
Wajah Hawa yang begitu damai saat tertidur membuat Adam tidak tega untuk membangunkan wanita itu. Parasnya begitu tenang seperti malaikat dan begitu mempesona untuk dipandang bak lukisan, tetapi jari Adam tidak ingin tinggal diam, desakan dari hatinya begitu kuat untuk menyentuh kulit wanita itu hingga dia mengabaikan rasa enggannya, dan mulai menyentuh pipi mulus berwarna putih gading itu.
Sentuhan itu membuat bola mata indah Hawa terbuka dan kala memorinya merekam wajah yang saat ini berada di depannya, Hawa mengirimkan senyum lalu dia bergegas untuk duduk agar mereka bisa saling berhadapan.
Dia sudah lama menanti kehadiran pria itu di hadapannya, bahkan hampir pupus harapannya.
Adam tidak bergerak dari meja tempatnya duduk dia hanya memandangi Hawa dan mulai menghitung perubahan apa saja yang ada dalam diri gadis itu, tiba-tiba dia teringat seminggu sudah dia berpisah dengan Hawa dan keraguan membuat hatinya risau dan dia ingin mendengar langsung dari gadis itu.
Beban yang selalu menyita pikirannya, membuatnya tidak tenang selama berada di luar negeri.
"Aku ingin bicara padamu," ucapnya setelah mengingat apa yang sudah dia rencanakan ketika memutuskan untuk mengeluarkan Hawa dari rumah pelacuran itu.
"Anda mau bicara apa dengan saya, Tuan?" tanya Hawa. Dia paling tidak suka harus menerka-nerka apa yang akan dikatakan pria itu. Dia takut kalau kalimat yang keluar dari bibir Adam membuatnya sedih, bisa saja kan pria itu memintanya yang tinggal satu malam saja lalu menyuruhnya pulang?
"Kemarilah Hawa, karena ini pembicaraan yang serius sebaiknya kita lakukan di ruang kerjaku," ucap Adam tanpa basa-basi ngeloyor pergi meninggalkan Hawa yang masih terbengong dan segera berjalan ke arah ruang kerjanya.
Akhirnya kesadaran Hawa kembali, dia bergegas mengikuti langkah Adam namun di pintu masuk ruang kerja, dia berpapasan dengan Tiger yang juga akan masuk ke dalam.
"Selamat malam, Tiger. Kamu di sini?" ucapnya tersenyum.
Sebenarnya tidak ada gunanya bagi Hawa menyapa Tiger, pria itu seolah dikutuk semesta untuk tidak bisa tersenyum.
__ADS_1
Wajahnya padahal tampan namun terlihat dingin dan juga kaku. Pria itu seolah dilahirkan tanpa tahu artinya tersenyum, begitu kaku dan terlihat menyeramkan.
Ini kali pertama Hawa masuk ke dalam ruang kerja Adam. Pandangannya diedarkan ke seluruh sudut ruangan yang begitu luas dengan furniture yang disusun rapi.
Dengan tangannya Adam menunjuk sofa agar Hawa duduk. Tatapan Adam tidak pernah lepas dari tubuh Hawa, jujur dia tidak menyangka mendapati gadis itu dengan perubahan yang luar biasa. Kalau Hawa yang dulu dia kenal begitu cantik alami kini wanita itu terlihat cantik mempesona dan anggun.
Perawatan yang dilakukan Hawa ternyata ada gunanya juga, berhasil membuat Adam terpesona seperti yang diharapkan olehnya.
Saat Hawa duduk, tidak sengaja gaun tidurnya tersingkap hingga paha mulusnya terekspos. Tubuh Adam menegang bahkan darahnya mendidih, panas. Di dalam benaknya, pikiran akalnya sudah bermain. Ingin segera menarik Hawa masuk ke dalam kamar dan memuaskan hasratnya tapi dia sadar saat ini mereka tidak hanya berdua, ada Tiger di sana dan sang asisten bersikap gentle dengan membuang muka ketika melihat ayunan paha Hawa yang mulus.
Sadar akan gaunnya yang tersingkap, Hawa buru-buru membenarkan letak gaun itu hingga menutupi keseluruhan pahanya.
Suasana di ruangan itu terlihat begitu formal, Hawa bisa merasakan aura keseriusan dari Adam. Padahal dia berharap ketika mereka bertemu, pria itu langsung memeluknya dan menciumnya.
