Hawa untuk Adam (Simpanan CEO Arogant)

Hawa untuk Adam (Simpanan CEO Arogant)
HUA : Cemburu


__ADS_3

Sejak berita yang disampaikan Mita padanya, Hawa mulai menata hati, dia menyadari cepat atau lambat posisinya akan tersingkir. Dalam surat perjanjian itu juga disebutkan bahwa yang bisa membatalkan perjanjian sewaktu-waktu adalah pihak pertama yang artinya adalah Adam.


Tidak harus setahun, bisa saja besok, lusa atau bukan depan dia sudah diminta pergi.


Kalau memang Adam sudah bosan padanya dan ingin mengakhiri hubungan mereka bukankah selayaknya pria itu mengatakannya kepada Hawa, bagaimanapun dia seorang wanita bukan benda. Dia mempunyai hati dan juga perasaan, bisa bersedih dan bergembira.


"Kenapa wajahmu tampak begitu sedih? Ada masalah apa?" tanya Adam menatap Hawa yang baru saja keluar dari kamar mandi, begitu selesai melakukan tugasnya, segera membersihkan tubuhnya, tidak seperti biasanya menemani Adam di atas ranjang saling berpelukan dan bercerita.


"Hah? Nggak ada kok," ucapnya gelagapan, mencoba tersenyum.


Kalau saja dia bisa mengikuti kata hatinya Hawa ingin sekali bertanya kepada pria itu mengenai apa yang diceritakan Mita padanya tempo hari namun, dia tidak punya keberanian. Kalau dia melakukan hal itu, berarti melanggar isi kontrak yaitu tidak boleh bertanya atau ikut campur dengan masalah pribadi pihak pertama.


"Ayolah aku tidak suka melihat kerutan di keningmu. Aku ingin saat bersamamu selalu melihat wajahmu yang cantik dengan senyummu yang begitu mempesona. Kemarilah, Sayang," ucap Adam mengulurkan tangannya.


Pelayan tetaplah pelayan, Hawa menurut dan masuk ke dalam pelukan pria itu.


***


Makan siang sudah berlalu dan Hawa diberi tugas oleh Jos untuk membersihkan lantai empat tempat ruangan personalia.


"Biar aku bantu. Aku lagi kosong, semua kerjaan ku sudah selesai," ucap Rangga yang berjalan mengejar langkah Hawa.


Hawa tidak ingin mendebat. Dia tahu kalaupun dia menyuruh pria itu untuk pergi, Rangga akan terus memaksa agar Hawa menerima bantuannya.


"Permisi, Mbak, katanya ada lantai yang mau dibersihkan ya?" tanya Hawa pada wanita yang pertama kali dia temui di dalam ruangan itu.

__ADS_1


"Oh iya, ini tadi ketumpahan. Sorry ngerepotin," jawab wanita itu dengan sopan. Hawa mengangguk dan mulai mengerjakan pekerjaannya yang dibantu dengan Rangga mengangkut sampah-sampah dari tong sampah masing-masing di setiap sisi meja. Padahal baru tadi pagi sampah diangkut dari ruangan itu, siang ini sudah penuh kembali.


"Patah hati deh gue, ternyata ceweknya cakep banget, gue denger-denger itu tunangannya lagi," ucap salah seorang wanita yang duduk di samping Desi.


Hawa hanya mengenal Desi, karena wanita itu terkenal cerewet dan juga suka nyinyir di antara semua bagian personalia.


"Serius loh, cakep sih dia. Wajar bos Adam jatuh cinta dan mau segera melamar wanita itu, cocok sih berdua. Semoga pak Adam bahagia deh," balas yang lain.


Tangan Hawa membersihkan lantai dengan gesit namun telinga dan juga pikirannya fokus kepada pembicaraan ketiga gadis itu.


"Tunangan katanya?" batin Hawa memejamkan mata, dadanya mulai sesak. "Kenapa Adam tidak pernah bercerita mengenai tunangan yang sudah kembali?"


Saat menandatangani perjanjian itu sekilas Adam bercerita mengenai dirinya yang sudah dijodohkan dan setelah gadis itu kembali nanti, dia akan segera mengakhiri kontrak kerja mereka, yang Hawa tahu gadis itu saat ini kuliah di luar negeri dan satu tahun kemudian akan kembali ke sini tepat saat mereka juga akan mengakhiri perjanjian tersebut.


"Lantas kenapa gadis itu sudah ada di sini?" batin Hawa terus menerka-nerka, apa mungkin yang dimaksudkan Mita ketika bertemu dengan Adam dan seorang wanita di restoran itu adalah tunangannya ini?


