
Sudah pukul 11.00 malam kala Adam tiba di apartemen. Hawa juga sudah tidur dengan begitu pulasnya, hingga jemari Adam yang dingin membelai pipinya, membawa kesadaran Hawa kembali.
"Adam," bisiknya dengan suara serak khas orang baru bangun. Dia tidak menyangka bahwa pria itu akan datang menemuinya malam itu.
"Maaf, karena aku sudah membangunkan mu tapi aku sangat merindukanmu," ucapnya sembari membelai rambut panjang Hawa yang indah.
Rasa rindunya kepada pria itu menggerakkan hati Hawa menyeruak masuk ke dalam pelukan Adam, memeluk dan merasakan sentuhan pria itu yang dia yakin mungkin tidak akan bisa dirasakan lagi.
"Apa kamu merindukanku?" tanya Adam melerai sedikit pelukannya ingin melihat wajah Hawa saat menjawab pertanyaannya.
"Aku sangat merindukanmu. Aku pikir kau tidak akan datang lagi. Aku bahkan sampai frustasi ucapnya berusaha jujur, tidak ada yang perlu ditutupi dari pria itu.
"Beberapa hari ini kau terlihat begitu sibuk, aku bertanya kepada Tiger katanya kau sibuk mengurus perusahaan dan juga persiapan untuk pernikahanmu, apakah semuanya sudah selesai?" lanjut Hawa walaupun hatinya sedikit hancur. Dia tidak tahu harus membahas apa, dia sudah berusaha untuk menahan lidahnya untuk tidak mencari tahu mengenai rencana pernikahan itu akan berlanjut atau tidak, tapi dia tidak berhasil menahan rasa ingin tahunya.
"Bisakah kau tidak membahasnya saat kita bersama? Aku ingin saat kita berdua begini yang kau bahasanya tentang kita. Aku menginginkanmu," ucap Adam menarik Hawa lalu menyapukan bibir pada bibir wanita itu lalu menatap tajam ke arah matanya Hawa.
Gadis itu mengangguk dan menutup matanya saat Adam mengecup kening nya.
Hawa mengangguk, dia akan mengikuti apapun yang pria itu katakan malam ini. Dia tidak ingin membuat Adam marah padanya, dia ingin memanjakan pria itu, melayaninya dengan sepenuh hati karena mungkin ini adalah kesempatan yang terakhir.
Besok Adam dan Sarah akan menikah, tentu saja mereka akan tinggal serumah dan kesempatan untuk bangun di pagi hari dalam pelukan Adam tidak akan pernah bisa dirasakan lagi. Ketika Adam bangun di pagi hari nanti, bukan dirinyalah yang dia peluk tapi Sarah.
Hawa menepi semua pikiran akan hal itu, yang selalu berhasil membuatnya sakit hati dan merasa sedih.
__ADS_1
Adam sudah mulai beraksi, dia mulai mengecup kening Hawa lalu turun ke bibir ranum gadis itu. Hawa pun menyambut dengan penuh sukacita, membalas ciuman dan juga belaian lidah Adam.
Setelah lama bermain di sana, Adam pun mulai menjelajah setiap jengkal kulit Hawa, memberikan tanda kepemilikan di tempat yang dia singgahi terus ke leher jenjangnya, dan turun hingga berhenti di dadanya, tempat yang paling Adam sukai dari seluruh tubuh Hawa.
Gadis itu sudah terbakar, kulitnya terasa panas di bawah sentuhan pria yang sangat dicintainya itu. Tangan Adam begitu memanjakan miliknya menggoda dan juga membuatnya menjadi tampak bengkak.
Semua yang mereka lakukan terasa indah dan begitu nikmat malam ini, terasa berbeda dengan malam sebelumnya. Bukan mengatakan malam sebelumnya tidak nikmat, tapi entahlah hanya saja malam ini sangat berbeda dari biasanya, mungkin karena keduanya melakukannya atas dasar cinta dan dengan perasaan yang dalam, seolah esok hari tidak akan ada lagi kesempatan bagi mereka untuk melakukannya.
Keduanya takut, ketika besok membuka mata, keduanya akan menjadi orang asing yang harus menjaga jarak dan mengubur rasa rindu.
"Aku benar-benar menginginkanmu saat ini, katakan kau juga menginginkan ku, katakan kau adalah milikku," bisik Adam yang sudah naik ke atas tubuh Hawa dan mengecup sekilas bibir gadis itu sembari menatap tajam ke arah matanya, dia menunggu jawaban dari Hawa.
Pikiran Hawa sudah melayang jauh menembus nirwana, dia tidak lagi bisa berpikir. Dengan perasaan memuja dan ga*irah yang sudah meledak dalam tubuhnya Hawa memberikan jawaban yang Adam inginkan.
