Hawa untuk Adam (Simpanan CEO Arogant)

Hawa untuk Adam (Simpanan CEO Arogant)
HUA : Jadi Sahabat Baik


__ADS_3

"Kau jalan?" tanya Jos yang juga baru tiba, mereka bertemu di pintu gerbang.


"Hah? Oh, itu, tadi sih naik ojek, cuma aku diturunkan di sana," jawab Hawa menunjukkan tempatnya tadi diturunkan.


Hari ini Susi yang bertugas membersihkan ruangan Adam, besok baru giliran Hawa jadi kalaupun dia telat datang tidak jadi soal. Jadwalnya hanya membersihkan ruang meeting dan juga ruangan Tiger.


"Aduh, bukannya Tiger sudah tiba?" batinnya menepuk keningnya.


"Ada apa?" tanya Jos.


"Aku harus buru-buru, ruangan pak Tiger belum aku bersihkan. Aku duluan ya," ucapnya buru-buru tapi langkahnya di kejar oleh Jos.


Mereka tiba di depan lift. Sialnya ternyata Adam dan Tiger belum naik ke ruangan mereka, bahkan kini sedang berjalan menuju lift.


Hawa ingin mundur tapi beberapa karyawan sudah melihatnya, begitu juga dengan Adam dan Tiger, dia terpaksa meneruskan langkahnya dan berdiri di belakang kerumunan beberapa karyawan.


Pintu lift terbuka dan semua orang menunggu Adam terlebih dahulu masuk bersama Tiger, lalu mereka mengikuti dari belakang. Hawa berharap lift akan berbunyi sehingga dia punya alasan untuk menunggu lift berikutnya. Namun, harapannya kembali kandas dan Desi, personalia yang suka menghina OB memerintahkannya dengan kasar segera masuk.


"Buruan bego! Semua orang nungguin ini Dasar bego, gak bisa menghargai tuan Adam kamu, ya!" umpatnya kasar.


Adam memperhatikan wajah Hawa, hardikan Desi membuat wajahnya memerah menahan malu dibentak di depan umum. Hawa segera masuk dan pintu lift ditutup.


"Jangan dimasukin dalam hati ya, Wa. Anggap aja omongannya tadi suara bebek yang belum divaksin," ucap Jos menghibur diri Hawa dengan berbisik.


Adam yang melihat Jos berbisik ke arah Hawa menatap tajam dengan pandangan tidak suka, tangannya di bawah sana bahkan sudah mengepal ingin menarik kerah baju Jos agar menjauh dari gadis itu tapi sebisa mungkin dia menekan amarahnya. Dia tahu, tidak mungkin mempermalukan dirinya di depan para karyawannya.

__ADS_1


Pintu lift terbuka dan para karyawan menyisihkan jalan bagi Adam untuk keluar lalu setelahnya diikuti oleh karyawan lain.


Hawa bergegas menuju pantry dan mengambil peralatannya di gudang penyimpanan dan segera berlari kecil ke ruangan Tiger.


Tok... Tok... Tok...


"Masuk!" perintah Tiger dari dalam ruangannya.


Kepala Hawa muncul lalu dengan menggaruk-garuk rambut belakangnya yang sama sekali tidak gatal, gadis itu masuk dan menghadap pada Tiger.


"Maaf saya belum membersihkan meja dan ruangan bapak," ucap Hawa sambil dengar-cengir terhadap Tiger. Awalnya dia merasa takut, namun berjalannya hari, rasa takut itu hilang begitu saja, entah mengapa lebih nyaman berbicara dengan pria itu daripada dengan Adam.


Sikap dingin Tiger yang ditunjukkannya kepada Hawa hanya karena mematuhi perintah dan juga peraturan yang mengikat pria itu.


"Sudahlah non Hawa, untuk hari ini Anda tidak perlu membersihkan ruangan saya," ucap Tiger singkat.


Jelas-jelas Tiger tahu apa yang dimaksudnya dengan gangguan kecil itu, dia ada di sana, apa Hawa lupa?


Tiger tidak mengatakan apapun lagi dengan tangannya dia mempersilahkan Hawa untuk melakukan apapun yang gadis itu inginkan di ruangannya. Awalnya mulai menyapu lalu membersihkan dengan vacum cleaner dan setelahnya dia memohon izin agar Tiger berdiri dari kursinya sehingga Hawa bisa dengan leluasa membersihkan meja kerja pria itu.


