Hawa untuk Adam (Simpanan CEO Arogant)

Hawa untuk Adam (Simpanan CEO Arogant)
HUA: Curiga


__ADS_3

Hawa buru-buru membersihkan ruangan Adam, beruntung pria itu tidak langsung ke kantor pagi itu, hingga dia masih sempat melakukan tugasnya.


Hawa diturunkan ditempat biasa, sementara Adam tidak jadi pergi ke kantor karena di tengah jalan mendapat telepon yang Hawa tebak itu adalah dari ibunya.


Selesai membersihkan lantai dan seluruh ruangan, Hawa mengambil tempat sampah hendak membuang isinya, namun matanya menangkap sebuah foto berukuran kecil yang sudah disobek.


Hawa tidak kenal dengan orang yang ada di foto itu. Hawa melihat, satu lagi potongan foto itu dia temukan tidak jauh dari bawah kolong meja dan saat menyatukannya, Hawa tahu, wanita yang ada di foto itu adalah kekasih Adam karena dia juga ada di dalam sana.


Dia bingung harus membuang foto itu atau meletakkannya di atas meja, namun melihat foto itu sudah dirobek yang artinya Adam tidak menginginkan lagi, tapi bagaimana kalau nanti pria itu mencarinya? bimbang Hawa.


Setelah memutuskan, dia memasukkan kembali potongan foto itu dan membuangnya ke tempat sampah lalu menyatukan semua sampah dalam kantong plastik besar untuk dibawanya keluar.


***


"Kamu bawa makanan apa hari ini?" tanya Susan antusias. Mereka tidak lagi pergi ke kantin untuk makan siang seperti biasa, berkat Hawa mereka bisa menghemat uang dan makan di ruang pantry, sementara teman-teman yang lain berlomba pergi ke kantin.


Hawa segera mengambil tas tempat bekal makan siangnya, lalu tersenyum kepada kedua temannya. Dengan penuh rasa bangga menyajikan di atas meja tiga kotak bekal makanan untuk mereka bertiga yang berhasil membuat wajah Susi semringah.


"Wah, enak banget. Bekal yang kamu bawa kok semuanya enak-enakan Wa, dan lagi ikan dan ayam kan mahal, kamu punya uang dari mana bawain kita makan begini terus? mana sayurnya paket komplit ada jamur kuping dan juga baso ikannya," tanya Rangga, sesama OB yang juga baik pada Hawa, menelan salivanya, air liurnya hampir menetes karena begitu ngiler melihat makanan di hadapannya itu. Harusnya bekal itu untuk Jos, tapi pria itu tidak masuk kerja.


"Iya benar. Kamu baru seminggu kerja di sini. Beli bahan makanan ini pasti mahal. memangnya kamu kerja di mana sih, sebelum masuk di sini?" tanya Susi penasaran, niatnya untuk memulai makan jadi berhenti, dan meletakkan sendoknya lalu menatap serius ke arah Hawa.


Gadis itu tentu saja gugup, dan mengumpat kebodohannya dalam hati. Dia tidak menduga bahwa akan ada pertanyaan seperti itu dari teman-temannya.


Kini Rangga justru ikut-ikutan menunggu jawaban dari Hawa, sementara gadis itu memutar bola matanya berpikir mencari jawaban yang tepat yang akan dikatakannya kepada kedua temannya itu.

__ADS_1


"Itu, aku... Aku sebenarnya, Aku pulang dari sini bekerja pada orang lain."


"Maksudnya?" susul Susi, dia memajukan tubuhnya agar lebih fokus mendengar Hawa.


"Jadi aku diminta untuk membersihkan rumah seseorang sekaligus menjaga rumah itu dan balasannya yang punya tempat itu menyediakan bahan makanan untukku," ucapnya berimprovisasi. Hawa masih ketar-ketir, takut kalau Rangga ataupun Susi melemparkan pertanyaan lagi kepadanya.


"Pembokat maksudnya?" susul Susi semakin penasaran.


"Eh iya benar. Kebetulan yang punya tempat tidak ada di sini jadi dia menitipkan rumahnya untuk aku jaga."


"Nah, terus gimana cara dia ngasih duit beli bahan-bahan makanan ini?" tanya Rangga. Ingin rasanya Hawa mencubit pipi Rangga, pria itu mencecarnya dengan pertanyaan yang begitu mendetail.


"Itu..." Hawa kembali gugup, dia mulai berpikir untuk mencari jawaban atas pertanyaan Rangga.


"Apa Wa, kok kamu jadi gugup dan keringatan begini?" tanya Susi.


