
Hawa sama sekali tidak bisa menikmati perjalanannya menuju kantor, debar jantungnya masih belum stabil bila duduk sedekat ini dengan Adam.
Saat di depan apartemen, Hawa sudah meminta untuk berangkat sendiri saja, tidak ikut dengan mobil Adam. Ada banyak hal yang harus dijaga, salah satunya dia tidak ingin karyawan melihat dia turun dari mobil mewah itu, dan menaruh curiga padanya, dan akhirnya Adam menyalahkan dirinya.
"Kau gak usah mengkhawatirkan hal itu, naik lah!" perintah Adam yang sudah duduk di bangku belakang dan Tiger masih memegang pintu belakang mobil, menunggu Hawa masuk. Hawa memilih duduk mepet ke dekat pintu, menjaga jarak dengan Adam.
Hawa menurut dia masuk dan duduk di samping Adam di kursi belakang. Awalnya mereka hanya diam, namun setelah lima menit perjalanan, Adam dengan mudahnya menarik pinggang Hawa mendekat ke tubuhnya.
"Jangan jauh-jauh, aku gak suka!"
Deg!
Debar itu semakin kencang, hingga membuat kening Hawa berkeringat, padahal pendingin mobil berfungsi dengan baik.
Pria itu bahkan tidak henti-hentinya menciumi lehernya, tanpa ada rasa segan pada Tiger. Sejujurnya Hawa begitu risih dengan hal itu, tapi kalau dia ingin protes, siapalah dia? dimanapun dan kapanpun pria itu membutuhkannya dia harus selalu siap. Dia hanya boneka pemuas naf*su Adam, walaupun pria gila itu harus melakukannya saat berada di dekat anak buahnya sendiri.
Rangsangan yang dilakukan Adam pagi itu membuat Hawa kembali melayang, mengingat pertempuran mereka tadi malam. Dia tidak memungkiri bahwa pria itu memperlakukannya begitu lembut, keduanya bercinta, seolah tidak akan ada hari esok bagi mereka untuk melakukan hal itu lagi.
Hawa begitu bahagia, tidak ada yang berubah dari cara pria itu menyentuhnya. Dia memuja tubuh Hawa dengan begitu lembut, menegaskan kalau gadis itu adalah miliknya. Empat kali mereka mengulang permainan yang tidak membosankan itu. Adam benar-benar ketagihan pada kepolosan Hawa, gadis itu mengikuti permainan Adam dengan intuisi dari dalam hati, bukan karena sudah berpengalaman.
Perjalan masih sekitar 15 menit lagi, dan Adam semakin terbakar dengan ga*irahnya. Dia terus mencium bibir Hawa dan tangannya me*remas dada wanita itu penuh nafsu yang sudah tidak tertahan. Kancing seragam Hawa sudah dia lepas dia biji dari atas, memudahkannya untuk meraih gundukan lembut itu.
__ADS_1
"Jangan, Tuan. Gak enak dilihat Tiger," bisik Hawa yang tidak tenang, dia sama sekali tidak nyaman dan tidak bisa sepenuhnya menikmati permainan Adam, walau tidak bisa dipungkiri, miliknya sudah basah di bawah sana.
Hawa melirik dengan takut melalui kaca spion, wajahnya sudah memerah karena menahan rasa malu serta gairahnya sendiri, tapi seperti yang dikatakan Adam, Tiger dengan tenang mengemudi tanpa terganggu dengan suara cicip bibir Adam di kulit Hawa.
"Tenang saja, Tiger lebih memilih untuk mati dari pada menoleh ke belakang," ucap Adam kembali berbisik, lalu mencium dan menjilat telinga gadis itu, hingga Hawa harus mencengkeram jas Adam demi menahan diri.
Adam semakin buas, dia sudah tidak bisa mengendalikan pikirannya, ingin menyantap Hawa pagi ini. "Tiger, menepi'lah!" perintahnya yang segera dilakukan pria itu.
"Keluarlah!" lanjut Adam memberi perintah. Tiger tidak banyak tanya, dia paham apa yang akan dilakukan bosnya itu.
Setelah Tiger menutup pintu mobil, Adam menarik pinggang Hawa gara gadis itu berdiri, lalu dengan kasar mengangkat rok sepan milik Hawa hingga ke atas pinggang gadis itu.