"Sudah semua, Pak. Aku permisi dulu," ucap Hawa yang diangguk oleh Tiger, namun Hawa tiba-tiba teringat kalau kemarin siang saat di kantor, ibunya menghubungi, memintanya untuk mengirim uang demi kebutuhan sekolah adiknya dan juga biasa cuci darah ayahnya Minggu depan.


"Itupun kalau kamu punya uang ya, Nak. Kalau kamu belum gajian tidak usah dipaksakan, nanti Ibu cari jalan keluar di sini mungkin pinjam dulu sama bu RT. Uang 20 juta yang kamu berikan kemarin, sesuai dengan keinginanmu sudah ibu bayarkan hutang kita selama ini kepada tuan Handoyo. Terima kasih ya, Nak, berkat kamu, kini kita sudah tidak punya hutang lagi," ucap ibunya dengan suara lembut.


Hawa yang mendengar hal itu tentu saja hatinya menghangat. Akhirnya dia bisa berguna juga untuk keluarganya. Ucapkan terima kasih dari ibunya yang berulang-ulang dengan diiringi air mata membuat Hawa lupakan sejenak dosa-dosa yang sudah dilakukan. Biarlah dia dihukum di neraka sana asalkan, ayah dan ibunya serta kedua adiknya bisa mendapatkan kehidupan yang layak.

__ADS_1


Mereka tidak perlu lagi utang beras catu kepada tetangga dan ibunya kini sudah bisa membuka kembali usaha warung nasinya walaupun dengan menu kadarnya.


"Iya, Bu. Nanti aku tanya bos dulu, boleh gak kasbon dulu, nanti potong gaji aja," ucap Hawa.


Tadi malam Hawa ingin menanyakan langsung pada Adam, tapi pria itu langsung tertidur setelah reli panjang mereka.


"Oh ya, ada yang ingin aku tanyakan. Bolehkah aku bicara?" tanyanya dengan suara pelan. Dia takut Tiger marah dan menganggapnya kurang ajar.


Hawa tahu, walau cara Tiger mengatakan apa saja saya dengan nada dingin, tapi pria itu berhati baik. Ada kalanya Tiger melirik ke arahnya kala Adam membentak gadis itu. Tatapan iba dan kasihan.


"Apakah... Apakah bayaranku, maksudku apakah gajiku dari tuan Adam boleh aku minta setengahnya? Kemarin ibuku menghubungi, katanya dia membutuhkan uang untuk membayar biaya praktikum adikku," ujar Hawa meremas tangannya. Jujur dia sangat takut dibentak Tiger.


"Saya akan menanyakan hal itu kepada tuan Adam. Anda tidak usah khawatir kalau hanya meminta gaji, tuan Adam pasti tidak akan keberatan untuk memberikannya," jawab Tiger, menenangkan gadis itu. Hawa senyum dan mengangguk sebelum pergi meninggalkan ruangan itu.


kamu nggak kena marah kan sama Pak Tiger tanya jos yang mendapati Hawa dengan duduk di meja rentry bersama Susi


"Nggak, pak Tiger orangnya baik kok," jawab Hawa.


"Udah mau jam makan siap, kita makan apa ya? Apa kita ke warung Coto Makassar yang ada di sebelah kantor?" usul Susi. "Tapi aku lagi gak punya duit sih, udah tanggal segini, gaji awal bulan udah habis bayar kontrakan dan keperluan sehari-hari, mana susu anak ku harganya naik lagi," lanjut Susi menarik kembali sarannya.


"Sama, aku juga baru ngirim ke kampung. Ibuku butuh uang buat lahiran kakakku," sambar Jos. Hawa yang mendengar hal itu mengangguk, lalu tersenyum. Gadis itu lalu bangkit, dan berjalan ke lokernya.


"Taraaaa...." ucap Hawa meletakkan tas bekalnya di atas meja. "Aku rasa ini cukup buat kita bertiga."


Jos dan Susi saling memandang penuh haru, makanan itu banyak dan tampak enak semua.

__ADS_1


"Makasih banyak ya, Wa," ucap Jos menyentuh tangan Hawa.


"Iya, Wa. Makasih banyak. Semoga kita bertiga selalu jadi sahabat baik," tambah Susi.


__ADS_2