Hawa untuk Adam (Simpanan CEO Arogant)

Hawa untuk Adam (Simpanan CEO Arogant)
HUA : Dilabrak


__ADS_3

Tidak ada niat Hawa untuk pergi ke kantor pagi ini, dia sengaja untuk bangun siang karena kepalanya begitu sakit dan juga tubuhnya terasa lemas. Belakangan ini dia memang kurang sehat. Sering merasa pusing dan tidak nafsu makan hingga tubuh terasa lemas.


Diliriknya jam di dinding kamar, pukul 09.00 pagi. Dengan gontai, Hawa menyeret langkahnya, untuk mengambil susu yang biasa sudah diletakkan di depan pintu apartemen.


Pesanan susu yang biasanya dia minta dua botol, kini hanya satu. Dia tidak sedang berselera untuk minum susu, bahkan mencium aroma susu sapi saja dia mual.


"Kau terlihat seperti zombie dengan wajah pucat dan juga rambut berantakan dan mengembang," tegur tetangga depannya yang selalu muncul dan pergi dengan tiba-tiba.


Hawa hanya mencoba tersenyum tipis. Dia sedang tidak ingin menanggapi siapapun, lalu dia masuk setelah menganggukkan kepalanya.


Untuk mandinya kali ini, Hawa memilih aroma terapi yang bisa menenangkan pikirannya. Lima tetes sudah dicampurkan ke dalam air yang sudah dia tampung, dia juga menaburkan moisturizer ke dalam air agar kulitnya tidak kering, lalu menanggalkan pakaiannya dan mulai berendam di sana.


Hawa mungkin gadis kampung, tapi selera musiknya tidak main-main. Dia memutar lagu dari Astrid yang berjudul It's okay if you forget me, menghabiskan volume dari ponselnya hingga memekakkan telinganya.


Tapi akhirnya dia menyesal memilih lagu itu, justru sekarang dia menangis meresapi lirik lagu tersebut yang begitu tajam dan saat ini sangat sesuai dengan keadaan yang dialami. Padahal niat awalnya dia ingin bersenang-senang bernyanyi dengan sekencang-kencangnya meneriakkan setiap lirik dalam lagu itu dengan tujuan agar beban yang bersarang di dadanya saat ini bisa terangkat, dan terbebas dari kesesakan.

__ADS_1


Satu jam dia berendam, Hawa lalu bersihkan diri. Perutnya sudah lapar ingin segera menyantap sarapan yang ada di atas meja makan, yang sudah dia siapkan tadi. Namun, kegiatannya yang sedang membersihkan wajah dengan facial wash berhenti untuk sesaat, ketika ketukan terdengar di pintu kamar mandi.


"Siapa?" tanyanya. Pikirannya cepat tertuju kepada seseorang yang sudah leluasa keluar dan masuk di kamar ini. Namun, kalau itu memang Adam, tidak mungkin pria itu mengetuk, dia pasti langsung masuk ke bergabung bersamanya di kamar mandi melakukan hal-hal indah dan liar yang begitu Hawa sukai.


"Nona Hawa, di sini ada Ibu Dewi, ibunda dari tuan Adam. Beliau ingin bicara dengan Anda," ucap Tiger.


Seketika jantung Hawa berhenti berdetak, wajahnya pias. Dia tidak menyangka kalau wanita itu akan datang menemuinya yang artinya bahwa kemungkinan semua keluarga, termasuk Ibu Dewi sudah tahu mengenai keberadaan dirinya, yang disembunyikan Adam di apartemen ini.


Hawa buru-buru membilas wajahnya lalu mengambil bathrobe berwarna putih dan menyampirkan ke tubuhnya mengikat tali di pinggangnya dan bersiap membuka pintu.


"Tidak usah keluar dari sana, karena aku tidak sudi bertemu denganmu! Aku tidak ingin melihat wajahmu yang menjijikan dan juga tubuhmu yang murah itu! Kau cukup diam, mendengarkan apa yang aku katakan. Aku memintamu secepatnya pergi dari apartemen ini dan meninggalkan anakku selamanya. Jangan pernah kau menemui Adam lagi karena dia kini sudah menjadi suami Sarah. Sedikit saja kalau kau punya harga diri maka lakukan apa yang aku minta tanpa memberitahukan kepergianmu kepada Adam, tapi jika kau menolaknya maka aku akan menempuh cara lain yang lebih tidak manusiawi dan aku pastikan, kau tidak akan menyukainya. Aku peringatkan jangan bermain-main denganku, cukup kau tanya kepada Tiger, bagaimana aku dalam menyelesaikan masalah!"


