
Dengan perhatian dan cinta kasih ayah dan ibunya, Hawa tegar menjalani kehidupannya yang curam. Beruntung selama masa kehamilannya, anak dalam kandungan Hawa tidak pernah bermasalah, tidak pernah membuat susah. Dia tidak ngidam, bahkan dia bisa makan dengan enak.
Setiap malam Hawa akan mengajak anaknya berbicara, dia tidak tahu apakah anaknya itu laki-laki atau perempuan yang pasti di satu sisi dalam hatinya ada kalanya dia bersyukur memiliki anak yang dia kandung itu, buah cintanya bersama Adam.
Kalaupun dia tidak bisa memiliki pria itu, setidaknya sebagian dari diri Adam ada bersamanya dan itu sudah cukup bagi Hawa untuk mengenang pria itu dalam hidupnya.
Bu Marni selalu dengan telaten memberikan jamu dan juga makanan yang sehat untuk dikonsumsi Hawa.
Dengan uang yang masih tersisa di tabungannya, Hawa mengembangkan warung ibunya,.melengkapi dengan minuman dingin serta membuka warung jajanan dalam bentuk minimarket kecil.
Keberhasilan keluarga Hawa dari segi ekonomi yang mulai menaik, membuat beberapa masyarakat iri kepada mereka, mulai mencari-cari kebenaran mengenai keadaan Hawa.
Perut Hawa memang belum besar tetapi sudah jelas orang bisa menduga kalau saat ini dia hamil, dari cara dia berjalan dan juga bentuk tubuhnya.
"Maaf Bu Marni, Hawa lagi hamil ya?" tanya Munaroh yang kala itu sedang sarapan dengan Maimunah di warung mereka.
Seketika tangan Bu Marni yang sedang menyendok mie ke dalam piring berhenti, gemetar dan jantungnya juga ikut berdebar. Dia menarik napas dua kali, lalu mengembuskannya dengan kasar, lalu memberi jawaban kepada kedua wanita yang menjadi biang gosip di desa itu.
"Benar Bu, Hawa sedang hamil. Ini sudah mau masuk 4 bulan," jawabnya datar, berusaha mengembangkan senyum palsunya.
__ADS_1
"Jadi bener tebakan kita, tapi setelah Hawa pulang dari kota, kita tidak pernah melihat ada seorang pria yang datang mengunjunginya, ke mana suaminya, Bu?" selidik mereka.
"Suaminya adalah seorang pelaut, Hawa juga pulang ke kampung karena tidak ingin tinggal sendiri di Jakarta. Dua hari yang lalu suaminya datang kok, tapi hanya sebentar, hanya satu hari untuk pamit pergi berlayar. Karena pulang dua kali dalam setahun, jadi dia menitipkan Hawa pada kami," terang Bu Marni seperti yang sudah disepakati olehnya dan Pak Tarjo. Mereka sudah mengatur jawaban yang akan mereka berikan kepada masyarakat desa yang bertanya mengenai suami Hawa.
Sebenarnya Hawa tidak setuju, dia tidak mau berbohong mengenai anaknya. Dia tidak peduli apa pendapat masyarakat di desa itu, tapi memikirkan perasaan kedua orang tuanya dan juga demi mempertahankan harga diri dan juga martabat keluarga terpaksa Hawa setuju.
"Wah, berarti menantu Ibu hebat dong," tanya Munaroh yang menjadi kalimat terakhirnya. Dia tidak mendapatkan kabar yang bisa dia kembangkan dan dibagi kepada masyarakat di desa, walaupun sebenarnya dalam hatinya, dia masih belum percaya jawaban Bu Marni.
Semakin besarnya perut Hawa maka semakin banyak orang yang tahu. Para pemuda yang biasanya nongkrong di warung ibunya terlebih malam minggu kini sudah semakin berkurang karena mengetahui ternyata Hawa tidak sendiri lagi bahkan kini wanita itu sedang hamil besar.
Sekali dua bulan, Hawa akan ditemani ibunya untuk periksa ke klinik Bu Tini. Menurut Bu Tini bayi yang dikandung Hawa saat ini berjenis kelamin laki-laki, sehat dan juga memiliki fisik yang sempurna, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, dan dua bulan dari pemeriksaan yang terakhir, diprediksi akan menjadi hari kelahiran bayi itu.
