
"Tiger bilang kau butuh uang untuk mengirim pada keluargamu?" tanya Adam yang saat ini menyandarkan tubuhnya di headboard ranjang. Keringat masih mengalir hingga jatuh ke bawah perutnya, mereka baru saja menuntaskan permainan mereka yang kedua kalinya malam itu.
Hawa yang menggenggam erat selimut yang menutupi tubuhnya berbaring miring menghadap Adam dengan malu-malu mengangguk. Sebenarnya, dia takut kalau Adam sampai menganggap dirinya mata duitan karena baru bekerja beberapa hari saja, dia sudah meminta haknya.
"Kenapa kau tidak meminta padaku langsung?" tanya Adam yang masih saja terdengar nada cemburu di suaranya. Dia tidak ingin dijadikan nomor dua oleh Hawa dalam bentuk apapun.
"Aku aku nggak tahu nomor anda, Tuan," jawabnya memilin jemarinya demi menghilangkan rasa gugup.
Adam terdiam. Sekian lama mereka bersama ternyata nomornya tidak disimpan oleh gadis itu. Kembali rasa kesal Adam muncul. Hawa menyimpan nomor Tiger, sementara tidak dengan nomornya. Sebenarnya siapa di sini yang berkuasa dirinya atau Tiger?!
Tapi Adam tidak ingin mempersoalkan hal itu, dia tidak ingin merusak moodnya karena malam ini dia ingin kembali bercinta dengan Hawa.
"Sebenarnya aku ingin meminta pada Anda kemarin malam tapi melihat Anda yang tertidur pulas aku jadi tidak tega, Tuan."
Kalau benar-benar bukan karena terdesak, dia juga tidak akan meminta pada Tiger. Ibunya sangat membutuhkan uang itu dan dia juga sudah berjanji akan mengirimnya besok pagi.
Adam yang menatap wajah lugu Hawa, segera mengambil ponsel yang diletakkannya tadi di atas nakas, mengetik beberapa saat pada layar ponselnya, lalu terdengar bunyi pesan masuk di ponsel Hawa.
Hawa tidak menanggapi pesan itu karena dia tahu Adam tidak suka saat gadis itu bersamanya, dia memegang ponselnya.
Melalui alis matanya yang hitam dan rapi, Adam memberi isyarat untuk Hawa melihat pesan itu. Dia bergegas mengambil ponselnya lalu membuka pesan yang ternyata notifikasi yang memberitahu ada dana masuk sebesar 10 juta.
Mata Hawa terbelalak, membulat dengan sempurna. Nama Adam Mahesa tertera sebagai pengirim uang tersebut.
"Kenapa banyak sekali tuan?" tanyanya matanya menatap penuh haru kepada Adam, tanpa menyadari selimut yang tadi dia jepit di ketiaknya terjatuh dan kembali mengekspos dua benda kesukaan Adam yang kini menjadi mainan favoritnya.
__ADS_1
"Salahmu karena kamu sudah mancingku," ucap Adam yang langsung mendekat dan menarik tangan Hawa hingga terjerembab jatuh kembali di atas ranjang, pria itu segera menaiki gadis itu kembali, menciumi lehernya dan menjilati kulit Hawa yang masih terasa panas oleh sisa permainan mereka tadi, bahkan Adam tidak merasa jijik menjilati kulitnya yang saat ini masih basah oleh keringat.
Hawa tahu sebentar lagi dia akan kembali merintih merasakan nikmat di bawah tubuh pria itu.
***
"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya pria itu, yang hanya menggunakan boxer menutupi bagian tubuhnya, selebihnya Adam memamerkan yang ada pada dirinya dan juga kekarnya tubuh pria itu. Hobinya yang selalu berolahraga membuat tubuhnya terbentuk dengan sempurna.
Kembali Hawa terpesona kala menatap tubuh liat itu, setiap memandang tubuh Adam pasti akan merasakan panas di pipinya dan debar jantung yang menggila. Setiap wanita pasti ingin menyentuh setiap kulit pria itu dan merasakan betapa kencangnya otot yang dimiliki Adam.
Glek!
Susah payah Hawa menelan salivanya. Bahkan dirinya sendiri yang sudah sering menyentuh dan merasakan tubuh itu di kulitnya tetap terpesona melihat semua yang ada dalam diri Adam. Mungkin karena ayahnya yang keturunan bule, hingga senjata pamungkas Adam pun berukuran diatas rata-rata ukuran pria Indonesia.
