati ruangan itu, kamar yang dulu sempat dia tinggali, diubah sedemikian rupa hingga menjadi terlihat lebih indah. Dia bukan tidak menghargai kebaikan Dewi, tapi apapun yang dilakukan wanita itu tidak mampu untuk menebus sakit hatinya.
"Ya, kembali ke sini hanya untuk membalaskan dendamnya kepada orang-orang yang sudah menganggapnya sebelah mata dan membuat hidupnya menderita.
"Satu kesalahanmu, memintaku datang kemari, Nyonya. Aku akan memporak-porandakan keluarga ini dan membuat kehidupan rumah tangga anakmu hancur," batinnya menggenggam tinjunya, bertumpu pada emosi yang berakar di hatinya.
__ADS_1
Bukan dengan senang hati dia kembali ke rumah itu, dia bahkan sangat benci bertemu dengan orang-orang yang ada di rumah ini. Tapi ini harus dia lakukan untuk melancarkan rencananya, walaupun mungkin akan membuat Hawa menderita.
Seperti biasa, Hawa dan Raja akan tidur di ranjang sementara Daniel tidur di sofa, di seberang ranjang. Hawa mengamati Daniel yang menyiapkan tempat tidurnya.
Hampir empat bulan dan pria itu tidak pernah menuntut haknya atas diri Hawa yang membuat Hawa semakin merasa bersalah. Kini setelah mengetahui bahwa suaminya adalah bagian dari keluarga Mahesa, bersyukur tidak sempat memberikan dirinya kepada Daniel.
Ini tidak benar, dia akan bicara pada pria itu dan meminta untuk menceraikannya saja. Pernikahan ini tidak akan berhasil, masa lalunya akan menjadi palang pintu yang tidak bisa menyatukan keduanya.
"Dan, kenapa kamu tidak tidur di sini aja?"
"Memangnya kamu sudah mau menerimaku sebagai suami?" tanya Daniel melengkungkan senyumnya, dia tahu bahwa gadis itu masih berat menerimanya. Pria yang ada di dalam hati istrinya itu tidak akan terganti dan Daniel tidak masalah akan hal itu. Dia menghargai Hawa dan jujur sangat menyayangi gadis itu, dia tidak akan pernah memaksakan kehendaknya pada Hawa, cukuplah selama ini gadis itu menderita dalam hidupnya.
Berkaca pada apa yang sudah dialami Hawa, Daniel berjanji akan menjadi pelindung gadis itu, tidak akan pernah membiarkan seorangpun melukai perasaannya lagi.
"Tidak apa-apa, Wa. Jangan bebani dirimu dengan memikirkan hal-hal yang tidak penting. Aku tulus kepadamu, aku kan sudah mengatakan tidak akan menyentuhmu sampai kamu yang menginginkannya. Jadi, tidurlah, kita masih memiliki waktu yang panjang untuk melakukan hal itu. Sekarang kamu beristirahat. Satu hal lagi, kau melihat sendiri bagaimana tanggapan orang-orang di rumah ini terhadapmu, aku minta kau harus kuat."
Hawa hanya mengangguk, sekuat apa dirinya melawan? Tidak ada orang di rumah itu yang menyukainya, begitupun Sarah.
Perlakuan Ibu Dewi yang pura-pura menyukainya hanya demi menjaga perasaan Daniel. Dia tidak mau menyakiti perasaan anaknya dan mengambil resiko pergi lagi tanpa kabar berita.
Daniel tidak bisa terpejam, matanya menatap langit-langit kamar sudah pukul 02.00 pagi dan dia masih terjaga, lalu memutuskan untuk turun mengambil segelas air dingin yang mungkin bisa menyegarkan kepalanya.
"Kamu membuatku kaget," ucap Daniel ketika menghidupkan lampu dapur dan mendapati Sarah ada di sana. Wanita itu menoleh dan menatap Daniel dengan wajah sedih dan mata yang sembab.
__ADS_1
"Maaf," jawab Sarah pelan, kembali menoleh ke arah gelas berisi susu hangat yang baru saja dia buat.
Daniel masuk dan membuka kulkas, menuang air dingin ke dalam gelasnya menimbang apakah dia lebih baik kembali ke kamar atau duduk bersama Sarah di meja makan.
Sepertinya Daniel akan mengambil pilihan kedua, karena melihat wajah wanita itu yang tampak tertekan dan begitu sedih.
"Bagaimana kabarmu? Apakah selama lima tahun ini kalian belum memiliki anak?" tanya Daniel meminta perhatian Sarah.
Garis itu diam, tidak mau menjawab. Lukanya semakin menganga mendengar ucapan Daniel.
"Maaf kalau kau tidak ingin aku ganggu, sebaiknya aku pergi," ucap Daniel yang menganggap diamnya Sarah adalah bentuk rasa tidak suka wanita itu melihat Daniel ada di sana.
"Dari mana kau mengenal gadis itu? Ternyata ucapanmu selama ini palsu, kau akhirnya bisa menemukan seorang wanita bahkan menikahinya dan yang paling membuatku terkejut, kau sudah memiliki anak," ucap Sarah memainkan permukaan mug, mengikuti lingkaran pada permukaan dengan jarinya.
Gadis itu bahkan tidak menoleh sedikitpun ke arah Daniel. Pria itu membeku tidak jadi melanjutkan langkahnya meninggalkan Sarah, kembali duduk di tempatnya semula.
"Apa kau bahagia?" lanjut Sarah yang kali ini mendongak menatap Daniel, matanya mulai berair. Awan gelap menutupi netranya, membuat pandangannya mengabur oleh duka yang berkepanjangan.
"Mana suamimu?" tanya Daniel yang balik bertanya.
Dia pergi seperti biasa meninggalkanku, setiap malam dan akan pulang subuh dengan kondisi tubuh yang penuh dengan bau minuman, mabuk tak sadarkan diri," jawab Sarah dengan penekanan yang membuat Daniel merasa iba.
"Dia adalah pilihanmu, lantas mengapa kau menyesalinya sekarang? Bukankah kau yang dulu ingin menikah dengannya? Mengaguminya karena semua prestasi dan keberhasilan yang dia raih, kini kau sudah mendapatkannya,.menyandang gelar nyonya Mahesa, apalagi yang kurang? Apalagi yang membuatmu bersedih? Seharusnya kau bahagia karena semua keinginanmu tercapai," tukas Daniel memuntahkan semua kecewanya.
__ADS_1
"Pernikahan itu adalah sebuah kutukan bagiku. Aku pikir, aku bisa membuatnya jatuh cinta padaku, tapi ternyata aku salah. Aku hanya boneka pelengkap bagi dirinya. Aku menyesal telah memilih tangan yang salah dan meninggalkan tangan yang begitu hangat menggenggam dan melindungi ku selama ini."