"Buka pakaian dalam mu!" perintah Adam dengan sorot mata yang sudah gelap. Hawa bingung, dia tidak mau melakukan hal gila itu, dia membayangkan bagaimana mereka akan bercinta di jok belakang, tidak akan muat untuk Hawa merebahkan tubuhnya.
Tidak sabar, Adam yang akhirnya menurunkan pakaian Hawa, setelahnya dengan kasar menarik gadis itu, memposisikan Hawa duduk di pangkuannya.
Milik Hawa yang sudah basah kuyup, memudahkan Adam masuk. Hawa sama sekali tidak mengerti bergerak ditempat se-sempit itu, tapi Adam menuntunnya, mengangkat pinggul Hawa lalu perlahan menurunkan gadis itu, begitu berulang jingga Adam sudah hampir meledak.
Itu adalah pelepasan Adam yang paling cepat, hanya 10 menit, bukti kepuasannya sudah menyembur di liang Hawa. Terlihat pria itu sudah rileks dan wajahnya menerbitkan tanda kepuasan.
Buru-buru Hawa memakai pakaian dalamnya, lalu membenarkan letak dua buah benda kenyal di dadanya yang tadi sempat menjadi kompeng Adam saat bermain, lantas membenarkan pakaian kerjanya hingga tapi dan kembali duduk di samping Adam.
__ADS_1
Batinnya menjerit diperlakukan seperti itu, tidak buangnya seperti pelacur, hanya saja dia adalah pelacur 'berkelas' karena menjadi simpanan CEO kaya raya.
Adam mengetuk kaca pintu mobil agar Tiger masuk, lalu mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka.
Hawa malu sekali melihat Tiger, dia hanya bisa menunduk. Pria itu pasti bisa mencium bau bekas orang bercinta di mobil itu, dan hal itu membuat Hawa semakin merasa hina.
"Jangan lupa kau rutin ke dokter. Apa kau sudah minum pilmu?" tanya Adam tanpa menoleh pada Hawa.
Wanita itu hanya mengangguk. Sejak penandatanganan surat perjanjian itu, Besoknya Tiger membawa dokter ke apartemen, memeriksa kesehata Hawa dan mulai memberikan obat penunda kehamilan.
Adam tentu ingin bermain rapi dia tidak ingin kesenangannya bersama Hawa terganggu dengan kehadiran seorang anak, lagi pula dia tidak ingin memiliki anak dengan Hawa. Tujuannya hanya satu ingin bersenang-senang dengan garis itu!
Tidak lama lagi mereka juga akan berpisah, terlebih beberapa bulan ke depan gadis yang akan bertunangan dengannya akan segera kembali ke Indonesia dan saat itu mungkin frekuensi mereka bercinta juga akan berkurang.
Untuk saat ini dia ingin menikmati Hawa sepenuhnya, hanya menjadi miliknya tanpa ada gangguan tanpa ada kehamilan hanya kesenangan.
Adam kembali meminta Tiger menghentikan mobil. Seketika Hawa mengangkat wajahnya dan menoleh ke arah Adam, dia takut pria itu ingin meminta dirinya melayaninya kembali. Pasalnya mereka sudah berada di dekat lingkungan kantor, hanya berjalan lima menit maka akan tiba di gerbang perusahaan.
"Mengapa tatapanmu seperti melihat hantu saja? kau tenang saja aku tidak ingin memintanya lagi!" seru Adam seolah memahami arti tatapan ngeri Hawa.
"Aku tidak ingin memakai milikmu sebelum kau bersihkan lagi! Kau turun di sini dan berjalan ke kantor, kau tidak inginkan ada orang yang melihat kita bersama?" ucap Adam dengan nada dingin.
__ADS_1
Hawa tidak perlu mendebat, dia juga tidak ingin hal itu terjadi, buru-buru Hawa membuka pintu mobil dan segera keluar dari sana. Dia menunggu mobil itu berlalu barulah setelahnya dia berjalan menuju kantor.
Hawa menikmati udara pagi itu, cuaca begitu cerah tapi justru hatinya yang mendung. Sekali lagi dia memperhatikan penampilannya, jangan sampai ada bekas cairan Adam yang menempel di roknya.