Dia yakin Wanita itu sudah pergi, barulah dia berani keluar. Hawa mendapati memang kamar itu sudah kosong. Dia menjerit, meraung, menangis meratapi keadaannya. Berulang kali orang sudah menghina dan juga menginjak harga dirinya. Hal ini kembali menyadarkannya bahwa sudah cukup baginya bertahan di sisi Adam, dia harus pergi meninggalkan pria itu.


Hawa ingat, dia diminta pergi tanpa mengatakan kepada Adam. Lantas apakah dia tidak boleh mengucapkan selamat tinggal kepada pria itu? Hawa menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, menangis hingga kelelahan sepanjang hari itu.

__ADS_1


Sedikitpun Adam tidak akan curiga pada ibunya, tidak pernah berpikir kalau wanita itu akan ikut campur mengenai masalahnya dengan Hawa. Hingga saat ini Adam memang tidak tahu kalau ibunya sudah mendatangi gadis itu.


Tiger baru saja kembali dari apartemen saat melihat panggilan dari Nyonya Dewi. Wanita itu memaksa memintanya untuk mengantarkan dirinya bertemu dengan Hawa. Tiger yang tidak punya pilihan lain akhirnya membawa Ibu Dewi ke apartemen.


Wanita itu kaget, dia tidak menyangka bahwa anaknya akan serius menjalin hubungan dengan seorang pelacur. Dia pikir Adam hanya akan bermain-main dengan wanita itu, tapi membawa wanita itu tinggal dan menyimpannya di apartemen pribadi miliknya, hal itu cukup menjelaskan bahwa kehadiran Hawa sangat penting untuk Adam.


Mengetahui hal itu, Bu Dewi semakin marah, tekadnya untuk mengusir Hawa dari kehidupan Adam semakin menggebu-gebu. Dia tidak ingin parasit seperti Hawa akan mengganggu hubungan Sarah dan Adam.


Ibu Dewi ingin rumah tangga putranya itu berjalan dengan bahagia dan segera diberikan momongan. Kalau masih ada Hawa dalam kehidupan Adam hal itu akan sulit untuk terjadi.


Bermula saat kejadian pelaporan dari Jos yang tidak sengaja didengar oleh Ibu Dewi di hari pernikahan Adam, Wanita itu sudah menyusun rencana. Setelah acara resepsi pernikahan Adam selesai, dia akan segera mengurus wanita yang bernama Hawa.


Dia mengenal putranya, baru kali ini dia melihat bahwa Adam begitu kuat ingin mempertahankan seseorang. Bahkan Dewi juga melihat dari sorot mata Adam yang begitu marah ketika mendengar gadis itu dilecehkan oleh koleganya, hal yang tidak pernah dilakukan, bahkan saat Gara berselingkuh dengan Reka.


"Aku minta kesetiaanmu kepadaku, Tiger. Aku tidak ingin kau melaporkan apa yang baru saja kau dengar dan yang sudah kulakukan kepada gadis itu. Satu hal yang harus kau tahu kebahagiaan Adam dan juga Sarah ada di atas segalanya. Kau sebagai pelayan setia sekaligus penasehatnya harus bisa mengarahkan pikirannya untuk meninggalkan gadis itu, lupakan saja pelacur itu dan minta dia menata hidupnya dengan lebih baik bersama Sarah," ucap Ibu Dewi saat mereka dalam perjalanan pulang.

__ADS_1


Tiger menggenggam setir mobil, marah kepada kekuasaan yang ada pada keluarga Mahesa hingga mereka bisa semena-mena dan sesuka hati menghina dan juga menyingkirkan orang lain yang mereka anggap akan menjadi benalu bagi mereka. Tiger bisa memahami bagaimana saat ini perasaan Hawa terbuang dan dicampakkan.


Mungkin keinginan Ibu Dewi adalah jalan terbaik untuk Hawa. Bukan karena mendukung keputusan itu, serta ingin setia kepada keluarga Mahesa, tapi karena kasihan dengan Hawa. Dia tidak ingin gadis lebih menderita lagi. Sebaiknya dia pergi karena selamanya keberadaannya tidak akan pernah diterima di keluarga Mahesa.


__ADS_2