
Tidak ada seorangpun yang tahu bagaimana takdir akan memeluk diri, ada kalanya sudah berlari sejauh mungkin, sudah bersembunyi ke tempat yang paling dalam sekalipun tetap saja, kalau semesta sudah menakdirkan untuk bertemu maka tidak ada jalan lain untuk menghindar.
Hawa memperhatikan sekeliling rumah ketika mobil dokter Carlton berhenti di depan sebuah rumah megah dan mewah yang banyak ditumbuhi tanaman di halaman depan itu. Tampak asri dan tertata indah.
Seumur hidupnya Hawa belum pernah melihat rumah semegah itu. Rumah itu bak istana, yang sering dilihat di sinetron yang sering ditonton ibunya di kampung.
"Ini rumah siapa?" tanya Hawa takut untuk turun dari mobil. Firasatnya mengatakan bahwa dia akan mendapatkan masalah dengan orang yang tinggal di dalamnya. Entahlah, Hawa bukan mau suudzon sama pemilik rumah, tapi itu yang dia rasakan saat ini.
"Ini rumah orang tuaku. Aku ingin memperkenalkan mu dengan keluargaku," ucap dokter Carlton membantu Hawa membuka seatbelt-nya. Dia menoleh ke belakang melihat Raja yang sudah tertidur pulas. "Keluarlah, aku akan menggendong Raja," lanjutnya.
"Tunggu dulu, sejujurnya aku takut dan bagaimana kalau keluargamu tidak bisa menerimaku dan juga raja?" tanya Hawa mengeluarkan beban dalam pikirannya dia harus menanyakan pendapat pria itu.
Sejujurnya dia tidak menduga kalau Daniel Carlton adalah anak orang kaya, dia tahu kebanyakan orang yang berprofesi sebagai dokter itu berasal dari keluarga berada, tapi tidak sekaya ini juga, tentu saja Hawa beralasan untuk minder ikut bersama Daniel ke rumah itu. Siapa Hawa? dia hanya gadis desa yang memiliki anak tanpa seorang suami, pengangguran dan juga beban keluarga.
"Aku sudah lama tidak pulang, tidak ada yang perlu kamu takutkan. Tidak akan ada yang tahu kalau Raja bukan anakku. Aku akan mengatakan kepada mereka bahwa dia adalah darah dagingku, kita menikah lima tahun yang lalu di sebuah desa ketika aku tugas di sana," terang dokter itu mencoba menenangkan hati dan pikiran Hawa.
Hawa memandang pria itu, hatinya begitu mulia demi menyelamatkan harga dirinya di depan keluarga, dia mau mengakui Raja sebagai anaknya. Kini, Hawa sudah bisa tenang.
"Kita keluar sekarang ya. Aku sudah mengabarkan kepulanganku kepada keluargaku, mereka pasti sedang berkumpul di rumah menunggu kita. Ibu pasti sedang memasak untuk menjamu kita makan malam, keluarlah aku akan menggendong Raja," ucap Daniel dengan lembut.
__ADS_1
Pria itu baru saja akan menggendong Raja dengan perlahan agar tidak membangunkan anak itu, tapi ternyata gerakannya justru membuat Raja terjaga lalu anak itu menggandeng tangannya berjalan menuju Hawa yang sudah menunggu mereka di depan teras rumah.
Jantung Hawa berdebar dengan kencang. Dia berdoa semoga keluarga suaminya bisa menerima keberadaannya dan tidak bertanya macam-macam mengenai pertemuan dan juga kisah mereka hingga menjadi dekat dan memutuskan untuk menikah, karena sejujurnya Hawa juga tidak mengenal pribadi suaminya. Mereka hanya berkenalan beberapa minggu di rumah sakit lalu karena permintaan ayahnya harus menikah. Tapi, setelah berbulan menikah Hawa yakin suaminya adalah pria yang baik walaupun sedikit tertutup dan tidak pernah bercerita mengenai diri dan keluarganya.
Namun, ternyata langkah Hawa salah. Seharusnya dia tidak pernah menginjakkan kaki di rumah itu karena apa yang dia lihat saat ini sungguh membuatnya terperanjat, kakinya bergetar, dadanya bergemuruh. Dia hampir saja pingsan di tempatnya saat ini berdiri.
"Selamat datang, Ibu senang sekali kau akhirnya pulang," ucap wanita itu mendekati Carlton dan memeluk pria itu.
