
Malam itu hujan turun dengan derasnya. Sudah pukul 02.00 pagi, Hawa masih tidak bisa terpejam lagi, perutnya terasa sakit, dia terbangun satu jam lalu, karena sesak di dadanya dan juga sakit yang menghantam di perutnya. Awalnya dia pikir itu hanya sakit perut biasa tapi ketika memeriksa ke kamar mandi dan melihat pakaian yang sudah basah membuat wanita itu ketakutan, bergegas dengan langkah terseok, dan tertatih dia mengetuk pintu kamar ibunya.
"Ibu perutku sakit, sepertinya aku akan melahirkan, Bu," rintih Hawa terus menggedor pintu kamar ibunya dengan sisa tenaga yang dia punya, dia lemas dan juga merasa tidak berdaya.
Mendengar teriakan putrinya Bu Marni buru-buru membuka pintu dan tak lupa membangunkan suaminya. Bertiga mereka bergegas berangkat menuju klinik Bu Tini. Hawa dibonceng oleh ayahnya, menggenggam erat pinggang sang ayah ketika merasakan sakit itu muncul kembali, sementara Bu Marni berjalan kaki dengan payung di tangannya menerobos hujan.
Beruntung Bu Tini dengan sigap menangani Hawa. Wanita itu mengatakan air ketubannya sudah hampir habis. Hawa segera dipersiapkan untuk melakukan persalinan yang memang sudah waktunya.
Selama awal berjuang di dalam ruangan persalinan, Tarjo di dalam hatinya berdoa kepada Tuhan agar putrinya diberi keselamatan begitupun dengan cucu mereka.
Sama halnya dengan Bu Marni yang terus menggenggam tangan Hawa sembari melantunkan doa di telinganya, mengusap kening putrinya dan memberikan kalimat penyemangat untuk Hawa.
"Berjuanglah Nak, demi putramu. Kau akan menjadi seorang ibu, inilah nikmatnya menjadi seorang wanita bisa melahirkan seorang anak yang kelak akan menjadi pelindungmu. Ibu percaya anakmu akan menjadi anak yang baik," ucap Bu Marni penuh haru, mengusap rambut Hawa penuh kasih.
Mendengar hal itu ada kekuatan baru dalam tubuh Hawa yang muncul begitu saja dia begitu bersemangat untuk melihat putranya lahir ke dunia ini, buah cintanya bersama Adam.
Hawa mendengar aba-aba yang diucapkan ibu Tini, dia mengikuti instruksi wanita itu berumur empat puluh tahun lebih itu.
Dan tepat saat Bu Tini memberikan aba-aba yang terakhir agar Hawa mendorong dengan sekuat tenaga, yang membawa seorang anak manusia lahir ke dunia.
__ADS_1
Tangisan pertama anak itu pecah menggema di ruangan itu, bersamaan dengan tangisan Hawa dan juga Marni yang saling berpelukan.
"Selamat, Nak. kamu sudah jadi ibu. Putramu sehat juga begitu tampan," ujar Bu Marni dengan suara bergetar, air matanya sudah terkuras sejak tadi.
Perjuangan Hawa begitu luar biasa, bahkan umurnya belum genap 20 tahun tapi wanita itu kini sudah menjadi seorang ibu. Dia sudah memenuhi salah satu takdirnya yaitu menjadi seorang ibu. Mungkin untuk saat ini takdirnya menjadi seorang istri belum terpenuhi tapi Bu Marni percaya suatu hari akan ada pria baik yang mau menerima Hawa dan putranya.
Pak Tarjo masuk ke ruangan, dia menggantikan peran Adam mengazani putra Hawa. Wajah anak itu begitu tenang seolah semua sudah digariskan. Takdir berpihak kepada Hawa, begitu anak itu lahir dan mencoba mencari sumber kehidupannya Hawa pun bisa mengasihi anak itu.
Dua hari Hawa dirawat di klinik, akhirnya Hawa diperbolehkan pulang oleh Tini. Bidan itu berjanji selama satu minggu dia akan datang mengontrol bayi itu dan memandikannya, sekaligus mengajari Hawa bagaimana cara memandikan bayi.
"Bayimu begitu tampan, hidungnya mancung dan kulitnya putih bersih. Maaf pasti Papanya ganteng, ya?" ucap Bu Tini kala memandikan anak itu.
"Benar Bu, ayahnya sangat tampan. Dia mirip sekali dengan ayahnya," ucap Hawa tanpa sadar.