"Aku juga sangat menginginkanmu dan aku adalah milikmu," bisiknya dengan suara lirih yang mampu mengirimkan gelegar dahsyat ke dalam tubuh Adam. Milik pria itu sudah tegak dan ingin masuk ke dalam sangkarnya, tempatnya biasa bermain dan juga melepas rindu.
Semuanya terasa indah, begitu mempesona, sangat berbeda dari hari-hari yang sebelumnya.
Perasaan bahagia dan terpuaskan itu membuat Hawa mengungkapkan isi hatinya pada Adam, mengucapkan kata-kata yang mungkin selama ini takut untuk dia katakan.
"Aku mencintaimu, Adam. Aku sangat mencintaimu," desahnya lirik, mengungkapkan isi hatinya kepada pria itu. Dia tidak peduli setelah mengatakan itu hal itu Adam akan marah atau bahkan memukulnya, biarlah yang terpenting dia sudah mengatakan isi hatinya.
Adam yang masih berada di dalam tubuh gadis itu hanya bisa memejamkan mata kala mendengar ungkapan perasaan Hawa. Dia tidak bisa menjawab atau membalas perkataan itu walaupun dalam hatinya dia merasakan hal yang sama terhadap gadis itu.
__ADS_1
Apa artinya mereka saling mencintai, Toh, mereka tidak akan bisa bersama!
Tubuh keduanya masih menyatu, Adam yang semakin terbakar membalikkan posisi, membiarkan Hawa duduk di atas pangkuannya.
"Ayo, Sayang, lakukan apa yang kau inginkan pada tubuhku, aku hanya milikmu," ucap Adam, menarik tengkuk Hawa dan memberikan ciuman yang panas ke bibir gadis itu, setelahnya Hawa mulai bergerak di atas tubuh Adam seperti pemain rodeo yang dengan lihainya menjinakkan senjata Adam yang begitu keras memenuhi rahimnya.
Adam masih memikirkan pernyataan Cinta dari Hawa sembari sembari gadis itu terus bergerak di atas tubuhnya, kini gairah Adam mengambil alih, dia sudah terbakar dan hampir sampai di ujung. Dia kembali memposisikan tubuh Hawa di bawah hingga dia yang bisa mengambil alih dan memuaskan keduanya.
Adam menghapus semua harapan tentang cinta di antara mereka, mempercepat laju gerakannya hingga tubuhnya meledak dan mereka berdua kembali terhempas ke bumi setelah menggapai kenikmatan yang begitu dahsyat. Adam menyemburkan bukti gairahnya di dalam tubuh Hawa, seperti biasa yang dia lakukan setiap mereka bercinta.
"Kau adalah wanita yang paling cantik dan yang paling mempesona yang pernah kutemui. Aku minta maaf, Wa, karena tidak bisa membalas perasaanmu, bukan karena aku tidak mencintaimu tapi memang kita tidak bisa ditakdirkan untuk bersama dalam ikatan pernikahan," bisik Adam sembari membelai pipi Hawa yang sudah tertidur kelelahan karena bercinta dengan begitu ganasnya malam ini, tanpa pria itu sadari air matanya jatuh di pipi Hawa. Adam begitu larut dalam kesedihannya.
Sementara Adam yang tidak bisa memejamkan mata hanya bisa menatap dan membelai wajah Hawa yang saat ini berbaring di sampingnya.
"Wa, bisakah selamanya kau ada di sisiku, walau hanya menjadi simpananku? Aku sungguh tidak bisa melepaskanmu!" ucap Adam yang terus memandang wajah Hawa yang tengah terlelap.
Adam takut malam ini akan segera berakhir dan dia harus kembali pada kenyataan bahwa kehidupannya akan terikat oleh pernikahan dengan wanita yang tidak dia cintai. Sebenarnya dia ingin sekali membalas ucapan Hawa dan mengatakan kalau dia juga mencintai gadis itu, tapi apa gunanya?
Tidak ada yang bisa menerima hubungan mereka termasuk ibunya. Adam teringat kembali percakapannya dengan ibunya kala wanita itu memintanya untuk menikah dan Adam mengatakan kalau dirinya sudah mempunyai calon.
"Ibu senang mendengarnya, kau tidak pernah cerita kalau ternyata kau sudah punya kekasih. Perkenalkan lah dengan ibu. Apakah ibu mengenalnya? Dia berasal dari keluarga mana?" tanya wanita itu mengintrogasi.
Adam diam sesaat, menarik nafas panjang untuk merangkai kata yang akan diucapkan kepada ibunya. Adam tahu ini tidaklah mudah, apapun yang dia katakan, ibunya pasti akan sulit untuk menerima.
__ADS_1
"Dia berasal dari keluarga sederhana, bukan dari keluarga terpandang dan kaya raya, Bu. Dia juga bukan dari kota ini, dia hanya bekerja di sini," jawab Adam dengan datar.
"Kalau begitu lupakan dia! Ibu tidak akan pernah menerima gadis seperti itu!"