"Lo ngapain melongok-melongok di situ?" fokus dong Lo, yang basah dimana, yang lo pel dimana," maki Desi.


Hawa pun sadar dan segera menuntaskan pekerjaannya dan pergi dari sana, dia sudah mendengar lebih daripada cukup.


"Kenapa wajah kamu kok jadi pucat begitu? Apa mereka marah sama kamu?" tanya Rangga yang membersihkan dinding kaca di ruangan personalia.


"Enggak kok, udah selesai dari dalam. Kamu udah selesai belum, biar aku bantuin"' ucap Hawa melihat ada setengah lagi dinding yang belum dibersihkan oleh Rangga. Dia pun tidak tinggal diam, mengambil kanebo dan segera ikut membersihkan.


Saat mereka asyik membersihkan dinding itu tanpa Hawa tahu Tiger dan Adam melintas, tapi yang menarik perhatian adalah di sisi Adam berjalan seorang gadis yang begitu cantik, bukan lebih daripada kata cantik, wanita itu sempurna.

__ADS_1


Dia berjalan dengan menggandeng tangan Adam menuju lift.


Hawa berharap kalau mereka tidak melihat dirinya ada di sana, bukan karena takut dimarahi Adam, tapi dia tidak ingin pria itu tahu bahwa dia melihat semua itu, tapi sial baginya memiliki teman yang super heboh, seperti Rangga.


"Siang Pak Adam, selamat ya, Pak. Saya dengar dari beberapa karyawan bapak akan bertunangan."


Sapaan Rangga berhasil membuat Adam, Tiger dan wanita itu berbalik ke arah mereka. Hawa ingin sekali membenamkan wajahnya di dinding cermin itu dan pura-pura menjadi patung di sana, tapi tentu saja tidak mungkin, kan?


Tadi dia pikir dirinya sudah selamat, ketika ketiganya lewat tanpa memperhatikan keberadaan mereka tapi gara-gara Rangga, Adam kini menyadari keberadaan Hawa di sana.


Dia benci harus melihat tatapan Adam seperti itu kepadanya, tatapan kasihan atau justru tatapan menjijikkan pada Hawa. Namun, Hawa tidak tertarik untuk melihat pandangan Adam lagi, dia melirik dengan takut-takut ke arah wanita itu.


Hawa belum pernah melihat wanita secantik itu. Kulitnya bersih, putih begitupun wajahnya, Bahkan rambutnya tergerai begitu indah.


Hawa tidak tahu bahwa ada ciptaan Tuhan secantik dia. Gadis itu seperti boneka yang dipajang di etalase toko, benar-benar sangat sempurna.


Sementara itu Adam menatap Rangga dengan tatapan mematikan. Dia benci kepada pria itu, karena tidak bisa menjaga mulutnya. Dia tahu perubahan wajah Hawa karena ucapan Rangga, mungkin saja memang Wanita itu sudah mendengar perihal pertunangannya dengan Sarah.


"Terima kasih," ucap Adam dingin. Namun, saat dia berbicara bukan Rangga yang diperhatikan tapi wajah Hawa yang menunduk, dia bisa melihat kesedihan itu, tapi Adam tidak bisa berbuat apa-apa, salah sendiri mengapa dia harus bersedih!


Bukankah sudah Adam katakan, bahwa jangan main hati dan lagi pula mereka hanya sebatas partner kerja, terserah Adam kapan dia akan memutuskan kontrak dan mendepak gadis itu.


Telinganya mendengar langkah ketiganya yang semakin menjauh membuat Hawa baru berani mengangkat wajahnya. Dia sudah tidak bisa menahan tetes air matanya, segera berlalu dari sana dan menghapus riak bening itu sebelum Rangga atau siapapun temannya melihatnya menangis.


Baru empat bulan, melihat semua yang terjadi saat ini, kesepakatan ini tidak akan sampai setahun, dia akan segera didepak dari apartemen pria itu, bahkan dari hidup Adam.

__ADS_1


Hawa meletakkan tasnya begitu tiba di apartemen. Dia begitu lelah dan pikirannya kalut. Hanya membuka sepatu tanpa mengganti pakaian di berbaring di ranjang mencoba memejamkan matanya agar bisa beristirahat tapi kenyataannya begitu sulit.


Ponselnya di dalam tas kembali membuat Hawa terduduk. Diamatinya layar ponselnya sebelum sempat mengangkat panggilan itu sudah berakhir. 20 panggilan dari Adam dan 3 pesan yang memaki dirinya karena berani tidak mengangkat telepon sang Penguasa.


__ADS_2