"Ada seseorang, sekali seminggu mengantarkan bahan makanan untukku."


"Berapa kamu digaji?" tanya Susi yang semakin kepo.


"Sebenarnya pemilik rumah tidak menggajiku, tapi sepadan karena dia sudah memberikan aku tempat tinggal dan juga bahan makanan jadi aku anggap saja itu untuk membayar tenagaku menjaga dan membersihkan rumahnya," jawab Hawa tersenyum.


Kini dia bisa bernapas lega karena tampaknya kedua sahabatnya itu percaya. Mereka mulai menikmati makanan yang dibawa Hawa.


"Kamu tahu nggak, Wa, aku senang banget kamu bisa masuk ke sini. Tanpa kamu sadari dengan memberikan kami makan siang seperti ini kamu sudah membantu keuangan kami. Hanya saja saat ini anakku lagi sakit, belum dibawa ke dokter karena aku tidak punya uang. Aku mau kasbon tapi tahu sendiri personalia bagaimana bisa-bisa aku dibentak," ucap Susi merujuk kepada Desi bagian personalia yang menangani masalah gaji di perusahaan itu

__ADS_1


"Maaf, Sus. Kalau boleh tanya memangnya suami kamu nggak kerja?" tanya Hawa.


Dia mengerti, banyak kebutuhan dalam rumah tangga dan lagi karena kini Susi sudah punya anak otomatis kebutuhan menjadi berlipat kali ganda. Menurut Hawa, Susi terlalu muda untuk menikah kalau mengikutkan kehidupan orang yang lahir dan tinggal di kota besar seperti ini, beda jauh dengan orang-orang di desanya. Bahkan gadis putus sekolah yang jauh di bawah umur Hawa banyak yang sudah menikah. Teman-temannya juga selesai sekolah tidak melanjutkan kuliah, memilih untuk menikah dengan kekasih mereka ataupun dijodohkan oleh orang tuanya.


"Dulu suamiku sopir ojek, tapi saat ini dia sudah berhenti. Alasannya ya itu, motor ditarik dealer karena gak sanggup bayar cicilan," jawab Susi menerangkan.


"Terus motor yang kemarin yang dipakai sama suami menjemputmu itu?" tanya Hawa. Dia bukannya tidak percaya kepada Susi, hanya penasaran.


"Punya tetangga, Wa. Ya, kalau misalkan tetanggaku udah pulang kerja, suamiku akan pinjam motornya untuk menjemputku, paling kami hanya mengganti bensinnya yang habis kepake," terang Susi.


Kantor mereka memang tidak dilalui akses bus atau angkutan umum, sehingga untuk ongkos pulang pergi mereka harus naik ojek online dengan biaya yang lumayan.


Hawa yang terharu meraih tasnya yang berada di dekatnya, lalu meletakkan di atas pangkuannya. Hawa mengambil tiga lembar uang merah yang ada di dalam dompetnya, melipatnya kecil lalu menyelipkan ke tangan Susi.


"Buat berobat anak kamu. Bawa dia berobat, Sus. Kasihan masih kecil," ucap Hawa.


Susi menggenggam uang yang diberikan Hawa, menatap wanita itu dengan mata berkaca-kaca. Mereka belum ada seminggu berkenalan dan menjadi teman tapi Hawa sudah banyak membantunya tanpa berpikir dua kali.


"Aku jadi nggak enak hati nih, aku belum bisa bantu kamu, Sus. Kamu tahu sendiri seperti yang aku bilang kemarin, aku baru ngirim sama orang tuaku," ucap Rangga merasa tidak enak hati.


Rangga memang lebih lama bekerja dari kedua gadis itu, yang otomatis gajinya pasti lebih banyak, tapi dia sendiri juga memiliki tanggungan yang cukup banyak. Dia masih punya adik yang bersekolah serta kakaknya yang saat ini baru saja melahirkan. Seharusnya itu semua menjadi tanggung jawab Abang iparnya. Namun, pria brengsek itu justru kabur meninggalkan kakaknya yang sedang hamil tua saat itu demi menikah dengan wanita lain.


***


"Ayo, Wa. Aku antar pulang," ajak Rangga yang melihat gadis itu berdiri di tepi jalan menunggu ojek onlinenya.

__ADS_1


"Gak usah, Ga. Lagi pula aku udah order," sahut Hawa. Tapi tiba-tiba ponselnya berdering, dari aplikasi ojol yang mengatakan agar dirinya membatalkan pesanan, karena si sopir tidak bisa ke sana, harus pulang karena ada keluarganya yang sakit.


__ADS_2