Hawa segera menggeleng-gelengkan kepalanya, menepis pikiran nakalnya yang kembali membuat bagian inti dirinya berkedut.
Adam mendekat dan duduk di meja makan, memperhatikan gerakan wanita itu yang begitu lues melakukan pekerjaannya.
Tanpa disadari pria itu, senyum mengembang di bibirnya. Entah kenapa, hanya dengan melihat hal receh seperti ini, bisa mendatangkan rasa gembira di hatinya.
"Apa Tuan ingin sarapan?" tanya Hawa mulai memasukkan bekalnya ke dalam wadah. Hari ini dia membawa lebih banyak lagi agar bisa berbagi dengan Susi dan Jos.
"Boleh," lagi-lagi hanya jawab singkat yang diberikan pria itu. Hawa hanya memandangi Adam yang mulai mencoba satu persatu menu yang dia buat.
Awalnya hanya menyendok sedikit lama kelamaan semua menu yang ada di atas meja yang disajikan gadis itu habis masuk ke dalam perut pria itu. Hawa tersenyum namun, senyum itu justru mengganggu bagi Adam.
__ADS_1
"Apa ada yang aneh?" tanya Adam yang tidak terima dengan tatapan geli Hawa kepadanya.
"Tidak, tidak ada. Aku hanya senang melihat Tuan menyukai masakanku. Kalau Tuan mau, aku bisa menyiapkan untuk bekal makan siang Anda," ucapnya menawarkan.
"Tidak perlu! Tidak mungkin makanan seperti ini dibawa ke ruanganku. Lagi pula tidak ada dalam kamusku membawa bekal untuk makan siang. Aku bukan anak SD lagi," jawabnya singkat, membersihkan mulutnya dengan tisu yang ada di atas meja.
Keceriaan di wajah Hawa yang tadi bersinar kini redup. Pria itu gampang saja menghisap seluruh kebahagiaannya. Seharusnya nama pria itu bukan Adam, tapi dementor, makhluk mengerikan di serial Harry Potter yang bertugas untuk menghirup kebahagiaan manusia.
Decitan kursi yang digeser pada saat pria bertubuh tinggi besar itu bangkit membuat lamunan Hawa sirna. Pria itu sudah berdiri di hadapannya dan menatap tajam kepadanya. Tanpa mengatakan apapun, Adam menggendong tubuh Hawa, lebih tepatnya memundak bak karung beras yang diletakkan di bahunya.
Hawa hanya bisa memekik kaget, sembari bertanya-tanya kemana pria itu akan membawanya.
Tepat dugaan Hawa, pria itu membawanya ke kamar mandi, berdiri di bawah shower yang menyirami mereka dengan air dingin.
Hawa hanya bisa berharap, pria buas itu tidak akan memintanya untuk bercinta lagi, karena kalau sampai hal itu terjadi, maka Hawa pasti akan terlambat ke kantor.
Harapan tinggal harapan, nyatanya pria itu melakukan apa yang dianggapnya perlu dia lakukan.
"Ayolah Tuan. Nanti kita terlambat ke kantor," ucap Hawa yang tidak sempat lagi menggunakan riasan di wajahnya. Dia memang tidak merias semenor karyawan perempuan yang ada di kantor, tapi setidaknya Hawa mengenakan alas bedak, lipstik dan juga maskara pada wajahnya.
"Mengapa kau harus takut terlambat? bukankah aku yang punya perusahaan," jawab Adam santai, sembari memakai sepatunya dengan gerakan lambat. Dia begitu menikmati saat-saat membuat Hawa terlihat panik seperti itu, baginya itu sangat menggemaskan.
"Anda tentu saja tidak apa-apa terlambat karena anda yang punya perusahaan nah, aku? bisa-bisa aku dimarahi Susi dan Jos," cicitnya meremas tas tangannya yang sudah diselempangkan.
Adam bukan tidak mendengar cuitan Hawa, dia bahkan ingin tertawa melihat wajah murung serta kesal gadis itu namun, untuk menggodanya lebih lama lagi Adam tidak tega, hingga sekarang mengikuti kemauan gadis itu berangkat ke kantor.
__ADS_1
"Tiger kirimkan pesan kepada Jos, katakan hari ini Hawa sudah izin kepadamu untuk terlambat masuk karena ada keperluan pribadi!" perintah Adam saat mereka sudah mulai berkendara.
Hawa hanya bisa menunduk namun mengulum senyum, karena terpesona dengan cara pria itu menolongnya.