Naif 'kah dia atau murahan 'kah dia kalau dia begitu merindukan sentuhan Adam? Dia datang ke Jakarta ini dengan kepolosan, suci belum pernah tersentuh bahkan tangannya pun belum pernah digenggam oleh pria manapun. Namun, melalui Adam, dia merasakan bagaimana dicumbu oleh seorang pria yang membuatnya menjadi ketagihan dengan sentuhan pria itu.
"Mungkin Tiger sudah menjelaskan kepadamu perihal keinginanku untuk memintamu berhenti bekerja di tempat germo itu," ucap Adam memulai pembicaraan mereka.
Hawa hanya mengangguk lalu tersenyum, seandainya Tiger tidak ada di situ, dia mungkin sudah kalau naik ke pangkuan pria, menciumi setiap jengkal wajah Adam, lalu memulai menggigit lembut bibir pria itu bentuk ucapan terima kasihnya karena sudah membebaskannya dari mami Cinta.
"Ada yang ingin kusampaikan kepadamu. Aku ingin kau memikirkan hal ini lebih dulu baru memberi jawaban," ucapnya dan memberi kode kepada Tiger untuk menyerahkan berkas yang sudah di konsep oleh Tiger.
__ADS_1
Hawa menerima berkas itu dan mulai membaca halaman per halaman. Seketika hatinya berdebar, detaknya lebih kencang dari biasanya. Dia harus memusatkan perhatian untuk membaca isi dari draft pada berkas yang berisi perjanjian antara pihak pertama dan pihak kedua. Pihak pertama disebutkan adalah Adam dan dia sebagai pihak kedua.
"Ini...," ucapnya tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Dia hanya melihat ke arah Adam dengan perasaan hancur, tapi apa lagi yang ingin dia harapkan? Tawaran Adam ini saja sudah jauh lebih baik, seharusnya dia berterima kasih bukan merasa sedih dan terpukul seperti ini.
Ada kilatan kecewa dan terluka di mata Hawa, tapi Adam sendiri tidak tahu mengapa wanita itu merasa merasa seperti itu bukankah apa yang ditawarkannya di dalam kertas itu jauh lebih baik daripada harus berada di rumah bor*dil itu?
"Bagaimana, bukankah ini lebih baik daripada harus bersama mama wanita germo itu?" Adam menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa, dari sana dia bisa menatap dengan jelas kecantikan unik wanita itu yang bahkan belum pernah dia temui dari wanita lain.
"Anda benar, Tuan. Ini jauh lebih baik dan ini di luar dugaanku. Aku sangat berterima kasih karena Anda sudah memikirkan diriku. Aku rasa, aku tidak perlu memikirkan hal ini terlalu lama, aku tidak ingin menyia-nyiakan waktu Anda yang berharga dengan menunggu jawabanku. Sebaiknya aku menjawab sekarang saja. Aku bersedia," ucapnya dengan ketegasan yang dibuat-buat.
Sebenarnya dia hancur, perasaannya terluka dan batinnya? Tidak usah dipertanyakan lagi. Hawa ingin sekali berlari masuk ke dalam kamar itu jika diizinkan, lalu menangis sejadi-jadinya melampiaskan himpitan yang ada di dadanya.
"Kalau kau memang sudah membaca dengan seksama dan menyetujui setiap isi dari perjanjian itu maka kau harus menandatangani perjanjian itu di atas materai yang sudah tertera di sana," terang Adam. Sedikitpun tidak menurunkan intonasi suaranya.
Dia seolah sedang menginterview calon karyawannya. Hawa memang adalah karyawannya, seperti yang ada dalam perjanjian itu.
Hatinya sudah hancur lebur, tidak ada gunanya menyimpan harapan. Dia harus sadar diri, siapa dirinya.
Ini saja sudah seharusnya dia mengucap terima kasih dan bersyukur, ini sebuah berkah bagaimana kalau Adam tidak mengikatnya seperti ini? dia pasti sudah berpindah dari satu pria ke pria lain.
Jadi, setidaknya walaupun ini tetap disebut dengan dosa. Namun, dia hanya melakukan dosa kepada satu orang pria saja. Dia tidak menjajakan tubuhnya kepada banyak pria seperti yang diminta mami Cinta padanya untuk melayani pria-pria hidung belang.
__ADS_1