Hawa untuk Adam (Simpanan CEO Arogant)

Hawa untuk Adam (Simpanan CEO Arogant)
HUA : Permintaan Maaf


__ADS_3

"Bu apa nanti ayah akan memarahiku? Dia pasti sangat kecewa kepadaku, kan? Apa yang harus ku katakan kepadanya nanti, Bu?" ucap Hawa dengan tetesan air mata yang masih saja membasahi pipinya, berjalan di samping ibundanya, menyusuri jalanan setapak menuju rumah mereka. Hatinya begitu kacau, dia bingung harus apa. Mana mungkin dia berani melihat wajah ayahnya setelah tahu keadaannya saat ini.


Bu Marni sendiri juga tidak tahu harus menjawab apa, dia ingin menenangkan hati putrinya yang saat ini begitu ketakutan namun, hatinya juga perlu ditenangkan. Dia bingung, pikirannya sudah berkecamuk oleh bayangan orang-orang kampung yang akan mencibir dan mengatai keluarga mereka.


Anaknya sudah salah langkah, seharusnya hukuman dari mereka berdua sebagai orang tua sudah cukup, lantas mengapa masyarakat di desa mereka ikut ambil andil?


Hawa tidak pernah merugikan penduduk kampung, bahkan uang yang pernah mereka pinjam kepada rentenir di desa itu juga sudah dibayar oleh Hawa. Biarlah mereka yang menanggung dosa yang sudah diperbuat putrinya, jangan lagi ditambah dengan cacian dan makian.


"Bu, aku takut pulang ke rumah. Apa sebaiknya aku pergi saja Bu? Pergi jauh, entah ke mana yang penting ayah dan ibu tidak malu sama warga kampung," ucap Hawa yang sangat merasa bersalah.


Mendengar penuturan Hawa, bertambah hancurnya perasaan Bu Marni. Kalau lah mereka keluarga terpandang seperti keluarga Pak Karno yang anaknya juga hamil oleh suami orang, tidak ada warga desa yang berani mengucilkan, mencemooh dan menghakimi mereka, berbeda dengan keluarga Hawa yang miskin, para warga akan dengan senang hati menyakiti mereka.


"Mau ke mana kamu akan pergi? Kalaupun dengan kepergianmu orang di desa tidak akan mencibir, tapi apakah ayah dan ibu tidak akan bisa tenang memikirkan keberadaan mu yang jauh dari kami dengan keadaan seperti ini. Ibu tidak setuju," jawab Bu Marni menggenggam tangan Hawa lebih erat, berharap sedikit saja bisa menularkan keberanian untuk putrinya itu.


Bu Marni bisa membayangkan bagaimana hancurnya perasaan suaminya nanti. Hawa adalah putri kebanggaan di mata suaminya, putrinya itu adalah permata sekaligus kehormatan baginya tapi nasi sudah menjadi bubur, kesalahan anak tidak serta-merta harus dihujat, sebagai orang tua yang bijak bagaimanapun tidak akan mungkin sanggup membuang anaknya sendiri yang sedang terperosok.


Wajah Pak Tarjo terlihat tidak sabar menunggu kepulangan istri dan juga putrinya, bertanya-tanya apa yang sebenarnya sudah terjadi. "Bagaimana hasil pemeriksaan Hawa?" tanya pria itu begitu melihat keduanya datang, dengan penuh semangat dan jantung yang berdebar kencang Pak Tarjo menyongsong kedatangan mereka.

__ADS_1


Setelah keduanya duduk pak Tarjo mengunci pintu. Rasa takut tentu saja ada sebagai manusia biasa, dia belum sanggup menghadapi semua warga desa dengan segala pertanyaan yang menyudutkan mereka. Pak Tarjo menutup pintu, dia berharap tidak ada seseorang yang datang ke rumah mereka karena melihat warung mereka tutup.


"Bagaimana Bu, anak kita baik-baik saja?" ulang Pak Tarjo yang duduk di dekat istrinya, sementara Hawa di seberang menunduk dan mulai menangis tersedu-sedu. Melihat tangisan putrinya, dia tidak memerlukan jawaban dari sang istri, cukup dengan air mata Hawa saja sudah menjelaskan semuanya.


Tubuh Tarjo lemas. Pria itu menyandarkan punggungnya ke kursi dengan napas yang terasa sesak. Ada himpitan di dadanya, bebannya begitu berat. Dia sudah bisa membayangkan apa yang akan terjadi di kemudian hari.


Melihat kondisi ayahnya, Hawa bangkit berjalan dan tersungkur di hadapan kaki sang ayah.