"Bunda sangat mencintai kamu, Sayang. Maafkan Bunda, karena tidak bisa memberikan kehidupan yang sempurna untuk kamu. Kamu memang tidak mempunyai ayah di sisimu, tapi Bunda janji kamu tidak akan pernah kekurangan kasih sayang. Bunda akan menjadi Ibu sekaligus ayah untuk kamu. Kita berdua akan saling menjaga, hidup Bunda hanya untuk kamu. Terima kasih sudah menjadi anakku dan lahir dari rahimku," bisik Hawa mengecup kening bayi itu dan tidur di sampingnya, merajut mimpi bertemu dengan pria yang mereka cintai walaupun hanya sekedar di dalam mimpi.
***
"Aku kasihan padamu, sampai sekarang ternyata Adam tidak mau menyentuhmu! Buka matamu, dia tidak pernah suka padamu! kalau aku jadi kamu, aku pasti akan minta cerai," ucap Reka pagi itu, seperti biasa menyerang mental Sarah agar wanita itu menyerah dan pergi dari kediaman Mahesa.
__ADS_1
"Terima kasih untuk sarannya, tapi maaf aku lebih memilih berada di samping Adam. Setidaknya aku masih bisa melihatnya tidur dan menyentuh tubuh kekarnya daripada kau hanya bermain dengan imajinasimu, memelihara impian dan juga fantasimu bersama Adam. Kau sungguh menyedihkan, Reka!" balas Sarah yang tidak lagi tinggal diam setiap ditindas wanita itu. Cukup sudah baginya menghormati wanita itu selama tiga bulan setelah mereka menikah.
Harusnya Reka sadar diri, mengatakan kehidupan Sarah yang menyedihkan karena tidak disentuh oleh Adam sementara dia sendiri pun belum mempunyai anak. Pernikahan mereka yang sudah menginjak dua tahun sama sekali tidak ada perubahan.
Tapi Reka tidak terbebani akan hal itu, dia tidak peduli apakah dia bisa memberikan keturunan kepada keluarga Mahesa atau tidak, selama suaminya tunduk kepadanya dan dia dipenuhi dengan uang yang melimpah, maka Reka bisa menikmati kehidupannya.
Dua bulan sekali dia akan pergi ke luar negeri bersama teman-temannya menghabiskan waktu dan menghabiskan uang keluarga Mahesa. Bahkan bukan rahasia umum lagi bahwa gadis itu juga berselingkuh di belakang Gara, tapi dengan pintarnya gadis itu mengemas dirinya dan tetap menunjukkan figur seorang istri yang baik sehingga Gara tidak pernah mencurigainya.
Perkataan Reka tentu saja menyakitkan hati Sarah. Dia memilih untuk pergi dari rumah itu. Toh, saat ini juga Adam sedang berada di Kalimantan mengurus bisnisnya, dia memilih untuk menginap di rumah orang tuanya setelah minta izin kepada Ibu Dewi.
Siang itu Tiger datang ke kediaman Mahesa. Dia memang tidak ikut dengan Adam ke Kalimantan karena ada tugas yang diberikan Ibu Dewi untuknya.
"Bagaimana?" tanya Ibu Dewi dengan tidak sabar.
Saya sudah menyelidiki, Nyonya. Tuan Daniel tidak ada di sana, dia sudah kembali dari Jerman dan kabarnya Dia sedang melanjutkan kuliahnya mengambil spesialis bedah di Belanda," terang Tiger memberi laporan.
Ibu Dewi hanya manggut-manggut mendengarkan penjelasan Tiger. Entah sampai kapan dia akan bisa membawa putra bungsu keluarga Mahesa itu ke rumah ini. Anak itu begitu membenci dirinya yang dianggap sebagai diktator berhati dingin dan membuat hidupnya menjadi sengsara.
"Satu lagi, Tiger," ucap Ibu Dewi ketika pria itu pamit pergi.
__ADS_1
"Apakah semua baik-baik saja? Adam tidak pernah mencari keberadaan wanita itu, bukan?" tanyanya memastikan.
"Anda tidak perlu khawatir, Nyonya. Tuan Adam mungkin sudah melupakan nona Hawa," ucap Tiger berbohong. Dia'lah yang tahu bahwa setiap malam bosnya itu menyiksa dirinya hanya karena menahan rindu pada wanita bernama Hawa.