
Jam makan siang tiba, Susi dan juga teman-temannya lain dengan penuh semangat bergegas menuju kantin awas sudah mengatakan kepada Susi bahwa dia membawa bekal dari rumah tapi karena Jos membujuk Hawa untuk ikut makan bersama di kantin sebagai penyambutan kedatangannya hal akhirnya mengikuti kemauan mereka.
Mereka memilih duduk di sudut ruangan, jauh dari beberapa karyawan yang juga makan di sana. Karena mereka merupakan strata paling bawah di perusahaan itu, banyak karyawan yang berkemeja dan juga memakai pakaian bagus memandang mereka sebelah mata dan menganggap mereka seperti bakteri yang perlu dijauhi.
"Kapan ya, kantin kita ini dikasih batasan. Kantin di perusahaan 'kan ada dua yang satu boleh deh buat mereka makan yang satunya lagi mereka harus dilarang buat datang ke situ biar kita makan dengan nyaman tanpa terganggu karena melihat ke arah mereka. Jujur gue jadi nggak nafsu makan tiap melihat mereka datang, kampungan dan norak," ucap salah satu wanita yang baru diketahui Hawa adalah kepala personalia.
Terang-terangan wanita bernama Desi itu menghina mereka, menguatkan suaranya agar apa yang diucapkan bisa dengan baik didengar oleh para OB.
"Pengen gua sumpel mulut betina itu. Dari dulu cari masalah melulu sama kita. Walau kita OB, kita juga karyawan, dan lebih lagi, kita ini manusia juga!" umpat Wati menggenggam erat sendok di tangannya.
"Udah, kita makan aja. Gak usah pedulikan mereka," timpal Jos setengah berbisik. Sebenarnya dia juga takut kalau sampai Desi mendengar perkataan teman-temannya.
"Wa, kamu bawa bekal apa? mau dong," ucap Susi yang siang itu memesan gado-gado.
Hawa membuka tas kecil berwarna hitam, tempat dia menyimpan bekalnya, ketika Hawa membuka kotak makan siangnya dan meletakkan di atas meja, keempat teman-temannya berlomba untuk mencicipi makanan yang dia bawa.
"Wah, enak sekali masakanmu, Wa. Sumpah ini lezat banget," ucap Jos mengambil kembali udang balado campur tahu yang Hawa bawa.
"Iya, bener enak banget kamu pinter masak ya, Wa?" tanya Susi dengan mulutnya yang penuh.
Akhirnya bekal makan siang Hawa dihabiskan oleh mereka berempat, walaupun mereka menawarkan agar Hawa ikut juga makan bekal yang dia bawa namun, Hawa dengan ikhlas memberikannya kepada mereka dan untuk makan siang Hawa hanya memesan suatu burger karena memang dia tidak lapar.
"Nggak papa habisin aja, di rumah juga masih ada. Kalau kalian mau, besok aku bawa lebih banyak lagi. Pokoknya setiap aku bawa bekal, aku akan bawa lebih banyak biar kita bisa berbagi," ucap Hawa yang disambut gembira temannya.
__ADS_1
Jam makan siang pun berakhir, mereka harus kembali ke belakang seperti biasa. Basecamp mereka adalah pantry, sesekali mereka akan berkeliling melihat lantai mana atau kaca mana yang harus mereka bersihkan.
"Kita nggak ada jalan lain ya selain lewat dari sini?" tanya Hawa dengan perasaan tidak enak ketika mereka melewati pintu depan tempat Hawa pagi tadi masuk ke dalam kantor ini.
"Memang jalannya hanya dari sini, Wa. Kalau dari pintu belakang males ah, di sana jalannya rada licin, lagian jauh kita mutar lagi," jawab Jos.
Hawa hanya terdiam, dia mengikuti langkah teman-temannya. Hawa sengaja berada di tengah bersembunyi dari tubuh Josh dan Susi yang memang lebih besar dari dirinya.
"Selamat siang, Pak," sapa Jos ketika mereka berpapasan dengan rombongan Adam. Gawat ini, hari pertama saja dia sudah melanggar perjanjian yang Adam buat, padahal dia sudah berjanji ketika melihat Adam, dia akan lari bersembunyi agar mereka tidak perlu bertemu.