Menjelang waktu persalinan, perasaan Hawa tidak enak. Dia begitu merindukan sosok Adam dan berharap ingin sekali pria itu bisa menemaninya saat melahirkan nanti, walaupun lagi itu hanya sekedar harapan.
Liontin yang pernah diberikan pria itu saat baru pulang dari luar negeri masih menggantung di leher Hawa, satu-satunya barang yang dia bawa dari semua pemberian Adam karena malam itu Adam menjelaskan bahwa dia memilihnya khusus untuk Hawa.
Setiap dia merindukan pria itu maka dia akan menggenggam liontin itu dan membawa Adam masuk ke dalam mimpi dan khayalnya.
***
__ADS_1
Sementara orang yang dirindukan oleh Hawa saat ini sedang menghabiskan waktunya bersama Tiger, duduk di salah satu sudut bar di kota Jakarta. Waktu sudah menunjukkan pukul 01.00 pagi namun dia masih enggan untuk pulang ke rumah. Dia baru saja bertengkar dengan ibunya yang tidak terima karena Adam yang kurang memperhatikan Sarah.
"Tujuh bulan kalian sudah menikah, tapi sampai sekarang belum ada tanda-tanda kehamilan pada Sarah, bahkan Ibu baru tahu bahwa kau sama sekali tidak menyentuh istrimu! Apa yang ada dalam pikiranmu? Kau ingin mempermalukan ibu dan keluarga Mahesa?" serang Bu Dewi dengan berang, masuk ke ruang kerjanya dan mendapati anaknya yang sedang berkutat dengan gelas berisi minuman beralkohol.
"Sudahlah ibu, aku mohon, jangan campuri urusan rumah tangga kami. Kemauan ibu sudah aku penuhi dengan menikahi Sarah, dan itu sudah aku lakukan, tapi kalau untuk menunaikan kewajibanku, maaf, tidak ada yang bisa memaksaku!" ucapnya sembari berdiri, dan pergi dari sana.
Hari-hari Adam selalu dikelilingi oleh awan gelap semenjak kepergian Hawa. Dia menganggap dirinya adalah zombi, menjalani hari-harinya tanpa ada gairah, kelam dan sangat membosankan.
Hampir setiap malam di bulan pertama pernikahan mereka Sarah selalu mempertanyakan mengenai statusnya sebagai istri yang tidak disentuh oleh Adam.
Hari-hari berikutnya karena tidak mendapatkan jawaban dari pria itu, Sarah pun berhenti mempertanyakan arti dirinya dan menerima keadaannya. Sarah akan menghabiskan waktunya bersama teman-teman dan juga mengunjungi kedua orang tuanya.
Di depan orang mereka selayaknya pasangan suami istri yang akur dan juga bahagia. Namun, pada kenyataannya saat mereka berada di dalam kamar, mereka adalah dua orang asing yang terperangkap dalam satu ikatan yang disebut pernikahan.
"Tuan, sebaiknya kita pulang ini sudah subuh," ucap Tiger yang masih setia menemani Adam, membunuh dirinya dengan minuman. Kehidupannya hancur, putus asa. Dia membenci Hawa karena pengkhianatan wanita itu sekaligus merindukannya setengah mati. Cinta yang bersarang dalam hatinya untuk Hawa tidak pernah pupus bahkan semakin hari semakin bertambah.
Adam bahkan pernah merendahkan harga dirinya dengan mendatangi Mita di Leroi, menanyakan gadis itu di mana tempat tinggal Hawa agar dia bisa mencari ke sana. Dia yakin Hawa pulang ke kampungnya seperti yang wanita itu rencanakan ketika kontrak mereka akan berakhir.
Tapi mita yang mengetahui mengenai kepergian Hawa, menolak memberitahukan keberadaan sahabatnya itu.
__ADS_1
"Saya tidak tahu tuan. Saya memang berteman dengan Hawa tapi saya tidak tahu di mana kampung halamannya dan di mana rumahnya," jawab Mita dengan tegas. Dia mengutuk pria itu karena sudah menelantarkan dan menyakiti perasaan sahabatnya.