Daniel pun menyambut pelukan ibundanya, walau mimik wajahnya tidak secerah wajah wanita itu. Carlton hanya menunjukkan senyum datar dan lebih tepatnya tanpa ekspresi. Lalu ada abang ipar dan juga istrinya yang menyambut kedatangan mereka. Hawa menebak bahwa kali pertama saja melihat dirinya wanita yang bernama Reka itu sudah tidak menyukai dirinya.
Hawa diam seribu bahasa, dia tidak tahu mau bicara apa, ingin berlari dari sana namun tangan Raja tetap menggenggam tangan Carlton dengan erat, Dia tidak mungkin pergi dari rumah itu sendirian. Tapi satu hal yang sedikit membuatnya bisa bernapas walaupun dalam kesesakan yaitu mereka semua tidak mengenalnya.
"Ini istriku Hawa dan juga Raja putra kami," jawab Carlton dengan nada dingin namun dengan penuh ketegasan, dari caranya menjawab sudah bisa dimengerti bahwa dia tidak ingin memperpanjang pembicaraan itu.
"Ibu senang mendengar kamu sudah menikah bahkan sudah mempunyai anak, artinya ini adalah cucu pertama keluarga Mahesa," ucapnya sembari mengelus pipi Raja.
Raja yang memang selalu dididik dengan sopan santun dengan cepat mencium punggung tangan Bu Dewi yang membuat wanita itu tersenyum.
Aura Raja tidak bisa ditampik, sejak lahir siapapun yang melihatnya, pasti suka begitupun dengan hanya Dewi yang menunjukkan sikapnya menyukai Raja.
__ADS_1
Tapi justru itu yang membuat Hawa tidak tenang, kalau sampai wanita itu tahu siapa Raja, maka habislah dirinya.
"Selamat datang di keluarga ini Hawa," sapa Reka dan juga Gara, susah payah Hawa mengukir senyum di bibirnya, dia tidak tahu harus berkata apa lidahnya keluh, dia kehilangan kata-kata yang ada dalam pikirannya. Saat ini adalah kabur dan membawa Raja sejauh Mungkin.
"Duduklah sebentar lagi kita akan makan malam bersama. Kita menunggu abangmu turun kalian. Belum lapar'kan?" tanyanya Dewi menatap wajah Hawa.
"Hanya hanya tersenyum mencoba mengartikan apa arti pandangan wanita itu. Apakah Bu Dewi menyukai Hawa atau justru membencinya?
Kalau ada pepatah yang mengatakan Maha Kuasa sudah mengatur segalanya sesuai dengan tempat dan waktunya. Hawa ingat ketika wanita itu datang untuk memperingatkannya sekaligus mengusir dirinya ketika Hawa ingin keluar dari kamar mandi dia menolak untuk melihat wajah Hawa dan kini dia ada di hadapannya tanpa mengenali bahwa dirinya'lah yang menjadi simpanan putranya.
Hawa tidak pernah menduga bahwa Daniel carton adalah adik dari Adam Mahesa lantas mengapa nama belakang mereka tidak sama? banyak pertanyaan yang berkecamuk dalam!" pikiran Hawa
Tapi satu yang pasti Hawa harus menyiapkan mentalnya, dia harus tetap tenang dan tidak boleh menunjukkan kegugupan kalau nanti bertemu dengan Adam.
Salah seorang pelayan di rumah itu menyampaikan bahwa waktu untuk makan malam tiba. Bu Dewi mengajak mereka semua untuk pindah ke meja makan dan meminta pelayan itu memanggil Adam dan juga istrinya yang saat ini berada di kamar mereka.
Jantung Hawa hampir saja copot dari tempatnya. Ke mana dia harus bersembunyi? ini adalah detik-detik yang paling menegangkan dalam hidupnya setelah hampir 5 tahun. Mereka berpisah akhirnya malam ini, mereka bertemu kembali dan yang paling membuat Hawa semakin tidak percaya adalah mereka dipertemukan dalam suatu hubungan keluarga. Siapa yang menyangka, jika Hawa yang selama ini menjadi simpanan Adam kini berubah status menjadi adik iparnya.
Hawa akan memutuskan bicara dengan Daniel setelah acara makan malam ini usai. Dia akan jujur dan mengatakan bahwa dirinya adalah mantan simpanan Adam dan dia tidak mungkin melanjutkan pernikahan ini. Hawa janji selama sisa hidupnya dia tidak akan melupakan kebaikan dan yang sudah menolong memenuhi permintaan ayahnya.
__ADS_1
"Ayo, Wa, kita ke meja makan. Kenapa kamu gugup, tenang saja ada aku disini, tidak akan ada yang berani menyakitimu aku akan selalu ada di sisimu," ucap Daniel berbisik di telinganya dan sembari menggandeng tangannya.