"Ayah aku minta maaf, aku salah aku sudah mengecewakan ayah. Maafkan aku, Ayah," ucap Hawa dengan air mata yang terus berurai.


Rasa kecewa dan juga sedih yang dirasakan Pak Tarjo saat ini membuatnya tidak sanggup untuk menyentuh kepala putrinya walaupun bibirnya ingin sekali mengatakan, Jangan menangis lagi, Nak. Jangan takut ada ayah di sini! Semua itu terasa sulit untuk dikatakan.


"Bicaralah padaku, kalau memang Ayah tidak bisa memaafkanku, aku akan pergi dari sini, tapi aku mohon jangan pernah memusuhiku, Ayah. Kalau memang keadaanku ini membuat ayah dan ibu malu maka ijinkanlah aku pergi dari sini. Aku akan membawa aibku jauh sehingga ayah dan ibu tidak perlu menanggung malu atas dosa yang aku perbuat," ucap Hawa dengan terus-terusan memeluk kaki ayahnya, mohon ampun dan maaf dari pria itu. Dia sadar perbuatannya salah, dia menyesal sudah berzinah berbulan-bulan lamanya hanya karena berlandaskan rasa cinta dan uang, membuatnya bertahan menjadi simpanan seorang pria dan akibatnya dia hamil.


"Ibu Tini tadi mengatakan bahwa kandungan Hawa sudah dua bulan, Pak. Kalau untuk dibuang masih bisa," ucap Bu Marni pelan, menjelaskan komunikasinya dengan bidan itu.


"Aku nggak mau membuangnya, Bu. Ini darah dagingku, lebih baik ibu dan ayah membuangku saja, tapi tidak dengan anakku. Aku tidak akan membiarkan siapapun mengambil anakku," sambar Hawa yang tidak menyukai saran ibunya.

__ADS_1


Seketika wajah Pak Tarjo tegang, sudah dua kali istrinya mengatakan hal itu dan dia tidak suka.


"Bukankah sudah kukatakan kepadamu, buang pikiran seperti itu! Apa gunanya kau setiap malam sujud dan menengadahkan tangan berdoa kepada Tuhanmu, jika pikiran seperti itu masih kau pelihara?!" hardik Pak Tarjo yang begitu marah dengan istrinya.


"Lantas bagaimana, Pak? Jangan diam saja, kasih saran. Hawa tidak mungkin bisa menyembunyikan lebih lama kehamilannya, tetangga akan melihat dan pasti banyak pendapat miring dari mereka. Ibu udah siap kalau masalah siap untuk dihina, selama ini toh, mereka juga mencibir keluarga kita. Hanya karena Hawa sudah bisa membayar hutang-hutang kita saja, makanya mereka menghargai kita. Jadi, kalau mereka ingin kembali menghina kita seperti dulu tidak ada masalah bagi ibu," jawab Bu Marni. Dia hanya mengkhawatirkan kesehatan suaminya, apakah pria itu sanggup menerima perkataan orang-orang tentang Putri.


"Hawa tidak akan pergi kemana-mana. Dia akan di sini dan jangan pernah sekalipun berpikiran untuk membuang darah daging buah kesalahan dan dosanya, " jawab Pak Tarjo pada istrinya. "Dan kau Hawa, kamu harus bisa bertanggung jawab, kamu sudah dewasa ayah dan ibu akan selalu berada di sampingmu.


Hawa menengadah, setelah mendengar pendapat ayahnya. Dia bangkit dan memeluk ayahnya sembari menangis, betapa dia beruntung memiliki ayah dengan hati seluas samudra.


Sudah diputuskan, Hawa tetap tinggal bersama mereka. Pak Tarjo sudah menekankan kepada istrinya, mereka akan memelihara anak Hawa yang juga adalah cucu mereka.


"Sekarang katakan pada Ayah siapa ayah dari anakmu?" tanya Tarjo dengan nada yang bergetar.


Wajah Hawa pucat, menutup mulutnya rapat. Dia tidak ingin menyeret Adam dalam persoalan ini. Anak ini adalah miliknya, dia tidak akan membiarkan siapapun mengambilnya dari hidupnya.


"Aku tidak ingin menyebut namanya, Yah. Dia tidak tahu kalau aku mengandung anaknya."

__ADS_1


"Kenapa kau melindungi pria itu? Ayah akan menemanimu menemuinya dan meminta pertanggungjawaban atas perbuatannya."


"Ayah tidak mengerti, aku dan dia tidak mungkin bersama, karena dia sudah menikah!"


__ADS_2