"Siang, kalian dari mana bergerombol seperti?"
Walaupun Hawa tidak melihat siapa yang berbicara dari suaranya saja wanita tahu bahwa Adam lah yang saat ini menjawab Jos.
Ketika para petinggi itu sudah berlalu, Hawa baru berani melihat ke arah mereka. Paling depan Adam dengan jas berwarna hitam yang begitu terlihat gagah dari belakang, lalu ada Tiger yang mengawal juga dua orang pria yang tidak dikenal Hawa.
"Kita belakangan aja ya, ada yang mau aku beli di kantin, tadi kelupaan," ucap Hawa menarik tangan Susi, berpisah dari ketiga teman mereka yang sudah berjalan di belakang rombongan Adam.
Susi tidak bisa menolak, tangannya ditarik dan diseret Hawa kembali ke kantin agar dia tidak perlu satu lift dengan Adam.
***
"Kamu pulang naik apa?" tanya Susi ketika mereka melewati gerbang.
__ADS_1
"Kayaknya aku pulang naik ojek online deh. Sejauh mata memandang nggak ada angkot yang lewat ataupun busway," jawab Hawa.
Lokasi kantor itu emang terletak di tengah pusat kota yang tidak dilewati oleh angkutan umum. Hanya ada busway, dan itu pun harus jalan 15 menit dari kantor menuju halte busway.
"Aku duluan kalau begitu. Aku udah dijemput suamiku," ujar Susi menunjuk ke arah pria yang duduk di atas motor.
Hawa hanya bisa melambai dengan wajah terkejut, dia tidak menyangka Susi yang sebayanya sudah mempunyai suami.
Jadi persoalannya, bukan naik apa pulang ke apartemen tapi di mana alamat apartemennya karena Hawa tidak tahu nama jalan menuju apartemen tempat tinggalnya. Dia mengutak-atik handphonenya mencari nomor Tiger lalu menghubungi pria itu.
"Bisakah kau menonaktifkan ponselmu? Sangat mengganggu!" bentak Adam yang ternyata masih ada di ruangannya bersama Tiger. Pria itu sudah terbiasa untuk pulang lewat dari jam kantor.
"Maaf, Tuan, ini dari Mbak Hawa, sebentar saya angkat telepon," ucap Tiger yang menjauh dari meja Adam untuk menjawab panggilan masuk dari Hawa.
Nyatanya mendengar hal itu, Adam yang kembali menatap layar laptopnya tidak bisa berkonsentrasi, justru penasaran dengan apa yang kedua orang itu bahas tapi untuk bertanya tentu saja Adam ogah. Dia tidak ingin harga dirinya jatuh karena penasaran atas apa yang keduanya bicarakan sekarang.
Setelah menjawab panggilan itu Tiger kembali ke posisinya, berdiri di dekat Adam menunggu perintah dari bosnya.
Desakan hati Adam ingin sekali mengajukan pertanyaan kepada Tiger mengenai alasan Hawa menghubunginya, dan bukan sebaliknya menghubungi Adam.
"Apakah Hawa lebih senang berkomunikasi dengan Tiger, hingga dia tidak memilih untuk menghubungiku?" batin Adam sembari terus mengamati tulisan di layar laptopnya tapi sedikit pun tidak masuk ke dalam pikirannya.
Penuh amarah dan rasa kesal, dia menutup laptopnya dan bergegas bangkit dari kursinya. Adam membuka pintu balkon ruangannya, menghirup udara sore yang terasa dingin.
__ADS_1
Tampaknya hujan sebentar lagi akan turun, langit terlihat mendung. Walaupun banyak orang yang mengatakan langit mendung bukan pertanda hujan, tapi Adam yakin kalau malam ini hujan akan turun. Mengingat malam dengan diiringi hujan, Adam teringat malam-malamnya bersama Hawa, dia pun segera kembali memasuki ruangannya dan memerintahkan Tiger untuk mengantarnya pulang ke apartemen.